Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin

Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin
Bab 66 Pengakuan Aulia


__ADS_3

"Sakit banget ya, Del?" tanya Zahra yang melihat wajah Delia meringis dan sedikit pucat, wajahnya berkeringat.


Delia di papah oleh Zahra dan seorang mahasiswi bernama Yuna yang kebetulan saat itu sedang membaca buku di perpustakaan, Bu Vera tak ikut mengantar Delia karena harus menjaga perpustakaan, sedangkan Aulia ikut mengantar Delia ke Klinik, namun hanya membuntuti dari belakang.


Beruntung letak Klinik kampus tak jauh dari perpustakaan, saat Delia sampai diklinik ia langsung mendapat pertolongan pertama. Di klinik kampus fasilitasnya cukup lengkap, bahkan sudah ada poli umum yang dibuka untuk masyarakat di sekitar kampus.


"Ra! Gibran sudah kamu hubungi belum?" tanya Delia pada Zahra.


"Sudah, bentar lagi dia pasti datang!" ucap Zahra, mencoba menenangkan Delia. Sedangkan Yuna, setelah mengantar Delia ke Klinik, ia pun pamit untuk kembali lagi ke Perpustakaan.


"Zahra, aku pamit ya, tas aku masih tertinggal di perpustakaan!" kata Yuna.


"Baik Yuna, sekali lagi, terima kasih ya, sudah mengantar temanku!"


"Iya, sama-sama!" dan Mahasiswi bernama Yuna itu pun pergi dari klinik.


Seorang bidan sedang melakukan leopold pada perut Delia, dia mencoba sedikit menekan perut bagian bawah Delia untuk memeriksa letak janin Delia.


"Nyerinya masih terasa kak?" tanya bidan itu.


"Sedikit!" ucap Delia, wajahnya mengernyit karena menahan sakit.


Terdengar derap langkah kaki seperti berlari, tak perlu menunggu lama, pintu ruangan tempat Delia dirawat pun terbuka, yang ternyata adalah Gibran.


"Sayang!!!" spontan Gibran berlari dan langsung menghampiri Delia dan kemudian memeluknya.


Gibran begitu erat memeluk Delia, seakan tak mau melepasnya. Zahra begitu lega karena Gibran telah datang, sedangkan Aulia mendadak gelisah.


"Bagaimana keadaan istri saya?" tanya Gibran pada bidan yang telah memeriksa Delia.


"Istri kakak tadi sedikit pendarahan akibat jatuh, namun setelah saya cek, posisi janin masih aman, lebih baik Kak Delia harus istirahat total setelah ini, tapi jika nanti terjadi pendarahan lagi, lebih baik kakak bawa istri kakak periksa langsung ke dokter kandungan ya kak!"


Sedikit lega hati Gibran mendengarnya. Zahra yang masih berada di ruangan itu sedikit demi sedikit mundur lalu menyeret tangan Aulia, menariknya agar mengikuti langkahnya.


Saat Zahra dan Aulia telah berada di luar ruangan, Zahra dengan kasar menghempaskan tangan Aulia.


"Apa-apaan sih! Sakit, tauk!" Kata Aulia tak suka dengan apa yang Zahra lakukan terhadapnya.

__ADS_1


"Kali ini aku bisa maafin kamu ya, karena kandungan Delia masih bisa di selamatkan, tapi kalau lain kali kamu bikin ulah lagi, awas saja kamu!!!" ancam Zahra, sambil menunjuk Aulia.


"Memangnya kamu siapa? Bukan urusanmu!!" ucap Aulia sambil menunjuk wajah Zahra juga.


Zahra menepis tangan Aulia dengan kasar, ia sudah muak dengan sikap Aulia yang sudah mulai main kasar terhadap Delia.


"Jika kamu berani ganggu Delia lagi, apalagi sampai membuat Delia celaka, semua akan menjadi urusanku, camkan itu!!"


"Oh...!! Sebagai sahabat ternyata kau baik sekali ya sama Delia! Asal kamu tahu saja ya, sahabat mu itu sudah merebut Hamdanku!!!" ucap Aulia, membuat Zahra sedikit mengernyitkan dahi, bingung dengan apa yang diucapkan Aulia, siapa Hamdan? Bukankah Delia sudah menikah dengan Gibran?


"Apa maksud kamu?!!"


Seketika Aulia sedikit tertawa dan mengejek pada Zahra.


"Dasar sahabat tak berguna kau ini, cih..!" Aulia benar-benar membuat Zahra kesal kali ini, namun masih Zahra tahan, karena ia masih penasaran dengan apa yang dimaksud oleh Aulia.


