
Gibran masih memainkan ponselnya, baru saja dia menghubungi Delia untuk bertemu disebuah gasebo didekat kantin. Gibran masih tersenyum sendiri bagaimana barusan Delia terlihat cemburu saat Zahra bersamanya. Asal Delia tau saja, bagaimana berusahanya Gibran saat ia harus menghindari wanita itu saat ini.
Tiba-tiba dari arah belakang Gibran dikejutkan oleh seseorang yang menyentuh pundaknya.
"Gibran!" ucap lelaki itu yang ternyata Pak Edo.
"Oh! Pak Edo!"
"Boleh aku duduk disini?" tanya Pak Edo sedikit ragu.
"Silahkan Pak!" ucap Gibran sambil sedikit menggeser duduknya. Tempat dimana Gibran saat ini memang sangat sejuk, di sebuah gasebo yang dekat dengan sebuah pohon dan kolam kecil, walau masih di area kantin kampus, namun gasebo itu memang salah satu gasebo yang paling strategis tempatnya diantara gasebo-gasebo yang lain, cocok untuk tempat sejenak merefess otak yang sedari tadi dijejali oleh mata kuliah. Secangkir kopi memang sangat nikmat jika dinikmati dalam suasana sejuk seperti saat ini.
"Gibran, apakah kau sudah punya pasangan?" tanya Pak Edo yang tiba-tiba menanyakan soal pribadi Gibran. Gibran hanya menanggapi dengan senyuman.
"Kenapa Pak Edo?" Gibran bertanya balik tanpa menjawab pertanyaan singkat itu.
"Hmm! Umurku baru menginjak dua puluh delapan tahun, tapi orang tua sudah mewanti-wanti masalah pernikahan, padahal tak gampang mendekati seorang wanita!" ujar Pak Edo sedikit menerawang.
"Ya, saya setuju, padahal jika orang tua mau sabar menunggu, kita juga pasti akan menikah dengan wanita pilihan kita!" ujar Gibran juga menerawang kehidupannya saat ini.
"Apakah orang tuamu juga seperti orang tuaku yang selalu mengatakan soal wanita?"
Gibran hanya tersenyum mendengar pertanyaan itu.
"Sebenarnya aku sedang menyukai seorang gadis, tapi aku tak yakin apakah dia juga memiliki perasaan yang sama terhadap diriku." ujar Pak Edo sambil tersenyum sendiri.
"Wah, kenapa tidak bapak ungkapkan saja perasaan bapak?"
"Tidak, ini terlalu cepat jika harus ku ungkapkan, karena aku baru mengenalnya!"
Gibran manggut-manggut mendengar penuturan Pak Edo.
"Gibran, maukah kau membantuku untuk bisa mendekati wanita itu?"
"Saya? Kenapa harus saya?"
"Karena hanya kau yang bisa?"
"Siapa gadis itu?"
__ADS_1
"Dia...." belum sempat Pak Edo mengatakan siapa gadis itu, Delia pun datang.
"Hoy!!" ucap Delia sambil menepuk pundak Gibran, membuat Gibran maupun Pak Edo sedikit terkejut dengan kedatangan Delia yang tiba-tiba itu.
"Kau mengagetkanku!" kata Gibran sedikit sebal.
"Maaf, padahal aku pikir aku tidak terlalu keras barusan!" ucap Delia, dengan sesal.
"Delia! Duduklah!" ucap Pak Edo kemudian. Delia pun langsung duduk di sebelah Gibran.
"Apa kau mau aku pesankan susu hangat?" tanya Pak Edo pada Delia.
"Tidak usah repot-repot Pak! Biar saya memesan sendiri," ucap Delia yang kemudian bangkit untuk memesan munuman di kantin.
Selepas Delia pergi, tiba-tiba Pak Edo setengah berbisik pada Gibran.
"Gibran, maukah kau membantu ku untuk bisa dekat dengan temanmu itu?" kata Pak Edo. Gibran sedikit terkejut mendengarnya, namun ia tak yakin.
"Teman saya? Yang mana?" tanya Gibran memastikan.
"Dia! Wanita itu, yang barusan bersama kita!" Gibran semakin panas telinganya, mendengar penuturan Pak Edo.
"Iya, semenjak pertemuanku pertama kali dengannya, aku memang sudah menyukainya!" rasanya ingin sekali Gibran mencengkram kerah lelaki dihadapannya itu dan memukul mulutnya yang telah berani mengatakan bahwa dia menyukai istri dari suami yang ia ajak bicara.
Tak berselang lama Delia pun datang membawa secangkir espresso di tangannya, kemudian dengan cepat Pak Edo berbisik lagi sebelum Delia benar-benar sudah dekat dengan mereka.
"Gibran, berjanjilah kau akan membantuku!" ucapnya lagi, sambil meletakkan salah satu tangannya di dekat mulutnya.
Setelah Delia sampai di gasebo tempat Gibran dan Pak Edo sedang berada, tiba-tiba Pak Edo pun pamit.
