Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin

Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin
Bab 23 Permintaan Ibu


__ADS_3

Akhirnya acara dirumah Gibran telah selesai, Delia dan Gibran sudah berpamitan pulang, walau ibu selalu meminta agar mereka menginap saja, namun nampaknya Delia dan juga Gibran tetap menolak dengan halus.


Mobil Gibran pun berjalan meninggalkan rumah orang tuanya. Didalam mobil mereka tak berbincang sama sekali, Delia hanya diam dan bingung sambil tangannya memegang botol yang tadi ibu berikan padanya. Delia melihat Gibran dari ekor matanya, seperti ada hal yang membuat lelaki itu cemas.


Tiba-tiba mobil yang mereka tumpangi kini berhenti di jalan yang sangat sepi, sepertinya disitu adalah jembatan yang dibawahnya sebuah sungai besar.


"Kenapa berhenti?" tanya Delia sedikit bingung.


"Cepat lempar botol itu kesungai!" ucap Gibran tanpa menoleh pada Delia.


"Apa? Maksudmu jamu ini?"


"Iya, cepat kau buka kaca jendela itu dan lempar botol itu!"


"Tapi! Kenapa?"


"Kenapa kau bilang? Apa kau akan tetap meminum jamu itu?" ucap Gibran sedikit kaku.


"Bukan begitu maksudku, tapi ini pemberian ibu!"

__ADS_1


"Aku tak peduli, lalu untuk apa kau masih ingin membawa benda itu pulang, jika tidak ada gunanya!" kali ini Gibran sedikit berteriak pada Delia, sungguh hati Delia benar-benar sakit mendengarnya, tapi mau bagaimana lagi, jamu itu memang tidak ada gunanya jika mereka tak pernah berhubungan suami istri. Akhirnya dengan perasaan sedih dan merasa bersalah pada ibu mertuanya, Delia membuka kaca mobil dan melempar botol itu ke sungai dibawah jembatan. Setelah selesai mobil pun melaju lagi.


Sampai dirumah, tidak ada lagi tutur kata lembut dari Gibran, Delia bingung, kenapa sikap lelaki itu cepat sekali berubah, hanya karena ibu menyinggung soal cucu, lalu kenapa sepertinya dia marah pada dirinya. Namun setelah Delia pikir lagi, apa mungkin Gibran memang tak menginginkan hal itu dengan dirinya, dan Gibran masih kekeuh jika suatu hari nanti dia dan Gibran akan berhadapan dengan sidang perceraian. Delia benar-benar sedih saat ini. Berarti selama ini Gibran memang tak pernah ada getaran sedikitpun terhadap dirinya. Delia tak bisa membendung lagi tangisannya, ia hempaskan tubuhnya di ranjang dan menangis sejadi-jadinya, ia menangis bukan karena dia mengetahui sebuah fakta bahwa Gibran memang tak menginginkan dirinya, tapi dia menangisi kebodohannya. Dia terlalu bodoh karena harus hanyut pada perasaan yang Gibran ciptakan dari sebuah kepalsuan.


Cukup lama Delia menangis dan terjaga di kamarnya, entah sudah jam berapa ini. Karena saking lamanya ia menangis sambil berteriak di bantal membuat dia haus dan ingin minum. Delia pun bangkit dan melihat jam yang sudah menunjukkan pukul satu dini hari, dia tadi sampai rumah jam sepuluh, berarti sekitar tiga jam dia menangis. Waktu selama Itu sudah cukup untuk menangisi kebodohannya.


Delia membuka pintu kamar dan menuju pada dapur. Tapi tiba-tiba dia terkejut melihat Gibran yang ternyata juga masih terjaga bahkan duduk termenung di kursi meja makan.


Delia berusaha cuek dan meneruskan mengambil air putih didekat meja makan itu. Melihat wajah Delia yang nampak sembab karena menangis membuat Gibran cemas dan seketika memegang tangan Delia yang hendak pergi setelah mengambil air putih.


"Kau habis nangis?" tanya Gibran, namun tak dijawab oleh Delia.


"Maaf kan aku jika aku bicara sedikit kasar tadi!"


"Delia, sholat malam yuk, bersama ku!" tiba-tiba Gibran mengajak Delia untuk sholat malam berjama'ah. Delia cukup terkejut, namun sepertinya Delia tak bisa menolak permintaan itu, dan akhirnya mereka pun melaksanakan sholat malam, malam itu.


