
Pagi yang cerah dengan suara burung berkicau tak membuat hati Delia menjadi tentram, dari kemarin sejak ia baru pulang dari Padang ia selalu terngiang dengan perkataan ibunya.
"Kau itu anak gadis, usiamu sudah matang, apa kau mau jadi perawan tua?"
Delia meringis mendengar kata ekstrem itu, padahal umurnya baru dua pulah lima tahun. Mungkin bagi ibu, seorang gadis dengan umur menginjak dua puluh lima tahun itu adalah masa-masa tergawat dan berbahaya. Mungkin ibu berpikir bahwa umur itu sebegitu menakutkan alih-alih anak gadisnya tidak mendapatkan jodoh.
"Kita, wanita, punya kantong rahim. Kita punya sesuatu yang bisa saja menjadi terhenti, Del." tiba-tiba ibu membicarakan soal privasi wanita.
Delia membelalakkan matanya. Seorang wanita punya kantong rahim? Dan itu tidak bisa bertahan lama?. Delia memperhatikan perutnya lalu ia mengalihkan pandangannya ke arah ibunya.
"Delia masih belum menginjak kepala tiga bu! Delia masih berada di umur yang aman"
Ucap Delia membela diri.
Ibu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Setidaknya kau menurut untuk saat ini Delia, besok mereka akan datang, dan bersikaplah yang baik, ibu mohon, untuk sekali ini saja!"
"Tapi, bu!"
Ibu benar-benar tak mau mendengar lagi alasan Delia, dia pergi dari hadapan Delia. Sang ayah datang hanya menepuk-nepuk pundak sang putri.
"Delia, kami hanya ingin kau bersikap baik besok saat bertemu mereka, itu saja!" ucap ayah, dia lebih sabar menghadapi putrinya ketimbang sang ibu.
__ADS_1
"Delia tak mengenal mereka ayah! Bagaimana bisa Delia langsung berfikir untuk menerimanya!" suara Delia kali ini bergetar menahan tangis.
"Ayah sangat mengenal mereka, mereka dari keluarga baik-baik, dan ayah yakin mereka akan menyayangimu sama seperti ayah dan ibu menyayangimu!" ucap ayah, Delia benar-benar tak bisa membantah lagi, bagaimanapun perintah orang tua harus dia patuhi, walau hatinya sendiri tak bisa menerima, karena dia yakin bahwa apa yang menjadi ridho orang tua adalah ridho Allah, dan orang tua pasti sudah memilihkan untuknya yang terbaik.
Delia termenung didalam kamarnya, dia tumpahkan segala kerisauannya di atas sajadah pagi itu, air mata Delia tumpahkan sambil memohon agar kelak yang menjadi suaminya adalah lelaki yang sholeh dan bisa menjadi imam yang baik untuk dirinya.
Delia tak kunjung keluar dari kamarnya, ia masih betah berlama-lama disana walau jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Suara ketokan pintu kamarnya membuyarkan lamunannya.
"Kak! Dipanggil ibu?" ucap si pemilik suara yang ternyata Dimas, adik Delia. Buru-buru Delia membuka mukenanya dan sedikit bergegas ia membuka pintu kamarnya. Delia menongolkan kepalanya sedikit.
"Hmmm!" ucap Delia, terdengar tak bersemangat.
"Tamunya bentar lagi datang, kakak disuruh cepat siap-siap!" ujar Dimas.
Semua persiapan sudah selesai untuk menyambut datangnya tamu istimewa itu, dari jamuan makan hingga sesuguhan yang sudah siap ada di meja tamu. Delia hanya mengernyit bingung. Kenapa begini amat sih penyambutannya, pikirnya dalam hati. Delia jadi penasaran, seperti apa sih lelaki yang akan dikenalkan orang tuanya itu.
Tamu yang sudah ditunggu-tunggu akhirnya tiba, sebuah alpard memasuki halaman rumah Delia. Sebelum sang tamu turun dari mobil, ibu dan ayah sudah menyeret Delia untuk keluar rumah untuk menyambut sang tamu diteras rumah, Dimas pun mengekor orang tua dan kakaknya itu.
