Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin

Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin
Bab 63 Hadiah untuk Dimas


__ADS_3

Gibran begitu bersyukur karena dia masih memiliki kesempatan untuk melihat lagi senyum manis di wajah istrinya, dalam hati ia berjanji untuk selalu menjaga Delia, terlebih menjaga hatinya. Pagi ini mereka begitu terlihat akur, mungkin orang tua Delia tak merasakan perubahan di antara mereka, hanya Dimas yang mengerti.


Delia yang tadinya berniat menginap lama di rumah ibunya kini malah urung dengan alasan kampus Gibran yang lebih jauh jika ditempuh dari rumah ibunya. Ya, beda jauh hanya beberapa kilo saja, namun ibu tak mempermasalahkan apapun alasan Delia, baginya, bisa melihat Delia akur dengan suminya itu sudah cukup, walau hanya semalam saja Delia menginap dirumahnya sudah cukup bagi beliau menghilangkan rasa rindunya pada sang putri.


Semalam Delia memang ngambek, namun itu sudah menjadi hal biasa bagi keluarga Delia, selama Delia masih tinggal bersama mereka, hal itu sudah sering terjadi, namun hal itu tak berlangsung lama dan ibu sudah terbiasa.


Dimas adalah orang yang mungkin lebih bersemangat melihat perubahan dari Delia pagi ini, nampaknya dia sedang menunggu kakak iparnya itu di meja makan, sambil memperhatikan ibu dan kakaknya sedang menyiapkan sarapan pagi, hal yang sangat jarang Dimas lakukan, biasanya Dimas adalah orang terakhir yang datang ke meja makan untuk sarapan, itupun harus dipanggil dahulu, baru ia akan keluar kamar untuk pergi sarapan. Namun kini Dimas adalah orang pertama yang duduk di meja makan bahkan sebelum makanan siap.


"Kamu ngapain pagi-pagi sudah duduk disini, biasanya selesai sholat subuh lanjut tidur lagi!" kata Ibu sambil menata piring di meja makan, dia nampak heran pada putranya itu.


"Gak tau nih bocah! Kenapa? Kamu sudah lapar apa gimana?" kata Delia menimpali, sedangkan Dimas hanya nyengir tak menanggapi omongan ibu dan kakaknya itu.


Hingga makanan telah siap kini giliran ibu dan Delia memanggil Ayah dan juga Gibran untuk sarapan. Ayah nampak sudah rapi dengan pakaian kantornya, sedangkan Gibran sudah nampak segar walau masih dengan kemeja yang kemarin, karena ia tak membawa baju ganti selama nginap dirumah mertuanya, dan sebelum berangkat ke kampus ia akan mengganti pakaiannya dulu dirumah nanti.


"Wah, tumben adek sudah duduk di meja makan!" ucap ayah yang ikutan heran dengan Dimas. Dimas hanya tersenyum, dia sungguh mengharap sang kakak iparlah yang menyapanya, namun nampaknya Gibran tak menyapanya bahkan tak menoleh padanya, membuat Dimas sedikit resah dan gelisah.


Hingga sarapan sudah selesai, tak ada tutur sapa dari Gibran pada Dimas, sungguh Dimas nampak kecewa dibuatnya, ingin menyapanya dulu namun ia nampak sungkan karena wajah Gibran sedikit dingin pagi ini, Dimas mulai menduga-duga jika ide Dimas semalam gagal, dan itu juga yang membuat kakak iparnya tak menyapanya pagi ini.

__ADS_1


Dimas semakin sebal saat Gibran dan Delia pulang, Gibran masih menampkkan wajah dinginnya pada Dimas, dalam hati Dimas dia sungguh merutuki kakak iparnya itu, karena telah bersikap dingin terhadapnya, jika memang ide Dimas yang semalam itu gagal, kenapa harus dia bersikap demikian, niatnya kan sudah baik, membantu memeberi ide dan saran, kata Dimas dalam hati.


Dimas pun berjalan dengan malas ke kamarnya, rasa kecewa dihatinya akibat ia yang terlalu berharap lebih pada Gibran, namun jika seperti ini jadinya, hanya rasa kesal yang memenuhi hatinya.


Namun langkahnya berhenti saat ada seseorang datang memanggil namanya dari luar pagar rumahnya, Dimaspun menghampiri orang yang telah memanggilnya, dan mendapati seorang lelaki berjaket orange sambil memegang sesuatu di tangannya. Dimas nampak heran dengan kedatangan seorang pengantar paket, karena ia tak merasa memesan sesuatu.


"Dimas Anggara?" tanya tukang paket itu. Dimas hanya mengangguk.


"Ada paket untuk anda, tolong diterima, dan tanda tangan disini ya!" ucap lelaki itu sambil menyodorkan sebuah kertas untuk ia tanda tangani. Dimas hanya mengikuti pentunjuk tukang paket itu. Setelah selesai tukang paket itu pun pergi memebawa seribu pertanyaan di benak Dimas.


"Halo, Bang?!" ucap Dimas.


"Sudah kau terima hadiahnya?" ucap Gibran dari seberang telephone.


"Jadi paket ini dari Abang?" ujar Dimas sedikit tak percaya.


"Iya, anggap itu adalah hadiah, tolong dijaga dengan baik, gunakanlah dengan sebaik-baiknya pula!" ucap Gibran.

__ADS_1


"Siap, kak! Terima kasih!" kata Dimas dengan penuh antusias ia pun segera memebuka bungkusan itu yang ternyata adalah sebuah gadget keluaran terbaru. Dimas benar-benar bahagia rasanya.


Bagi Gibran hadiah itu tak seberapa, dibandingkan hubungannya bersama Delia, dan menurut Gibran bantuan Dimas semalam sungguh berarti, sudah sepatutnya ia berterimakasih dan menberi hadiah untuk adik iparnya itu


Sementara itu di kampus.


Sementara itu di kampus.


Seperti biasa Gibran mengantarkan Delia ke perpustakaan terlebih dahulu sebelum ia ke kelasnya. Sebelaum Gibran pergi, Delia mencium tangan Gibran sebelum ia masuk ke dalam perpustakaan, tak lupa usapan lembut di kepala Delia, dan tawa mereka yang selalu berseri-seri, membuat sepasang mata yang melihat hal itu nampak merasa terbakar oleh pemandangan itu.


Aulia, dia sungguh merasa cemburu melihat kedekatan mereka, padahal ia berharap hari ini hubungan Delia dan Gibran mulai merenggang karena ia yakin kemarin mereka pasti bertengkar, kenapa pagi ini ia melihat mereka masih baik-baik saja. Sungguh ia benar-benar kesal melihat kedekatan mereka. Dia ingin secepatnya melihat kehancuran rumah tangga Delia hancur, dia tak bisa jika melihat kebersamaan mereka.


"Jika aku tak bisa bersama Hamdan, Delia pun juga tak boleh memiliki Hamdan, aku harus melakukan sesuatu!" ucap Aulia dalam hati, tangannya mengepalkan tinju. Dan tubuhnya sedikit bergetar.


"Assalamualaikum, Lia!" ucap Delia setelah bertemu Aulia, aulia pun menjawab dengan manisnya, wajahnya sama sekali tak menampakkan sebuah kekesalan.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2