Dipaksa Arus Kehidupan

Dipaksa Arus Kehidupan
Hadiah


__ADS_3

Satu persatu semua orang yang ada disana memberikan ucapan selamat ulang tahun dengan harapan-harapan baik mereka untuk Nisa. Nisa menerima semua ucapan mereka dengan hati yang gembira.


Air muka bahagia terlihat jelas di wajah Nisa. Ia sangat bersyukur memiliki mereka semua.


"Nis," panggil Setyo.


"Hmm?" Nisa mengalihkan pandangannya kepada Sang Kakak.


"Ini untukmu." Setyo menyerahkan bingkisan untuk Nisa. Nisa menerima bingkisan itu dengan wajah bingung.


"Nahh ambil Nis. Tenang ini bukan bom." Setyo mengulas senyum untuk meyakinkan Nisa.


"Bukalah Nis."


Nisa membuka bingkisan hadiah itu. Dia sangat terkejut. Air matanya meleleh lagi. Ternyata isinya adalah sebuah hp pintar.


"Mas" pandangan Nisa mulai kabur karena air matanya. Setyo mengangguk sambil tersenyum tulus.


Nisa menghambur ke pelukan Setyo. "Makasih ya mas," ucap Nisa dengan suara serak.


Setyo mengelus pelan kepala Sang Adik. "Iya adikku sayang yang cantik," ucapannnya dijeda, ".....walau sering males mandi," ledek Setyo di tengah keharuan yang melanda. Ingat, Setyo bukan tipe kakak yang bisa berkata manis untuk adiknya.


Mata Nisa melotot, lalu melepas paksa pelukan Setyo. Air muka kesal terlihat jelas di wajahnya. Ia mengusap air matanya.


"Iihh Mas, buka aib jangan di sembarang tempat dong!" ucapnya kesal. "Kan malu," Nisa menyembunyikan wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Semua yang disana tertawa melihat tingkah Nisa. Setyo tertawa paling keras.


"Hadidaww ternyata cewek satu ini males mandi. Pantesan sering kecium bau-bau aneh," ledek Ivan. "Dhik lo masih mau?"


"Mau apa?" tanya Setyo yang langsung berdiri tegak di depan Nisa.


"Hahai kasihan amat baru mau ngledek sedikit aja endingnya seperti mau disleding." Bagas meledek Ivan dengan berbisik di dekat telinga Ivan.


Ivan mendorong kepala Bagas. "Aiss sial*n kau Britgas," umpat Ivan pelan. Bagas terkekeh.


"Ya... ya.. mau bertemanlah Mas," jawab Ivan gugup.


"Benarkah??" tanya Setyo menatap Dhika dengan tatapan menyelidik.


"Iya Mas, kan kita semua yang disini memang sahabat," jelas Dhika.


"Iya nggak Nis?" Dhika mencari pembelaan, Nisa mengangguk. Walau sebenarnya Dhika tidak tahu rasa apa yang tercipta untuk Nisa. Namun yang Dhika tahu, ada perasaan untuk melindungi Nisa setiap waktu.


Setyo tersenyum lega. Ia merasa tenang Nisa memiliki sahabat di sekolah. Para orang tua melihat kelakuan para anak muda dengan bibir yang mengembang.


"Terimakasih Tuhan, Engkau memberikan kebahagiaan dan juga orang-orang terdekat yang menyayanginya," batin Bu Tin. Dia melihat ke arah suaminya sambil tersenyum lalu merangkul tangan Pak Man. Pak Man juga mengucap syukur dalam hati.


"Nis," Okta mendekat ke arah Nisa.


"Ini untukmu, dariku dan dari Rindang. Emm.. cuma ini sih, tapi terimalah." Okta memberikan kotak kecil untuk Nisa.


Nisa membuka kotak itu, isinya gelang tali berwarna biru. Gelang itu samaan dengan milik Okta dan Rindang. Nisa memeluk Okta, berterimakasih.


