
Pagi hari yang cerah, dengan suara musik ringan dari sebuah saund bluetoot yang Delia taruh di dapur, dia sengaja menaruhnya disana agar dia bisa lebih rilex saat ia sedang melakukan pekerjaannya di dapur, Delia bersenandung kecil mengikuti lagu yang dibawakan oleh Carpenters dengan judul lagu Clouse To You itu, suaranya memang tak semerdu seperti seorang diva, namun suasana yang diciptakan oleh lagu itu sendiri bagai mewakili perasaan Delia saat ini yang sedang merasakan jatuh cinta, hingga suara Delia bisa mengimbangi suara alunan lagu yang berasal dari soud itu. Delia begitu menikmati dan menghayati tiap syair dan bait dari lagu itu, hingga ia tak menyadari bahwa dirinya kini sedang diamati oleh seseorang yang sedari tadi berdiri di ambang pintu dapur. Siapa lagi kalau bukan suaminya, Gibran. Delia begitu bersemangat hingga tiap gerakannya mengikuti tiap alunan lagu, suaranya kini ia buat semendayu mungkin, hingga ia sendiri yang mendengarkannya sangat merdu (terdengar di telinga dia sendiriš¤).
Hingga lirik terakhir tepat Delia selesai mengangkat piring yang dia cuci dari wastafel. Delia begitu riang hatinya saat ini, seakan hatinya penuh dengan bunga-bunga dan tanpa sadar Delia senyum-senyum sendiri, membayangkan seseorang yang sangat ia cintai. Namun suara tepuk tangan dari belakang tubuhnya kini membuatnya terperanjat, seketika Delia berbalik dan mendapati Gibran sedang berdiri dibelakangnya sambil tepuk tangan. Delia yang merasa dirinya tengah kepergok sedang bernyanyi dan berjoged sendiri didapur hanya bisa tersenyum garing karena menahan malu. Namun tanpa disangka Gibran mendekati dan mengecup kening istrinya itu dengan mesra, membuat Delia semakin melayang dibuatnya.
"Tak kusangka, istriku ternyata jago nyanyi!" ucal Gibran, terdengar mesra namun nadanya sedikit mengejek, membuat Delia langsung memukul dada bidang Gibran dengan pelan.
"Hey! Kau jangan mengejekku ya!" ucap Delia sedikit merajuk.
"Aku tak mengejekmu, tapi kau hanya boleh bernyanyi didepanku saja!"
"Kenapa?"
"Karena, tak semua telinga orang akan sama seperti telingaku yang mendengarkannya!"
"Maksudnya!"
"Ya mungkin telinga orang lain masih waras, dan bisa membedakan mana suara yang enak didengar dan suara yang tidak enak untuk didengar, hahaha!" ucap Gibran sambil terpingkal-pingkal, membuat Delia benar-benar memukuli bahkan mencubit lengan suaminya itu, hingga Gibran mengaduh kesakitan.
"Hentikan! Kau jangan KDRT begini dong!" ucap Gibran sambil bergurau, dan seketika Delia menghentikan pukulannya itu.
"Ups! Maaf, apa ada yang sakit?" ucap Delia sedikit menyesal.
"Masih tanya ada yang sakit! Ya jelas ini sangat sakit!" ucap Gibran, pura-pura sebal.
"Habisnya kamu sih, nyebelin tau gak?"
"Kamu harus dihukum!"
__ADS_1
"Dihukum?"
"Iya, kamu dihukum menyanyi!" mendengar itu Delia langsung tertawa.
"Hukum apaan itu, ngaco!"
"Emang kamu mau aku hukum yang berat!"
"Ya nggak lah, oke! Kalau cuma dihukum nyanyi doang!" ucap Delia dengan penuh percaya diri.
"Tapi gak segampang yang kamu bayangkan ya!" ucap Gibran sambil tersenyum smirk.
"Maksudnya?"
"Ya, kamu dihukum nyanyi dan berjoged didepanku sambil memakai lingerie!" ucap Gibran tersenyum puas.
"Idih, apa'an itu, ogah, gak mau!"
"Harus mau!"
"Harus mau!" Gibran kini mengangkat tubuh Delia dan menggendongnya.
"Sayang, plese deh! Ini tuh udah jam berapa? Ayo cepet sarapan, nanti kita telat loh!" ucap Delia sambil memohon dan akhirnya Gibran menurunkan Delia.
