Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin

Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin
Bab 47 Kejutan Dari Keluarga


__ADS_3

Pesawat yang ditumpangi Gibran dan Delia kini telah sampai di Indonesia dan telah landing di Bandara Soekarno hatta, Delia merasakan perbedaan suhu yang cukup terasa antara Paris dan Indonesia, hingga membuat Delia sedikit pening dan mual, mungkin itu memang efek dari kehamilan Delia. Apa lagi ketika pesawat landing tadi ia merasakan ada getaran di perutnya yang menyebabkan rasa nyeri yang saat itu pernah dirasakan kini terasa lagi namun tak sesakit dan senyeri waktu itu, mungkin ini alasannya kenapa wanita hamil sebaiknya tak naik pesawat.


Gibran yang mengetahui hal itu langsung memangku Delia, karena getaran yang terasa di pesawat tadi berlangsung beberapa detik hingga pesawat benar-benar berhenti.


"Masih sakit?" tanya Gibran, dia benar-benar khawatir pada Delia, malah masih trauma dengan kejadian di hotel beberapa waktu lalu.


"Udah nggak apa-apa!" Delia pun menggeser posisi duduknya berpindah dari pangkuan Gibran.


Rasa nyeri berangsur membaik saat berada di bandara, Delia menaiki scotter kopernya, lumayan biar tidak capek saat berjalan di bandara yang cukup luas itu. Hingga sampai di parkiran, barulah Delia turun dari kopernya dan Gibran pun memindahkan koper-koper mereka di bagasi mobil mereka.


"Sayang, bisa cari makan dulu, aku sedikit lapar!" kata Delia, selama di bandara tadi dia memang hanya memakan salad buah yang di buatkan oleh Nyonya Emilie kemarin.


"Ya sudah kita cari makan, pengen makan apa?" tanya Gibran, dia tau kalau ibu hamil pasti ingin makan makanan yang sesuai seleranya.


"Pengan makan nasi padang!" ucap Delia yang sedikit merengek dan suaranya sedikit mendesah untuk menggoda Gibran.


"Tolong dikondisikan nada bicaranya, jangan menggoda ya! Oke kita cari nasi padang sekarang!" kata Gibran yang membuat Delia langsung terpingkal, memang selama hampir satu minggu ini mereka tak berhubungan suami-istri dikarenakan kondisi Delia yang tak stabil. Mobilpun melaju keluar dari bandara.


Seorang lelaki tiba-tiba menyeberang tanpa melihat adanya mobil, beruntung mobil yang melintas hanya menyenggol lelaki itu karena langsung mengerem hingga mengeluarkan suara decitan yang cukup keras antara ban mobil dan aspal.


Delia langsung memekik dan terpental kedepan beruntung kepalanya tak membentur bagian mobil, namun Delia masih shock dengan kejadian itu, sedangkan lelaki yang menyeberang tadi langsung terjatuh ke aspal karena kaget tubuhnya sedikit tersenggol oleh mobil.


Gibran yang mengemudi mobil itu tanpa sadar memaki pada lelaki yang menyeberang tanpa melihat jalan itu.


"Sayang! Udah gak apa-apa, kamu turun dulu dan lihat kondisi orang itu!" kata Delia, walaupun dirinya kini masih shock namun dia tak mau jika suaminya itu terlibat masalah karena telah menabrak seseorang dijalan.


Kondisi di jalan tiba-tiba macet karena kejadian itu, banyak orang yang berkerumun untuk melihat keadaan korban. Gibran pun berinisiatif meminggirkan mobilnya agar pengguna jalan yang lain tidak terganggu dan meminimalisir kemacetan.


"Makanya kalau nyebrang hati-hati bung!" ucap seorang pria bertato yang penampilannya mirip preman itu.


"Maaf Kak, saya salah, saya tidak melihat dulu sebelum menyeberang tadi!" ucap lelaki itu yang menyadari kesalahannya. Lelaki itu pun langsung berdiri dan menghampiri Gibran untuk meminta maaf.


"Maafkan saya kak, saya mengaku salah!" ucapnya, logatnya seperti orang melayu.


"Baiklah, lain kali hati-hati!" ucap Gibran yang tak ingin masalah ini berlarut. Orang-orang yang tadi berkerumun pun satu-persatu telah pergi tanpa diintruksi.

__ADS_1


"Kak, tapi saya mohon, bisa kakak membantu saya, saya baru sampai di Jakarta ini kaka!" ucap lelaki itu lagi, usianya sepertinya tak beda jauh dari Gibran, namun karena perawakannya yang kurus, Gibran terlihat lebih gagah dan maskulin.


"Bantu apa?"


"Saya baru saja dapat musibah, handphon dan dompet saya tadi di rampok oleh seseorang, saya bingung harus bagaimana!" ucap lelaki itu terlihat frustasi.


