Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin

Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin
Bab 54 Periksa


__ADS_3

Pranggg


Suara pecahan gelas terdengar di sebuah rumah minimalis, gelas itu seakan di banting dengan keras oleh seseorang, hingga menimbulkan suara gaduh, tak hanya itu suara barang-barang yang seakan dengan sengaja di banting-banting juga memenuhi rumah itu.


Suara teriakan dan umpatan seorang wanita juga terdengar, nampaknya wanita itu sedang emosi hingga ia melampiaskan kemarahannya dengan membanting barang-barang didalam rumahnya.


"Kenapa kau lakukan ini padaku Hamdan!!!!" teriak wanita itu, setelah menendang sebuah meja di ruang tamu.


"Aku jauh-jauh datang ke Jakarta hanya untuk mencarimu, namun kau mengkhianatiku!!!"


"Kau memang lelaki jahat, tak berperasaan!!!"


Aulia nampak acak-acakan, dia benar-benar terlihat frustasi, ada rasa benci yang sangat teramat ia rasakan, namun ia tak bisa membuang rasa cintanya pada Hamdan, itu yang membuatnya sungguh tersiksa.


Melihat Hamdan dari dekat, namun ada sebuah pembatas yang tak mampu ia tembus, bahkan begitu sulit ia raih.


Delia adalah alasan mengapa jarak itu harus ada diantara Aulia dan Hamdan, wanita itu yang dulu pernah menjadi teman di pesantrennya, yang pernah menemukan surat cintanya. Mengapa dia pula yang harus mencuri pujaan hatinya.


Sekali lagi Aulia berteriak kencang dan tak segan melempar sesuatu yang berada di dekatnya, untuk melampiaskan emosinya, namun hal itu tak membuatnya puas sebelum apa yang menjadi tujuannya bisa tercapai.


Aura kebencian pun menyeruak di hati Aulia pada sesosok wanita yang telah membuatnya tersiksa karena tak bisa memiliki pujaan hatinya.


"Delia!!!! Aku tak mau kalah dari mu!!!!"


"Lihat saja, aku akan merebut kembali cinta Hamdan dari mu, dan kupastikan tak akan ada sisa rasa sedikitpun untukmu dari Hamdan!!!!" teriak Aulia frustasi.


Setelah teriakan itu tiba-tiba suara tangis pilu terdengar dari Aulia, tangis seorang wanita yang sedang patah hati dan merasa terhkhianati.


Mungkin kedatangannya ke Jakarta bisa dibilang sudah terlambat. Bagaimana tidak, setelah kepulangannya dari pesantren dia malah dijodohkan oleh orang tuanya oleh seorang lelaki yang sudah berumur namun kaya.


Karena hutang budi, orang tuanya malah menyerahkan dan merelakan anak gadisnya untuk dinikahi om-om. Hingga tanggal pernikahan itu sudah di tentukan, maka Aulia dengan segala tekadnya pergi meninggalkan orang tuanya ke Jakarta, bermaksud mencari pujaan hatinya.

__ADS_1


Aulia tak peduli jika orang tuanya harus menanggung malu karena putrinya harus kabur saat hari dimana pesta pernikahannya sudah dekat, mereka pun tak peduli dengan perasaan putrinya, mereka juga tak peduli dengan hati putrinya yang tersiksa karena perjodohan itu.


Tapi apa yang Aulia dapatkan dari pengorbanannya? Setelah sampai di Jakarta dia harus melihat lelakinya kini telah menjalani hubungan dengan wanita lain yang tak lain adalah teman satu pesantrennya, dan kini telah mengandung anak dari lelakinya itu, sungguh hati Aulia seperti tersayat-sayat oleh ribuan pisau.


Seandainya dulu Hamdan menepati janjinya untuk melamar Aulia, mungkin saat ini Aulia lah yang berada di posisi Delia, menjadi istri untuk Hamdan dan menjadi istri yang sangat mencintai suaminya. Terdengar sangat indah, bahkan walau hanya dalam bayangan saja. Namun semakin dibayangkan perasaannya semakin menggebu saja.


"Tunggu saja pembalasanku, hahahaha!!!!" kini terdengar tawa yang sangat nyaring. Seperti wanita gila yang sebentar berteriak dan menangis namun tiba-tiba tertawa, mungkin itu yang dinamakan frustasinya seseorang karena patah hati.


...****************...


Delia sedang berbaring di sebuah ranjang di poli kandungan, rasa sakit dikepalanya saat ini masih terasa, seorang dokter kandungan tengah memeriksanya. Gibran menemani Delia saat di periksa, sedangkan ibu menunggu di luar.


