
Terdengar suara ketukan pintu dari luar kamarnya, Yosse mempersilahkan masuk. Terlihat gadis cantik sedarah dan seusianya berdiri membuka pintu, membiarkan sedikit celah pintu terbuka untuk mengintipnya aktivitas Yosse di balik pintu, memandang punggung tegap Yosse yang membelakanginya.
"Bang ganggu gak?" tanya Rindang.
"Enggak dek. Kenapa?" ucap Yosse yang masih sibuk membongkar barang-barang bawaannya dari luar negeri.
Rindang berlari ke dalam kamar Yosse. Ia langsung merebahkan tubuh mungilnya ke ranjang milik kakak kembarnya itu.
"Bang disana enak nggak?"
"Ya gimana ya? Ya tahu sendirilah, hidup pasti ada suka dukanya. Kamu sendiri bagaimana?" tanya Yosse balik.
"Abang dulu lah yang cerita. Nanti aku cerita."
"Kamu dulu aja. Nanti gantian."
"Oke Bang, aku cerita ya." Ucapan Rindang terhenti sebentar, menyiapkan apa saja yang akan ia ceritakan.
"Tahu nggak Bang? Ka__"
"Nggak tahu, soalnya aku tadi dikasih kedelai," Yosse memotong ucapan Rindang yang belum selesai.
"Ihh Bang dengerin dulu."
Yosse terkekeh melihat Rindang yang kesal dengan dirinya. Suatu hal yang menyenangkan.
Yosse berjalan menuju ranjang. Ia langsung membaringkan badannya di samping adik kembarnya, di ranjang yang sama.
"Bang inget teman yang mau aku kenalin dulu?" lanjut Rindang.
Yosse mengingat-ingat, "Enggak, kan belum dikenalin."
"Ya pokoknya itu Bang. Mereka cewek, namanya Okta dan Nisa."
Yosse terdiam sejenak mengingat-ingat siapa nama mereka. Nama mereka terdengar tidak asing di telinga Yosse. Namun ia tak kunjung mengingatnya.
"Okta anak dari keluarga kaya, sedangkan Nisa anak dari keluarga sederhana. Tapi mereka mau berteman dengan aku tanpa memandang penampilan culunku sama dari mana aku berasal. Bahkan mereka gak tahu kalau aku anak Papa. Malah mereka tahunya aku anak orang biasa yang hidup mandiri disana." jelas Rindang.
__ADS_1
Yosse menyimak cerita Rindang dengan seksama sambil membiarkan tangannya menjadi bantalan kepalanya.
"Ya bagus dong. Berarti mereka tulus berteman sama kamu."
"Tapi Bang, nanti mereka marah nggak ya kalau tahu aku anak orang berada?" Rindang khawatir jika hal-hal seperti itu kelak terjadi.
Yosse bangun dari tidurnya lalu berjalan ke arah meja belajarnya.
"Ya memang, cepat atau lambat mereka akan tahu. Tapi sebelum mereka tahu dari orang lain, lebih baik kamu cari waktu yang tepat untuk memberi tahu mereka secara baik-baik. Lagian jika mereka menganggap kamu teman bahkan sahabat, mereka gak akan mempermasalahkan itu."
Rindang hanya mengangguk-angguk mencerna saran dari Yosse.
"Oh ya, bicara soal teman, pasti temenmu gak hanya cewek. Bener nggak tebakanku?" selidik Yosse.
"Kok tahu."
"Apa sih yang nggak abang tahu?" ucap Yosse sombong. Mereka tertawa bersama.
"Jadi di awal aku masuk itu ada tiga senior, satu tingkat di atasku bantuin aku sama dua sahabatku itu ngadepin masalah sama kakak kelas yang ngebully sahabatku. Dari situlah kami kenal Bang. Nama mereka Dhika, Bagas, dan Ivan."
Yosse terperangah mendengar nama mereka disebut oleh Rindang. Dia diam bergerak, tak bersuara seakan-akan dunianya berhenti berputar hingga beberapa waktu.
"Mereka baik kok, asik juga orangnya. Memang sih, diawal itu Kak Dhika orangnya kayak dingin banget gitu. Tapi lama-lama orangnya hangat juga ramah."
Rindang tak menyadari perubahan wajah Yosse, yang semula ceria mendengarkan ceritanya mulai terdiam. Rindang tidak sadar bahwa ia menyebut nama-nama orang yang berharga di hidup Yosse di masa lalu. Ia melupakan nama mereka. Apa lagi dahulu, ia memanggil nama Dhika dengan nama depannya, Ardhi.
