Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin

Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin
Bab 42 Mengunjungi Tuan Adelard


__ADS_3

Hari kedua di Paris, Gibran dan Delia berniat untuk ke rumah Tuan Aderald, Kolega ayah Gibran yang rumahnya berada tak jauh dari pusat kota. Walau sebenarnya Delia sudah merengek ingin mengunjungi Trocadero hari ini, namun Gibran masih menundanya, karena dia memang ada kepentingan dengan Pengusaha dan pembisnis hebat itu, apalagi dengan baik hati, Tuan Aderald akan menjemput mereka langsung ke hotel hari ini.


Sebenarnya, Delia tak masalah mau kemana saja, karena waktu mereka masih ada tiga hari di Paris, jadi terbilang masih ada kesempatan untuk pergi jalan-jalan. Namun Delia sedikit khawatir apabila dia berada di tengah-tengah keluarga Tuan Aderald, pasti dia akan seperti orang asing, apalagi dia tak tahu bahasa Perancis. Walau Gibran sudah menjelaskan bahwa Tuan Aderald dan istrinya adalah orang yang sangat ramah, namun Delia masih tetap merasa gelisah dan khawatir.


"Kau tak usah khawatir, mereka pasti akan menyukaimu!" kata Gibran sambil menyisir rambutnya yang basah didepan cermin. Delia hanya diam namun wajahnya terlihat gelisah, mau menolak pun takut dikira nggak menghargai kebaikan orang lain, serba salah. Batin Delia.


Mereka sudah bersiap untuk turun ke lantai bawah, dan mereka pun sudah memasuki lift. Tiba-tiba terdengar dering telephon dari handphone Gibran. Gibran pun mengangkatnya.


"Bonjour monsieur!" "Bien, j'arrive tout de suite!" ucap Gibran lalu menutup sambungan telephone.


"Tuan Aderald sudah menunggu di bawah!" kata Gibran memberi tahu Delia, dan seketika Delia semakin mempererat pegangannya pada Gibran, jantungnya seperti berdetak lebih cepat.


"Ada apa denganmu?" tanya Gibran yang merasa aneh dengan tingkah Delia. Namun yang ditanya hanya nyengir dan menggeleng kepala.


Lift sudah terbuka, Gibran dan Delia bergegas keluar. Setelah menitipkan kunci kamar ke resepsionis, mereka segera pergi menemui Tuan Aderald.


Sebuah mobil Mercedes Benz S-Class berwarna merah tiba-tiba berhenti di depan Gibran dan Delia, lalu seseorang keluar dari sana.


"Sudah lama kau tak mengunjungiku, anakku!" kata pria tua itu, walau nampaknya dia tau bahasa Indonesia, namun logatnya masih terdengar kaku. Pria tua itu juga terlihat masih segar dan energic, dia ternyata Tuan Aderald.

__ADS_1


"Oncle!! Teriak Gibran lalu segera berlari dan memeluknya, terlihat sangat akrab sekali, seperti anak dan bapak yang sudah lama tak bertemu.


"Apa kabar? Bagaimana kabar orang tuamu juga?"


"Alhamdulillah, baik oncle! Oncle sendiri bagaimana kabarnya?"


"Seperti yang kau lihat!" ucap lelaki itu sambil memperlihatkan otot tangannya pada Gibran, sepertinya lelaki itu punya selera humor juga, Delia yang melihat tingkah mereka hanya tersenyum.


"Oh iya, perkenalkan, dia Delia, istri aku!" kata Gibran sambil menunjuk pada istrinya itu. Dan seketika Tuan Aderald menangkupkan tangannya di depan dada, dia bahkan tau caranya bersalaman dengan orang muslim.


Tanpa membuang waktu lagi Tuan Aderald mengajak Gibran dan Delia untuk kerumahnya. Perjalanan yang ditempuh kurang lebih sepuluh kilo meter dari Hotel, hanya dalam waktu beberapa menit mereka pun sampai di sebuah rumah megah dengan gaya arsitektur yang klasik, khas rumah-rumah eropa pada umumnya, sungguh indah, di halaman depan yang sangat luas itu terdapat taman bunga dengan air mancur, bunga-bunga dengan bermacam warna, seperti bunga tulip, lavender, bunga iris dan banyak sekali jenis bunga yang di tanam di taman ini, membuat Delia takjub dan rasa gelisah yang sedari tadi menggelayuti pikirannya seketika sirna karena kemolekan dan keindahan rumah Tuan Aderald.


Gibran dan Delia dipersilahkan masuk kerumah Tuan Aderald itu, dan dengan senang hati Delia sangat bersemangat memasuki hunian cantik itu.