Rasa hampa, rasa cemas, rasa capek dan seluruh rasa yang Gibran rasakan saat ini ia tumpahkan semuanya di atas sajadah dengan mengucap nama Rabb-nya, ia pasrahkan segalanya. Mungkin Allah sedang menguji, bagaimanakah dengan akhir dari kisah pernikahan mereka. Gibran hanya bisa berpasrah diri dengan jalan hidupnya, hidup bersama Delia yang penuh dengan teka-teki. Gibran masih ingat betul, awal mula hubungan mereka yang selalu di bumbui oleh perseteruan. Rasa ingin mengakhiri hubungan ini memang sering terbersit di hatinya, namun rasa pengabdian untuk orang tuanya lebih besar dari pada rasa benci saat ia harus hidup dengan wanita yang tak pernah ia harapkan.


Hingga waktu terus membawa mereka pada titik ini. Tapi apa yang telah diberi oleh waktu? Perasaan benci yang terus dirasakan oleh Gibran kini berubah menjadi sebuah rasa sayang, sayang sebagai teman dan rasa ingin melindungi wanita itu, walau ini bukan berarti sebuah rasa cinta, karena Gibran tak yakin dengan perasaannya itu. Kini ditambah dengan permintaan ibu yang cukup menguras pikiran Gibran. Gibran pikir menjalani hidup bersama dengan Delia sudah cukup bisa membuat hati orang tuanya menjadi tentram, hingga membuat Gibran lupa dengan dengan satu hal itu. Ternyata pernikahan tujuannya untuk memiliki keturunan dengan pasangan kita. Tapi bagaimana mereka bisa mendapatkan keturunan itu, jika mereka saja masih belum menjadi pasangan yang seutuhnya? Kini Gibran hanya bisa berpasrah diri.

__ADS_1


Biar saja Allah yang maha tahu yang akan memberi jalan terbaik untuk pernikahan mereka.


Tak terasa air mata Gibran kini mengalir sambil tangannya menengadah. Delia hanya bisa mengamini setiap do'a yang Gibran ucapkan itu.


Setelah selesai Gibran melanjutkan untuk melantunkan ayat-ayat Al-qur'an. Dengan merdunya ia melafatkan ayat-ayat suci itu, hingga membuat Delia kagum dengan suara merdu Gibran.


'Ya Allah, kenapa kau selalu memberi hamba rasa kagum pada lelaki ini, hamba tak mau jika hamba selalu terjebak dengan rasa kagum ini' tutur hati Delia.


Setelah selesai dengan bacaan Al-qur'annya Gibran pun berbalik pada makmumnya, dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Delia pun seperti terkesiap namun dia meraih uluran tangan Gibran itu, lalu mencium tangan suaminya itu. Tapi tiba-tiba kedua tangan kokoh Gibran itu kini menyentuh pipi Delia, dan mengangkat wajah Delia lalu mencium kening Delia. Sungguh Delia benar-benar terperanjat dengan perlakuan Gibran yang manis itu, walau hanya di kening, sungguh membuat Delia merinding karena sentuhan itu.


"Maafkan aku Delia!" ucap Gibran masih dengan memegang pipi Delia. Delia hanya bisa mengangguk pasrah.


"Mungkin saat ini aku masih belum bisa menjadi suami yang baik untukmu, tapi setidaknya bisakah kita menjadi teman yang baik?" ucap Gibran, membuat Delia kini bergetar di hatinya.


"Jangan kau pikirkan tentang permintaan ibu! Kita lihat saja dulu, takdir apa yang Allah berikan nanti pada kita!" ujar Gibran lagi.


Mereka pun mengakhiri dengan berpelukan. Mungkin saat ini Gibran hanya bisa menyayangi Delia namun belum bisa mencintai seutuhnya, walau perasaannya kadang sulit dimengerti, tapi Gibran masih belum yakin apakah itu sudah dikatakan dengan sebuah rasa cinta. Rasanya saat ini seperti ada sebuah tantangan yang sangat besar yang harus mereka lalui dalam rumah tangga mereka.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa like.


Satu like darimu, sungguh berharga bagi author😘


__ADS_2