Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin

Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin
Bab 11 Ijab Qabul


__ADS_3

Waktu terasa singkat yang dirasakan Delia, tiba-tiba dia kini telah berada di sebuah masjid bersama seluruh anggota keluarganya, segala persiapan sudah ada didepan mata, tinggal menunggu sang mempelai pria bersama rombongan keluarganya untuk datang. Delia belum percaya kalau ia akan dipersunting oleh orang yang tak pernah ia kenal sebelumnya, bahkan sebentar lagi dia akan menjadi seorang istri. Dia teringat perkataan ibunya.


"Kalian harus belajar saling mengenal satu sama lain, pasti cinta itu akan tumbuh seiring waktu!" ujar ibu Delia saat Delia mulai merengek untuk membatalkan semua keputusan orang tuanya itu. Jujur saja Delia masih merasa takut, jika calon suaminya itu ternyata memiliki perasaan yang sama dengan yang dirasakan oleh Delia, apalagi mereka masih belum mengenal satu sama lain.


Saat Delia mencoba mencurahkan segala keluhannya pada Dimas, sang adik. Dengan harapan agar sang adik bisa mengerti apa yang ia rasakan. Namun Dimas malah merasa iri terhadap sang kakak dan menganggap bahwa kisah cinta Delia itu sangat romantis.


"Dimas malah pengen ngerasain kisah cinta seperti kak Delia, karena selama ini Dimas gak pernah percaya dengan yang namanya unconditional love, tapi sakarang Dimas percaya, ternyata cinta itu tak perlu membutuhkan waktu yang lama untuk menyadari dan menemukannya."


Ujar Dimas, sambil menerawang, bahwa kelak dirinya juga ingin jatuh cinta dalam kondisi seperti itu.


"Tapi aku tidak mau seperti ini, Dim..." kata Delia lirih dan Dimas pun mendekap kakaknya hangat.


"Kakak tenang aja. Sepertinya laki-laki itu ikhlas menerima kakak, buktinya dia sama sekali terima dengan semua keputusan yang telah disepakati, dan itu artinya dia sudah siap untuk menjadi imam untuk kakak!" ucapan sang adik yang begitu dewasa dari dirinya itu kini terngiang-ngiang ditelinga Delia. Hingga ia terperanjat dari lamunannya itu karena beberapa mobil iring-iringan memasuki halaman masjid dan serentak semua anggota keluarga Delia menyambut kedatangan Gibran dan anggota keluarganya.


Semua anggota keluarga begitu terlihat bahagia, hanya kedua mempelai yang masih terlihat kaku.


Semua sudah siap, pak penghulu juga sudah siap untuk menikahkan kedua mempelai, mungkin hanya hati kedua mempelai yang masih belum siap.


Ayah Delia sudah siap menjadi wali nikah untuk putrinya dan ayah Gibran menjadi saksi.


Delia memejamkan matanya sejenak, dirinya memastikan bahwa dirinya tidak tidur seperti putri tidur yang menunggu datangnya sang pangeran, atau memang dia kini berada di negri dongeng, ia melirik ragu pada Gibran yang saat ini berada disampingnya. Menyaksikan bagaimana laki-laki itu mengikuti kata-kata penghulu dengan lancar, terlihat tanpa beban hingga Delia terpaku karena terpesona memandang lelaki disampingnya itu, dia terdoktrin kata-kata Dimas tentang dahsyatnya unconditional love.


Entah ini bagaikan mimpi bagi Delia, yang tiba-tiba terusik oleh suara orang-orang disekitar yang tiba-tiba bersorak gembira sambil mengatakan 'SAH', gemuruh tepuk tangan mengguyur pikiran Delia saat itu.


Entah Delia lupa, apa saja yang diucapkan lelaki itu hingga memicu tepuk tangan dari semua anggota keluarga. Delia hanya mengingat nama lelaki di sampingnya itu adalah Muhammad Gibran Hamdani. Benarkah dia saat ini memiliki suami, benarkah dia sudah sah menjadi seorang istri? Delia tak bisa membayangkan kehidupannya setelah ini. Dia hanya menatap bingung semua orang yang kini terlihat riang gembira.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian penghulu menyuruh Gibran untuk menyerahkan mas kawin kepada Delia, yang ternyata adalah seperangkat alat sholat dan satu set perhiasan emas. Delia menerima mas kawin itu dengan perasaan campur aduk, dan parahnya lagi sang penghulu menyuruh Delia untuk mencium tangan suaminya itu dan menyuruh Gibran untuk mencium kening Delia. Ini adalah yang pertama bagi Delia, merasakan ciuman dari laki-laki walau di kening. Semua orang yang hadir berusaha untuk merekam setiap moment dengan kamera handphone mereka masing-masing, padahal sudah ada fotografer yang bertugas mengambil gambar dan memvidio setiap moment itu.


