Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin

Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin
Bab 55 Rindu Yang Mencair


__ADS_3

Sudah sekitar tiga hari ini Delia cuti dari kerjanya, karena kondisi yang memang tidak memungkinkan. Gibran pun ikutan cuti karena ingin menjaga Delia, walau sikap Delia selalu cuek padanya namun Gibran tetap perhatian pada Delia.


Sebenarnya Delia kasihan juga karena dia selalu cuek pada suaminya itu, apalagi Gibran sampe rela untuk ikutan cuti hanya untuk menjaga Delia, namun karena gengsi dia malas untuk menyapa Gibran terlebih dahulu.


"Sayang makan dulu ya!" ucap Gibran sambil membawa sebuah piring berisi nasi dan lauk. Selama Delia sakit, segala pekerjaan rumah tangga Gibran yang menggantikan.


Seperti biasa Delia malas menatap Gibran, namun ada sesuatu yang menarik perhatian Delia. Punggung tangan Gibran terlihat hitam melepuh, dan nampak ada cairan didalamnya.


"Tangan kamu kenapa?" tanya Delia sedikit kaget.


Gibran pun menunjukkan luka bakarnya pada Delia. "Ini? Nggak apa-apa kok, cuma kena minyak tadi waktu masak!" ucap Gibran sambil nyengir.


Seketika Delia menarik tangan Gibran yang ada luka bakarnya itu. Nampak melepuh dan itu pasti sangat perih rasanya. "Kenapa sampe begini?!" Delia mulai khawatir.


"Nggak apa-apa sayang! Cuma luka dikit kok!" jawab Gibran yang sedikit meringis karena lukanya di sentuh oleh Delia.


"Luka dikit bagaimana?! Sampe kaya gini!" mata Delia mulai menggenang. Nampak Delia begitu menyesal karena selama tiga hari ini ia selalu cuek pada suaminya itu bahkan malas untuk bertutur sapa. Dan walaupun Delia bersikap demikian, Gibran selalu sabar dan rela melakukan apa saja untuk Delia. Kini hati Delia mulai luluh kembali.


"Gak apa-apa sayang, cuma luka dikit kok!" kata Gibran lagi meyakinkan Delia, dia tak mau sampe membuat Delia kepikiran.


"Kamu nih, ceroboh banget!! Harusnya kamu hati-hati!!" air mata Delia kini mengalir, membuat Gibran serba salah.


"Iya-iya aku minta maaf, lain kali aku hati-hati! Kamu jangan nangis ya!" kata Gibran yang tak tahan melihat air mata Delia yang mengalir.


"Ngapain kamu minta maaf?" masih dengan nada ngambek namun lebih ke khawatir.


"Terus aku harus gimana??!" Gibran mulai frustasi, memang begini rasanya ngadepin mood ibu hamil.


"Aku sebel sama kamu!!" kata Delia sambil terus menangis.


"Ya sudah aku minta maaf!"


"Kamu minta maaf terus!!"

__ADS_1


Gibran benar-benar kehabisan kata-kata. "Ya sudah, mendingan kamu makan dulu ya!"


"Kamu obatin dulu tangan kamu!"


"Ini cuma luka biasa sayang, nggak apa-apa!" kata Gibran meyakinkan.


"Kamu nih!! Gak dengerin kata-kata aku!" Delia mulai menangis lagi.


"Astaga, oke-oke baiklah jangan nangis! Aku obatin luka aku, setelah itu kamu aku suapin ya!" ucap Gibran sambil menghela nafas.


Gibran kemudian mengambil sebuah salep yang ada di laci nakas, kemudian mengolesi lukanya dengan salep itu. Setelah selesai mencuci tangan Gibran pun menyuapi Delia.


Gibran senang karena luka itu Delia kini mulai perhatian lagi padanya, dan bahkan mau diajak ngobrol lagi.


Setelah selesai menyuapi Delia, Gibran mulai melakukan aktifitas yang lain, seperti mencuci baju, cuci piring, dan menyapu, apapun segala pekerjaan Delia, Gibran yang menggantikan dan setelah semua pekerjaan itu selesai, Gibran biasanya akan lanjut membuka Laptopnya untuk melanjutkan pekerjaannya, karena sekarang dia mulai masuk ke kantor ayahnya dan bekerja disana, walau masih belum aktif dan hanya dua hari sekali ke kantor, namun dia bisa melakukan pekerjaannya dari rumah, sambil menjaga Delia dirumah.