"Sekali lagi selamat ulang tahun Nis, yang terbaik untukmu,"


"Makasih ya sahabat orok, makasih udah mau berteman denganku dari kecil," ucap Nisa tulus. Mereka melepas pelukan mereka. Nisa mencari keberadaan Rindang.


"Kalau mau mencari Rindang, ia sudah pulang duluan. Mau ada urusan keluarga katanya," ucap Okta yang mengerti kebingungan Nisa.

__ADS_1


"Nis ini untukmu," ucap Dhika. Ia memberikan kotak kecil untuk Nisa. Nisa menerimanya lalu membuka kotak itu. Kotak itu berisi jam tangan berwarna putih.


Dhika mengambilnya lalu memakaikannya di tangan Nisa. Dhika tersenyum. Terlihat pas dan cocok di tangan Nisa.


"Makasih ya Kak," ucap Nisa. Dhika memandang Setyo dan orang tua Nisa, meminta ijin untuk memeluk Nisa. Mereka mengangguk, memberikan ijin untuk memeluk Nisa.


Dhika memeluk sahabat barunya itu. Nisa membalas pelukan Dhika. Rasa nyaman pelukan seorang sahabat, Nisa rasakan.


"Haihh tadi aja kita nggak boleh pelukan. Lihat noh malah anak sendiri yang gas pol," geruntu Mbak Depe untuk Om Stevan dan Tante Santi.


"Biarinlah kan mereka sahabatan. Kalau kalian yang berpelukan takutnya nanti khilaf," ledek Tante Santi.


"Heii... Kalian pelukan gak ajak-ajak. Gue ikut dong!" Okta ikut nimbrung memeluk Dhika dan Nisa, Begitupun juga dengan Bagas dan Ivan. Mereka berlima berpelukan. Rasa sayang persahabatan diantara mereka dapat dirasakan oleh semua orang yang berada disana.


"Van, Gas kalian bawa apa untuk Nisa?" ucap Dhika tiba-tiba.


"Gue?"


"Kita?"


ucap Ivan dan Bagas bersamaan.


"Heem betul kak," ucap Okta membenarnya.


"Ya... ya.. kita bawa ucapan doa lah." ucap Ivan cengengesan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Nih bentar gur ambil dulu," Bagas bergegas masuk ke rumah. Ia menuju ke dalam kamar Dhika.


Tak lama kemudian, Bagas kembali dengan gitar klasik ditangannya.


"Ayo Van lo nyanyi gue yang ngiringin."


"Oke Britgas."


"Dengerin ya, ini hadiah dari kita orang," ucap Ivan.


Suara petikan gitar dari Bagas terdengar. Setelah intro lagu selesai, Ivan membawakan lagu selamat ulang tahun yang dipopulerkan oleh Zamrud. Lirik lagunya sama seperti mereka yang gak bermodal.


Lagu telah selesai mereka nyanyikan. Semua bertepuk tangan. Bagas dan Ivan menghampiri Nisa.


"Gimana Nis hadiah dari kita?" tanya Ivan.


"Cocok banget sama kalian. Gak modal!" guman Okta.


"Makasih ya kak," ucap Nisa tulus. "Doa kalian lebih dari cukup. Gak perlu hadiah berwujud," ucap Nisa lagi.


Ivan menjulurkan lidahnya ke arah Okta. Dia tersenyum penuh kemenangan. Okta hanya mencebik kesal.


"Kalian bawa apa untuknya?" tanya Om Stevan kepada Babang Young Flash.


"Kita?" ucapannya terjeda.


Babang Young Flash membalikkan badan Mbak Depe. Mengajaknya berunding.


"Kita bawa apa?" Babang Young Flash malah beralih tanya sama Mbak Depe.


Mbak Depe merogoh tasnya. Om Stevan dan Tante Santi berusaha mengintip kegiatan mereka berdua. Dengan sigap Babang Young Flash berdiri di dekat Mbak Depe agar mereka tidak bisa mengintip.


"Ngapain ngintip-ngintip! Awas nanti bintitan matanya," tegur Babang Young Flash.

