
Pagi yang cerah menjemput hari yang baru, Delia mengerjap-ngerjapkan matanya, baru subuh tadi dia tidur, sekarang dia harus bangun lagi, dia melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul setengah tujuh, rasanya sedikit pening karena hanya tidur beberapa jam, tapi dia harus semangat karena dia harus bekerja lagi, apalagi ini masih hari kedua dia bekerja, jadi tidak ada alasan untuk bermalas-malasan.
Delia bangkit dari tidurnya, matanya benar-benar berat, seperti ada yang mengganjal, mungkin itu efek dari kurangnya tidur dan terlalu lama menangis semalam.
Delia keluar dari kamar, dia seperti mendengar suara aktifitas di dapur, mungkinkah itu Gibran? Dan untuk menghilangkan rasa penasarannya, ia pun pergi ke dapur. Dan ternyata memang benar, Delia melihat Gibran sedang mencuci peralatan memasak disana, dan Delia juga melihat sudah ada makanan yang tersaji di meja makan. Lelaki itu benar-benar sudah menyelesaikan pekerjaan Delia pagi ini, apakah dia tak tidur sama sekali?
"Gibran! Apa kau yang memasak ini semua?" tanya Delia sedikit heran.
Mendengar suara Delia, Gibran langsung berbalik dan memandang Delia. Namun tiba-tiba wajah Gibran nampak khawatir.
"Astaga! Delia, matamu bengkak!" ujar Gibran, dia segera menyelesaikan pekerjaannya yang memang sudah tinggal sedikit itu, dan langsung menyeret tangan Delia untuk duduk di kursi makan. Delia semakin heran dengan perlakuan Gibran.
"Aku tidak apa-apa Gibran!"
"Tidak apa-apa bagaimana, matamu bengkak, kau tidak bisa berangkat bekerja dengan mata bengkak seperti ini!" ucap Gibran.
"Tapi, aku harus bekerja, ini baru hari kedua, masa aku harus libur?" ucap Delia sedikit merengek. Gibran sedikit menimbang ucapan Delia.
"Tapi matamu harus dikompres, tunggu sebentar aku akan membuatkan air hangat untuk mengompres matamu!" ucap Gibran, dia pun segera menghidupkan kompor dan merebus air untuk kompresan.
Setelah selesai menyiapkan air untuk kompresan, Gibran pun dengan segera mengompres mata Delia yang bengkak itu.
"Pejamkan matamu!" ucap Gibran, dan dengan segera Delia pun menuruti perintah Gibran itu.
Delia merasakan matanya lebih rilex ketika di usap dengan air hangat menggunakan sapu tangan. Gibran ternyata lelaki yang sangat peka dan perhatian, tapi Delia tak begitu juga langsung mengambil kesimpulan itu, karena bisa saja Gibran akan berubah sikapnya kapan saja, tergantung situasi dan kondisi hatinya.
Lebih baik Delia pasrah saja dengan semua keadaan hati Gibran, Delia kini mulai belajar menerima hal itu dari Gibran, dari pada mereka lebih banyak berdebat.
"Bagaimana? Apa sudah enakan?" tanya Gibran.
"Sudah agak mendingan kok, makasih ya Gibran?" ucap Delia dengan tulus. Sedangkan Gibran hanya mengangguk sambil meletakkan kompresan itu di meja.
"Apa kau mau makan?" tanya Gibran lagi. Delia pun mengangguk.
__ADS_1
"Apa mau aku suapi?" kedengarannya sangat manis, namun Delia hanya memandang Gibran tanpa berkedip.
"Hey, jangan menatapku seperti itu, cepat buka mulutmu!" ucap Gibran dengan berekspresi lucu, membuat Delia seketika tertawa melihat wajah Gibran yang melucu itu. Dan mereka pun melewati sarapan itu dengan saling menyuapi satu sama lain.
Delia pun kini bersiap untuk pergi bekerja, mata bengkaknya sudah sedikit mengempes, namun masih terlihat. Delia pun menutupi bengkak itu dengan sedikit eye-sedow warna natural dan eye-liner, setelah selesai dia pun bersiap untuk berangkat bekerja, karena Gibran sepertinya sudah siap dari tadi.
Gibran menatap Delia yang sudah siap itu. Dia lihat gadis itu nampak makin cantik saja.
