
Persiapan yang sudah dilakukan Ibu Gibran untuk memberi kejutan untuk Gibran dan Delia memang cukup mengejutkan. Di beranda belakang. Rumah mereka kini sudah dihiasi dengan dekorasi cantik yang minimalis, ditiang-tiang rumah sudah dihias dengan pita-pita berwarna biru dengan balon-balon warna senada.
Semua Tante Gibran yang bekerja untuk mempersiakan itu, ada yang menyiapkan hidangan makan malam, ada yang bertugas menyiapkan sirup dingin dengan campuran buah-buahan segar, sedangkan Om-om dari Gibran bertugas menata dekorasinya. Kalina tersenyum bangga karena dalam waktu satu hari, semua tante-tante dan om-omnya bisa membuat beranda belakang rumahnya menjadi secantik ini. Beranda belakang rumah Gibran memang cukup luas dengan kolam renang ditengahnya, sedangkan di sudut kiri terdapat taman kecil dengan kolam ikan lengkap dengan air mancurnya. Jadi tak heran, jika hanya membuat acara seperti saat ini mereka bisa merayakan di beranda belakang rumah. Semua anggota keluarga berkumpul disana, dari Ayah, Ibu, Tante-tante, Om-om dan sepupu-sepupu Gibran sudah siap menyambut sepasang pengantin baru itu, Ibu Gibran yang tampak memasang wajah paling bahagia diantara yang lain.
Saat Kalina datang bersama Delia dan Gibran tiba-tiba bunyi terompet dan taburan confetti menyambut kedatangan mereka, Delia terlonjak kaget dan spontan menutup mulutnya dengan sebelah tangannya, tak percaya. Orang-orang dihadapannya serempak menyambutnya dengan kata-kata yang sungguh tak ingin ia dengar.
"Selamat datang Pengantin Baru, selamat atas pernikahan kalian !" sorak mereka begitu ceria.
Entah bagaimana harus menanggapinya, Delia merasa jantungnya berhenti berdegup melihat sambutan yang sangat mewah dan begitu meriah itu dari keluarga besar Gibran.
'Apakah semua wanita yang sudah menikah diperlakukan seperti ini oleh keluarga suaminya ?' pikirnya dalam hati. Delia begitu tak percaya dengan semua rencana Ibu mertuanya dan semua anggota keluarga Gibran yang lain. Sungguh ia sangat tersanjung diperlakukan begitu baik oleh mereka, jika saja suaminya bukanlah pria yang menyebalkan mungkin dia akan menjadi wanita yang paling bahagia saat ini.
"Apa-apaan semua ini ??!!" sahut Gibran dengan nada tak suka. Membuat seluruh anggota keluarga yang tadinya bersorak gembira berhenti seketika.
Mendengar nada tinggi yang diucapkan Gibran membuat Delia langsung menginjak pelan kaki Gibran dan langsung menampakkan wajah tak suka terhadap Gibran, dan mengisyaratkan agar dia berpura-pura bahagia dengan sambutan keluarganya ini. Bagaimanapun Delia tak ingin membuat Ibu mertuanya bersedih hanya karena omongan Gibran.
Tanpa berpikir panjang Delia pun bersuara sambil memamerkan sederet giginya itu.
"Aku sangat menyukai penyambutan mewah ini, terima kasih !" ujar Delia dengan senyum ramah.
Begitu berkata demikian semua anggota keluargapun kembali bersorak ria dan menyeret Delia untuk ikut bergabung bersama mereka tanpa mengacuhkan tatapan Gibran. Gibran hanya bisa menarik napas pelan-pelan dan menghembuskannya, ia hanya bisa mendesah tanpa bisa berkomentar apa-apa.
Gibran pun mengikuti arah Tante-tante dan sepupu-sepupunya membawa Delia pergi, sedangkan para kaum adam yang lain kini kembali lagi ke sebuah gasebo yang ada disana, entahlah Gibran sama sekali tak perduli mereka membicarakan apa, yang jelas dia tidak suka dirinya harus disambut dengan berlebihan seperti ini, karena memang keadaan keluarga kecilnya bersama Delia memang tak sesuai dengan ekspektasi mereka.
__ADS_1
Tak lama kemudian seseorang tiba-tiba menarik tangan Gibran untuk duduk di salah satu kursi panjang disana, dia adalah Kalina, adik satu-satunya Gibran yang sangat Gibran sayangi.
