Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin

Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin
Bab 29 Jogging


__ADS_3

Matahari masih malu-malu memperlihatkan eksistensinya di ufuk timur, namun perkiraan cuaca hari ini adalah cerah tak berawan, mungkin hari ini adalah hari minggu yang sangat tepat untuk siapa saja yang ingin ber holiday bersama keluarga, teman dan pasangan mereka. Gibran masih merebahkan diri di kasur bersama Delia setelah melaksanakn sholat subuh tadi pagi dan dilanjut dengan melaksanakn sholat dhuha bersama, mereka sengaja ingin bersantai sejenak sambil bermanja-manja.


Namun Gibran memang tak bisa jika tak melakukan sentuhan-sentuhan yang menjurus pada Delia, hingga Delia harus sedikit menghindar dari Gibran, jika diteruskan mungkin mereka akan bermain lagi pagi ini.


"Sayang! Ini masih pagi, hentikan!" ucap Delia, yang sudah merinding karena sentuhan suaminya itu.


"Memangnya kenapa? Hari ini adalah hari libur kan? Jadi kita bisa bersantai!" ucap Gibran masih dengan sentuhannya.


"Bagaimana jika hari ini kita jogging di taman kota?" ucap Delia memberi saran kepada suaminya yang mungkin kurang kerjaan itu. Gibran sedikit menimbang ucapan Delia itu, sepertinya asik juga jika mereka mengisi liburan mereka ini dengan berolah raga. Dari awal mereka menikah, mereka memang tak pernah memiliki waktu atau bahkan memiliki rencana untuk mengisi hari libur. Mungkin hari ini adalah hari yang tepat untuk pertama kalinya mereka megisi hari libur itu. Dengan berolah raga bersama pasangan di sebuah taman, sepertinya seru juga pikir Gibran.


"Oke, boleh juga!" ucap Gibran.


"Baiklah, aku akan bersiap, tapi sebelum itu, aku akan menyiapkan sarapan dulu, apa kau mau sandwich pagi ini?" kata Delia, nampak bersemangat.


"Apa saja terserah, kamu juga gak apa-apa jadi menu sarapan aku pagi ini!" ucap Gibran sambil tersenyum nakal pada Delia.


"Aggrrhhh....!! Mulai lagi!" kata Delia dengan wajah galak. Membuat Gibran tertawa melihat wajah Delia yang semakin galak semakin cantik dipandangannya itu.


Delia sudah melakukan pekerjaan di dapur, dia sengaja memilih menu sandwich pagi ini agar lebih praktis dan cepat, dia ingin segera pergi ke taman kota, sudah lama dia tak pernah kesana, semenjak dia nyantri di Padang, terakhir pergi ke taman kota saat dia baru lulus Sekolah menengah pertama dan saat itu dia pulang dari pesantren, dia pergi kesana bersama Ayah, Ibu dan Dimas yang saat itu masih kelas lima Sekolah Dasar. Jadi mungkin banyak sekali perubahan yang ada di taman kota saat ini.


Setelah selesai membuat sarapan, Delia segera memanggil suaminya itu untuk bersarapan.


"Sayang! Sarapan dulu yuk!" ucap Delia pada Gibran yang sudah mengganti bajunya dengan baju sport. Melihat dandanan Gibran yang keren itu membuat Delia semakin kagum dan cinta pada suaminya itu. Mereka pun sarapan bersama.


"Sayang!" panggil Delia pada Gibran yang sedang asik mengunyah sandwichnya. Gibran pun memalingkan perhatiannya pada istrinya itu. Namun sepertinya Delia nampak ragu untuk mengatakan sesuatu yang barusan terbersit dihatinya. Melihat Delia yang sedikit gelisah itu, Gibran pun menanyakannya pada Delia.


"Ada apa sayang?" tanya Gibran dengan lembut.


"Emmm, aku tak memiliki kostum untuk berolah raga!" ucap Delia ragu-ragu. Mendengar itu Gibran hanya tersenyum.


"Kau pakai apapun yang kau punya, itu tak masalah, jangan hanya karena kostum, rencana jogging kita gagal hari ini." ucap Gibran sambil melahap lagi sandwichnya.

__ADS_1


"Masa aku pake gamis, sayang?"


"Tidak masalah, memangnya siapa peduli, toh kamu berolah raga dengan suamimu sendiri, bukan dengan club olahraga kan?"


Delia tersenyum mendengar perkataan Gibran itu, dan mereka pun melanjutkan sarapan mereka.


Akhirnya mereka pun pergi mengendarai mobil ke taman kota, dengan waktu sekitar sepuluh menit meraka sudah sampai dan memarkirkan mobil di sebuah tempat parkir yang agak jauh dari area taman, maklum jika hari minggu memang di adakan CFD atau Car Free Day. Jadi mereka harus berjalan kaki sedikit jauh menuju taman. Suasana taman di hari minggu memang sangat ramai, ada yang bersepeda, ada yang berjalan sambil mengenakan sepatu roda dan masih banyak macam mereka melakukan olahraga bahkan banyak pula kedai-kedai yang menjual makanan serta minuman di sana. Banyak para muda-mudi yang terlihat sedang berlari-lari kecil, ada yang bergerombol bersama kawan-kawannya dan ada pula yang bersama pasangannya. Delia bersyukur, saat ini ia juga bersama dengan pasangannya, pasangan sahnya yaitu suaminya. Delia juga melihat para orang tua yang membawa serta anak-anak mereka. Delia membayangkan suatu hari nanti dia akan membawa buah hatinya dengan Gibran untuk berolahraga di taman kota ini, pasti sangat menyenangkan, pikir Delia.


