Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin

Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin
Bab 44 Akhirnya Delia


__ADS_3

Delia masih merasa pening dan rasa nyeri di perutnya masih terasa, Delia sudah tak sanggup berjalan.


"Sayang, aku udah nggak kuat!" Ucap Delia sedikit lemah karena menahan rasa nyeri.


"Apanya yang sakit?" tanya Gibran, dia benar-benar khawatir pada kondisi Delia yang sudah pucat.


"Perut!" kata Delia, parau. Delia yang sudah tak kuat berdiri, langsung beringsut ke tanah, kepala dan perutnya benar-benar tidak bisa ditahan.


"Ya sudah, aku gendong ya!" kata Gibran yang langsung dengan sigap menggendong Delia, berjalan pulang menuju hotel.


Perasaan Gibran benar-benar panik saat ini, apalagi dengan kondisi Delia yang saat ini mereka juga jauh dari orang tua. Perasaan kalut benar-benar menimpa hati Gibran, dia terus berjalan hingga sampai di Hotel, mengambil kunci dan langsung menuju lift dengan tergesa-gesa.


"Apa masih merasa sakit?" tanya Gibran sambil berjalan menuju ke kamar mereka.


"masih terasa!" ucap Delia sambil berusaha berpegangan pada tubuh Gibran. Dan akhirnya sampai juga mereka di kamar.


Delia merebahkan tubuhnya di atas ranjang, sementara Gibran menghubungi petugas hotel untuk meminta air hangat melalui sambungan telephon yang sudah tersedia di kamar hotel.


Karena kepala Delia semakin pening membuat Delia merasa ingin muntah, dengan susah payah Delia bangkit dari tempat tidur kerena rasa nyeri diperutnya, dengan sedikit tertatih Delia berhasil menuju wastafel dan memuntahkan isi perutnya.


"Astaugfirullah, sayang!" Gibran langsung mengahampiri Delia dan memijat-mijat leher belakang serta pundak Delia. Akibat dari muntah itu membuat Delia semakin lemas bahkan kakinya pun gemetar tak sanggup menyangga tubuhnya sendiri, tangannya berusaha meraih kerah Gibran dengan kuat karena seakan tubuhnya akan limbung, dan dengan segera Gibran meraih tubuh Delia yang sudah lemas itu. Pandangan Delia tiba-tiba kabur, namun telinganya masih mendengar Gibran yang memanggil-manggil namanya, hingga akhirnya semua benar-benar gelap dan Delia pun pingsan.


*****


Samar-samar Delia mendengar lantunan ayat suci al-qur'an yang begitu merdu dan sangat familiar ditelinganya, namun ia masih belum bisa membuka matanya. Mendengar suara merdu itu membuat Delia seakan kembali ke pondok pesantrennya dulu, saat ia duduk di depan aula bersama Hana temannya dulu sambil menikmati suara lantunan ayat suci yang begitu indah dan sangat dirindukan Delia.


Tak terasa Delia terisak dalam tidurnya, sentuhan tangan lembut di pipinya tiba-tiba membuat Delia tersadar dan membuka matanya.


"Sayang! Kamu sudah bangun?" ucap lelaki itu, Delia masih belum sepenuhnya sadar.


"Hana!!" ucap Delia parau dan masih lemah. Gibran yang mendengarnya pun sedikit bingung dengan apa yang di ucapkan Delia.


"Sayang, ini aku suamimu!" kata Gibran lagi sambil sedikit mendekatkan wajahnya ke pipi Delia. Mendengar itu Delia pun mulai sadar dan menoleh pada Gibran.


"Sayang!" ucap Delia sambil tersenyum. Delia berusaha bangkit dari tidurnya namun ditahan oleh Gibran.

__ADS_1


"Kamu jangan bangun dulu yah, kondisi kamu masih lemah!" ucap Gibran dengan lembut. Delia baru sadar, bahwa tadi dia muntah-muntah sebelum akhirnya semua menjadi gelap dan Delia tak ingat apa yang terjadi setelah itu. Delia merasa ada yang aneh ditangan kanannya, seperti ada sesuatu yang mengganjal, setelah Delia mengangkat tangan kanannya, barulah ia tahu bahwa ada selang infus.


"Kenapa tangan aku di infus?" tanya Delia, bingung.


"Nggak apa-apa, tenang saja, apa masih ada yang sakit?" tanya Gibran dan Delia hanya menggeleng lemah.


"Tadi aku khawatir banget sama kamu, kamu tiba-tiba pingsan dan aku bingung harus bagaimana, aku takut terjadi sesuatu sama kamu!" ucap Gibran, tak terasa Gibran meneteskan air mata kala mengingat kekalutan hatinya tadi.


