
Gibran tersenyum simpul saat Delia menerima untuk bekerja sama dengannya. Mereka kini memiliki sebuah perjanjian yang harus mereka sepakati. Gibran menuliskan sesuatu disebuah secarik kertas dan menunjukkannya kepada Delia, dan disana tertulis,
Perjanjian Gibran dan Delia :
Harus saling menguntungkan satu sama lain, semisal ada orang tua, harus terlihat harmonis dan baik-baik saja.
Delia harus masak untuk Gibran setiap hari.
Dilarang mencampuri urusan pribadi masing-masing.
Setelah selesai membaca perjanjian yang dibuat Gibran untuknya, Delia merasa geli dan ingin tertawa.
"Kau bilang bahwa aku kekanak-kanakan, tapi ternyata kau lebih parah!"
"Apa maksud mu?"
"Ya, maksudku hanya anak kecil yang membuat perjanjian semacam ini!" ucap Delia masih dengan tawa mengejeknya.
"Aku tidak peduli, kau harus menyetujui perjanjian ini, agar semua urusan kita nanti bisa berjalan dengan lancar dan baik!"
Delia hanya manggut-manggut.
"Oke, tapi aku juga ada peraturan yang harus kau sepakati!"
"Tidak masalah, tulis saja disini, agar aku tidak lupa!"
Ucap Gibran sambil menyerahkan kertas dan bulpoint itu pada Delia, dan Delia langsung menuliskan sesuatu di kertas itu. Dan setelah selesai ia menunjukkannya pada Gibran.
Peraturan yang harus Gibran sepakati
__ADS_1
Dilarang menyentuh Delia.
Dilarang tidur seranjang.
Dilarang mencampuri urusan pribadi termasuk urusan percintaan satu sama lain.
Setelah selesai dengan tulisannya, Delia menyerahkan kertas itu pada Gibran.
Gibran terkekeh setelah mebaca tulisan Delia nomor tiga.
"Aku tak yakin kau mempunyai hubungan dengan seorang pria!" Gibran masih tak berhenti terkekeh.
Sedangkan Delia hanya tersenyum pahit mendengar perkataan Gibran yang begitu menusuk itu, namun dia berusaha untuk tetap tenang menghadapi Gibran.
Tak berselang lama datang ibu Delia dengan senyum semringah melihat putrinya sedang bersama suaminya, mungkin dia pikir saat ini pengantin baru itu sedang saling mengenal satu sama lain.
"Ternyata kalian disini!" ucap ibu masih dengan senyum.
Melihat ada ibu, Gibran dengan segera melipat-lipat kertas yang ada ditangannnya itu dan memasukkannya kedalam saku bajunya.
"Ibu! Tidak usah repot-repot!" ucap mereka bersamaan. Ibupun berbalik bingung.
"Bukannya kalian belum makan?" tanya ibu.
"Biar Gibran yang mengambilnya sendiri, bu, sekalian untuk Delia!" ucap Gibran.
"Oh! Ya sudah sayang, kau memang menantu ibu yang baik!" ucap ibu, bangga. Sedangkan Delia langsung membuang muka mendengar ibunya mengatakan hal itu. 'Oh jadi itu yang dia maksud menguntungkan satu sama lain! Dasar munafik!' Ucap Delia dalam hati. Akhirnya kedua pasangan pengantin itu pun memilih turun dan bertemu semua anggota keluarga dibawah.
Orang tua Gibran terlihat sedang berbincang hangat dengan orang tua Delia, mata Delia tak lepas memperhatikan mereka yang sedang mengobrol, entah apa yang mereka perbincangkan.
Tiba-tiba ibu Delia bersama ibu Gibran menghampiri Delia yang tengah memperhatikan mereka itu hingga membuat Delia terkesiap dan sedikit salah tingkah.
"Delia sayang, hari ini kau sudah resmi menjadi istri Gibran, jadi ikutlah dengan kami, kamu bisa tinggal bersama Gibran dirumah." kata ibu Gibran memohon pada Delia.
Wajah Delia terkejut saat ibu Gibran dengan halus dan penuh harap meminta Delia untuk tinggal bersamanya. Delia menatap ibunya sendiri namun nampaknya sang ibu setuju, terlihat dari raut wajahnya yang terukir senyum itu.
