Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin

Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin
Bab 19 Pengakuan Zahra


__ADS_3

Delia benar-benar capek hari ini, banyak buku baru yang harus didata, bahkan masih bertumpuk-tumpuk di gudang. Delia akan pergi sebentar keluar dari perpustakaan untuk membeli kopi, sepertinya enak, ia melihat beberapa deretan gasebo di dekat kantin, rencananya ia akan duduk disana sebentar sambil minum kopi, agar bisa relaks.


Delia sudah memesan kopi dan mencari tempat duduk di salah satu gasebo. Namun netranya menangkap sesuatu yang tak asing. Delia melihat Gibran duduk disalah satu gasebo itu bersama wanita yang tadi ia temui. Mereka terlihat sedang membicarakan sesuatu yang serius, walau duduk mereka berjauhan, namun mereka terlihat sangat intim di mata Delia. Satu yang sangat membuat Delia bingung, mengapa perasaannya harus risau ketika melihat Gibran berduaan dengan seorang wanita, seharusnya dia senang, karena memang ini yang dia mau, agar proses perceraiannya dengan Gibran bisa cepat dan lancar. Tapi apakah memang itu yang membuatnya bahagia.


Delia pun melangkah pergi, dia urung untuk duduk-duduk sebentar di gasebo itu. Akhirnya Delia pun memilih balik ke perpustakaan dan memilih tak menghiraukan Gibran ataupun wanita bernama Zahra itu, biarlah mereka memiliki urusan masing-masing.


Saat Delia sudah berada di meja kerjanya, Delia mulai fokus lagi untuk bekerja, ia berharap jika ia kembali fokus melakukan suatu pekerjaan dia akan menghilangkan perasaan risaunya itu.


Sebuah notifikasi pesan masuk terdengar, Delia segera membukanya, dan ternyata adalah Gibran pengirim pesan itu.


(Bagaimana pekerjaan mu, apa lancar?)


Begitulah isi pesan dari Gibran, Delia hanya membalas isi pesan itu singakat dan apa adanya. Untuk jam kerja Delia dimulai dari jam delapan pagi hingga jam dua belas siang saja, jadi setelah itu Delia bisa pulang.


Tak lama kemudian, notifikasi pesan masuk lagi dan masih pengirim yang sama.


(Kutunggu nanti jam dua belas di parkiran)


Delia pun hanya membalas dengan emogi jempol kuning pada Gibran.


Delia benar-benar tak tau, kenapa hatinya harus merasa kacau saat ini. Ditengah kekacauannya Pak Edo datang membawa beberapa buku yang tadi sudah Delia data sebelumnya dan kemudian meletakkan buku-buku itu di atas meja Delia. Delia hanya memasang tampang bingung saat lelaki berkacamata itu meletakkan buku itu di mejanya.


"Sepertinya, kamu sedang tidak konsentrasi hari ini!" ucap lelaki itu dengan senyuman, ternyata Delia salah memasukkan data buku-buku tersebut.


"Maaf Pak Edo, saya salah ya!" jawab Delia dengan penuh sesal, gara-gara mikirin Gibran dia jadi tidak konsentrasi dalam bekerja, beruntung kepala perpustakaan itu sangat sabar sekali menghadapinya.


"Tidak apa-apa, sekarang cepat perbaiki semuanya, setelah selesai akan saya traktir minum kopi, biar pikiranmu relaks!" ucap Pak Edo dengan penuh kesabaran.


"Terima kasih Pak Edo, kedengarannya sangat enak minum kopi, tapi saya baru saja memesan kopi di kantin!" ucap Delia sambil melirik pada gelas kopi yang masih mengeluarkan asap itu.


"Oh, baiklah, lain kali saja kalau begitu!" ucap Pak Edo, dia pun pergi meninggalkan meja Delia. sebuah senyum terukir di wajah lelaki itu.

__ADS_1


Jam sudah menunjukkan pukul dua belas, sesuai pesan Gibran, Delia langsung saja pergi ke parkiran untuk menemuinya. Ternyata memang Gibran sudah standby di sana, dan Delia pun langsung masuk ke mobil Gibran. Tapi jantung Delia seakan mau jatuh ketika ia membuka pintu mobil, di depan, tepatnya disisi kemudi ternyata sudah ada yang duduk disana, dia adalah Zahra.


Mau bagaimana lagi, mau protes tapi memang sesuai perjanjian dia tak boleh mengatakan pada siapapun jika dirinya dan Gibran adalah suami istri. Akhirnya Delia pun mengalah memilih duduk di belakang saja. Entah mengapa melihat Gibran dan Zahra dekat hati Delia terasa tersentil. Apa mungkin hatinya kini merasa cemburu?


