Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin

Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin
Bab 67 Alasan Gibran


__ADS_3

Deru mobil memasuki halaman rumah Gibran, Gibran memarkirkan mobilnya di garasi rumahnya, hari ini ia sudah ijin untuk pulang lebih awal dari kantor, beruntung, pagi tadi dia sudah melakukan rapat dengan clientnya yang bernama Pak Joni itu, jadi dia bisa tenang meninggalkan kantor lebih awal untuk menemani Delia.


Gibran menggendong Delia untuk masuk kedalam rumah, walau awalnya Delia tidak mau karena ia hendak berjalan saja, tapi Gibran yang memaksa.


Gibran menggendong tubuh Delia sungguh dengan kelembutan, membawanya masuk kedalam rumah dan meletakkan tubuh Delia diatas kasur dengan pelan-pelan, karena ia takut menyakiti tubuh Delia.


Setelah itu ia pun membuka jasnya dan melonggarkan ikatan dasinya, sungguh semakin hari Gibran terlihat tampan dimata Delia, apalagi kini Gibran semakin perhatian padanya.


"Kenapa senyum-senyum?" tanya Gibran yang mengetahui Delia sedang menatapnya sambil tersenyum.


Ditanya seperti itu, Delia malah melebarkan senyumnya. "Akhir-akhir ini kau semakin tampan!" ucap Delia.


Gibran semakin mendekatkan diri pada Delia lalu mengecup kening istrinya itu dalam. "Kau selalu menggodaku!" kata Gibran namun suaranya sedikit bergetar, entah apa yang ia rasakan saat ini.


"Aku tak menggodamu, sayang! Aku hanya memujimu!" kata Delia dengan tulus, ia tak menyadari nada dari ucapan Gibran yang mungkin saat ini memang sedang memikirkan sesuatu.


"Apa kau tahu? Betapa kalutnya aku saat mendengar kau jatuh di perpustakaan!" tiba-tiba wajah Gibran menjadi sendu dan membuat Delia menyesal.


"Maafkan aku yang tidak hati-hati!" Delia menggenggam tangan Gibran lalu menciumnya.


"Sungguh, aku begitu takut jika terjadi sesuatu pada dirimu dan dia!" kata Gibran sambil mengelus perut Delia yang masih rata itu, lalu mengecup perut Delia dengan penuh kasih sayang.


"Apakah Aulia mendorongmu?!" tanya Gibran, wajahnya terlihat kesal.


"Tidak sayang! Dia hanya tidak sengaja, sungguh!!" sebenarnya Delia tahu bahwa apa yang dilakukan Aulia terhadap dirinya itu adalah suatu kesengajaan, namun ia mencoba menutupi fakta agar tak menambah keruh suasana, yang terpenting bagi dirinya adalah dia dan calon bayinya kini bisa selamat.

__ADS_1


"Jangan terlalu baik padanya, jika kau terlalu baik dia akan terus berusaha menyakitimu!"


"Tapi apa alasannya? Kenapa dia ingin menyakitiku?!" itu yang sebenarnya menjadi tanda tanya besar di kepala Delia saat ini dan Gibran pun tak mampu menjawab pertanyaan itu, walau ia tahu alasan terbesar Aulia mempunyai niat jahat pada Delia adalah karena dirinya. Ya, karena Gibran kini telah menikah dengan Delia. Namun hal itu tak mampu Gibran ungkapkan pada Delia.


Gibran juga masih terngiang-ngiang dengan kata-kata Zahra tadi saat mereka di klinik, Zahra yang saat itu begitu terkejut ketika mengetahui fakta tentang hubungan Gibran dan Aulia sebelum Gibran menikah dengan Delia.


"Jadi... Hamdan itu kau?!" Zahra membelalakan matanya sambil menutup mulutnya yang menganga.


Gibran hanya mengangguk berat sambil menutup matanya, dia tak tahu, apakah keputusannya ini benar atau salah saat ia menceritakan hal yang sebenarnya ini pada Zahra.


"Aku gak nyangka serumit ini kisah cintamu, Bran!" kata Zahra, dia benar-benar tidak menyangka akan hal itu.


