
Hari berlalu cukup cepat. Setelah tiga hari PLS di SMK Guna Bakti telah usai. Selama tiga hari itu tidak ada belajar mengajar, hanya perkenalan antar siswa maupun guru. Rentetan penutupan kegiatan PLS sudah dilakukan. Secara otomatis kegiatan sekolah akan berjalan semestinya.
Pukul 05.00.
Suhu dipagi itu lumayan dingin, sekitar 18 derajat celcius. Memang sih badan tidak bakalan beku, tapi khusus orang yang tinggal di daerah tropis sudah cukup menggigilkan badan. Bahkan tanpa kesal maupun marah pun gigi bisa bergemeletuk haha.
Seorang Nisa pun masih enggan untuk beranjak dari tempat tidur. Dia malah semakin meringkuk di bawah selimutnya, bagaikan kepompong yang enggan menjadi kupu-kupu. Untung di dunia nyata tidak ada, hanya spesias manusia seperti Nisa. Kalau ada tamatlah dunia ckckck.
Kakaknya juga demikian. Namun seketika dia sadar. Dia harus segera bangun bersiap- siap untuk ke kantor. Setyo berjalan ke kamar mandi setengah merem. Sebenarnya dia malas, tapi mau bagaimana lagi. Tidak berangkat bekerja berarti harus siap-siap potong gaji atau lebih parahnya bisa sampai go out.
Setyo harus mempresentasikan strategi pemasarannya di meeting pukul 07.00 pagi ini. Puji Tuhan walaupun belum lama bekerja tapi suatu perusahaan expor mempercayakan jabatan sebagai marketing director karena kecerdasannya yang tidak bisa diragukan.
__ADS_1
Bapak mamak mereka berdua? Jangan ditanyakan. Pasti mamak sudah berkutat di dapur dan bapak sudah pergi ke sawah mempersiapkan lahan untuk ditanami sayuran.
Okta pun sama halnya dengan Nisa. Tak hanya mereka, sudah dipastikan sebagian besar anak muda pasti masih malas bangun jika suhunya sedemikian rupa. Namun apa boleh buat. Sekolah tidak bakalan tutup walaupun suhunya cocok untuk berbaring di bawah selimut tebal.
Mereka segera bangun dan bersiap- siap mengawali hari untuk beraktivitas. Bangun, mandi, berseragam rapi, sarapan kalau yang biasanya sarapan, lalu sekolah.
Karena Nisa dan Okta satu sekolah, mereka memutuskan untuk berangkat bersama. Kali ini mereka berboncengan. Mereka juga akan gantian memakai motornya. Seminggu pakai motor Nisa seminggu lagi pakai motor Okta dan begitu seterusnya kecuali ada suatu hal yang mengharuskan mereka pakai motor sendiri sendiri.
Untuk minggu ini dimulai memakai motor Nisa. Walaupun Okta anak seorang pengusaha yang cukup ternama tapi dia bukan type anak yang sombong, dia tidak mau diantar jemput maupun bawa mobil sendiri. Okta tidak nyaman menggunakan fasilitas sedemikian rupa.
Lain halnya dengan Cecil. Cecil termasuk type anak bandel. Sampai pukul 06.30 pun dia masih meringkuk di bawah selimut. Malas dan nakal adalah kesehariannya.Tidak heran lagi sih, semua bermula semenjak ibunya masuk rumah sakit jiwa waktu dia masih 5 tahun.
__ADS_1
Entah apa penyebabnya hanya ayah dan ibunya yang tahu. Ia tinggal bersama ayahnya sedangkan ayahnya sering ke luar kota untuk mengurus bisnis mebelnya yang sudah merambah jenjang ekspor. Sekalinya bertemu pasti ada aja yang diributkan.
"Mbok Cecil udah berangkat sekolah belum?", tanya Matthew Slamet, ayah Cecil yang membaca koran sambil minum kopi di pagi hari.
"Anu Tuan....Non Cecilnya belum bangun," jawab Mbok Seneng, asisten rumah tangga keluarga Cecil.
"Kenapa mbok nggak bangunin?" ucap Matthew menghentikan aktivitasnya.
"Maaf tuan saya tidak berani membangunkan Non Cecil," ucap Mbok Seneng sambil menunduk dan meremas jarinya.
"Bener- bener itu anak gak ada berubahnya sama sekali. Bukannya semakin dewasa semakin baik malah semakin nggak karuhan," ucap Matthew geram.
__ADS_1
"Lain kali bangunkan aja mbok kalau perlu siram pakai air biar bangun!" imbuh Matthew.
Mbok Seneng hanya mengangguk lalu pamit undur diri mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang belum terselesaikan.