"Gibran, Delia, saya pamit ke rektorat dulu ya!" ujar Pak Edo.
"Baik Pak!" ucap Delia, sedangkan Gibran hanya diam seribu bahasa.
"Gibran, kau barusan ingin bertemu denganku, sepertinya ada yang penting, ada apa?" tanya Delia selepas kepergian Pak Edo.
"Apa harus ada yang penting jika aku memanggil istriku sendiri?" tanya Gibran tanpa menoleh pada Delia. Membuat Delia tersipu mendengarnya.
"Ada apa denganmu? Seperti orang sedang kacau saja!" kata Delia sambil meniup-niup espressonya yang terlihat masih mengebulkan asap itu.
__ADS_1
Tiba-tiba Gibran mengambil espresso itu dari tangan Delia dan meletakkannya di meja.
"Hey!! Ada apa denganmu?" tanya Delia yang terkejut karena espressonya kini dirampas oleh lelaki itu. Tanpa bicara Gibran tiba-tiba mengangkat dagu Delia dan mengcup bibir Delia dengan kilat, sungguh membuat Delia semakin terkejut dan takut, takut jika ada yang melihat adegan itu, namun nampaknya memang tak ada orang didekat gasebo itu, karena gasebo itu memang sedikit jauh dari letak gasebo yang lain.
"Gibran!!" pekik Delia, dia sungguh terkejut dan membelalakkan matanya.
"Kenapa? Kau adalah istriku!" ucap Gibran lagi, namun dia tak bisa menyembunyikan tertawanya karena melihat wajah Delia yang terlihat bodoh itu.
"Iya tapi gak disini juga kan?" ucap Delia sedikit sebal, tapi dia suka sebenarnya.
"Oh! Kau mau aku melakukannya dirumah? Oke, tunggu saja nanti!" ucap Gibran yang kemudian ngeloyor dan pergi meninggalkan Delia yang masih menatap Gibran tak percaya.
Lelaki itu, memang sulit ditebak, kenapa tiba-tiba dia melakukan hal itu terhadap Delia, apakah dia kini telah menerima kehadiran Delia.
Gibran pun merasa bingung, kenapa dia tiba-tiba ingin sekali mencium Delia, apa karena dia sedang cemburu karena Pak Edo ternyata memiliki perasaan suka terhadap Delia.
Rasanya masih membekas dibibir Delia, sungguh ini pertama kali baginya, dan rasanya sungguh memabukkan jika hal itu dilakukan oleh orang yang kita cintai. Dia bersyukur bahwa orang itu adalah suaminya sendiri. Tapi Gibran mengatakan bahwa dia akan melakukannya lagi nanti setelah dirumah. Apa yang akan Gibran lakukan jika dirumah nanti, di tempat umum saja dia berani mencium bibirnya, apalagi nanti jika dirumah, apa tidak mungkin jika nanti Gibran melakukan hal yang lebih dari mencium bibir. Sungguh Delia merasa tubuhnya merinding membayangkan hal yang tidak-tidak. Apalagi tadi pagi Gibran bercanda ingin membuat cucu untuk ibu. walau itu hanya sebuah gurauan, tapi tetap saja Delia merasa geli mendengarnya. Delia terus berjalan sambil tangannya memebawa espresso yang masih penuh dicangkir itu, karena tangan Delia sedikit gemetar akibat aktifitas tadi, akhirnya espresso yang ia bawa menjadi sedikit tumpah-tumpah, bahkan sepertinya seluruh tubuhnya saat ini bergetar.
Sampai di perpustakaan Pak Edo sungguh terkejut melihat wajah Delia yang terlihat pucat pasi.
"Ada apa dengan mu Delia? Apa kau sedang sakit?" ucap Pak Edo, khawatir.
"Tidak Pak, saya baik-baik saja."
"Tapi wajahmu pucat!"
"Oh, tidak, saya tidak apa-apa!" Delia berbicara dengan ekspresi seperti sedang menahan sakit, tapi sebenarnya dia tak tahan dengan dadanya yang bergemuruh rasanya, membuat Pak Edo semakin khawatir.
Delia pun pergi ke mejanya di lantai atas dengan jantung yang masih bergemuruh, Delia terus menaiki tangga hingga ia tak menyadari. Ada seseorang yang berjalan dari atas dan Delia pun menabrak orang itu hingga ia akan terjungkal kebelakang, untung saja hanya cangkir espresso saja yang jatuh hingga menimbulkan suara pecah.
Delia menatap siapa yang telah ia tabrak dan menahannya agar tidak jatuh saat ini, rupanya dia Gibran, iya dia Gibran, hingga Delia pun shock lalu suasana menjadi gelap dan pingsan.
bersambung.....
Kira-kira apa yang akan terjadi pada Delia selanjutnya???
Jangan lupa di like😍
Subscribe, vote dan giftnya ya🤗
__ADS_1