"Tante Emilie, perkenalkan dia istriku, Delia!" Delia bersalaman dengan wanita itu dan tak disangka wanita bernama tante Emilie itu memeluk dan mencium Delia dengan hangat, membuat Delia menjadi terharu dan sedikit tak enak hati, ternyata benar kata Gibran bahwa Tuan Aderald dan Istrinya Nyonya Emilie sangat ramah, mereka dijamu dengan sangat istimewa, walau Delia kurang begitu suka dengan makanan yang mereka suguhkan karena cita rasanya yang beda dengan makanan Indonesia namun Delia berusaha membalas kebaikan mereka dengan cara menghargai apapun yang mereka suguhkan itu. Satu-satunya makanan yang Delia suka dari semua makanan yang Nyonya Emilie suguhkan adalah roti Croissant, pastry yang gurih garing dan sedikit manis itu sangat cocok bagi lidah Indonesia, Delia memakan Croissant itu dengan beberapa selai yang sengaja Nyonya Emilie siapkan.


Setelah selesai penjamuan makan, Delia di ajak Nyonya Emilie pergi jalan-jalan ke kebun belakang untuk memetik beberapa buah sementara Gibran dan Tuan Aderald berbicara soal bisnis di ruang kerja Tuan Aderald.


Diajak seperti itu sungguh Delia tak menolak sedikit pun, Delia benar-benar suka berbincang dengan Nyonya Emilie yang ternyata juga pandai berbahasa Indonesia itu, jadi mereka bisa saling bercerita banyak hal.

__ADS_1


Pertama kali memasuki kebun belakang, Delia dibikin takjub dengan halaman belakang rumah Tuan Aderald, bagaimana tidak, luasnya seperti lapangan golf, dan juga mereka memiliki ratusan sapi perah yang dibiarkan berkeliaran di area itu. Bahkan Nyonya Emilie mengajak Delia menaiki mobil listrik untuk mengelilingi kebun, benar-benar konglomerat, batin Delia.


Delia benar-benar nampak asyik berada disana, dia bahkan lupa pulang karena keasikan. Setelah sampai di kebun buah milik keluarga Tuan Aderald, Delia semakin dibikin gemas melihat buah-buah yang bergelantungan itu, ada Apel, Pear, Strawbarry, Anggur dan berbagai macam barry-barryan yang ditanam disana, bahkan ada pohon cerry juga yang kebetulan sedang berbuah juga saat ini.


"Petiklah sesuka hatimu, kau harus banyak makan buah yang segar agar tubuhmu sehat!" ujar Nyonya Emilie sangat perhatian seperti berbicara pada anak sendiri, membuat Delia menjadi tak sungkan untuk memetik buah-buah itu🤭 dasar Delia!!


Nyonya Emilie memberikan sebuah keranjang untuk Delia, dan Delia pun memetiknya satu per satu, dipilih buah yang benar-benar matang.


"Sudah berapa lama


kau menikah dengan Gibran?" Tanya Nyonya Emilie tiba-tiba di sela mereka sedang memetik buah.


"Baru dua bulan, bu!" kata Delia yang sudah akrab dengan memanggil ibu.


"Semoga kalian cepat di beri momongan ya!" kata Nyonya Emilie yang tiba-tiba nada suaranya sedikit bergetar, dan raut wajahnya tiba-tiba murung.


"Ibu kenapa?" tanya Delia memberanikan diri untuk bertanya. Dan Nyonya Emilie pun bercerita bahwa diusia mereka yang sudah senja itu mereka belum memiliki keturunan, maka dari itu mereka menganggap Gibran sebagai anak mereka, dan mereka benar-benar menyayangi Gibran seperti anak sendiri. Sungguh Nyonya Emilie membuat suasana hati Delia saat itu mengharu biru. Bagaimana tidak, pasangan kaya raya itu tak memeiliki keturunan atau ahli waris.


Setelah dirasa cukup banyak memetik buah, Delia dan Nyonya Emilie kembali dari kebun, mereka berencana akan membuat salat dari buah-buah itu, Delia mengiris buah-buah itu setelah dicuci, sedangkan Nyonya Emilie mencampurkan buah-buah itu dengan susu, yogurt, mayonise dan keju.

__ADS_1


Setelah selesai, mereka membawa salad itu ke taman bunga yang ada di depan rumah, duduk di sebuah pondok sambil menikmati salad dan menikmati pemandangan yang indah itu sungguh kenikmatan yang tak bisa digambarkan oleh Delia, walau hari ini Delia tak jadi jalan-jalan di Trocadero, namun bisa berjalan-jalan mengelilingi rumah Tuan Aderald itu sudah seperti berwisata juga. Batin Delia.


Bersambung.....


__ADS_2