"Apa kamu sudah siap?" tanya Gibran sambil menatap serius pada Delia.
"Siap apa?" tanya Delia yang bingung dengan pertanyaan dan ekspresi Gibran itu.
"Siap untuk bikin cucu buat Ibu!" ucap Gibran sambil tersenyum.
"Apa?" Delia membelalakkan matanya karena kaget mendengar ucapan Gibran, sungguh itu sangat lucu bagi Gibran hingga ia tak bisa menahan tawanya.
"Hey, aku bilang apakah kau sudah siap untuk berangkat sekarang?" tanya Gibran di sela tawanya.
Delia benar-benar sebal dengan Gibran, hingga Delia mencebikkan mulutnya sambil ngeloyor meninggalkan Gibran yang masih terus tertawa.
"Astaga, kau marah? Maafkan aku, aku hanya bercanda!" ucap Gibran sambil mengikuti langkah Delia.
"Delia!!" ucap Gibran lagi, sambil memegang tangan Delia, karena sedari tadi Delia tak menghiraukannya.
"Kau memang cantik kalau sedang marah!" ucap Gibran kemudian berlari dan tertawa lagi, membuat Delia semakin sebal karena lelaki itu membual lagi. Delia pun mengejar Gibran dan memukul-mukul tangan lelaki itu, hingga Gibran benar-benar minta ampun.
"Oke baiklah, hentikan Delia, aku minta ampun!"
"Membual saja terus!" ucap Delia sambil tangannya terus memukul-mukul lengan Gibran.
"Hey, hentikan, ayo kita berangkat, kau mau terlambat dihari kedua mu bekerja!" ucap Gibran yang akhirnya menghentikan Delia untuk memukuli lelaki itu.
Merekapun memulai perjalanan mereka menuju kampus, dalam mobil mereka tak henti-hentinya bergurau, hingga membuat suasana hati mereka begitu good mood.
__ADS_1
Sampai di kampus, mereka masih saja meneruskan gurauan mereka, disitu Delia menarik kesimpulan bahwa Gibran yang dia kenal dingin dulu, ternyata punya selera humor yang cukup tinggi, bagaimana tidak, sedari tadi hanya Gibran yang membuat bahan untuk melucu, hingga Delia perpingkal-pingkal.
Dipersimpangan jalan, tiba-tiba seorang wanita menyapa mereka, siapa lagi kalau bukan Zahra.
"Gibran!" ucap Zahra yang kemudian langsung mendekati Gibran, dan seketika Gibran sedikit menjauh.
Karena Delia malas melihat drama yang akan diciptakan oleh Zahra, Delia pun pamit untuk langsung pergi ke perpustakaan.
"Gibran, aku langsung ke perpustakaan ya, bye! Assalamualaikum!" ucap Delia dan langsung pergi.
Gibran melihat wajah Delia yang seketika berubah karena kehadiran Zahra.
"Walikumsalam Delia!" ucal Zahra, sambil melambaikan tangannya.
Delia benar-benar masih sebal dengan gadis itu, dia malas melihat wajahnya yang sok polos di hadapan Gibran. Sebut saja dia cemburu, ya Delia memang mengakui bahwa dia memang cemburu melihat Zahra yang selalu berusaha mendekati Gibran, tanpa sadar Delia berjalan sambil mengepalkan tangannya. Dia berjalan hingga tak melihat ada orang didepannya dan akhirnya dia tabrak.
"Subbahanallah!! Maaf saya tidak sengaja!" ucap Delia penuh penyesalan pada seorang wanita yang baru saja dia tabrak.
Delia kembali berjalan menuju perpustakaan dengan kedongkolan hati yang masih tersisa.
"Selamat pagi, Delia!" ucap Pak Edo yang menyambut kedatangan Delia.
"Selamat pagi Pak Edo!" ucap Delia setengah hati, Delia pun langsung naik ke lantai atas, dimana meja kerjanya berada.
Hatinya kini menduga-duga, apa yang Gibran dan Zahra lakukan saat ini.
"Astaugfirullah, kalau begini terus aku bakal gak fokus lagi bekerja!!" ucap Delia pada diri sendiri.
"Sepertinya aku harus memesan susu hangat terlebih dahulu!!" ucap Delia lagi, dia pun bangkit dan berjalan menuju kantin.
Bersambung....
Jangan lupa di like guys!!!😍
__ADS_1