Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin

Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin
Bab 27 Gejolak


__ADS_3

Delia menikmati hangatnya pelukan Gibran, dia membelakangi Gibran sementara Gibran memeluknya dari belakang, walau mereka hanya saling berpelukan, namun mereka tak bisa menolak getaran-getaran reaksi ditubuh mereka yang terjadi. Namun Gibran dengan sekuat tenaga untuk menahan gejolak itu, dia adalah lelaki normal yang mempunyai nafsu. Entah kenapa dia bisa seberani ini untuk berada lebih dekat dengan Delia.


Namun Delia juga wanita normal, berada dalam posisi yang intim seperti itu sungguh membuat dia merasakan hawa panas disekujur tubuhnya, bahkan dia merasakan payud4ranya lebih memadat dari biasanya.


"Ada apa dengamu? Sepertinya kamu menggigil, apakah masih terasa ada yang sakit?" tanya Gibran, yang merasakan tubuh Delia sedikit gemetar.


Ditanya seperti itu, entah kenapa dalam pendengaran Delia seperti ucapan erotis yang Gibran ucapkan, bahkan bibir Gibran yang sedikit menempel pada pipi Delia membuat Delia semakin merinding.


"Aku tidak sakit, entah kenapa tubuhku jadi gemetar begini!" ucap Delia, yang tak mengerti dan tak paham tentang reaksi yang terjadi pada tubuhnya itu.


Gibran semakin mempererat pelukannya hingga Delia merasakan ada sesuatu yang keras yang menyentuh Bok*ngnya.


"Gibran! Aku tak bisa tidur jika posisiku seperti ini!" ucap Delia, suaranya sedikit mendes*h, namun sungguh Delia tak membuat-buat agar terdengar seperti itu, itu sesuatu yang alami dan natural yang keluar dari mulutnya.


Gibran kini semakin tergoda karena suara Delia itu, namun dia tak tau harus berbuat bagaimana. Dia mencoba mencium leher Delia yang sedari tadi menggoda karena rambutnya tersingkap. Mendapat ciuman di area itu membuat tubuh Delia pun menggelinjang hebat.


"Gibran.....!" Des*h Delia, sungguh dia sudah tidak bisa tahan. Dia kini merasakan ****** ******** sedikit basah dan lengket karena aktifitas itu.


"Apa yang kau lakukan Gibran?" tanya Delia yang masih dengan suara mendes*h. Namun Gibran kini tak menjawab pertanyaan Delia, dia semakin memperdalam ciumannya di leher Delia, dan sejurus kemudian tangannya kini mengangkat dagu Delia agar menghadap pada dirinya, dia tatap wajah Delia yang terlihat sudah pasrah itu. Gibran mendekatkan wajahnya dan ciuman itu terjadi lagi diantara bibir mereka, namun kini ciumannya lebih dalam, dan lebih berpagut, Delia hanya pasrah mengikuti permainan lidah Gibran yang kini membuatnya candu.


Bahkan dengan spontan tangan Gibran meraih gundukan yang berada didalam baju Delia, merema*s-rem*s membuat Delia sekan dimabuk kepayang. Membuka kancing-kancing dibaju Delia namun bibir mereka masih tetap berpagut.


Delia sudah tidak bisa berpikir, sekan tubuhnya dibawa melayang oleh sentuhan-sentuhan yang diciptakan oleh Gibran hingga ia merasakan ada sebuah kedutan yang berasal dari inti tubuhnya dibagian bawah.


Kini posisi Gibran berada di atas Delia, dia sudah menanggalkan pakaiannya, hingga Delia sedikit terbelalak melihat seluruh lekuk tubuh Gibran itu. Kini giliran Gibran menanggalkan seluruh benang yang melekat pada tubuh Delia, namun karena ini adalah pengalaman pertama kali yang Delia rasakan, dia pun malu-malu dan menutupi payud*ranya itu dengan tangan. Seketika Gibran menyingkirkan tangan Delia itu, dan Gibran mulai bermain-main dengan gundukan itu. Mengulum puncak gundukan itu dengan sangat erotis, hingga Delia tak bisa menahan suara mendesa*h yang sangat hebat.

__ADS_1


Hingga gerakan inti pun dimulai oleh Gibran, dia mencoba memasuki area sensitif itu. Namun karena memang masih belum pernah terjamah, maka tak mudah bisa memasukinya, hingga Delia meringis kesakitan dan bahkan sempat menangis sambil tubuhnya bergetar hebat. Seketika Gibran menenangkan Delia yang menangis kesakitan itu.


