
Suasana Bandara Soekarna Hatta saat ini terlihat normal, seorang wanita berparas cantik dan memakai hijab baru saja turun dari Pesawat, ia berjalan seorang diri ke arah bagasi, setelah mengambil sebuah koper ia pun berjalan menarik koper itu. Ini adalah pertama kalinya ia menjejakkan kakinya di Jakarta. Sekitar tiga jam lalu ia masih berada di Bandara International Sultan Iskandar Muda, dengan penuh tekat ia naik pesawat tujuan Jakarta walau masih belum jelas dimana yang akan ia tuju sebenarnya, karena tak ada sanak saudara disana, hanya saja ia memiliki sebuah alamat yang akan ia tuju nantinya, alamat itu ia dapatkan dari sebuah media sosial, dan kebetulan dia juga diterima kerja di sebuah universitas di bagian perpustakaan, jadi ia telah mendaftar online sebelumnya dan kabar baiknya telah diterima. Kini ia pun tanpa ragu berjalan menyusuri Bandara untuk menuju pintu keluar, suasana nampak ramai disana, banyak orang-orang yang membawa sebuah papan yang bertuliskan sebuah nama. Ia tak memperdulikan mereka dan terus saja berjalan melewatinya, karena memang tak ada seorang pun yang menunggunya. Sebenarnya ia nekat datang ke Jakarta karena ada maksud tertentu, yaitu karena ingin memperjuangkan cintanya yang kini entah dimana, namun dengan tekad yang kuat ia yakin akan menemukan cintanya itu. Ia muak karena ia harus dijodohkan dengan lelaki yang tak pernah ia cintai sebelumnya. Ia terus berjalan sambil menarik kopernya yang mulai sedikit terasa berat itu. Setelah keluar dari Bandara ia berniat mencari sebuah taxy, namun sepertinya semuanya penuh dengan penumpang alhasil dia harus sedikit bersabar menunggu adanya sebuah taxy kosong, seharusnya ia memesan taxy online, namun ia tak memiliki aplikasinya sungguh sial, batinnya. Namun tiba-tiba sebuah taxy melintas, dan sepertinya kosong, dia pun dengan segera menyetop taxy itu dan taxy pun berhenti, sopir taxy itupun keluar dari taxynya dan bergegas membantu meletakkan koper wanita itu di bagasi belakang, wanita itu pun masuk kedalam taxy dan tak lama kemudian taxy itu meraung dan berjalan di jalan beraspal.
...****************...
Delia dan Gibran kini telah berada di Bandara Soekarna Hatta tepat dua jam sebelum pesawat yang akan mereka tumpangi itu take-off. Ini adalah pertama kalinya bagi Delia terbang ke luar negri, dia begitu antusias dan semangat, apalagi dia terbang bersama sang suami, sama-sama mereka menarik koper mereka. Setelah chek-in mereka berjalan ke jalur imigarasi dan keamanan, lalu memuju ke Boarding room untuk menunggu disana sebelum mereka akan bersiap untuk boarding pesawat.
Masih ada waktu sebelum boarding mereka memutuskan pergi ke kantin untuk sekedar membeli cemilan agar tak bosan ketika menunggu. Setelah mendapatkan beberapa cemilan dan beberapa minuman dingin, mereka pun menunggu boarding.
"Kau cepat sekali makan, seperti kelaparan saja!" ucap Gibran yang heran melihat tingkah Delia yang tak seperti biasanya makan dengan seperti itu. Ditanya seperti itu Delia hanya nyengir sambil memperlihatkan giginya.
"Kue ini sungguh enak tau! Coba aja kalu nggak percaya!" ucap Delia sambil menyuguhkan kue sus kering itu ke depan mulut Gibran.
"Makanlah jika kau suka, jika kurang bilang saja, kita beli lagi!" kata Gibran dengan tulus, dia senang melihat istrinya itu senang.
"Tenang aja, gak mungkin kurang kok, aku dah beli banyak tadi, hehe!" ucap Delia.
Tak lama kemudian Pesawat mereka pun akan take-off dan mereka bergegas untuk boarding pesawat, setelah itu mereka pun mencari tempat duduk sesuai yang tertera di tiket mereka. Delia senang sekali karena dia mendapat tempat duduk di tepi dekat jendela pesawat, jadi dia bisa melihat pemandangan di sana.