Merekapun berlari-lari kecil mengelilingi taman kota yang memang banyak sekali perubahan menurut Delia, suasananya memang lebih indah dan lebih tertata dibandingkan dulu saat terakhir kali Delia datang kesini.


"Wah..! Gak nyangka bisa bertemu kalian disini!" tiba-tiba seseorang berkata, dan dia adalah Zahra, ya gadis itu, yang selalu membuat Delia tak nyaman akan keberadaannya di antara dia dan Gibran.


'Ya Allah, baru saja memulai untuk bersenang-senang dengan suamiku, dah datang saja pengganggu ini, tidak di kampus di taman juga, hff!! Pikir Delia, moodnya benar-benar berantakan sekali, ditambah Zahra yang memakai pakaian sport dengan warna sangat mirip seperti yang dikenakan oleh Gibran membuat Delia nampak terlihat asing berada diantara Gibran dan Zahra.


"Ya ampun Gibran, kenapa bisa kebetulan sekali ya, warna baju kita sama loh! Sepertinya kita jodoh ya, hahaha!!" ucap Zahra lagi dan sungguh itu sangat memuakkan bagi Delia. Akhirnya Delia memilih berlari kecil mendahului Gibran dan Zahra, bermaksud menghindari mereka. Gibran yang sudah paham dengan perasaan Delia mencoba mengejar dan menghampiri Delia dan berlari bersisihan dengan Delia tanpa memperdulikan ucapan Zahra tadi.


Namun memang dasarnya Zahra yang karakternya tak mau menyerah dia pun berlari juga untuk mengejar Gibran.


"Aku capek, pengen istirahat dulu!" ucap Delia.


"Apa mau aku belikan minuman?" tanya Gibran, yang hanya dijawab dengan anggukan oleh Delia.


"Wah! Sepertinya enak, yuk kita cari minuman, Gibran?" kata Zahra kemudian membuat Delia semakin sebal pada wanita itu.


"Kamu mau cari minuman?" tanya Gibran pada Zahra.


"Iya, ayo kita cari minuman!" ajak Zahra bersemangat.


"Ya sudah aku titip aja ke kamu ya, biar aku sama Delia tunggu kamu disini, udah capek banget soalnya aku!" ucap Gibran yang memperlihatkan bahwa dirinya sangat capek.


"Apa? Masa aku harus jalan sendirian sih?" ucap Zahra nampak kecewa.

__ADS_1


"Hmm! Ya sudah kalau kamu tidak mau, gak apa-apa kok!" ucap Gibran.


"Eh! Tidak kok, aku mau, oke-oke, tunggu! Aku akan segera kembali membawa minuman buat mu!" ucap Zahra, sungguh Delia rasanya ingin tertawa saat itu melihat wajah Zahra yang nampak kecewa.


"Emm! Sekalian titip buat Delia juga ya!" ucap Gibran lagi.


"Apa? Kenapa Delia gak beli sendiri sih?" ucap Zahra tak suka.


"Ya, kalau kamu gak mau gak apa-apa sih, biar aku gak jadi titip dah!" kata Gibran, sungguh tanpa perasaan, membuat Delia sedikit mencubit lengan Gibran itu, walau tidak menimbulkan rasa sakit, namun Delia bermaksud agar suaminya itu berhenti agar tak mempermainkan Zahra.


"Oke-oke aku mau, kalian tunggu disini ya!" ucap Zahra kesal.


Setelah perginya Zahra, Delia benar-benar marah sama Gibran yang keterlaluan itu.


"Sayang! kenapa kamu keterlaluan banget sama Zahra?" ucap Delia tak habis pikir.


"Biarin saja, gara-gara dia acara jogging kita jadi berantakan!" ucap Gibran sama sekali tak merasa bersalah.


"Iya, tapi kasian kan dia?"


"Oh! Jadi kamu mau jika aku berdekatan sama Zahra?"


"Ya nggak gitu juga kali, agrrhh!!! Sayang!!!" Delia benar-benar kesal, membuat Gibran tertawa terpingkal melihat wajah istrinya itu, hingga ia tak bisa menahan untuk tak mencubit kedua pipi istrinya itu. Tanpa disadari Gibran dan Delia ternyata Zahra sudah kembali sambil membawa tiga bungkus minuman.


"Ehem! Ini minuman kalian!" ucap Zahra, wajahnya nampak dingin tak seperti barusan. Melihat kedatangan Zahra entah kenapa Delia malah seperti orang yang ketahuan berbuat salah, hingga ia salah tingkah sendiri.


"Oh! Terima kasih Zahra!" ucap Delia tulus, sedangkan Gibran, dia bersikap seperti biasa, dan nampak cuek.


"Yaudah, aku balik dulu!" ucap Zahra yang kemudian pergi. Sungguh itu membuat Delia tak enak hati.


Bersambung....

__ADS_1


Makasih yang sudah like😍😘


__ADS_2