Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin

Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin
Bab 20 Menyebalkan


__ADS_3

Delia masih menyusuri beberapa rak bagian buah, sedangkan Zahra hanya mengekor dibelakang tanpa berkomentar apapun, sesekali tangannya memegang beberapa buah yang dipajang. Buah-buah di supermarket memang terlihat masih segar dan menggiurkan. Delia tertarik dengan deretan buah anggur merah yang terlihat besar-besar dan juga buah strawberry, Delia pun mengambil satu steroform dari masing-masing buah itu. Lumayan untuk persediaan, tak lupa dia juga mengambil daging ayam dan daging sapi frozen. Delia melirik pada Zahra yang masih melihat-lihat area buah. Delia sedikit lega karena sepertinya tak ada tanda-tanda dari Zahra untuk membahas Gibran lagi, jadi Delia bisa lebih santai memilih bahan-bahan keperluan sehari-hari.


Tiba-tiba terdengar langkah sedikit berlari dari Zahra yang memang sedikit tertinggal jauh oleh Delia. Wanita itu mendekati Delia yang sedang memilih-milih sayuran.


"Delia! Kau belanja bahan makanan banyak sekali?" ujar Zahra sedikit tak percaya, melihat belanjaan Delia yang hampir penuh satu trolli


"Iya, lumayan untuk satu minggu!" jawab Delia sambil tangannya mengambil kentang dan meletakkannya di trolli.


"Memangnya dirumah kamu tinggal dengan siapa?" tanya Zahra lagi, kali ini dia berjalan bersisihan dengan Delia.


"Aku tinggal dengan....em maksudku aku sendirian." hampir saja Delia keceplosan, namun entah apa yang menjadi pertimbangan Delia, dia mengatakan bahwa dia tinggal hanya seorang diri, mau di ralat tapi sudah terucap.


"Wah, kapan-kapan aku boleh dong main kerumah mu? Sekalian pengen nginep di rumahmu!" ucap Zahra yang membuat Delia langsung terkejut dan bingung mau jawab apa.


"Boleh kan Del?" tanya Zahra lagi, dia sepertinya bersungguh-sungguh, namun rasanya lidah Delia menjadi kelu untuk menjawab pertanyaan sederhana itu, hingga dia tak konsentrasi saat berjalan dan tiba-tiba,


Brukkk


Delia menabrakkan trollinya pada seseorang didepannya, Delia benar-benar tidak sengaja, ia segera menghampiri gadis yang ia tabrak barusan, dan memunguti barang-barang gadis itu yang berjatuhan di lantai.


"Maafkan saya, saya tidak sengaja!" ucap Delia, sungguh menyesal, gara-gara ucapan Zahra dia jadi harus berurusan dengan orang lain.


"Iya mbak, gak apa-apa!" ucap gadis itu sambil menoleh pada Delia, namun tiba-tiba Delia terkejut melihat wajah gadis itu yang ternyata Kalina, adik Gibran, sedangkan Kalina sendiri dia juga nampak terkejut karena yang menabraknya barusan ternyata kakak iparnya.


"Loh! Kak Delia!" ucap Kalina sambil tersenyum. Sedangkan Delia sedikit gugup.


"Kalina?"


"Kak Delia sama siapa kesini, Kak Gibran mana?"


"Oh, ini sama teman kakak, Kak Gibran sekarang sedang menunggu di coffe shop!"


"Dasar Kak Gibran, mau enaknya aja, gak mau bantuin kakak bawa balanjaannya!"


Ucap Kalina menggerutu.


"Gak apa-apa, kamu sama siapa kesini?"


"Sama ibu kak, tapi sekarang lagi di toilet, oh iya, ini temen kakak ya?" tanya Kalina sambil menunjuk pada Zahra.


"Iya, ini temen kakak, namanya Zahra!"

__ADS_1


Zahra dan Kalina pun saling berjabat tangan.


"Kenalin kak, aku Kalina, adiknya kak Gibran!" ucap Kalina.


"Kamu adik Gibran ya? Ya ampun cantik banget, aku juga temannya Gibran loh!" ucap Zahra yang tiba-tiba kesenangan berkenalan dengan adik Gibran. Bahkan dia pun mendekat pada Kalina, hingga membuat Kalina bingung, melihat Zahra yang seperti itu akhirnya Delia pun menarik tangan Zahra agar dia menjauh dari Kalina.


"Oh iya, Zahra, Gibran sudah menunggu dari tadi, ayo cepetan, kasian dia." ajak Delia.


"Kalina, maaf ya kakak keburu, soalnya dari tadi Kakakmu sudah menunggu!" ucap Delia sambil nyengir.


"Lagian siapa suruh nunggu disana, kenapa gak bantuin kakak!" Delia hanya terkekeh mendengar gerutuan Kalina itu.


"Yaudah, salam buat Ibu ya Kalin!" ucap Delia.


"Oh iya kak, hampir lupa, ibu ngajak Kak Gibran sama Kak Delia makan malam nanti malam, datang ya!" ucap Kalina.