"Asal kamu tahu saja, lelaki yang saat ini menikahi Delia itu adalah calon suamiku, dan kami saling MENCINTAI!!"


"Apa??!!!!"


Zahra benar-benar tak percaya dengan apa yang ia dengar, dia tak bisa berfikir jernih, bagaimana bisa Gibran adalah Hamdan dan ia adalah calon suami Aulia.


Tiba-tiba Gibran sudah berada di belakang mereka berdua, dan Gibran juga sudah mendengar semua apa yang mereka bicarakan.


"Hamdan!!!" ucap Delia sedikit kaget.


"Cukup, Aulia, sekarang juga kamu pergi dari sini!!" Gibran benar-benar terlihat marah saat ini.


"Hamdan, tapi..!!"


"Sudah, tidak ada tapi-tapi lagi, aku masih bisa memaafkanmu atas perbuatanmu yang mencelakai istriku, lain kali jika kau berulah lagi, aku tidak akan segan-segan menjebloskanmu ke penjara!!"


"Tapi, aku mencintaimu, Hamdan! Kau berjanji akan menikahiku, tapi kau kini mengkhianatiku, sedikitpun kau tak berbelas kasih kepadaku!!" Aulia menangis tersedu.


"Aku sudah bilang sama kamu, aku sudah menikah, dan aku sangat mencintai istriku, lebih baik kau pergi jauh dari kehidupan kami!!!"


Aulia tak percaya jika Hamdan bisa mengatakan hal sekasar itu terhadap dirinya, dia pikir Hamdan masih menyimpan sedikit rasa terhadapnya, dia begitu sakit hati mendengar kata-kata kasar yang keluar dari mulut Hamdan.

__ADS_1


Sedangkan Zahra masih diam membisu, ia tak percaya dengan apa yang ia dengar dari mulut Gibtan dan juga Aulia, dia masih mencerna tiap kata yang keluar dari mulut mereka.


"Hamdan, berikan aku kesempatan kedua, aku benar-benar mencintaimu, kumohon!"


"Omong kosong!! Sekali lagi, tolong pergi dari sini, sebelum aku berlaku kasar terhadapmu!!"


Aulia benar-benar sakit hati dengan sikap Gibran, ia pun pergi dari sana setelah mengusap air matanya yang masih membekas dipipinya.


Setelah kepergian Aulia, Zahra menatap Gibran dengan penuh pertanyaan di kepalanya.


"Gibran, apa yang sebenarnya terjadi diantara kalian??" tanya Zahra yang saat ini benar-benar tak percaya dengan apa yang ia dengar sedari tadi.


Gibran menghembuskan nafas panjang, ia bingung, apakah ia harus cerita pada Zahra atau tidak, tapi Zahra sudah terlanjur mendengar semua. Gibran duduk di kursi tunggu di depan klinik itu sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


Zahra mengikuti Gibran yang duduk di kursi panjang itu, namun ia memberi jarak agar mereka tak duduk berdampingan, ia tahu dari dulu Gibran memang selalu menjaga hal itu, ia tak pernah mau bersentuhan dengan wanita yang bukan muhrim.


"Gibran, aku butuh penjelasan dari semua yang aku dengar!" tanya Zahra, pandangannya masih lurus kedepan.


"Apa pentingnya bagi kamu?"


"Penting, karena ini menyangkut sahabatku, Delia!"


Mendengar nama Delia, seketika Gibran mengangkat wajahnya dan menatap Zahra.


"Delia tak ada hubungannya dengan urusanku dan Aulia!"


"Ohhh,,, jika Delia mendengar semua yang kalian bicaran tadi, apa kamu pikir Delia akan menerimanya?" Zahra masih enggan menatap Gibran, pandangannya tetap lurus kedepan.


"Kau mengancamku?!" Gibran benar-benar bingung saat ini.


"Aku tak mengancammu, Gibran! Kau sendiri yang bilang jika semua ini tak ada hubungannya dengan Delia, iya kan?!" Zahra tersenyum smirk, kali ini sambil menatap Gibran.


Kali ini Gibran menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, tidak ada pilihan lain selain menceritakan hal yang sebenarnya pada Zahra, dia tak bisa menutupi semua ini, apalagi ada Aulia yang saat ini ada diantara mereka, jika bisa jujur pada Zahra, setidaknya Zahra bisa mengerti.


Gibran mulai menceritakan semua pada Zahra, dari awal ia bertemu Aulia, hingga Delia pun hadir dalam hidupnya.


Zahra hanya menutup mulutnya yang menganga karena terkejut dengan cerita Gibran.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2