
Delia dan Gibran sedang bersiap-siap, pagi ini mereka berencana akan berjalan-jalan. Delia sudah tidak sabar untuk melihat-lihat indahnya kota Paris. Bisa dibilang mereka beruntung datang ke Paris saat ini, karena saat ini masih bulan juni yang artinya di Paris sedang musim semi, nampak warna-warni bunga bermekaran terlihat dari atas balkon saat Delia sedang menikmati sejuknya pagi disana.
"Sayang apa kau sudah bersiap untuk pergi?" tanya Gibran yang tampaknya sudah siap, Delia menatap suaminya yang makin tampan saja.
"Ayo kita jalan-jalan, aku sudah siap!" kata Delia nampak bersemangat.
Namun tiba-tiba pintu kamar mereka kini di ketuk dari luar, Gibran bergegas membuka pintu.
"Bonjour monsier, Voice votre petit dejeuner!" ucap seorang lelaki yang ternyata adalah pelayan hotel, nampaknya dia memberikan sarapan untuk Gibran dan Delia.
"Oui, merci!" ucap Gibran sambil menerima sarapan itu, dan lelaki itu pun pergi. Dua buah roti Baguette dan dua cankir teh hangat, roti baguette khas Prancis ini memang cocok untuk dibuat sarapan, dengan beberapa pilihan selai seperti, selai kacang, coklat dan strawberry.
"Makanlah dulu, setelah itu baru kita pergi jalan-jalan, agar menambah energi untuk kita." kata Gibran sambil meletakkan piring berisi dua buah roti itu di meja balkon, mereka pun menghabiskan roti baguette itu disana sambil melihat menara eiffel. Delia tak lupa mengabadikan moment itu dengan kameranya, dia bergaya memegang secangkir teh sambil menatap menara eiffel.
"Rasa teh disini memang beda dengan teh di Indonesia!" kata Delia.
"Apakah tidak enak?"
"Tidak, hanya rasanya memang sedikit berbeda!"
"Cepatlah habiskan sarapanmu, ayo kita berjalan-jalan!" kata Gibran sambil menghabiskan tehnya itu.
Setelah selesai menghabiskan sarapan, mereka pun keluar dari kamar, tak lupa Gibran mengunci kembali kamar mereka. Setelah menitipkan kunci kamar itu pada resepsionis hotel, mereka pun pergi dan berjalan melewati sebuah jembatan yang menyeberangi sungai seine.
"Waw! Kenapa di jembatan ini banyak gembok yang digantung?" tanya Delia begitu takjub melihat gembok-gembok yang beraneka bentuk dan warna tergantung di jembatan itu.
"Iya, apakah kau tau tentang "Gembok Cinta'?" tanya Gibran.
"Gembok cinta? Ya, aku tau, apakah ini jembatan romantis itu?" kata Delia sungguh tak percaya karena takjubnya.
"Ini adalah jembatan Pont des Arts, jembatan yang sangat fenomenal dan terkenal dengan jembatan cinta!" kata Gibran menjelaskan.
"Wah, aku ingin mengabadikan nama kita juga disini!" kata Delia.
"Tidak perlu, disini sudah terlalu banyak gembok-gembok yang tergantung, dan sudah terlalu banyak kunci-kunci yang dibuang disungai ini, tidak ada gunanya!" kata Gibran.
"Hmmp! Sayang sekali, kita sudah sampai disini, baiklah, tapi aku ingin mengabadikan moment romantis kita disini!" kata Delia.
"Baiklah!" akhirnya Gibran mengambil beberapa gambar foto Delia dan dirinya di jembatan itu.
"Apakah kau ingin naik perahau?" tanya Gibran sambil menarik tangan Delia dan berjalan di tepi sungai Seine itu, sungai yang membelah kota Paris menjadi Paris Utara dan Selatan itu memang sungguh menarik perhatian Delia, karena sungai itu juga termasuk destinasi untuk para wisatawan menikmati keindahan kota Paris.
Mereka pun menaiki perahu, Delia dengan antusias memandangi keindahan bangunan-bangunan yang berjejer di pinggir sungai Seine.
__ADS_1
"Bukankah semakin terlihat indah menara eiffel jika dilihat dari sini?" kata Gibran.
"Benar sayang, masya allah, indahnya!" kata Delia dengan takjub.
"Bangunan itu kenapa mirip dengan UFO ya!" tanya Delia pada Gibran.
"Oh! Itu adalah gereja Katedral Notre Dame, bentuknya memang dirancang menyerupai UFO!" kata Gibran menjelaskan.
"Sepertinya kau tau banyak tentang bangunan-bangunan disini!" kata Delia yang kagum kepada pengetahuan Gibran.
"Pastinya lah! Anggap saja aku adalah tour guide kamu!" kata Gibran sambil mengusap-usap kepala Delia, dan Delia pun tertawa.
"Baiklah, kalau begitu, jelaskan semua tentang semua yang ada disini, Pak!" kata Delia dengan bercanda.
"Dengan senang hati Nona manis!" ucap Gibran, hingga Delia terpingkal-pingkal melihat gaya bicara Gibran yang seolah-olah dia memang tour guidenya.
"Kalau itu bangunan apa sayang, arsitekturnya sangat klasik dan indah sekali!" tanya Delia sambil menunjuk pada sebuah bangunan yang terdapat seperti kubah di depannya.
"Itu, Palais de Justice, Istana pengadilan atau istana kota!" kata Gibran.
