
Delia masih sibuk dengan pekerjaannya saat ini, namun pikirannya masih melayang jauh, mengingat perkataan Zahra yang seakan menghantui Delia, Delia bingung, apakah dia harus mengatakan hal ini kepada Gibran atau tidak. Berkali-kali Delia menghembuskan nafasnya dengan berat, berkali-kali pula dia harus menghapus tulisannya yang ternyata keluar tabel di buku register.
"Selalu tidak fokus! Jika memang sedang capek istirahat dulu!" ucap seseorang tiba-tiba, Delia seketika terperanjat dan langsung mendongak pada sumber suara. Melihat orang yang bersuara itu membuat Delia langsung tersenyum garing.
"Apa kau mau ku pesankan espresso?" ucap Pak Edo.
"Jangan repot-repot Pak, sepertinya saya memang butuh istirahat sebentar!" ucap Delia.
"Tidak apa-apa, kau tunggu disini saja biar aku pesankan untukmu!" ucap Pak Edo yang langsung saja pergi beranjak membelikan Delia espresso di kantin. Delia kadang heran kenapa laki-laki itu begitu sangat perhatian kepada dirinya, namun Delia tak pernah berpikiran macam-macam terhadap Pak Edo yang begitu baik kepada dirinya, mungkin memang karena dia adalah staf baru di perpustakaan ini hingga dia memang perlu banyak bimbingan dari kepala perpustakaan itu. Pak Edo itu memang masih muda, jika ditafsir usianya mungkin tak beda jauh dari usia Delia. Dan menurut pandangan Delia Pak Edo itu adalah tipikal laki-laki yang sangat perhatian, siapa pun wanita yang menjadi pasangannya kelak pasti akan merasa bahagia bila berdampingan dengan laki-laki seperti Pak Edo.
Tak berapa lama kemudian Pak Edo sudah datang dengan membawa dua cangkir espresso di tangannya, asap espresso yang meliuk-liuk dan aroma espresso begitu menggoda hidung Delia yang rasanya ingin segera menyesap minuman bercaffein itu, namun. Delia hanya diam ketika Pak Edo meletakkan minuman itu di meja Delia, menunggu lelaki itu untuk mempersilahkannya.
"Di minum dulu, Del! Kau harus istirahat dulu, agar badanmu bisa rilexs!" ucap Pak Edo dengan senyumannya.
"Terimakasih Pak!" ucap Delia membalas senyum lelaki berkaca mata itu. Delia dengan segera meminum espresso itu dengan nikmat, sedikit demi sedikit pikirannya kini mulai rileks. Pak Edo masih duduk di kursi depan meja Delia, dia juga sedang menikmati minumannya disana.
"Bagaimana? Apa sudah lebih segar dan rileks?" tanya Pak Edo setelah menyesap espressonya.
"Alhamdulillah, sudah lebih segar Pak, sekali lagi terima kasih Pak!" ucap Delia dengan tulus.
"Bagaimana menurutmu rasa daru espresso ini?" tanya Pak Edo sambil sesekali menyesapnya lagi.
"Lumayan, dan menurutku memang seperti rasa espresso Pak!" ucap Delia, tak paham dengan arah pembicaraan dari Pak Edo, dan Pak Edo hanya tertawa renyah mendengar ucapan Delia itu.
__ADS_1
"Iya-iya, betul itu, tapi aku pernah minum espresso yang lebih mantap rasanya di sebuah kedai kopi, disana tidak hanya menjual minuman dari bahan kopi, namun juga menjual minuman berbahan tea!" ucap Pak Edo penuh semangat.
"Oh ya? Dimana itu Pak?" tanya Delia yang ikutan antusias mendengar perkataan Pak Edo.
"Tempatnya berada di dekat taman kota, tempatnya juga asik untuk menjadi tempat nongkrong, bersama teman ataupun pasangan kita!" Delia hanya manggut-manggut menanggapinya, sepertinya asik juga jika mengajak Gibran untun sekedar ngopi disana.
"Sepertinya asik ya Pak!" ucap Delia sambil menyesap espressonya yang sudah tinggal setengah gelas itu.
"Jika kau mau, kita bisa dinner disana?" kata Pak Edo tiba-tiba nadanya sedikit serius dan pandangannya sedikit menyelidik pada Delia.