"Maafin aku ya sayang! Aku ngerepotin kamu ya!" kata Delia sambil mengusap kening Gibran yang bersandar di sampingnya.


"Aku tidak merasa begitu, sudah kewajiban ku untuk selalu menjagamu!" kata Gibran sambil mengecup kening Delia.


"Tadi aku sangat kalut, dan akau teringat pada tuan Aderald, hingga akhirnya aku menghubungi beliau untuk meminta tolong, sehingga Tuan Aderald serta Nyonya Emilie datang kemari, mereka yang memanggilkan Dokter kesini untuk memeriksamu!"


"Masya Allah, aku sudah merepotkan mereka, aku jadi tidak enak hati!" ucap Delia menyesalkan apa yang telah terjadi.


"Tidak apa-apa, mereka juga sangat khawatir kepadamu, hingga mereka memanggil dokter datang kesini untuk memeriksamu!" ucap Gibran.


"Kau tau apa yang dikatakan dokter itu?"


"Kamu terlalu kecape'an kata dokter, hingga membuat perut mu nyeri, Kau harus menjaga kesehatan kamu, tekanan darahmu sangat rendah tadi, HB juga rendah, kurang asupan gizi pula. Kau harus menjaga kesehatanmu demi anak kita!" ucap Gibran sambil mengelus perut Delia.


"Maksudnya? Aku hamil?" kata Delia setengah tak percaya.


"Kata Dokter, dia sudah tinggal di perutmu sekitar tiga minggu, aku benar-benar bahagia sayang!" ucap Gibran sambil memeluk Delia, air matanya kini menetes lagi.


"Alhamdulillah Ya Allah!!" ucap Delia sambil menangis, dia benar-benar sangat bahagia sekali walau ada perasaan tak percaya bahwa ia akan menjadi seorang ibu.


"Kata Dokter kamu nggak boleh kecape'an, kamu jaga kesehatan, makanan juga dijaga, pokoknya kamu harus nurut sama aku ya!" ucap Gibran dengan nada tegas namun air matanya masih mengalir.


"Iya bos!! Siap!!" ucap Delia sambil mencium pipi suaminya itu.


"Jadwal pulang kita terpaksa harus diundur sampai kamu benar-benar sudah sehat!"


"Berarti kita gak jadi pulang besok?" kata Delia dan Gibran hanya mengangguk.

__ADS_1


"Iya, sebenarnya di masa kehamilan di awal bulan kata dokter gak boleh naik pesawat dulu, tapi jika kondisimu sudah benar-benar sehat, insya Allah kita bisa pulang!"


"Ibu dan Ayah pasti senang mendengar berita ini!"


"Iya, tapi kita jangan kasi tau mereka dulu, biar nanti setelah kita pulang baru kita kasi kejutan buat mereka!"


"Iya, benar, masya allah, udah nggak sabar rasanya menunggu moment itu!"


"Makanya, jaga kesehatan ya, biar kita bisa pulang, oh iya, jadwal kita kan hanya sampai besok tinggal di hotel, jadi beberapa hari kedepan kita tinggal di rumah Tuan Aderald sementara, sampai kondisi mu benar-benar membaik!"


"Benarkah! Ya Allah aku masih tidak enak hati pada mereka, mereka benar-benar baik hati!"


"Iya, mereka memang baik, dari dulu mereka sudah menganggap ku sebagai anak mereka sendiri!"


"Sayang! Berarti saat ini aku gak bisa naik ke puncak itu dong!" kata Delia sedikit merengek.


"Maksudmu menara eiffel?" Delia hanya nyengir saat Gibran melotot padanya.


"Suatu hari nanti, pasti kita kesana, kita akan kesana bertiga sama dia!" ucap Gibran sambil mengelus perut Delia.


"Janji ya!"


"Iya!"


"Sayang!"


Gibran yang tidak tahan dengan Delia pun mengecup bibir Delia dengan lembut dan semakin masuk kedalam, menciptakan suara lenguhan dari mulut Delia yang mulai terangsang dengan sentuhan-sentuhan lembut Gibran, namun dengan segera Gibran melepaskan pagutan mereka, karena tak mau kebablasan, apalagi tadi dokter berpesan, bahwa pada umur kehamilan yang masih masuk trimester awal tidak boleh sering-sering melakukan hubungan suami-istri, karena itu membahayakan. Gibran hanya bisa menghembuskan nafas panjang mengingat hal itu.


"Sekarang istirahatlah!"


"Iya sayang!"


Delia dan Gibran pun hanya bisa memeluk satu sama lain sambil menahan hasrat mereka.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2