Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin

Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin
Bab 56 Kejujuran Hati


__ADS_3

"Sayang, kamu udah yakin mau masuk kerja hari ini?" tanya Gibran yang sedang duduk di tepi ranjang sambil memperhatikan Delia yang sedang mengeringkan rambutnya yang basah menggunakan hair drayer.


"Iya sayang, aku tuh udah capek banget diem di rumah terus!" ujar Delia.


"Tapi hari ini aku mau ke kantor ayah, nyelesein pekerjaan yang tertunda kemarin!"


"Iya, tenang aja, lagian di kampus ada Zahra dan ada Aulia yang akan nemenin aku!"


Deg


Mendengar nama Aulia jantung Gibran langsung berdebar, entah mengapa Gibran masih belum bisa berkata jujur pada Delia, keraguan masih merajai hatinya.


"owh! Au..lia teman baru kamu?" tanya Gibran, sedikit kagok menyebut nama Aulia.


"Bukan teman baru, dia itu teman satu pesantren sama aku di Darul Ulum, kamu juga nyantri disana kan, sayang?" tanya Delia, tangannya masih sibuk merapikan kerudungnya. Gibran hanya diam tak merespon.


"Oh iya! Sayang tau Hamdan tidak?" tanya Delia sambil menoleh pada Gibran yang masih duduk di atas kasur.


"Kenapa?" perasaan Gibran makin tak nyaman.


"Aulia tuh dulu suka banget sama si Hamdan itu, haha!" Delia nampak riang menceritakan perihal Aulia sedangkan Gibran makin merasa tak karuan.


"Aku dulu menyuruh Aulia untuk menemui ustadz Arif, biar bisa berkenalan secara langsung dengan Hamdan, dari pada pake surat cinta. Gak tau dia benar melakukan itu atau tidak!" celoteh Delia, sedangkan Gibran seakan darahnya berdesir-desir, jantungnya berpacu lebih cepat.


"Sayang!!!" panggil Delia, Gibran tak menyahut.


"Sayang!!!!!" sekali lagi Delia memanggil Gibran sambil mendekatinya dan mengguncang pundak suaminya itu.


"Kamu kok malah ngelamun sih, apa jangan-jangan kamu Hamdan ya?" kata Delia.

__ADS_1


"Apa!!!" sontak Gibran sedikit kaget, hingga ia tak sadar sedikit berteriak pada Delia.


Delia kaget "Apa'an sih! Aku bercanda! Subbahanallah, bikin aku kaget tau!" Delia nampak kesal.


"Maaf, maaf aku gak sengaja!" ucap Gibran sambil merangkul pundak Delia.


"Ya sudah ayo cepet siap-siap! Dah siang nih!" ujar Delia yang kemudian bangkit. Tak memperdulikan Gibran yang mungkin saat ini perasaannya sedang campur aduk.


Seperti biasa, Delia akan memeluk perut Gibran saat mereka berjalan menuju mobil mereka. Pagi ini Gibran akan pergi ngantor, jadi dia akan mengantar jemput Delia ke kampus.


Sepasang mata nampak tersiksa melihat kemesraan Gibran dan Delia, tersiksa dan benci, itulah yang terjadi, namun tekadnya tak akan mundur, dia sudah sampai sejauh ini melangkah.


Suara klakson taxy membuyarkan lamunan Aulia, dia pun bergegas membuka pintu taxy dan masuk kedalamnya, pandangannya masih tetap menatap pasangan suami istri yang berada di seberang sana, hingga taxy pun berjalan dan pandangannya kini berganti jejeran rumah-rumah yang ada di komplek itu.


Aulia sengaja tak ikut mobil Delia, karena dia tak tahan melihat kebersamaan Delia dengan Hamdan, apalagi Delia begitu terlihat manja pada Hamdan, dan yang lebih menyakitkan saat ini, Delia telah hamil anak Hamdan, itu yang tak bisa Aulia terima begitu saja.


...****************...


"Kamu nggak apa-apa cuma aku antar sampai disini saja?" kata Gibran sambil menatap Delia.


"Nggak apa-apa sayang, ya sudah aku masuk dulu ya!" Delia mencium tangan Gibran dan tak lupa Gibran mencium kening Delia.


Setelah Delia keluar dari mobil tak lama kemudian pintu mobil depan dibuka oleh seseorang yang tiba-tiba masuk tanpa ijin ke mobil Gibran, awalnya Gibran begitu kaget karena ada seseorang yang masuk ke mobilnya tanpa ijin, namun setelah ia tahu siapa yang telah masuk dan duduk disebelahnya itu, Gibran hanya tertegun memandang sorot mata itu, lidahnya menjadi kelu.


