
Delia dengan ragu membuka amplop biru muda itu, sebuah kertas dengan banyak tulisan dengan tinta berwarna-warni membuat siapa pun tak sabar untuk segera membacanya.
Ternyata itu adalah surat dari Pak Edo untuknya, ya! Karena terdapat nama pengirimnya di sudut kanan atas surat itu dan surat itu bertuliskan..
Dear wanita cantik dan soleha.
Assalamualaikum Sayang!!
Maaf aku memanggilmu sayang, karena hanya lewat tulisan ini aku memiliki keberanian itu untuk memanggilmu sayang! (Hehe) Kau tau Sayang? Sungguh tiap detik di waktu ku, aku selalu memikirkanmu, yah walau tak setiap detik itu ada, namun setiap waktu dalam hari-hariku pasti aku memikirkanmu! Awal aku mulai memikirkanmu saat pertemuan pertama kita, aku tidak tau apakah ini adalah cinta pada pandangan pertama. Entahlah aku belum menyadari.
Namun ketika aku mulai menyadari cinta yang semakin tumbuh dihatiku disitu aku harus membunuh cinta itu dan menguburnya dalam-dalam, karena dirimu ternyata telah memiliki cinta yang lain dan cintaku tak akan mungkin bisa ku teruskan.
Delia sayang, maaf! Aku pamit rerign, karena jujur saja aku tak mampu untuk selalu dekat denganmu namun ku tak bisa memilikimu, yah! Aku memang pecundang yang tak bisa menerima kenyataan, namun dengan resign nya aku mungkin bisa melupakanmu sedikit dami sedikit. I love you wanita cantik! Semoga kau jodoh dunia dan akhirat bersamanya. Amin!
Jangan lupa untuk selalu minum susu hangat ya😊.
Delia masih tak percaya dengan apa yang dia baca, ternyata selama ini Pak Edo memiliki perasaan terhadapnya dan begitu disayangkan kenapa Pak Edo harus resign hanya karena permasalahan ini, tak bisakah mereka menjadi sahabat baik walau tak bisa saling memiliki bahkan saling mencintai, setidaknya mereka bisa saling menyayangi satu sama lain sebagai sahabat.
Tapi ini sudah menjadi keputusan Pak Edo, Delia bisa apa? Delia hanya sedih mengingat kebersamaan mereka saat itu. Delia pandangi gantungan kunci yang rencananya akan ia berikan pada Pak Edo, Delia hanya bisa menghembuskan nafas berat. Kenapa jatuh cinta bisa sesakit itu ya, lebih baik Bangun cinta dari pada jatuh cinta, karena logikanya kalau jatuh itu memang sakit, tapi kalau bangun cinta, ya berarti harus bangkit dan semangat. Itu kata lirik dari sebuah lagu.
Terdengar langkah kaki di tangga, membuat Delia segera melipat mertas surat itu dan menyimpannya lagi di laci mejanya, takut kalau yang datang itu adalah Gibran pasti jadi berabe.
"Delia!" seketika Delia menoleh ke arah tangga yang ternyata Zahra. Wanita itu langsung berlari dan langsung duduk di kursi depan meja Delia.
"Delia! Kamu sudah aktif lagi!" kata Zahra dengan penuh semangat. Delia hanya heran pada wanita didepannya ini, biasanya kalau sudah energik seperti ini dia pasti ada maunya, Jangan harap untuk meminta Gibran lagi, kali ini Delia tak akan selemah waktu itu. Pikir Delia yang langsung merasa tak nyaman dengan kehadiran Zahra.
Tiba-tiba Zahra menggenggam tangan Delia, mau menolak namun tak bisa, Delia hanya bingung dengan sikap Zahra yang random itu. "Del! Maafin aku ya!" ucap Zahra tiba-tiba membuat Delia semakin bingung. Bukankah Delia telah mengecewakannya waktu itu, kenapa dia yang meminta maaf, ini sungguh aneh. Batin Delia.
"Kau mau kan memaafkanku?" tanya Zahra. "Maaf untuk apa Zahra?" tanya Delia sambil mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Maaf untuk kebodohanku, aku meminta kau menjauhi Gibran waktu itu, padahal dia adalah suamimu, dan kau tak marah padaku!" ucap Zahra tulus.
Delia tertawa "Ya ampun, apa yang kau fikirkan, aku memang tak pernah marah padamu karena kau memang tidak tau kalau sebenarnya aku dan Gibran memang sudah menikah kan!" Delia menggenggam balik tangan Zahra.