__ADS_1


Om Stevan dan Tante Santi mengalihkan perhatiannya ke hal lain karena ketahuan mengintip.


"Heleh pura-pura!" gumamnya kemudian. Ia mengalihkan pandagannya ke arah Mbak Depe yang masih sibuk mencari sesuatu.


"Yahh cuma ada ini," ucap Mbak Depe tersenyum asem, gak enak karena gak punya sesuatu yang pantas untuk hadiah. Ia hanya menemukan sebuah mainan berbentuk helikopter berwarna biru.


"Gak apalah, yang penting hadiah."


Mereka berdua membalikkan badannya lalu berjalan menuju ke arah Nisa berada.


"Eh bocah selamat ulang tahun," ucap Babang Young Flash.


"Bocah-bocah. Dia punya nama keless," teriak Tante Santi.


"Lah aku kan gak tahu namanya. Tadi kan aku gak dikasih tahu, cuma dikasih kedelai," celetuk Babang Young Flash.


"Ini dari kita berdua." Mbak Depe memberikan mainan helikopter untuk Nisa. Nisa menerimanya dengan senyum menahan tawa karena memang lucu saja. Namun ia masih tetap menghargai pemberian Mbak Depe.


"Eh malah mau ketawa, masih hadiah itu," celetuk Babang Young Flash.


"Iya om, makasih," ucap Nisa.


"Aduh Tante yang cantik, tapi masih cantikan bidadari di surga. Mainan heli kecil kek gitu buat apa?" celetuk Dhika.


"Eh adek yang ganteng tapi gantengan calon suamiku," ucap Mbak Depe yang membuat Babang Young Flash melayang di udara.


"Itu doa untuk Nisa. Siapa tahu kelak punya heli beneran," kilahnya.


"Helehh, itu mah cuma alibimu doang Pe. Ngaku aja kalau memang gak modal," celetuk Tante Santi.


"Biarin gak modal, yang penting ada," ucap Mbak Depe.


"Makasih ya Tante atas doanya," ucap Nisa.


"Aihh kalian kenapa sih manggil aku tante? Panggil aku mbak aja. Aku masih muda keles," protesnya sambil menyibakkan rambutnya.


"Lah emang tante kan? Buktinya Tante Depe temennya mamiku," ucap Dhika. Mbak Depe mencebik kesal.


"Heii tanggung jawab kalian, malah buat calon istriku cemberut," ucap Babang Young Flash gak terima.


"Udah Om. Om aja yang tanggung jawab. Emang rela kalau diriku yang tampan ini menikahi Tante Depe?" ucap Ivan.


"Ya enggaklah!"


Saat itu hanya tawa bahagia diantara mereka. Okta juga menceritakan semua rencana mereka kepada Nisa. Tak lupa Okta, Dhika, Bagas, dan Ivan meminta maaf kepada keluarga Nisa karena telah memberi Nisa obat tidur. Untung saja Pak Man, Bu Tin, dan Setyo memaklumi cara aneh mereka.


"Tapi awas aja kalau kalian sampai berbuat aneh yang merugikan Nisa," ancam Setyo. Walaupun ia tidak punya harta kekuasaan, setidaknya ia punya ilmu bela diri yang tidak main-main.


"Untuk Bapak, Mamak, Mas, Tante, Om, dan teman-teman semua, terimakasih udah memberikan kejutan untuk Nisa. Nisa sayang kalian semua," ucap Nisa tulus. Mereka semua mengulas senyum untuk Nisa.


Setelah itu mereka melanjutkan acara dengan berpesta barbeque.


//


Terimakasih untuk semuanya karena berkenan berkunjung dan membaca ceritaku yang masih amburadul ini.


Kunjungan, like dan rate 5 kalian sangat berharga. Apalagi kalau sampai fav dan vote. Senangnya hati author wkwk 🤗🤗🤗


Tetap jaga kesehatan untuk kita semua.

__ADS_1


Terimakasih 😘😘


Selamat membaca 📖


__ADS_2