Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin

Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin
Bab 50 Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

"Iya sayang, nggak apa-apa!" "Hmm!" "Nanti aku tunggu di tempat parkir ya!" "See You!" "Walikum salam!" Delia menutup panggilan telephonnya, dan menaruh gadgetnya di laci meja sambil senyum-senyum sendiri.


"Siapa? Suami kamu ya!" tanya Aulia sambil tersenyum, tanpa Delia sadari wanita itu memperhatikan Delia saat berbicara melalui sambungan telephon.


"Iya!" ucap Delia sambil terkekeh. "Oh iya, ntar pulangnya barengan saja ya, kita kan searah!" ucap Delia, sambil tangannya menulis sesuatu di buku registernya.


"Memangnya nggak apa-apa sama suamimu?" Aulia sedikit ragu.


"Ya nggak apa-apa lah, Lia! Kamu belum tau suami ku saja, dia tuh orangnya baik kok, gimana? Mau ya!" Aulia pun mengangguk. "Baiklah kalau kamu memaksa!" ucap Aulia kemudian.


"Bukan begitu, Lia! Apa gunanya teman kalau tidak saling membantu satu sama lain, malah aku seneng kalau kita bisa setiap hari berangkat dan pulang bareng, lumayan bisa menghemat uang taxy kamu!" ucap Delia tulus.


Benar juga apa yang dikatakan Delia, belum satu bulan Aulia tinggal di Jakarta dia sudah merasakan bagaimana kerasnya hidup di kota metropolitan ini, namun dia beruntung dia bisa bertahan karena telah memiliki pekerjaan, walau harus selalu dapat omelan dari atasannya dia akan tetap bertahan. Apa lagi dia hanya tinggal seorang diri tanpa sanak saudara pun. Namun karena tekadnya yang kuat demi mengejar cintanya yaitu Hamdan, Hamdan yang dulu pernah membuatnya jatuh cinta karena suara qori'nya yang begitu lembut dan merdu hingga merasuk kedalam hatinya. Dan yang dulu pernah berjanji akan melamarnya, Aulia rela kabur dari rumah, meninggalkan keluarga bahkan tunangannya. Dan itu yang Aulia masih simpan rapat-rapat dari Delia, yang Delia tau dia pergi ke Jakarta hanya untuk mencari pengalaman.


Beruntung dalam kegelisahannya yang bahkan hampir membuatnya menyerah dan putus asa di kota Jakarta ini, Aulia bertemu dengan Delia, yang menurut Aulia saat ini adalah seorang penolong baginya. Kini semangat Aulia mulai bangkit lagi, dia akan terus mencari tau dimanapun keberadaan sang pujaan hatinya sampai dia menemukannya.


Sebenarnya Aulia ingin mengatakan yang sejujurnya pada Delia tentang tujuannya berada di Jakarta, namun masih Aulia tahan karena dia masih ragu untuk mengatakan yang sebenarnya, dan hal itu membuat Aulia mulai resah lagi.


"Hayo!! Ngelamun lagi!" suara Delia memecah lamunan Aulia. "Ngelamunin apa sih? Ada masalah?" Delia seakan tau apa yang dirasakan oleh Aulia. Namun Aulia tak akan jujur untuk saat ini pada Delia.


"Nggak apa-apa!" ucap Aulia sambil nyengir.


"Kalau ada masalah, kamu cerita saja sama aku, anggap aku adalah keluargamu!" Delia memang selalu tulus pada siapa saja. Aulia memang butuh teman curhat saat ini, dia butuh sandaran dan juga bantuan, Melihat wajah Delia yang sangat tulus itu, Aulia hampir akan menceritakan hal yang sesungguhnya pada Delia namun tiba-tiba Bu Vera menghampiri mereka, dengan wajah yang sedikit ditekuk. Lebih tepatnya ia menghampiri Aulia saat ini.


"Kau bisa tidak mendata buku dengan benar?!" ucap Bu Vera, nadanya penuh dengan penekanan disetiap kata-katanya. Tak ayal membuat Aulia langsung gelagapan.


Bu Vera menunjukkan hasil kerja Aulia, yang memang sedikit berantakan. "Sudah berapa kali saya jelaskan, selalu melakukan kesalahan yang sama!" Delia tak pernah melihat Bu Vera setegas ini, bahkan kepada Delia yang saat itu juga terbilang masih baru.

__ADS_1


"Iya bu, maaf, akan saya perbaiki!" ucap Aulia sambil menunduk tak berani mengangkat wajahnya.


"Cepat perbaiki! Delia, bisa kau bantu Aulia, biar cepat selesai, karena di bawah masih banyak buku-buku yang belum terdata!" ucap Bu Vera sambil ngeloyor turun ke tangga, seketika nada bicaranya berubah ketika berbicara pada Delia.


"Iya, bu!" kata Delia cepat dan langsung menghampiri Aulia, dan memeriksa pekerjaan Delia.


