Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin

Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin
Bab 62 Ujian Hidup


__ADS_3

Gibran mengusap-usap punggung Delia lembut, terdengar nafas Delia yang sudah mulai teratur pertanda ia telah tidur, sesekali Gibran mengusap perut Delia yang masih rata itu. Usia kandungan Delia masih dua bulan sepuluh hari, dan di usia yang masih muda itu tentunya adalah usia yang masih rawan.


Gibran mencium kepala Delia sambil memejamkan matanya, ada banyak kejadian yang seakan berputar di pikiran Gibran, semua itu seakan ditayangkan lagi di pikiran Gibran secara bergantian, seperti iklan di Televisi.


Mungkin dulu ia adalah lelaki yang bebas, bebas memilih untuk kebahagiaannya sendiri, bebas memilih untuk masa depannya sendiri, namun saat ia bertemu Delia untuk pertama kali, dia mulai berfikir untuk kebahagiaan orang tuanya, karena bagaimanaoun otang tua adalah nomer satu dibandingkan dirinya sendiri.


Hanya untuk orang tuanya saja ia mulai menepikan kebahagiaannya sebagai orang bebas, bahkan ia harus menghapus cintanya pada Aulia masa itu, dan belajar mencintai Delia yang saat itu dijodohkan dengannya. Mungkin dia pernah merasa bahwa Tuhan tidak adil, tapi dia yakin Tuhan punya rencana baik, walau ia tak tau sampai kapan ia bisa hidup dalam kepedihan, menikah tanpa rasa cinta dengan Delia, bahkan ia tak yakin dapat bertahan menjalaninya sampai kebahagiaan itu benar-benar hadir.


Namun nyatanya ia salah, Tuhan tidak hanya memiliki rencana baik, namun rencana Tuhan memanglah luar biasa, saat Delia sudah benar-benar menjadi istri yang seutuhnya untuk Gibran. Bahkan Gibran sangat bersyukur saat ia mulai merasakan cinta yang begitu manis bersama Delia, hingga Delia kini telah mengandung benih cintanya, kebahagiaan Gibran begitu sempurna dirasakan.


Hingga kebahagiaan itu mulai terguncang saat tiba-tiba Aulia hadir ditengah-tengah kebahagiaan mereka, hati Gibran mulai goyah, saat wanita itu datang menagih cinta yang dulu pernah Gibran janjikan. Sungguh perasaan cinta yang dahulu terhadap Aulia telah Gibran kubur dalam-dalam dan tak ada yang tersisa untuk Aulia lagi, namun rasa bersalah seakan menjalar keseluruh jantung hatinya, hingga membuatnya sering tak dapat mengendalikan perasaannya sendiri.


Kini hanya rasa sesal yang Gibran rasakan karena telah menyakiti Delia, dia telah menyakiti hati dan fisik Delia. Bahkan wanita itu tetap memaafkannya walau itu terjadi berulang kali. Gibran sungguh menyesal.


"Maafin ayah ya sayang! Ayah sudah menyakiti kamu dan ibumu, Ayah memang bodoh, maafin Ayah!!!"


Ujar Gibran dalam hati, sambil mengelus perut Delia dan mencium kepala Delia.

__ADS_1


Rasanya ingin sekali ia berterus terang pada Delia, agar rasa ini tak ia pikul sendiri, namun ia tak tega jika harus mengatakannya pada Delia, mengingat Aulia adalah teman Delia masa dulu, bahkan tanpa Delia sadari, dirinyalah yang mengatur pertemuan Aulia dan Gibran, itu yang membuat Gibran urung mengatakannya.


Gibran kemudian bangkit, ia keluar dari kamar untuk pergi kekamar mandi untuk berwudhu dan ia pun melaksanakan shalat tahajjud di sebuah musholla kecil dirumah Delia dengan begitu khusuk.


Beban hidup yang begitu berat memang kadang membuat manusia lupa pada dzat yang maha pencipta segalanya itu, namun itulah sifat manusia dan Gibran hanyalah manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa bahkan tak luput dari sifat lupa itu.


Gibran memperpanjang sujud terakhirnya dengan lelehan air mata, rasa sesal, rasa galau dan gundah ia tuangkan semuanya pada rabb-nya, menengadahkan tangannya meminta agar selalu ditenangkan hatinya dalam menghadapi segala ujian dan urusan duniawi.