"Tekanan darah ibu Delia sangat tinggi, ini berbahaya sekali bagi kesehatan kandungannya!" ucap dokter wanita itu. Gibran yang mendengar itu sungguh tertegun.


"Lalu bagaimana Dokter?" tanya Gibran yang sungguh sangat khawatir saat ini.


"Sebisa mungkin jangan sampai banyak pikiran, apalagi stres, Buat suasana hati ibu Delia agar selalu good mood!!" Gibran mengangguk.


"Oh iya, satu minggu lagi kalau bisa kontrol kesini lagi ya!" Gibran hanya mengangguk saja, otaknya terus mengingat bagaimana tadi dia telah menyakiti Delia hingga Delia harus dilarikan ke dokter.


"Usia kandungan yang masih muda memang sangat rawan Pak Gibran!" ucap Dokter kandungan itu lagi, membuat Gibran terhenyak dari lamunannya.


"Jika ibu sering stres di usia kandungan yang masih muda, itu akan berpengaruh pada tumbuh kembang janin." sekali lagi Gibran tertegun mendengarnya.


"Baik Dokter, saya akan selalu mengingat pesan dokter!" ucap Gibran dengan anggukan mantap.


Setelah selesai di periksa, Gibran pun membopong Delia lagi, menaikkan Delia ke sebuah kursi roda, lalu mendorong Delia menuju parkiran, resep dari dokter biar ibu yang menebusnya di apotek.


"Masih pusing sayang?" tanya Gibran sambil mendorong kursi rodanya dan hanya di jawab anggukan kepala oleh Delia, wajahnya sedikit meringis menahan sakitnya.


"Ya sudah, kita ke mobil ya, setelah ibu selesai menebus obat, kita cari makan dulu ya, kamu belum makan dari tadi!" kata Gibran lembut.

__ADS_1


"Tidak perlu, aku ingin cepat istirahat!" ucap Delia yang masih enggan untuk manatap Gibran.


"Tapi kamu belum makan dari tadi!"


"Aku pusing!! Aku pengen istirahat!" Delia terlihat kesakitan hingga mau tak mau dia menyandarkan kepalanya di pundak Gibran saat mereka sudah berada di dalam mobil, dan Gibran pun langsung merengkuh tubuh Delia dan menaruh posisi kepalanya ke dada bidangnya.


"Maafkan aku ya!" ucap Gibran sambil mengusap kepala Delia dan mengecup pucuk kepalannya. Namun Delia tak menjawabnya.


Tak lama kemudian ibu datang sambil membawa bungkusan obat, lalu menyerahkan pada Gibran bungkusan itu, dan ibu pun kembali mengemudikan mobilnya.


Setelah sampai di rumah Delia langsung istirahat di kamar, tepatnya di kamar mereka berdua. Sekali lagi Gibran mencium kening Delia cukup lama, hingga tangan Delia tiba-tiba mendorong dada Gibran dan Gibran pun menghentikan aktifitasnya.


"Aku capek, pengen istirahat!" yang kemudian berbalik badan membelakangi Gibran. Gibran hanya bisa menatap punggung Delia, ingin menyentuh punggung itu namun urung, karena dia tak mau membut Delia semakin menjauhinya bahkan membencinya.


Gibran hanya membantu menutupi tubuh Delia dengan selimut, dan keluar dari kamar menemui ibu.


"Bagaimana Delia?" tanya Ibu.


"Dia harus banyak istirahat karena tekanan darahnya tinggi!" ucap Gibran. Ibu hanya menghela nafas panjang.


"Ya sudah, suruh Delia untuk makan dulu, kemudia meminum obatnya, agar cepat pulih!" kata Ibu.


"Ibu saja yang suruh Delia, biar Gibran yang menyiapkan makanan, ibu juga makan ya!!" kata Gibran. Lagi-lagi ibu hanya menghela nafas.


"Kalian belum baikan?" Gibran hanya menunduk lemah tanpa menjawab pertanyaan ibu, namun ibu tak memperpanjang lagi, dia pun segera ke kamar untuk membujuk Delia. Ibu seperti sedang mengurus bocah-bocah kecil saja yang sedang bertengkar dan ibu pun berlalu sambil geleng-geleng kepala.


Sedangkan Gibran hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal, lalu beranjak ke dapur untuk menyiapkan makanan.


Bersambung....


Berikan cinta kalian untuk author ya, dengan cara like, coment, dan saweran giftnya🤗

__ADS_1


Author butuh semangat nih😍


__ADS_2