"Assalamualaikum!" ucap sang tamu, mereka ada dua orang, seorang pria paruh baya dan seorang wanita paruh baya juga, sepertinya wanita itu adalah istrinya, tapi dimana lelaki yang akan dikenalkan padanya. Delia semakin penasaran dibuatnya.
Ayah dan ibu menyambut kedua tamu itu dengan berjabat tangan setelah membalas salam sang tamu, sedangkan ibu cipika-cipiki sama tamu wanita itu, mereka benar-benar terlihat akrab. Delia hanya bisa memamerkan senyumnya yang dipaksakan itu.
"Oh ini yang namanya Delia, cantik sekali kamu sayang!" ucap wanita itu sambil memeluk Delia, dipeluk seperti itu sungguh membuat Delia merasa malu dan tak enak hati.
__ADS_1
"Ayah, ini calon menantu kita cantik banget loh!" ucap wanita itu lagi pada suaminya. Dan Delia pun menyalami lelaki itu.
'Menantu? Benarkah mereka yang akan menjadi mertuaku?'
"Gibran kemana yah?" ucap wanita itu yang baru sadar bahwa anak lelakinya ternyata tak keluar dari mobil. Dengan segera sang ayah pun menjemput sang anak didalam mobil.
Beberapa saat kemudian, akhirnya lelaki bernama Gibran itu pun keluar dari mobil itu dengan senyum terlihat dipaksakan, namun sepertinya dia mampu menutupi semua itu dengan sopan santunnya terhadap orang tua Delia.
Kedua orang tua Delia benar-benar bahagia melihat calon menatunya itu yang ternyata sangat tampan. Sedangkan Delia, hatinya memang mengakui bahwa calonnya itu tampan, namun dia tak tau bagaimana kepribadiannya karena sama sekali dia tak mengenal sang calon, dia hanya tau 'katanya dan katanya' dari ibu dan ayah yang mungkin melebih-lebihkan. Delia hanya menangkupkan tangannya didepan dada saat berhadapan dengan pria itu, namun ada yang aneh dari tatapannya. Delia tak tau arti dari tatapan pria di hadapannya itu, yang jelas tatapannya begitu tajam menatap Delia. Delia menjadi bergidik sendiri, namun segera ia alihkan tatapannya itu.
Mereka pun memasuki ruang tamu dan acara ramah tamah pun dimulai, dimulai dari perkenalan Delia dengan mereka.
Delia mengetahui nama dari lelaki itu adalah 'Gibran', dan yang membuat Delia terkejut, ternyata Gibran pernah nyantri di Padang tepatnya di Darul Ulum tempat Delia juga nyantri, mengingat Darul Ulum, Delia jadi rindu suasana disana. Karena memang suatu peraturan yang begitu ketatnya, mereka memang tak pernah tau dan mengenal satu sama lain.
"Wah, jadi Delia nyantri disana juga?" tanya ibu Gibran dengan wajah berseri-seri. Delia hanya mengangguk sambil tersenyum.
Obrolan ringan itu terus berlanjut hingga sampailah pada obrolan inti, obrolan yang menjadi maksud tujuan mereka datang bertamu kerumah Delia, dan Delia hanya bisa pasrah ketika orang tuanya langsung tanpa pikir panjang menerima maksud baik keluarga Gibran, yang Delia pikirkan hanya bersikap baik ketika keluarga Gibran datang, dan sikap terbaik yang dia lakukan hanyalah diam, diam menerima semua keputusan yang mereka putuskan.
Anehnya kenapa Gibran juga diam, sama seperti dirinya, Gibran juga tak berkomentar apapun dengan keputusan orang tuanya, namun Delia melihat lagi tatapan Gibran yang nampak dingin itu padanya dan Delia hanya menunduk tak tahan melihatnya.
Keputusan sudah di sepakati kedua belah pihak, dan mereka memutuskan acara pernikahan mereka akan dilaksanakan seminggu lagi, sedangkan untuk resepsi akan dilaksanakan satu bulan setelah ijab qabul karena banyak yang harus dipersiapkan untuk itu, dan itu semua sudah menjadi keputusan yang paten dan tak bisa diganggu gugat lagi.
"Apa!!!" kata Delia dan Gibran serentak.
__ADS_1
Bersambung....