"Nanti malam ya, aku tanya ke Kakakmu dulu ya, takutnya dia sibuk!"


"Oke dah, tapi usahakan datang ya kak!"


"Insya Allah!"


Delia pun pergi dari hadapan Kalina, sambil menggandeng tangan Zahra. Delia buru-buru membayar belanjaannya itu dikasir, setelah selesai mereka pun berjalan menuju ke coffe shop yang ada di area mall itu. Ditengah perjalanannya menuju coffe shop Zahra tiba-tiba memegang tangan Delia.


"Oh, memang kenapa?"


"Tidak, maksudku, apa Gibran tidak tinggal dengan keluarganya?"


Ucapan Zahra lagi-lagi membuat Delia bingung harus menjawab apa, cukup lama Delia memikirkan jawaban yang tepat untuk Zahra.


"Hey... Kau sedang ngelamun atau kenapa? Kau tak jawab pertanyaanku!" ucap Zahra sambil menepuk pundak Delia, hingga Delia pun terlonjak.


"Apa? Oh tidak, aku melupakan sesuatu, ada yang lupa aku beli!" ucap Delia sambil tapok jidad sendiri, sebenarnya dia hanya menghindari pertanyaan Zahra itu.


"Apa? Belanjaanmu sudah sebanyak ini, tapi kamu bilang masih ada yang lupa kau beli?" Delia hanya nyengir mendengar ucapan Zahra.


"Apa kita harus kembali?" tanya Zahra sambil geleng-geleng kepala.


"Tidak usah lah, biar besok saja aku kembali lagi, lagian Gibran sudah lama menunggu, kasian juga!" ucap Delia.


"Oh iya, kasian juga Gibran, ayo buruan kita ke coffe shop!" ajak Zahra yang tiba-tiba bersemangat.

__ADS_1


Mereka pun bergegas pergi ke coffe shop, sambil menjinjing belanjaan Delia yang banyak itu.


Setelah sampai di ditempat nongkrong itu, mereka celingak-celinguk mencari Gibran, banyak sekali pengunjung disana, namun Gibran sepertinya sudah tidak ada disana, karena Delia sudah merasa sangat capek sedari tadi belanja ditambah dengan beban belanjaannya yang semakin terasa berat dirasakan, akhirnya Delia memutuskan untuk menelphon lelaki itu.


"Kamu mau menelephone siapa?" tanya Zahra.


"Ya Gibran lah!"


"Tunggu Delia! Biar aku saja yang telephone dia!" ucap Zahra sambil senyum-senyum.


"Kenapa?" tanya Delia sedikit bingung.


"Ahh... Biar aku saja, kamu diam saja karena aku mau menelephon pangeranku!"


Hampir saja Delia tersedak ludahnya sendiri mendengar ucapan Zahra.


'Pangeran? Hmmm, sampai kapan kamu akan menganggapnya pangeranmu?!'


Rasanya risih sekali mendengar kata-kata dan nada ketika Zahra menelephon Gibran, membuat Delia jadi bete lama-lama berada didekat wanita ini.


"Delia, ternyata Gibran sudah ada diparkiran, ayok cepetan kita kesana!" ucap Delia sambil berjalan cepat meninggalkan Delia dengan berkantong-kantong belanjaan.


Delia berjalan tertatih sendirian, hingga sampai di parkiran nampak Gibran dan Zahra sedang berbincang didekat mobil Gibran, melihat Delia yang sepertinya kuwalahan dengan belanjaannya Gibran dengan sigap menghampiri Delia dan mengambil semua kantong belanjaan itu dari tangan Delia.


"Ya ampun, aku bilang juga apa, barusan aku mau bantuin kamu, tapi kamunya nggak mau!" tiba-tiba Zahra berucap pada Delia, membuat Delia menjadi sebal mendengarnya.


'Dasar Munafik!'


Delia tak menggubris ucapan Zahra itu, dan ketika Delia mau membuka pintu mobil depan Zahra dengan sigap mencegah dengan memegang tangan Delia sambil senyum dengan maksud tertentu. Delia yang sudah mulai sebal pada wanita itu, hanya diam sambil cemberut dan membiarkan wanita itu duduk didepan, sedangkan dia duduk di belakang lagi.


"Apa kita akan mencari makan dulu!" tanya Gibran, Zahra sudah mau menjawab 'Iya' namun Delia langsung memotong dengan mengatakan 'Tidak'.


"Aku sudah capek!" ucap Delia sedikit dongkol.


"Baiklah, Zahra aku antar kamu pulang sekarang!" ujar Gibran kemudian.


"Apa tidak bisa kita antar Delia dulu, kemudian kita cari makan!" ucap Zahra, tanpa mempedulikan Delia yang sudah dongkol itu.


"Tidak bisa, aku banyak pekerjaan, jadi ku antar kamu pulang sekarang!" kata Gibran, masih dengan nada datar.


"Hmm, baiklah!" akhirnya Zahra pun menurut untuk diantar pulang, sedangkan Delia hanya bisa mencebikkan bibirnya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2