Setelah selesai berdoa, Gibran mulai melantunkan ayat-ayat al qur'an dengan khusuk, karena sudah jarang melantunkan ayat Al qur'an membuat beberapa mahrojul huruf yang Gibran baca tidak tepat, akhirnya ia harus mengulang lagi beberapa kali membacanya. Lidahnya yang dahulu begitu lancar melafalkan ayat Al qur'an karena ia memang seorang tahfidz terbaik di pesantrennya, kini lidahnya mulai sedikit kelu.


Sungguh hal itu membuat Gibran menangis tersedu-sedu sambil terus membaca surat Ali Imron itu, rasa sedih karena seakan Tuhan telah sedikit demi sedikit mengambil kembali kemuliaan menghafalnya.


Kini Gibran langsung mendapat jawaban dari doanya itu, bahwa setiap manusia memang selalu di uji di dunia, dan yang pasti kadar dari ujian itu memang tak sama dengan setiap manusia yang lain, tapi Allah maha tahu setiap kemampuan dari hamba-hambanya, maka apapun yang menjadi masalah dan ujian didalam hidup itu sudah sesuai dari kemampuan hambanya, dan Allah selalu bersama mereka yang selalu sabar dan percaya akan pertolongan Tuhannya.


Gibran kini kembali bersujud, namun kali ini ia bersujud syukur karena kini bebannya yang begitu berat di pundaknya seakan mencair dan luruh sedikit demi sedikit, rasa pedih dan galau dihatinya kini seakan terobati dan hilang begitu saja bersama beban yang terasa berat itu. Dan kini Gibran tak merasa terpuruk lagi, dan ia merasa bahwa Tuhan begitu dekat dengannya.


Gibran mulai melantunkan lagi beberapa ayat-ayat Al qur'an, walau masih sedikit kurang lancar namun Gibran terus berusaha sambil sesekali melihat tulisan ayat di al qur'an, untuk mengoreksi bacaannya, kini dia berusaha lagi agar ia bisa lebih lancar lagi menghafal Al qur'an.

__ADS_1


Ditengah khusuknya ia baca al qur'an, terdengar suara langkah kaki di belakang tubuhnya, hingga membuat Gibran harus menoleh kebelakang. Rupanya Delia, yang kini telah memakai mukena.


"Sayang, sudah tahajjud?" tanya Delia setelah Gibran menoleh padanya. Sungguh aura Delia terlihat bersinar dan semakin cantik dalam pandangan Gibran saat ini.


"Sudah, sayang!!" ucap Gibran lembut.


"Isshhh..! Kenapa tidak ngajak-ngajak sih?" kata Delia sedikit memonyongkan bibirnya. Sungguh itu terlihat lucu bagi Gibran, hingga ia tersenyum melihat istrinya itu.


"Aku takut kamu kecapean, ya sudah kamu sholat tahajjud dulu, bentar lagi subuh kita jama'ah ya!" ucap Gibran begitu lembut, dan dia selalu ingin bersikap lembut pada istrinya itu.


"Baiklah, aku mau tahajjud dulu ya!" ucap Delia yang kemudian sholat tepat di belakang Gibran, dan Gibran kini meneruskan bacaannya namun lebih memelankan suaranya agar Delia tak terganggu saat sholat.


Gibran begitu bersyukur memiliki istri yang begitu sholeha seperti Delia, walau ia telah beberapa kali menyakiti Delia, dan beberapa kali pula Delia memaafkannya. Gibran merasa semakin mencintai Delia, dan akan selalu menjadi pundak untuk Delia bersandar.


Dia berjanji akan menghadapi segala ujian yang ada di depan sana, bersama Delia yang akan selalu menjadi penguatnya, dia akan berusaha untuk tegar dan kuat demi Delia, dia berjanji tidak akan menyakiti hati Delia lagi.


Bahkan hingga titik darah penghabisanpun, dia rela demi memperjuangkan Delia, karena ia percaya bahwa Delia adalah amanah Tuhan terindah yang Allah titipkan padanya, maka siapapun yang mengganggu Delia, maka akan berhadapan dengannya nanti. Itu adalah janji Gibran yang akan selalu menjaga Delia.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa kasi cinta kalian dengan likom, gift, vote dan subscribe. Makasih yang sudah setia membaca karya aku😘😘😘


__ADS_2