"Tuh kan! Kau memang baik Delia, bisakah kita menjadi bestie beneran?"
"Apa?!!" entah mengapa Delia sedikit trauma mendengar kata 'bestie' dari Zahra.
"Bestie Delia!!! Aku gak akan meminta Gibran lagi padamu kok!!!" ucap Zahra lagi, meyakinkan.
Lagi-lagi Delia tertawa. "Iya Zahra! Kau memang bestie ku dari dulu kok, gak akan pernah berubah!!!" merekapun tertawa bersama.
"By the way!! Aku punya sesuatu untukmu, nih, di terima ya!" kata Delia, memberikan hadiah kecil yang rencananya akan diberikan pada Pak Edo, namun karena tak memungkinkan untuk diberikan pada Pak Edo, lebih baik diberikan saja pada Zahra, yang kini sudah menjadi 'Bestie' lagi. Semoga dia benar-benar menjadi sahabat yang baik kedepannya.
"Masya Allah, terima kasih ya Delia!!" Zahra benar-benar senang diberi hadiah itu dan langsung mengaitkan gantungan kunci itu di resleting tasnya, sungguh Delia menjadi tersanjung melihat tingkah sahabatnya itu.
Setelah beberapa saat Zahra pun pamit untuk pergi ke kelas, dan mereka berjanji bertemu nanti setelah jam makan siang. Kini Delia mulai fokus lagi pada pekerjaannya, membuka kembali buku registernya dan melengkapi data-data buku disana.
"Ustadzah!!!" tanpa sengaja keduanya berbarengan memanggil.
"Masya Allah!! Ini benar ustadzah Aulia kah?" kata Delia sedikit tak percaya, teman satu pesantren dan Delia kembali mengingat tragedi surat cinta saat di akhir tahun kuliah.(Baca Bab 8 Surat Cinta)
"Masya Allah ustadzah Delia, masih ingat dengan saya?!" kata Aulia sambil menghampiri Delia dan memeluk erat Delia, Delia pun membalas pelukan Aulia dengan hangat.
"Kita tidak di pesantren, panggil saja aku Delia!" ucap Delia sambil melepaskan pelukan itu.
"Baiklah, panggil juga aku Aulia!"
"Kenapa bisa ada di Jakarta?"
__ADS_1
"Aku ingin mencari pengalaman di Jakarta, dan akhirnya aku bekerja disini!"
Delia sedikit mengernyitkan dahi "Jangan bilang kamu adalah staff baru yang diceritakan Bu Vera!"
"Oh, Bu Vera, cerita apa saja dia tentang aku, kalau bukan karena Ham..! Maksudku, kalau bukan kerena aku butuh pekerjaan ini aku tak akan mau bekerja dengannya yang selalu judes itu!" kata Aulia sedikit dongkol.
"Subbahanallah, apa iya? Selama ini Bu Vera tidak pernah begitu, kamu yang sabar ya! Memangnya sudah berapa lama kamu kerja disini?" kata Delia sedikit tak percaya dengan sikap Bu Vera yang dia tau sangat supel dan energik itu.
"Sudah sekitar dua minggu yang lalu aku masuk! By the way, kamu apa kabar? Jangan-jangan kamu sudah menikah ya?"
Delia tersenyum lalu mengangguk "Alhamdulillah, sudah!" jawab Delia.
"Alhamdulillah, tapi kenapa kamu terlihat kurusan?" tanya Aulia.
"Banarkah?! Mungkin karena efek hamil aku jadi tidak enak makan!"
"Masya Allah, tabarakallah, kamu hamil Delia!" terlihat wajah Aulia begitu berseri-seri mendengar Delia tengah hamil. Dan Delia hanya menganggukkan kepalanya.
"Selama di Jakarta kamu tinggal dimana?"
"Aku ngontrak rumah, di perumahan Bukit Indah di blok A!" ucap Aulia.
"Banarkah? Itu blok rumahku juga, di perumahan bukit indah, ya ampun, gak nyangka kita bisa kebetulan kerja di tempat yang sama dan jadi tetangga pula."
"Iya, mungkin Allah mempertemukan kita karena Allah mengasihani ku yang hanya tinggal sendiri di Jakarta ini!" ucap Aulia dengan murung.
"Iya, nanti main-main kerumahku ya!" Aulia pun mengangguk mantap
Mereka pun bekerja satu ruangan, Aulia tak sungkan untuk bertanya sesuatu yang tak ia mengerti dan dengan senang hati Delia menerangkannya.
__ADS_1
Bersambung....