"Apa?!" Delia sedikit terperanjat namun dia tak bisa berkata-kata lagi. Pak Edo hanya tersenyum melihat ekspressi wajah Delia yang tiba-tiba kaget itu.
"Hay! Aku mengatakan jika kau mau, tapi jika tidak mau ya tidak apa-apa, santai saja!" ucap Pak Edo kemudian. Delia hanya tersenyum garing, namun Delia masih tidak percaya dengan kata 'Dinner' yang keluar dari mulut Pak Edo itu, Dinner adalah istilah lain dari kata Kencan, apa mungkin Pak Edo mengajak Delia untuk berkencan seperti pasangan kekasih. Delia segera membuang jauh-jauh pikirannya itu.
"Hahaha!! Oke-oke aku tau jawabanmu, maaf jika aku berkata seolah-olah kau mau menerima ajakanku, baiklah, mungkin ini terlalu dini untuk mengajakmu dinner, baiklah, tapi jika kau setuju dengan ajakanku, aku siap kapanpun itu walau bukan nanti malam waktunya. Oke Delia, aku ke mejaku dulu, sampai nanti, bye!!" ucap Pak Edo sambil berlalu beranjak dari kursinya. Delia hanya bisa melongo menatap punggung laki-laki itu yang kemudian menghilang dari pandangannya.
Delia masih bingung dengan ajakan lelaki itu, belum juga Delia kepikiran dengan permintaan Zahra kini ditambah lagi dengan ajakan Pak Edo, kenapa tiba-tiba lelaki itu ingin sekali mengajak Delia untuk berkencan, pasti Pak Edo mengira bahwa dirinya masih sendiri, ya semua orang dikampus memang berpikiran seperti itu.
Delia mulai tidak fokus lagi dengan pekerjaannya, dia hanya bisa membolak-balik buku registerya, espresso yang tadinya bisa merilekskan pikirannya kini sudah tidak mempan lagi, bahkan gara-gara orang yang membelikan espresso ini kini pikiran Delia semakin kacau. Ditengah kekacauan Delia, tiba-tiba Gibran muncul dengan senyuman yang bisa membuat Delia sedikit tenang, rasanya dia ingin sekali meluapkan segala kegundahannya pada Gibran, namun dia bingung harus memulainya dari mana.
"Apa masih sibuk?" tanya Gibran yang kemudian duduk di kursi depan meja Delia, bahkan menyesap espresso Delia yang tinggal separuh itu hingga habis.
"Hey, siapa yang menyuruh kau menghabiskan minumanku?" ucap Delia, pura-pura sebal.
__ADS_1
"Ups! Maaf, habisnya aku sangat haus, apa kau mau aku mati kehausan?" ucap Gibran pura-pura lemas seperti dehidrasi parah, melihat hal itu spontan Delia tertawa, sekejap dia bisa melupakan kekacauannya.
"Sayang! Apa kau tau? Sebentar saja aku tak melihatmu, aku begitu sangat merindukanmu!" ucap Gibran sambil menatap Delia.
"Kau ini, terlalu berlebihan, sudahlah aku masih belum selesai meyelesaikan pekerjaanku!" ucap Delia yang sudah malas meladeni bualan suaminya itu.
"Hmm!! Sepertinya kau memang tak bisa diganggu ya! Baiklah, tapi bagaimana jika nanti malam kita dinner?" ucap Gibran yang spontan membuat Delia kaget, entah menagapa dia seperti sedang Dejavu begitu mendengar kata Dinner dan sangat sensitif dengan kata itu.
"Ada apa denganmu?" tanya Gibran yang bingung melihat ekspresi wajah Delia.
"Kau tidak mau ku ajak Dinner?" tanya Gibran lagi, kini dirinya semakin bingung.
"Oh, tidak! Baiklah kita dinner!" ucap Delia, dia sadar bahwa yang saat ini berada didepannya adalah suaminya, bukan Pak Edo.
"Oke, sepertinya kita mencari tempat ngopi saja!" ucap Gibran kemudian, sepertinya dia tak memperpanjang sikap Delia barusan.
"Iya, aku setuju, aku punya rekomendasi tempat yang enak untuk ngopi!"
"Oh ya? Dimana itu?"
"Di kedai kopi dekat taman kota!" ucap Delia sambil tersenyum. Sedangkan Gibran hanya manggut-manggut setuju dengan usulan Delia.
Bersambung....
__ADS_1
😘🤗🤗🤗