Ibu Gibran menghampiri Delia sambil tersenyum dan mendekap hangat menantunya itu, kemudian melakukan hal yang sama pada Gibran.


"Makasih, Delia! Sekarang kau resmi menjadi anak ibu juga, jangan pernah sungkan sama ibu ya!"


Ucap wanita itu dengan tulus.


Delia masih belum percaya bahwa dirinya kini telah memiliki suami dan mertua. Seorang gadis manis juga menghampiri Delia, dia nampak manis dan ramah.


"Hay kakak ipar, aku Kalina, adiknya Kak Gibran!" ucap gadis itu bernama Kalina yang ternyata adik dari suaminya. Delia hanya tersenyum menerima uluran tangan dari gadis itu, dan tak disangka, adik dari suaminya itu kemudian mendekap hangat Delia sama halnya dengan ibu mertuanya lakukan barusan.


Delia sungguh terharu melihat keluarga Gibran yang nampak begitu menyayanginya.


Semua Keluarga kini berkumpul untuk melakukan sesi foto, mereka sudah bergaya dengan ceria, namun Delia terkejut melihat reaksi Gibran yang terasa kaku dan enggan untuk melakukan pose foto dengan Delia. Perasaan Delia mulai ragu.


"Jika buka karena ibu, aku sungguh tak ingin melakukan hal ini!" ucap Gibran sedikit berbisik di telinga Delia, Gibran mengatakan hal itu disela saat mereka melakukan pose foto.


bagai di tusuk ribuan jarum hati Delia, sungguh dia merasa terhina ketika Gibran membisikkan kata mutiara itu ditelinga Delia.


"Apa kau bilang? Kau pikir aku juga merasa senang dengan semua ini? Aku pun tak sudi memiliki suami sepertimu!" ucap Delia tak kalah sinis, detik itu juga, Delia benar-benar tak percaya dengan unconditional love yang Dimas katakan padanya tadi, padahal dia sudah hampir percaya dengan semua itu dan dia sudah mau menerima dengan semua takdir bahwa dia harus menikah tanpa cinta dan dia yakin cinta akan tumbuh seiring waktu seperti yang ibu katakan, kini Delia sudah muak dengan semua itu.


Sesi foto sudah selesai, kini berganti acara ramah tamah yaitu makan-makan. Dalam acara itu Delia pergi menjauh dari semua orang-orang yang berbahagia, bahkan saking bahagianya mereka tak sadar Delia pergi.


Delia pergi di balkon atas masjid, dia nampak murung memikirkan hidupnya yang kini mungkin akan berubah seratus delapan puluh derajat. Tanpa terasa Delia menangis sejadi-jadinya, hingga ia tak sadar ada seseorang berdiri dibelakang Delia dengan tatapan dingin.

__ADS_1


"Sudah ku duga, kau memang masih kekanak-kanakan!"


Mendengar ada suara seseorang Delia pun berbalik dan menatap si pemilik suara barusan dengan tatapan sinis.


"Apa pedulimu jika aku memang kekanak-kanakan! Dan untuk apa kau mengikutiku!"


"Siapa yang mengikutimu, kau sendiri yang tiba-tiba lari kearah sini dengan menangis hingga tak menyadari ada aku disini!"


Mendengar itu Delia menjadi malu, malu karena dia terlihat lemah dihadapan lelaki seperti Gibran.


"Aku hanya ingin kau tahu, bahwa diantara kita memang tak pernah ada cinta...."


"Aku tau, karena aku juga tak pernah mencintaimu!" ucap Delia memotong perkataan Gibran dengan cepat.


"Dengarkan sebelum aku menyelesaikan kata-kata ku!" ucap Gibran sedikit dongkol.


"Aku hanya ingin membuat sebuah perjanjian diantara kita!" ucap Gibran mantap.


"Kenapa harus ada perjanjian, kau sendiri yang mengatakan diantara kita tak pernah ada cinta, lalu harus apa ada perjanjian?"


"Karena aku melakukan semua ini demi keluargaku, dan aku tak ingin mereka sedih, aku hanya ingin melihat senyum mereka saat kita bersama!"


"Apa maksudmu?"


"Kita harus saling menguntungkan satu sama lain dengan adanya semua ini!" kali ini Gibran tersenyum simpul, Delia merasa seperti Ada udang dibalik batu dengan rencana permainan Gibran. Namun Delia mencoba untuk ikut bermain dengan rencana itu, Delia ingin tahu sejauh apa permainan Gibran ini, dengan perasaan mantap Delia menyetujuinya. Bagaimanapun dia rela menikah tanpa cinta karena orang tua.

__ADS_1


Bersambung......


Jangan lupa subcribe ya, dukung karya saya dengan like, coment dan jangan lupa giftnya. Biar aku tambah semangat 😍😘


__ADS_2