"Sayang, kalau butuh apa-apa panggil aku saja ya, aku di ruang tengah!" ucap Gibran yang berbicara dari pintu pada Delia.


"Lagi ngurusin pekerjaan, sayang!" kata Gibran masih selalu sabar.


"Sebentar dulu!"


"Ada apa?"


"Aku pengen mandi!" ucap Delia kemudian sambil menunduk dan memainkan jemarinya.


Mendengar itu lantas Gibran mendekati Delia. "Ya sudah mandi saja!" ucap Gibran dan Delia mulai kesal lagi, karena Gibran seperti tidak peka. Delia sedikit mencebikkan bibirnya karena sebal.


"Jangan jutek gitu dong mukanya, aku kan jadi pengen cium kamu!" ucap Gibran dan berhasil membuat pipi Delia merah seperti udang rebus.


"Mau aku mandikan??" goda Gibran lagi sambil mendekatkan wajahnya pada Delia. Membuat Delia menutup wajahnya dengan tangan karena malu, sedangkan Gibran nampak senang sekali karena Delia mulai manja lagi padanya.


Sejurus kemudian tangan Gibran menyentuh tangan Delia kemudian menurunkannya dari wajahnya, lalu Gibran pun mengecup bibir Delia, ******* dan semakin dalam hingga lidah mereka saling bertemu dan bermain disana.

__ADS_1


Tangan Gibran tak hanya diam saja, dia memberikan sentuhan-sentuhan lembut pada punggung Delia, terlihat setiap sentuhan bahwa mereka begitu saling merindukan satu sama lain, namun karena gengsi mereka seakan menahan gejolak itu.


Kini mereka seakan merasa setiap sentuhan itu begitu memabukkan dan membuat candu. Mereka terus berpagut pagi itu, hingga Delia kehabisan nafas dan menarik pagutan itu, dan mereka saling pandang sejenak lalu tersenyum satu sama lain.


Dan mereka mengulanginya lagi, dan Gibran mengecupi leher Delia, hingga Delia meresa merinding di sekujur tubuhnya, semakin turun hungga ia menemukan gundukan sintal milik Delia.


Dengan sekali sentakan, baju tidur Delia sudah terbuka di bagian dadanya. Dan dengan rakus Gibran mengulum pucuk biji itu. Lenguhan tak tertahankan terdengar dari mulut Delia. Gibran masih terus bermain-main di area kesukaannya itu.


Hingga akhirnya Gibran membuka seluruh benang yang melekat pada tubuh Delia dan juga tubuhnya. Mereka bersama-sama saling menyentuh satu sama lain, perasaan bahagia juga memenuhi seluruh hati mereka berdua karena bisa mencurahkan segala isi hati mereka selama ini.


Gibran melakukan penyatuan tubuh mereka dengan sangat hati-hati dan lembut, agar Delia tak kesakitan dan tak membahayakan kandungan Delia.


Pagi itu terasa sangat syahdu bagi mereka berdua, seakan segunung rindu kini telah mencair dan sejuta rindu telah tercurahkan. Mereka seakan tak ingin lepas satu sama lain, mereka terus menyatu dan berpagut.


Hingga akhirnya Delia melenguh hebat, karena pelepasan yang nikmat, dan Gibran pun juga lepas, namun tak lepas di dalam, karena itu bisa membahayakan kandungan Delia yang masih muda.


Setelah sama-sama lepas mereka begitu lemas, sama-sama mereka berpelukan satu sama lain di atas kasur, dengan detak jantung yang seakan memburu.


Gibran terus saja menciumi pipi Delia yang saat ini penuh peluh di wajahnya.


"Sayang, mandi yuk!" kata Gibran.


"Kamu saja dulu sayang!" kata Delia yang masih sedikit lemas.


"Aku pengen bareng!" kata Gibran sambil tersenyum smirk. Sedangkan Delia sudah merasakan aura-aura yang tak mengenakkan di wajah suaminya itu.


"No!!"


"Yes!!!" kata Gibran sambil membopong tubuh mulus Delia ke kamar mandi, walau Delia tidak mau namun Gibran memaksa, hingga akhirnya Delia pun pasrah juga.


Bersambung....


Jangan lupa like ya, biar aku tambah semangat up date😘

__ADS_1


__ADS_2