"Tenang sayang! Semua akan baik-baik saja, rileks saja!" ucap Gibran sambil memeluk Delia.


Gibran kini mencoba lagi, dan dengan sekali hentakan kini dia bisa memasukinya. Seketika Delia memekik kesakitan, membuat Gibran harus menenangkan Delia dengan sebuah ciuman dibibir.


Dan dengan gerakan yang pelan namun teratur, kini rasa sakit yang dirasakan Delia itu kini berubah menjadi rasa yang memabukkan dan membuat candu.


Gerakan yang tadinya pelan sedikit demi sedikit Gibran percepat, hingga suara lenguhan dan desa*han pun bersahutan dikamar itu. Gibran masih terus bergerak, hingga Delia merasakan sesuatu yang entah apa namanya, dia merasakan sedikit geli di area sensitifnya itu dan semakin terasa hingga Delia tak bisa menahan des*han panjang karena merasakan puncak kenikmatan, Gibran pun sama dengan yang dirasakan Delia, dia seperti merasakan ada sesuatu yang akan keluar dan dia pun mendes*h panjang merasakan nikmat itu. Hingga dia pun ambruk diatas tubuh Delia.


Nafas mereka sama-sama memburu, Delia kini merasa bahwa dia menjadi seorang istri yang seutuhnya, sungguh ini adalah hal yang paling membahagiakan bagi Delia selama dia menjadi seorang istri, dan dia berharap, rumah tangganya dengan Gibran bisa berjalan dengan normal seperti pasangan suami-istri pada umumnya.


Gibran mengangkat wajahnya, menatap Delia yang kini juga menatapnya. Gibran tersenyum pada Delia, seakan sesuatu yang mengganjal selama ini kini telah tercurahkan.


"Delia?" ucap Gibran, dan Delia pun menatap Gibran.


"Aku mencintaimu!" kata Gibran sambil mencium kening Delia.


Itu sungguh manis bagi Delia, dia kini mempererat pelukannya pada tubuh suaminya itu, suami yang sah secara negara, agama dan hati.


"Terimakasih, karena telah mencintaiku!" ucap Delia dengan perasaan bahagia.


"Sayang! Mandi yuk!" kata Gibran yang langsung bangkit dan menyeret tangan Delia agar juga bangkit. Namun karena masih terasa nyeri Delia pun sedikit memekik sakit.


"Ada apa? Apa masih terasa sakit?" tanya Gibran sedikit khawatir. Delia hanya mengangguk sambil menahan rasa sakitnya itu.

__ADS_1


"Baiklah, tunggu sini, aku akan membuatkanmu air hangat!" Gibran pun mengambil baju-bajunya yang terlempar kemana-mana dan mengenakannya. Dia bergegas menuju dapur untuk membuatkan Delia air hangat.


Tak berselang lama Gibran kembali lagi kekamar dan mendapati Delia sudah memakai baju daster tanpa lengan. Melihat itu Gibran seakan bergejolak lagi, namun dia berusaha menahannya.


"Sayang! Airnya sudah siap, ayo kekamar mandi!" Gibran pun menyeret Delia tanpa perlawanan dari Delia.


Seampainya di kamar mandi, Gibran menanggalkan bajunya lagi. Membuat Delia terkesiap.


"Aku buka baju kamu ya!" ucap Gibran yang kemudian sudah membuka baju Delia.


"Sini, aku kompres biar tidak nyeri!"


"Apa? Biar aku saja yang mengompres, kau mandi saja dulu!" ucap Delia.


"Sudah, aku saja sayang! Kamu diam saja!" ujar Gibran


Dengan posisi yang mengangk*ng Delia merasakan tubuh sensitifnya di kompres dengan air hangat oleh Gibran, namun sentuhan itu tiba-tiba menjurus, dan Gibran pun mengulangi lagi perbuatannya pada Delia, rasanya ingin menolak karena capek, tapi Delia hanya bisa pasrah lagi. Dan lagi-lagi Delia merasakan bercinta lagi, walau bedanya tak sesakit yang pertama.


Hingga akhirnya, setelah satu jam, baru mereka keluar dari lamar mandi dengan rambut yang sama-sama basah.


Bersambung......


Maaf dah bikin panas dingin ya🙉


Jangan lupa like🤗

__ADS_1


__ADS_2