Begitu pula dengan Dhika, Bagas, dan Ivan yang tidak mengingat Rindang karena mereka memanggil Rindang dengan nama Arin. Lagi pula mereka terlalu kecil untuk mengingat wajah mereka satu sama lain. Wajah mereka sudah berubah seiring mereka beranjak dewasa.
Namun tidak diantara mereka bertiga dan Yosse. Mau tak mau mereka akan mengingat satu sama lain, entah sebagai sahabat maupun musuh.
Di usianya yang masih kecil, Rindang tidak mengetahui kejadian yang sesungguhnya diantara keempat sahabat itu. Yang ia tahu, mereka tidak bersama lagi karena Yosse pindah ke sekolah di daerah Rindang menuntut ilmu saat ini. Cukup mengganjal, namun cukup masuk akal.
"Oh iya lupa! Aku harus menyapa sahabatku dulu Bang. Tadi ia ulang tahun. Bye Abang," pamit Rindang. Ia mengecup pipi Yosse kemudian berlari meninggalkan kamar Yosse.
"Bang nanti jangan lupa cerita hidup abang disana!" teriak Rindang sambil berlalu. Yosse tidak menyahuti kata-kata Rindang. Ia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Semoga ia tidak mengetahui kalau Rindang saudara kembarku yang dulu mereka kenal. Tuhan lindungilah saudara kembarku selalu," doa Yosse. Dunia begitu sempit hingga Rindang malah satu sekolah dengan mereka.
__ADS_1
Ia mencemaskan adik kembarnya. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi jika Dhika mengetahui bahwa Rindang adik kembarnya. Banyak kemungkinan terjadi. Bisa saja mereka tetap akan menerima Rindang atau bahkan kemungkinan terburuknya mereka akan mencelakai Rindang.
Tak terasa Yosse memejamkan matanya karena terlalu larut dengan pikirannya ditambah kecapaian setelah belasan jam perjalanan telah ia tempuh.
Sementara itu, disisi lain Nisa mempelajari gawai baru, kado ulang tahun dari Setyo. Mulai dari aplikasi yang biasa hingga yang menurutnya cukup sulit ia mengerti. Sampai bunyi notifikasi pesan terdengar. Ternyata itu adalah pesan dari group yang isinya Nisa, Okta dan Rindang.
Mereka bertukar pesan cukup lama. Ada saja yang mereka obrolkan sampai-sampai Nisa tertawa sendiri.
"Astaga anak muda jaman sekarang. Kalau sudah mainan hp seperti orang gila aja, ketawa-ketawa sendiri," gumam Bu Tin yang tidak sengaja mendengar Nisa tertawa sendiri saat lewat di depan kamar Nisa.
Ia berhenti sejenak. "Nis jangan malam-malam tidurnya. Biarpun sudah punya hp baru jangan lupa belajar," pesan Bu Tin dari luar kamar Nisa.
"Siap Mak," teriak Nisa dari dalam kamar.
"Dunia semakin sempit saja. Sekarang gak perlu bertemu untuk saling menyapa," gumam Bu Tin sambil berlalu menuju kamarnya.
Nisa melanjutkan bertukar pesan dengan para sahabatnya, sampai ada pesan masuk dari orang tak dikenal. Nisa membuka pesan itu.
"Hai Nis, gue Dhika." isi pesan itu.
"Oke Kak 👌"
"Jangan lupa besok Senin kita ketemu di sekolah untuk latihan buat lomba nyanyi duet."
Dhika sudah mengetahui pasangan duetnya dari Bagas sahabatnya, si ketua kelas. Dhika juga sudah mendapatkan nomor Nisa yang baru untuk menghubunginya.
"Ehh? Jadi pasangan nyanyi duetnya itu Kakak?" Nisa kaget dengan kenyataan yang baru saja ia ketahui.
Cukup lama Nisa menunggu pesan dari Dhika. Hingga bunyi notifikasi pesan masuk yang terdengar kembali mengagetkannya yang sudah hampir saja tertidur. Nisa mengucek pelan matanya agar pandangannya tidak kabur, kemudian membaca pesan singkat itu.
"Maaf baru bales.
Iya betul. Emang lo belum dikasih tahu sama ketua kelas lo? " Dhika baru membalas pesannya karena tak diduga ada panggilan alam yang mengharuskannya pergi ke toilet.
"Gak apa kak. Belum sih, soalnya Samuel gak punya nomor hp ku. Tahu sendiri baru hari ini aku punya hp 😁"
"Yaudah jangan lupa besok Senin sepulang sekolah di ruang musik"
__ADS_1
Nisa tidak membalas pesan terakhir dari Dhika. Ia langsung mematikan sambungan internetnya kemudian beranjak untuk tidur. Begitupun juga dengan Dhika di seberang sana.