"Oke dah, hukumannya gak sekarang, tapi nanti!" ucap Gibran, seperti orang menagih hutang. Akhirnya mereka pun cepat menyelesaikan sarapan mereka lalu bersiap berangkat ke kampus bersama-sama.
Sampai dikampus Gibran tak henti-hentinya memperlihatkan kemesraannya pada Delia, bahkan tangannya pun masih erat menggenggam tangan Delia dan mengantarnya ke perpustakaan tempat Delia bekerja saat ini. Pak Edo yang biasanya selalu stanby di mejanya pagi-pagi sekali kini tak terlihat batang hidungnya, dan itu membuat Delia sedikit lega karena Pak Edo tak meliahat bagaimana Gibran memperlakukannya, hanya beberapa mahasiswa yang kebetulan berada di perpustakaan saat itu melihat kemesraan Delia dan Gibran, namun nampaknya mereka cuek-cuek saja, dan ada pula Bu Vera yang juga staf di perpustakaan itu, dia sedikit aneh memandang Delia dan Gibran, namun dia hanya menampakkan senyum saja di hadapan Delia.
__ADS_1
"Assalamualaikum, pagi Bu!" ucap Delia kepada staf seniornya itu.
"Wa'alaikum salam, pagi juga!" Bu Vera hanya menjawab seadanya, dia tak memperpanjang dengan bertanya hal-hal yang ia lihat barusan dan nampaknya dia tak tertarik untuk mengetahuinya. Walaupun Delia dan Gibran adalah suami istri, namun dimata umum seperti di kampus ini, mereka bukan dikenal sebagai pasangan melainkan sebagai saudara sepupu dan Delia tak berniat untuk mengatakan hal yang sebenarnya sebelum Gibran sendiri yang memutuskan.
Saat Delia sudah duduk di kursi kerjanya, dia sudah mau memulai pekerjaannya. Namun terdengar suara derap langkah seperti setengah berlari menaiki tangga. Delia sedikit melongo pada sumber suara itu berasal dan mendapati seorang wanita yang sedikit terburu-buru, siapa lagi kalau bukan Zahra.
"Delia!" panggi Zahra disela nafasnya yang sedikit ngos-ngosan. Dipanggil seperti itu membuat Delia pun terkesiap dibuatnya. Zahra yang langsung duduk di kursi didepan meja Delia itu seakan-akan langsung menodongnya.
"Delia! Sekarang jelasin sama aku, sebenarnya apa hubungan kamu dan Gibran?" Delia sedikit kaget mendengar pertanyaan Zahra itu, apa mungkin hubungannya dengan Gibran kini diketahui oleh Zahra.
"Maksud kamu!" ucap Delia sedikit mengernyitkan dahi dengan maksud menghindari pertanyaan dari Zahra itu.
"Kenapa dari kemarin aku lihat kalian mesra banget, apa jangan-jangan kalian memang punya hubungan special di belakang aku!" ucap Zahra begitu menggebu.
'Dibelakangku?? Memangnya Gibran siapa mu? Ckckck!!' Delia begitu sebal mendengar perkataan Zahra barusan, namun dia hanya bisa menahan emosi.
"Mesra gimana sih, Ra? Perasaan biasa aja deh!"ucap Delia sedikit malas meladeni omongan Zahra itu.
"Oke, menurut mu, itu hal yang biasa yang dilakukan sesama sepupu ya, tapi bagi ku, aku tidak bisa melihat kalian yang mesra seperti itu di depanku!" ucap Zahra, suaranya sedikit bergetar, membuat
Delia bingung untuk menanggapinya.
"Lalu, mau kamu apa, Zahra?"
"Mau aku, kamu jangan deketin Gibran!"
"Apa?!" tak mungkin Delia melakun hal itu, karena dalam hal ini bukan hanya dia yang deketin Gibran, tapi Gibran pun pasti akan sering mendekatinya terlebih dahulu. Delia hanya diam tanpa ekspresi. Namun tanpa disangka Zahra kini menggenggam tangan Delia dan menangis sesenggukan.
__ADS_1
"Aku sangat mencintai Gibran, please bantu aku untuk bisa menjalin hubungan dengan dia, aku mohon Delia!" suara tangisan Zahra semakin menjadi, Bu Vera yang sedari tadi sibuk dengan pekerjaannya kini ikutan melongo menatap Membuat Delia benar-benar dibuat malu. Tanpa pikir panjang Delia hanya bisa mengangguk pasrah dengan maksud agar Zahra menghentikan tangisannya itu. Namun kini dirinya malah dibuat bingung sendiri.
Bersambung.....