
Sudah berhari-hari, sikap Dhika masih sama seperti awal Nisa bertemu. Ia bingung, apa salahnya? Apakah ia pernah menyinggung perasaan Dhika, atau bagaimana?
Pertanyaan itu sering kali muncul. Awal-awalnya Nisa sering bilang sama Okta dan Rindang. Namun seiring berjalannya hari, ia hanya menyimpannya dalam hati. Tidak mungkin kan berhari-hari ia akan membahas masalah yang sama?
Saat ini, Nisa memilih menggunakan waktu istirahatnya untuk pergi ke perpustakaan. Ia pergi sendirian. Okta dan Rindang memilih pergi ke kantin untuk makan siang.
Nisa memilih buku yang hendak ia baca. Beberapa buku Nisa pilih. Nisa berjalan membawa buku itu ke petugas perpus untuk dicatat sebagai buku pinjaman. Namun ternyata salah satu buku yang ia bawa jatuh. Ia berusaha untuk mengambilnya. Cukup sulit bagi Nisa untuk meraihnya. Akhirnya ia meletakkan semua buku di lantai lalu ia menata kembali buku-buku itu.
Setelah selesai, Nisa kembali berdiri ingin melanjutkan langkahnya. Tapi....
Brak
Semua buku yang Nisa bawa jatuh berceceran. Nisa mengambil kembali semua buku yang terjatuh itu. Sampai tak sengaja ia menyentuh tangan yang besar. Ia melihat sang empunya. Ternyata dia adalah Dhika.
Karena jalannya yang tergesa, tak sengaja Dhika menyenggol buku-buku Nisa hingga buku yang Nisa bawa jatuh berceceran. Ia membantu merapikan buku-buku itu.
"Kak Dhika," gumam Nisa. Dhika hanya menoleh sebentar lalu pergi begitu saja.
__ADS_1
"Kak tunggu Kak, kita bicara dulu!" teriak Nisa namun Dhika tetap berlalu.
"Hahh kapan selesainya kalau Kak Dhika menghindar terus?" ucap Nisa dengan dirinya sendiri. Nisa menghela napas dalam. Ia lelah. Bertanya-tanya tanpa tahu jawabannya adalah suatu hal yang menguras tenaga. Butuh tenaga ekstra untuk menghadapinya.
Nisa berjalan di karidor sekolah, dengan setumpuk buku bacaan yang baru saja ia pinjam di perpustakaan. Pandangannya lurus ke depan. Pikirannya entah kemana. Namun raganya tetap berjalan sebagaimana semestinya.
"Ada apa dengannya? Kenapa ia sedingin itu padaku sampai saat ini? "
Pertanyaan itu berputar-putar di dalam pikirannya. Sampai sekarang ia pun belum mengetahui jawabannya. Bahkan Bagas dan Ivan juga belum mengetahui apa yang terjadi dengan Dhika. Mereka pernah bertanya pada Dhika, namun Dhika belum memberikan jawabannya.
*****
Cecil dan ketiga sahabatnya menghadang jalan Nisa. Nisa sangat geram dengan mereka. Kenapa mereka selalu mengganggu dirinya.
"Minggir!" ucap Nisa yang pelan namun cukup tegas.
"Uluh-uluh, udah berani ternyata dia Cil." ucap Rere.
__ADS_1
"Gue cuma mau bilang, jauhi Dhika. Dhika itu milik gue!"
Cecil kesal, karena ketika bersama Dhika, hanya raganya saja yang bersama dengannya, tidak dengan pikirannya. Ia berpikir, Nisa lah penyebabnya.
Nisa tertawa meremehkan. "Jauhi dia? Aku nggak mendekat, kenapa harus menjauh? Kalau kamu pengin aku jauh dari dia, jangan suruh aku. Tapi suruh lah dia yang menjauh dariku!" ucap Nisa tegas walau dalam hatinya ia tidak rela kehilangan sosok sahabat sekaligus kakak baginya.
Cecil hanya tersenyum miring, meremehkan Nisa. Nisa ingin pergi menghindar. Ia berjalan melewati celah di antara mereka. Tapi….
Brak
Nisa terjatuh. Kakinya dihadang oleh kaki Jeje. Bukunya kembali tersebar. Dia benar-benar marah. Tangannya memegang roknya dengan erat untuk melampiaskan kemarahannya. Nisa memilih untuk diam, tidak membalas. Ia ingat nasihat dari bapaknya. Jika ditampar pipi kananmu, berikanlah pipi kirimu. Yang artinya jangan balas menyakiti jika disakiti.
Nisa meringis kesakitan. Rasa sakit menjalar di kakinya. Nisa kesulitan untuk berdiri.
Seketika Bagas dan Ivan datang menolong Nisa. Bagas membantu mengumpulkan kembali buku Nisa dan Ivan membantu Nisa berdiri. Ivan menatap mereka dengan tatapan nyalang. Rasa kecewa bercampur marah menjadi satu. Ia tidak menyangka ternyata inilah wujud asli sang punjaan hatinya. Tega menyakiti orang lain yang bahkan tidak bersalah padanya.
Nisa khawatir dengan tatapan Ivan pada mereka. Ia segera meraih tangan Ivan dan mengajak mereka pergi menghindar saja. Namun Ivan tidak mau. Ia ingin mengatakan sesuatu.
__ADS_1
"Cih beraninya kroyokan. Cemen mamen. Gak malu sama bocah 5 tahunan?"
Setelah mengucapkan itu, Ivan memapah Nisa pergi menjahui Cecil dan ketiga sahabat Cecil. Bagas mengikuti Ivan dan Nisa yang berjalan lebih dulu.