__ADS_1
"Tapi...., saya...saya" lidahnya tiba-tiba kelu, betapa sulit untuk mengatakan bahwa dirinya ingin menolak semua itu, bagaimanapun Delia dan Gibran adalah sepasang pengantin yang tak saling mencintai, dan membayangkan Delia harus berada diantara keluarga Gibran, pasti rasanya sulit mengendalikan perasaannya dan yang pasti dia harus bersikap pura-pura mencintai Gibran didepan keluarga Gibran. Namun semakin dia ingin menolak permintaan ibu Gibran, Delia semakin tak tega melihat ketulusan mertuanya itu.
Tiba-tiba Gibran datang dan tepat berdiri diantara Ibunya dan Delia, ia memandang mereka bergantian. Beberapa detik sebelum ia tersenyum, tatapannya yang tajam tepat menatap ke arah Delia, hingga membuat Delia sedikit ngeri, namun ia berusaha tenang dan membalas tatapan Gibran dengan tatapan tak kalah tajam, bagaimanapun dia tak boleh terlihat lemah.
"Karena ibu tidak berhasil memintamu, jadi aku yang akan menggantikan," ucapnya ringan.
"Ikutlah bersama kami!"
...****************...
Setelah acara selesai, semua anggota keluarga sudah bersiap untuk meninggalkan tempat, Delia melihat keramahan dari masing-masing keluarga mereka. Mungkin saat ini mereka begitu bahagia menyaksikan putra-putri mereka sudah bersatu dalam ikatan pernikahan. Berbeda dengan yang Delia rasakan, ia begitu tertekan saat ini, terjebak dalam ikatan tanpa cinta.
Gibran sudah siap dengan mobilnya.
"Delia sayang, kau semobil dengan suamimu ya," ucap ibu Gibran kepada Delia. Sedangkan Gibran hanya menatap dingin kearah Delia, tanpa pikir panjang lagi Delia pun membuka pintu mobil Gibran dan masuk kedalamnya, berada disisi kemudi. Tak ada gunanya menolak permintaan mereka saat ini.
Suasana didalam mobil begitu hening. Gibran begitu konsentrasi menyetir. Meski ada beberapa mobil yang menyalipnya, ia berusaha mengalah, sejauh ini ia adalah pengemudi yang baik. Kesan yang sepele!
Udara dari AC yang berembus membuatnya semakin dingin, Delia menyandarkan kepalanya yang berat karena adanya mahkota yang belum ia copot tadi, ditambah baju pengantin yang begitu banyak pernak-pernik membuatnya sedikit sesak dan sulit bernafas, sejak tadi Delia terlihat begitu gelisah, entah apa yang ia pikirkan, mungkin karena gaun pengantin yang membuatnya tak nyaman atau mungkin dia saat ini akan pulang kerumah Gibran. Beberapa saat kemudia ia mendengar suara dari pria disampingnya.
"Kau terlihat gelisah sepertinya, apa benar?"
Tanya Gibran ringan.
Delia hanya membuang nafas kasar sebagai jawabannya, jujur saja dia sangat malas menanggapi omongan Gibran itu, Gibran hanya tersenyum mengejek melihat Delia yang tampak tak nyaman itu, 'Kita lihat saja bagaimana cerita pernikahan ini nanti' ucap Gibran dalam hati. Dan merekapun tak bicara apapun setelah itu.
Rumah bertingkat dengan aksen Eropa minimalis menyambut saat mobil yang Delia tumpangi berhenti di pagar tinggi menjulang didepannya. Mata Delia seolah-olah tersihir dengan arsitektur bangunan megah itu, Delia melihat sekelilingnya terdapat banyak lampu taman yang menerangi setiap lekuk jalan rumah itu. Tanpa ia sadari, seseorang telah membukakan pintu untuknya.
Delia tersentak, namun ia mencoba bersikap normal.
"Keluarlah dan bersikaplah baik pada ibu dan ayah," perintah Gibran, wajahnya sangat dingin menatap Delia, Delia tak menjawab, ia hanya mengambil tas jinjingnya dan keluar dari mobil Gibran dengan perasaan campur aduk.
Bersambung.....
__ADS_1