"Aku senang akhirnya kini kakak memiliki seorang wanita untuk kakak cintai !" ujar Kalina ringan. Gibran hanya tersenyum kecut mendengar perkataan adiknya itu.
'Cintai ?' rutuk Gibran dalam hati, mungkin ini yang dipikirkan oleh semua orang.
"Selama ini kakak tak pernah membawa wanita kerumah, dan sekarang kakak sudah membawa wanita itu kerumah kita !"
Gibran melongo kagum dengan perkataan adiknya yang terdengar lebih dewasa dibandingkan dirinya, Gibran tersenyum pahit.
"Lalu, kalau aku sudah membawa wanita kerumah ini, apa kau mau memberiku penghargaan ?"
Ucap Gibran datar, sedangkan Kalina ia masih merangkul lengan kakaknya itu dengan manja lalu tersenyum kearah kakaknya.
"Penghargaannya adalah..... Aku menyukai kakak ipar !" jawabnya ringan, Gibran hanya mendesah mendengarnya.
Delia masih berkumpul di tengah para tante-tante Gibran dan sepupu-sepupu Gibran, pertanyaan dari keluarga Gibran datang silih berganti memenuhi pikirannya, sesekali ia menjawab dengan jawaban yang singkat, namun ada pertanyaan yang membuat Delia seketika shock mendengarnya dari Tante Eli, yang terdengar sangat mengerikan dan juga menggelikan.
"Bagaimana malam pertamamu ?" tanya Tante Eli dengan tatapan menyelidik.
Delia sontak membelalakkan mata mendengarnya, dia bingung harus bagaimana, dan apa yang harus ia jelaskan, sebenarnya dipikirannya yang terlintas hanyalah Gibran si pecundang atau Gibran yang sungguh menyebalkan, lalu apa lagi ?
"Sebenarnya kami... " Delia berusaha menjawab namun Gibran tiba-tiba datang dengan senyum palsunya. Gibran dengan senyum palsunya itu tiba-tiba menarik tangan Delia hingga Delia pun terlonjak dan Gibran terus menarik hingga mendekat dan sejurus kemudian Gibran pun memeluk tubuh Delia dari belakang dan menyandarkan dagunya ke bahu Delia, sunggu Delia baru pertama kali ini merasakan tubuhnya dipeluk dari belakang oleh seorang lelaki, dan laki-laki itu adalah pria menyebalkan ini.
__ADS_1
Semua anggota keluarga yang melihat langsung tersenyum geli.
"Aku kira kalian sudah tau jawabannya !" ujar Gibran singkat yang membuat semua anggota keluarga mengembuskan nafas kecewa karena penasaran.
"Maksud kakak gimana sih ?" tanya Amora, sepupu Gibran yang usianya masih tujuh belas tahun, Gibran hanya berdecak lalu semakin memeluk Delia, sungguh Delia benar-benar merasa panas dingin saat itu karena gugup dan ingin berontak.
"Sebenarnya tanpa aku jelaskan kalian pasti sudah tau perasaan kami saat malam pertama itu !" kata Gibran tersenyum puas seperti orang yang telah berhasil memenangkan adu gengsi dengan Delia.
"Apa kakak senang waktu itu ?"
"Pastinya !"
"Menantikan momen romantis itu, pasti kakak bingung harus memulai dengan kata romantis apa." ujar Kalina dengan pipi bersemu merah, ia mungkin membayangkan bagaimana kelak ia bersama suaminya.
"Ya, kami saling mendukung, kami berdua melakukan hal yang seharusnya para pasangan pengantin baru lakukan jika malam pertama.
Delia pun mencubit lengan Gibran dengan keras hingga Gibran mengaduh kesakitan, sungguh rasanya sakit sekali, mungkin lengannya kini lebam karena cubitan itu. Namun semua yang melihat adegan itu malah menganggap jika itu sangat romantis dan menggemaskan.
"Ya ampun ! Aku tidak menyangka kakak ipar sangat romantis !" ujar Hermin, sepupu Gibran yang paling kecil.
'Romantis ! Uhh ini sungguh sakit' kata Gibran dalam hati.
"Maaf, sepertinya ini tidak cocok dibicarakan dengan kalian yang masih dibawah umur !"
__ADS_1
Ucap Delia sambil berusaha menampakkan senyumya. Lalu Delia pun menarik tangan Gibran agar menjauh dari anggota keluarganya itu, jika diteruskan mungkin pembicaraan ini akan ngelantur kemana-mana. Sedangkan Tante-tante Gibran pun hanya tertawa melihat tingkah mereka.
Bersambung...