"Megah sekali bangunan itu, kalau yang itu apa?" tanya Delia lagi menunjuk pada sebuah bangunan lagi.
"Itu museum Louvre, itu termasuk museum kota, banyak sekali koleksi-koleksi mesir kuno, Yunani, Purbakala, Etruskan dan romawi kuno. Seni islam juga ada disana!"
"Kau tau lukisan Monalisa karya Leonardo Da Vinci yang sangat fenomenal itu? Lukisan itu juga ada di museum Louvre sana!"
"Wah, kau tak hanya tau tentang bangunan-bangunan disini, tapi juga tau apa yang ada di dalamnya juga?" kata Delia. Mendengar pujian itu Gibran semakin memperlihatkan gayanya yang cool, dan itu membuat Delia gemas.
Perahu masih terus berjalan hingga sampai pada sebuah kedai-kedai metalik hijau ditepian sungai, terdapat banyak buku-buku yang di pajang disana, Delia sudah mengira, pasti itu adalah kedai yang menjual buku-buku.
"Banyak sekali penjual buku disini!" kata Delia begitu melihat banyak buku-buku yang di pajang dan dijual di kedai-kedai itu dan yang membuat Delia heran, warna dari kedai-kedai itu sama berwarna hijau metalik, banyak para pengunjung yang berdatangan untuk mencari buku disana.
"Iya, itu adalah kios Bouquinistes, kedai-kedai itu memang menjual buku-buku, tapi yang dijual adalah buku-buku tua, atau terbitan lama!" kata Gibran menjelaskan.
"Maksudnya, tak ada satupun yang menjual buku dengan terbitan baru?" tanya Delia sungguh heran.
"Iya, begitulah!"
"Ah! Apa untungnya menjual buku terbitan lama? Apa memang buku-buku itu memang tak laku dari jaman dulu, hingga masih dijajakan sampai hari ini?" Delia sungguh heran.
"Tidak, mereka memang menjual buku terbitan lama, mereka para pembeli kebanyakan adalah para kolektor yang memburu buku dengan edisi yang langka, bahkan kedai-kedai itu juga menarik para wisatawan asing untuk berkunjung!"
"Keren dong!"
__ADS_1
"Tidak hanya itu, bahkan kios Bouquinistes adalah situs yang dilindungi oleh UNESCO, karena kedai-kedai mereka ini juga termasuk warisan kota yang sudah turun-temurun dari dulu!" Delia mendengarkan dengan seksama sambil manggut-manggut.
"Tapi, apakah mereka nggak takut bersaing dengan kedai-kedai yang menjual buku-buku terbitan baru, yang mungkin lebih fress untuk dibaca oleh para pembaca?"
"Tidak, kedai-kedai itu sudah berdiri dari abad 16, hingga sekarang mereka masih bertahan, dan semakin banyak para pengunjung yang datang!"
"Aku penasaran, buku-buku apa yang mereka jual ya!"
"Banyak, dari buku cerita fiksi, non fiksi dan buku-buku sejarah tentang kota Paris ini."
Perahu terus berjalan dan menepi disebuah Dermaga, Gibran dan Delia pun turun untuk sekedar berjalan-jalan disekitaran dermaga.
"Sayang! Lihat ada penjual crepes, beli yuk!" ajak Delia, dan mereka pun membeli jajanan itu, walau di Indonesia juga ada jajanan crepes, sudah pasti akan berbeda rasanya dengan di Paris, bahkan isiannya lebih bervariasi di Paris.
Setelah selesai membeli crepes, mereka mencari tempat duduk untuk bisa menikmati makanan mereka sambil menikmati keindahan sungai Seine. Mereka memilih sebuah kursi yang terdapat sebuah payung besar di atasnya untuk melindungi mereka dari teriknya matahari.
"Emmhhh! Sudah aku duga, rasa crepes disini lebih enak!" kata Delia sambil menikmati crepesnya dengan isian ice cream aneka rasa yang sangat lembut.
"Jika kau suka, kau boleh membelinya lagi, mumpung kita masih disini!" kata Gibran.
"Tidak perlu, makan satu crepes ini sudah membuatku kenyang sekali, oh iya, berapa harga crepes disini?"
"Murah, hanya 6 Euro saja!"
"6 Euro berarti sama dengan 91 ribu?!!" kata Delia tak percaya.
"Iya, kenapa?"
"Hey! Di Indonesia hanya dengan sepuluh rubu rupiah saja udah dapat crepes variant yang istimewa!" mendengar itu Gibran tertawa.
"Sudahlah, cepat kau habiskan makananmu, sebentar lagi mau masuk waktu dhuhur, kita pergi ke masjid!"
"Di paris juga ada masjid ya?"
"Ada, ayo cepat habiskan!" mereka pun mengahbiskan crepes mereka.
Grande Musquee de Paris adalah tujuan mereka untuk menunaikan sholat dhuhur, setelah selesai menunaikan sholat disana, mereka pun pergi ke dermaga lagi untuk menaiki perahu yang akan membawa mereka untuk pulang lagi ke hotel. Perasaan Delia begitu senang hari ini karena bisa liburan sambil belajar mengenal beberapa tempat dan bangunan di Paris dengan bantuan Gibran yang menjadi tour guidenya.
Bersambung....
Like ya! Biar aku tambah semangat 😁😍🙏
Makasih yang sudah setia like karya aku😘
__ADS_1