"Bisa kita bicara?" kata Aulia setelah ia berhasil masuk kedalam mobil Gibran.


"A..apa yang kau lakukan?" tanya Gibran sedikit gagap.


"Harusnya itu yang menjadi pertanyaanku!" ucap Aulia sambil menghadap ke Gibran, ini pertama kalinya mereka duduk sedekat ini, namun walau begitu Gibran tak berani menghadap ke Aulia, pandangannya masih kedepan mengahadap kemudi.

__ADS_1


"Apa yang kamu mau?" ucap Gibran, nadanya begitu dingin.


Aulia begitu tercubit hatinya mendengar nada dingin lelaki di hadapannya itu, lelaki yang tak berperasaan yang telah membuat hatinya sangat kecewa.


"Hamdan, kenapa kau lakukan ini padaku? Apa salahku?" air mata Aulia tak bisa ditahan lagi, meluncur bebas ke pipinya yang mulus.


"Maafkan aku!" hanya itu yang bisa Gibran ucapkan, semua yang terjadi memang bukan kemauannya, namun ini semua adalah takdir.


"Maaf?!! Kau kira masalah ini hanya bisa diselesaikan dengan kata maaf?!" suara tangis Aulia memenuhi mobil, dan itulah kelemahan Gibran, dia paling tidak tahan mendengar tangisan seorang wanita, apalagi wanita yang menangis karena dirinya.


"Selama ini aku menunggu janjimu, hingga aku jauh-jauh datang ke Jakarta untuk mencarimu!" suara Aulia terhenti karena tangisannya, Gibran hanya diam mendengarkan ungkapan hati Aulia, dia memang salah, karena tak menepati janjinya, namun keadaan sudah tak memungkinkan.


"Menagapa kamu tega mempermainkan aku!!" tiba-tiba Aulia berteriak pada Gibran.


"Maafkan aku Aulia, aku tak bermaksud mempermainkanmu, ini semua bukan kehendakku!" Gibran mencoba membela diri, memang benar, saat itu orang tuanya menjodohkan dirinya dengan Delia, hingga sekarang pernikahan itu masih tetap berjalan bahkan semakin baik dan harmonis, apakah itu bisa dikatakan dengan mempermainkan? Gibran mencoba bertanya pada dirinya sendiri.


"Apa yang kamu maksud bukan kehendakmu? Kau terlihat begitu mencintai Delia, dan saat ini Delia telah hamil anakmu, apakah itu yang kamu maksud dengan bukan kehendakmu?!" ucap Aulia, terlihat dia begitu sangat marah.


"Aku mohon, dengarkan aku!" Gibran mencoba menenagkan Aulia dengan menagkupkan tangannya didepan dada. "Aku dan Delia menikah karena orang tua kami telah sepakat untuk menjodohkan kami, dan aku tak bisa menolak permintaan ibu!" Gibran mencoba menatap wajah Aulia, sorot mata mereka kembali bertemu, hampir saja meluluh lantakkan iman Gibran.


"Apa masih ada ruang dihatimu untukku?" tiba-tiba Aulia berkata dengan lembut, dengan sorot mata yang masih menatap mata Gibran dengan dalam.


Gibran tak bisa menjawab pertanyaan Aulia, dia mencoba menelusup ke setiap ruang di hatinya, mencari jawaban dari pertanyaan Aulia. Gibran berusaha menghindari tatapan Aulia, dia tak ingin gadis itu berfikir bahwa dia masih mencintainya dan mengharapkan kehadirannya, sungguh bagi Gibran saat ini yang ada di hatinya hanya Delia.


Namun melihat Aulia yang begitu sedih saat ini hatinya goyah, karena rasa bersalahnya, dia ingin memberikan pundaknya untuk Aulia, sekedar menenangkan hatinya, namun Gibran tak bisa melakukan itu, seperti ada pembatas yang memang tak boleh ia terobos.


Seandainya Aulia datang disaat hatinya masih belum ia berikan pada Delia, mungkin hal itu sudah ia lakukan, dia akan memeluk Aulia dengan segenap rasa cintanya.


"Hamdan! Aku tak bisa berpaling dari mu! Aku akan tetap mencintaimu!" ucap Aulia dengan pandangan penuh arti. Gibran terdiam, seakan tersihir saat tiba-tiba Aulia mendekatkan wajahnya ke wajah Gibran.

__ADS_1


Bersambung....


Like-like-like-like, jangan lupa like ya. Jangan hanya baca saja, diusahakan like ya🤭 biar aku semangat untuk up lagi🙏🤗


__ADS_2