Tanpa berpikir panjang Gibran langsung mengambil uang seratus ribu beberapa lembar dari dompetnya, ia paham modus lelaki ini yang pura-pura ditabrak lalu meminta uang pada yang menabrak, dan Gibran tak ingin masalah ini berlarut-larut karena kasihan Delia yang masih shock atas kejadian tadi, jadi Gibran langsung saja memberikan uang pada lelaki itu.


"Saya tidak meminta uang kakak!" tolak lelaki itu.


"Apa masih kurang?" tanya Gibran sesikit kesal.


"Tidak kakak, nama saya Joni, saya asli Lhokseumawe, saya datang ke Jakarta ini karena mencari tunangan saya, saya mohon bantu saya!" ucap lelaki itu yang mengaku bernama Joni.


"Maaf saya tak bisa membantu mu, ini ambillah, mungkin ini bisa membantu mu selama berada di Jakarta ini." ucap Gibran sambil menyodorkan delapan lembar uang ratusan ribu itu. Lelaki itu sebenarnya sangat membutuhkan uang saat ini apalagi dia habis kerampokan.


"Baiklah kak, saya terima uang ini, terima kasih atas bantuannya kakak!" ucap lelaki itu, kalau bukan karena terpaksa dia tak akan mau menerima uang dari lelaki yang telah menabraknya itu.


"Baiklah saya terburu-buru karena istri saya sedang menunggu di mobil, saya pamit dulu!" ucap Gibran.


"Gibran!"


"Sekali lagi terima kasih Kak Gibran!" ucap lelaki itu dengan tulus, sebenarnya Gibran sedikit risih dipanggil Kak oleh lelaki itu, namun dia lebih baik tak memperpanjang hal itu dan memilih untuk segera pergi.


"Sayang! Lebih baik kita langsung pulang kerumah saja, aku ingin segera istirahat!" kata Delia saat mobil sudah kembali melaju.


"Katanya mau makan?" tanya Gibran.


"Kita pesan makanan online saja, aku sudah capek rasanya!"


"Baiklah!" akhirnya mereka urung untuk mampir di rumah makan dan melanjutkan pulang.


Sampai dirumah, Delia benar-benar sudah capek rasanya, dia ingin segera merebahkan tubuhnya. Namun ada yang aneh, pintu rumah dalam keadaan tidak terkunci, padahal Delia ingat betul sebelum berangkat ke Paris dia sudah chek semua pintu dan jendela. Kini Delia merasa panik dan menghampiri Gibran yang masih mengeluarkan koper dari mobil.


"Sayang! Kenapa pintu nggak terkunci?" kata Delia dengan wajah panik.

__ADS_1


"Loh bukannya waktu itu sudah dikunci semua?" kata Gibran yang juga ikutan kaget.


Mereka pun bersama-sama mengechek didalam rumah, terus terang saja mereka takut jika selama mereka tidak ada, rumah mereka malah disatroni oleh maling atau rampok.


Saat membuka pintu tiba-tiba sebuah conffetty berbunyi dan mengeluarkan potongan kertas warna-warni. tak cukup itu, sebuah balon juga meletus dan mengeluarkan potongan kertas juga, hingga Gibran dan Delia benar-benar kaget.


"Selamat Datang!!!!!" tiba-tiba didalam rumah sudah banyak orang berkumpul, siapa lagi mereka kalau bukan anggota keluarga Gibran dan Delia.


Delia langsung menutup mulutnya yang menganga karena telah diberi kejutan itu, sedangkan Gibran hanya terkejut sambil tertawa. Semua orang memeluk mereka satu persatu dengan ceria.


"Bagaimana kabarmu Nak?" tanya ibu Gibran pada Delia, wajahnya tampak semringah.


"Baik bu! Ibu sehat?"


"Alhamdulillah, ibu benar-benar khawatir mendengar kau sakit saat di Paris!" ucap Ibu sambil memeluk menantunya itu.


Delia pun langsung ditarik oleh ibu Gibran untuk bergabung bersama anggota keluarga yang lain.


"Baiklah karena semua sudah berkumpul, maka aku akan memberi kabar bahagia untuk kalian!" ucap Gibran kemudian.


"Kabar apa itu?" tanya Kalina dengan energik.


Gibran menghampiri Delia dan menarik tangan Delia hingga Delia berdiri lalu Gibran merangkul pundak Delia.


"Istriku saat ini tengah hamil!" ucap Gibran dengan wajah penuh bahagia.


Semua yang mendengarpun langsung berucap syukur dan langsung menghampiri Delia dan memeluknya sekali lagi.


"Ya Allah ibu akan punya cucu! Ingat ya Nak, kamu harus jaga kesehatan, gk boleh kecapekan, gak boleh angkat berat-berat!" ucap ibu yang mulai posesif. Delia hanya mengangguk saja apapun yang di katakan ibu mertuanya itu.


"Asyikkkk, aku bakalan punya ponakan nih!" ucap Kalina sambil mengelus perut Delia.


"Cieeee yang udah mau dipanggil Tante!" kata Gibran sambil menggoda. Kalina pun tertawa dan mengamini ucapan Gibran.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2