__ADS_1
Selama di pesawat Delia tak henti-hentinya makan sesuatu, benar kata Gibran bahwa dia seoerti orang kelaparan saja, enatah mengapa nafsu makannya seperti bertambah saja, namun Gibran kini tak mempermasalahkannya, dia memilih menyandarkan kepalanya dengan nyaman.
"Sayang! Kamu sudah sering ke luar negri ya?" Tanya Delia tiba-tiba.
"Dulu setiap tahun aku memang ke Paris, untuk menemui kolega Ayah yang ada disana!" ucap Gibran, sebenarnya tujuan Ayah Gibran memilih Paris sebagai destinasi liburan mereka agar sekalian Gibran menemui Kolega ayahnya itu untuk menyampaikan sesuatu padanya, urusan pekerjaan, jadi sekalian mereka bisa berbulan madu disana.
Perjalanan mereka akan memakan waktu hampir tujuh belas jam nantinya. Karena perjalanan mereka non stop hingga ke Bandara Charles de Gaulle Paris.
Seorang Pramugari berjalan di samping kursi mereka untuk mengecek beberapa penumpang, terlihat anggun dan semampai, Pramugari yang berpapan nama Caroline itu terlihat berlenggak-lenggok berjalan di antara kursi-kursi penumpang, selain cantik dia terlihat sangat ramah dan murah senyum, Delia sampai iri melihat keanggunannya itu.
"Sayang! Pramugari itu cantik sekali ya!" kata Delia, Gibran hanya melirik sekilas dan kemudian menatap Delia.
"Kau memang suka membual!" kata Delia sambil mengalihkan pandangannya, karena tak tahan jika Delia di pandang begitu, jika mereka berada dirumah, mungkin Gjbran sudah memakan istrinya itu.
"Siapa lagi jika bukan istriku, dia memang cantik, tapi kau lebih anggun karena hijab yang kau kenakan!" kata Gibran lagi membuat Delia tersanjung.
"Masa sih?" kata Delia dengan maksud menggoda.
__ADS_1
"Iya lah, apalagi kalau hanya memakai lingerie!" kata Gibran sambil berbisik di telinga istrinya itu, lalu tertawa, membuat Delia langsung bersemu merah pipinya, dan dengan seketika dia mencubit lengan suaminya itu.
"Kau memang suka membual!" ucap Delia, dan pura-pura merajuk.
"Hmpp! Apalagi kalau pas lagi marah, beruntung kita saat ini berada di dalam pesawat, kalau nggak aku makan kamu!" ucap Gibran sambil menowel dagu Delia.
"Tapi sayang, jika suatu hari tiba-tiba datang seorang wanita soleha dan lebih cantik dari aku, apakah kamu akan berpaling dari aku!" kata-kata Delia ini tiba-tiba terdengar serius, hingga Gibran sedikit menimbang kata-kata Delia untuk menjawab pertanyaan itu.
"Kenapa tiba-tiba tanya begitu?""
"Gak apa-apa, ingin tau jawabanmu saja!"
"Jika itu terjadi, ya biar terjadilah, aku sudah memilikimu, dan aku berjanji akan selalu setia menemanimu hingga nanti!" mendengar itu sungguh Delia merasa tersentuh.
"Kau takut kehilangan aku ya?" tanya Gibran sambil sedikit menggoda.
"Bukan takut, jika itu terjadi dan ternyata kau memilih untuk meninggalkan aku, aku akan rela, karena bagi aku, kebahagiaanmu adalah hal utama bagi aku, tapi jika ternyata kamu lebih bahagia dengan wanita lain aku bisa apa!"
__ADS_1
"Hmmp! Sudahlah, jangan bicara yang tidak-tidak, kita akan berbulan madu, aku tak mau mood kita rusak hanya karena pikiran mengada-ada itu, kita fokus menata masa depan kita, apapun rintangannya yang terjadi nanti kita harus berjuang bersama, kamu jangan khawatir, insya allah kau akan tetao menjadi bidadari di dunia dan akhiratku!" ucap Gibran panjang lebar, dan bisa membuat Delia tenang.
Bersambung.....