Mobilpun berjalan, hening tanpa ada salah satu dari mereka yang memulai pembicaraan. Hingga mobilpun memasuki area mall.


"Delia, sebaiknya kamu turun bersama Zahra, mencari baju untuk kau pakai kerja besok dan belilah segala kebutuhan dirumah!" ucap Gibran sambil memberikan kartu ATM pada Delia, Delia nampak ragu dan terkejut mendengar omongan Gibran itu, namun karena Zahra tersenyum ke arah Delia, akhirnya Delia pun mengambil kartu itu dan turun bersama Zahra.


Ditengah perjalanan menuju mall, Zahra menggandeng tangan Delia.


"Tadi Gibran cerita sama aku, Del!" ucap Zahra tiba-tiba, membuat Delia terkejut, apakah Gibran menceritakan perihal hubungannya?


"Cerita soal apa?" tanya Delia, sedikit gugup.


"Cerita kalau kamu tuh sebenarnya sepupu Gibran, aku pikir kamu pacarnya, habisnya dia pegang tangan kamu tadi!" ucap Zahra sambil terkekeh.


"Oh!" Delia lega tapi sedikit bingung, karena Zahra tiba-tiba mengatakan hal itu pada Delia.


"Maaf ya Delia, tadi sebenarnya aku maksa ingin ikut kalian yang katanya mau belanja, sebenernya aku juga pengen kenal dekat sama kamu!" ucapan Zahra itu kini benar-benar membuat Delia sulit bernafas.


"Sebenarnya, aku tuh udah lama suka sama Gibran, eh.. tapi jangan bilang-bilang sama Gibran ya, ini rahasia kita berdua, anggap aja kita sekarang bestie, hehe!"


'Bestie kau bilang, bagaimana perasaanmu jika kau tau ternyata wanita yang kau ajak bicara ini adalah istri Gibran?'


"Baiklah, aku tidak akan mengatakannya pada Gibran!" ucap Delia sambil mencebikkan bibirnya.


"Sebenarnya, Gibran itu suka sama wanita seperti apa sih?" tanya Zahra pada Delia, disela mereka memilih-milih baju untuk Delia.


"Maksudmu?" tanya Delia yang tak paham arah dari pembicaraan Zahra.


"Iya, Gibran itu termasuk pria pendiam, jadi sulit ditebak seleranya!" ucap Zahra menerawang.

__ADS_1


"Apa yang membuatmu menyukai Gibran?" tanya Delia.


"Ahlaknya! Dia selalu santun pada wanita, itu yang membuatku suka!"


Mendengar itu, Delia mengingat ketika ia pertama kali menikah dengan Gibran, bagaimana laki-laki itu sungguh menyebalkan di mata Delia.


"Kenapa kau tak nyatakan saja isi hatimu pada Gibran?" ucap Delia, sedikit menantang, sepertinya akan seru. Delia bahkan geli sendiri setelah memberikan tantangan itu pada Zahra.


"Ahh! Aku tak punya nyali untuk melakukan hal itu, kecuali kau mau membantuku!" ucap Zahra kemudian sambil tersenyum simpul, dengan ekspresi yang sulit diartikan sambil menatap Delia.


'Oh tidak! Jangan menatapku seperti itu, aku tak bisa membantumu, sungguh, jangan aku!' Delia benar-benar was-was jika Zahra akan meminta bantuannya.


"Aku?" ucap Delia kaget dan sedikit menggelengkan kepalanya.


"Oh, ayolah, kita kan sudah menjadi bestie!" ucap Zahra penuh permohonan. Mimpi apa semalam Delia bisa bertemu bahkan langsung menjadi bestie dengan wanita seperti Zahra. Walau sedikit menggelikan tapi rupanya Zahra bersungguh-sungguh dengan perasaannya itu.


Sebuah deringan hanphone milik Delia menghentikan Zahra yang sedari tadi memohon penuh harap pada Delia, dan itu cukup melegakan bagi Delia.


"Assalamu'alaikum!"


"Iya, aku sudah dapat!"


"Hmm! Baiklah!"


"Tinggal belanja kebutuhan!"


"Oke!"


"Walikumsalam!"


Delia mematikan ponselnya dan menaruhnya lagi ke tas jinjingnya.

__ADS_1


"Gibran mengatakan, dia berada di kafe, menunggu kita disana, jadi kita harus cepat segera membeli bahan-bahan yang lain!" ucap Delia, yang langsung berjalan cepat mendahului Zahra agar wanita itu tak membahas Gibran lagi. Sedangkan Zahra hanya bisa mengikuti langkah Delia, mengekornya namun pikirannya selalu terbayang pada Gibran, dia benar bersungguh-sungguh menyukai pria itu.


Bersambung......


__ADS_2