"Sudah, jangan dimasukin ke hati ucapan Bu Vera tadi, aku juga pernah kok melakukan kesalahan seperti ini, bahkan lebih fatal, tapi waktu itu kepala perpustakaannya masih Pak Edo, dia sabar banget ngadepin aku yang masih belajar!" ucap Delia menenangkan Aulia. Ingat itu Delia menjadi ingat pada surat cinta yang masih ia simpan di laci mejanya, mungkin nggak sih, Pak Edo yang saat itu sabar menghadapinya karena memang sebenarnya dia memiliki rasa pada Delia, jika saat itu kepala Perpustakaannya adalah Bu Vera mungkin dia juga pasti sering kena omel oleh beliau.


Delia pun membantu memperbaiki pekerjaan Aulia, dan dengan sabar mengajari Aulia. Hingga pekerjaan Aulia selesai Delia berencana mengajak Aulia ke kantin, untuk membeli susu hangat, biasanya ketika dulu Delia sedang capek menghadapi pekerjaan, susu hangat membuatnya relaxs lagi. Dan itu juga membuat Delia ingat pada Pak Edo.


"Aku rasa Bu Vera memang tidak suka sama aku!" ucap Aulia, murung.


Saat ini mereka sedang berada di sebuah gasebo di dekat kantin, sambil menikmati minuman mereka dan ditemani oleh semilir angin sepoy-sepoy.


"Tidak, kamu jangan berprasangka, sebenarnya Bu Vera itu baik kok, mungkin dia sedang capek ngurusin pekerjaan. Kamu yang sabar ya!" kata Delia menenangkan Aulia.


"Buktinya kalau pas ngomong sama kamu dia langsung lembut begitu!"


"Iya Delia, makasih ya, kamu memang baik dari dulu!"


Sebenarnya Aulia ingin sekali mengatakan yang sesungguhnya pada wanita didepannya itu, namun perasaan ragu selalu menyelimuti hatinya. Namun kini dia bertekat untuk mengatakan hal yang sesungguhnya, agar hatinya sedikit lega dan siapa tahu Delia bisa membantunya untuk mencari Hamdan dan dia bisa bertemu dengan Hamdan, toh Delia sudah tau, bahwa dia memang mencintai Hamdan gara-gara surat cintanya itu. Namun!


"Delia!!!" tiba-tiba ada seseorang yang memanggil Delia. Suara derap langkah terdengar di belakang punggung Delia sebelum sebuah tangan menepuk bahu Delia.


"Assalamualaikum!" ucap Zahra.


"Walikum salam! Masya Allah, nih anak aku perhatiin dari pagi semangat terus!" ucap Delia sambil terkekeh memperhatikan tingkah Zahra.

__ADS_1


Zahra hanya tersenyum dan tanpa disuruh dia pun ikut gabung duduk bersama Delia dan Aulia.


"Oh iya, Lia, kenalin ini teman aku, Zahra!" Aulia dan Zahra pun saling berjabat tangan.


Aulia pun menahan ucapannya lagi karena dia tak mau ada orang lain tau tentang ceritanya selain Delia. Aulia pun kini menelan lagi rasa kecewa karena tak bisa menceritakan kegundahan hatinya pada Delia.


Jam sudah menunjukkan waktu pulang, Delia sudah siap-siap membereskan barangnya, menyimpan buku-buku register di laci mejanya.


"Lia, ayo pulang!" ajak Delia.


"Tapi, apa suami kamu tau kalau aku akan ikut dengan kalian?" tanya Aulia.


"Aku nggak bilang sih, tapi dia nggak akan keberatan kok!"


"Bener??"


"Iya, Lia!! Ayo! Suamiku udah nungguin di parkiran!" Delia pun menarik tangan Aulia dan mereka pun berjalan menyusuri koridor kampus.


Sampai di sebuah parkiran, suasananya memang cukup ramai, karena sebagian besar para Mahasiswa juga pulang pada jam-jam ini.


"Itu suami aku!" tunjuk Delia. Seketika jantung Aulia seperti mau copot dan berdetak tak terkendali hingga tak sadar tangan Aulia menekan dadanya.


Mereka menghampiri Gibran."Sayang, temen aku mau ikut pulang bareng kita, boleh ya, dia searah dan satu komplek sama kita!" ucap Delia, dan seketika Gibran terkejut dan tak bisa berbicara apa-apa, dia hanya mengangguk.


Delia sudah berada di dalam mobil, hanya Aulia dan Gibran yang masih berdiri disebelah mobil Gibran, Aulia tak bisa menahan air mata yang menetes dipipinya.


"Apa kabar, Hamdan?!" ucap Aulia lirih namun dapat di dengar oleh indera pendengaran Gibran, namun Gibran membisu, tak mampu berkata-kata.

__ADS_1


Suara Delia mengejutkan Aulia dan Gibran. "Sayang! Ayo cepat naik, aku sudah capek banget pengen istirahat!" kata Delia saat kepalanya nongol dari balik jendela mobil, dan seketika Gibran masuk ke mobil disusul oleh Aulia.


Bersambung....


__ADS_2