"Ya, dulu aku memang tidak menginginkan pernikahan ini karena Aulia, karena aku telah berjanji akan melamarnya saat itu." Zahra terdiam, seakan meresapi tiap kata yang Gibran ucapkan.


"Gibran, kenapa tak kau katakan saja yang sebenarnya pada Delia, tentang hubunganmu dengan Aulia?" kata Zahra mencoba memberi saran.


"Aku masih belum siap mengatakan yang sesungguhnya pada Delia, aku tak mau membuat Delia berpikir berat mengingat Aulia adalah teman saat mereka di pesantren, apa lagi kau tau sendiri, sifat Delia yang terlalu baik pada semua orang, dia pasti akan lebih memikirkan perasaan Aulia ketimbang dirinya sendiri, aku hanya takut hal itu berpengaruh pada kehamilannya!" kata Gibran, menjelaskan maksud hatinya mengapa tak mengatakan hal yang sesungguhnya.


Zahra mengangguk-angguk mengerti, dia juga paham dengan sifat Delia, yang selalu baik kepada semua orang, mengingat dirinya yang saat itu juga pernah menyukai Gibran dan menangis memohon-mohon pada Delia agar ia bisa dekat dengan Gibran dan dengan segala kebesaran hati Delia, dia tak pernah marah ataupun dendam padanya. Mengingat hal itu Zahra sungguh malu sendiri.


"Ya, tapi sebaiknya kau harus mengatakan semua itu pada Delia, sebelum dia mengetahui hal itu dari orang lain!"


"Orang lain? Apakah kau akan mengatakannya pada Delia?" tanya Gibran yang langsung menatap Zahra tajam.


"Bukan aku! Bisa saja Aulia yang mengatakan hal itu pada Delia, karena aku tahu, sifat Aulia sedikit licik! Dia akan menghalalkan semua cara untuk mendapatkan sesuatu yang ia inginkan!" kata Delia yang sedikit dongkol karena merasa ditodong oleh pertanyaan Gibran.

__ADS_1


Mendengar ucapan Zahra, Gibran mulai khawatir pada Delia, dia tidak mau hal yang ia takutkan itu terjadi, apa lagi Aulia mulai berani bermain kasar pada Delia hingga menyebabkan Delia terluka bahkan mengancam calon bayi mereka.


"Kenapa melamun?" suara Delia mengejutkan Gibran, dia tersadar bahwa sedari tadi ia bersama Delia.


Karena pikirannya saat ini memang sedang kacau, membuat kepalanya sedikit pening dan berat.


"Tidak apa-apa, hanya sedikit pening!" ucap Gibran sambil memijit-mijit bagian atas hidungnya.


"Kamu pasti kecape'an, sini!" kata Delia sambil menepuk-nepuk kasur sebelahnya.


"Tapi, aku harus segera menyiapkan makanan, kau pasti belum makan siang!"


"Aku belum lapar, nanti kalau aku sudah lapar, aku pesan online saja, sekarang sebaiknya kau istirahat dulu."


"Baiklah, aku istirahat dulu!"


Gibran segera berbaring di sebelah Delia, saat ini ia benar-benar ingin mengistirahatkan otaknya. Namun walaupun begitu, pikirannya masih berputar-putar antara Delia dan Aulia ditambah dengan kata-kata Zahra.


Gibran sungguh mencari waktu yang tepat untuk mengatakannya, Delia juga belum mengetahui bahwa dirinya ini adalah Hamdan, dan Hamdan adalah dirinya.


Semoga saja, saat waktunya itu telah terjadi, saat Gibran mengakui semuanya pada Delia, dan mengatakan semua tentang Aulia dan dirinya Delia bisa mengerti dan perasaannya tak pernah berubah padanya dan pernikahan mereka akan baik-baik saja, Gibran berharap setelah kejadian ini, tidak akan ada kejadian-kejadian lain lagi yang membahayakan Delia.


Gibran perlahan menutup matanya dan tertidur disamping Delia, Delia mengusap punggung Gibran dengan lembut, ia begitu menyayangi lelaki disebelahnya itu dengan sepenuh jiwa dan raganya.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2