Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin

Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin
Bab 18 Hari Pertama Bekerja


__ADS_3

Matahari menyembul dibalik permukaan langit di ufuk timur, ia mulai naik ke titik horizon timur dan menyuntikkan seberkas energi untuk semua makhluk hidup yang ada di bumi untuk memulai aktifitasnya.


Delia menyibak tirai jendela, ia menatap keluar jendela, menarik nafas perlahan dan menghembuskannya seolah bebannya sedikit menguap seiring berkas sinar mentari yang menyeruak hingga ke sudut kamarnya. Delia memejamkan matanya, menunggu detik-detik ia memulai hari barunya.


Ini masih baru pukul enam pagi, setelah selesai melaksanakan shalat dhuha Delia segera melakukan aktifitas di dapur, karena kata Gibran, nanti mulai masuk kerja jam delapan pagi, jadi Delia segera membuat sarapan untuk mereka berdua, sarapan yang praktis agar lebih cepat. Delia membuka kulkas, tapi sepertinya persediaan makanan sudah habis. Yang ada hanya roti tawar, akhirnya Delia pun berinisiatif untuk membuat sandwick dari roti itu, dengan cepat ia mengerjakan pekerjaan dapurnya, sekitar sepuluh menit sudah beres, tak lupa dua gelas susu hangat sudah ia sajikan di atas meja makan.


Delia pun pergi memanggil Gibran yang masih ada dikamarnya, mungkin karena hari ini ia sangat semangat, membuat Delia lupa dengan semua perseteruannya dengan Gibran. Mau bagaimana lagi, karena Gibran kini dia bisa mendapatkan pekerjaan. Jadi dia harus berterimakasih pada Gibran, minimal dia ingin hubungannya dengan Gibran lebih baik, seperti dua orang sahabat, mungkin itu yang ia harapkan untuk saat ini, dari pada dia harus mengisi harinya hanya untuk berdebat dengan lelaki itu.


Tok tok tok


Delia mengetuk pintu kamar Gibran, tanpa menunggu lama Gibran membuka pintu kamarnya, dan terlihat dia sudah memakai pakaian rapi, kemeja abu-abu yang ia tekuk lengannya hingga ke siku, serta celana kain hitam panjang, rambutnya terlihat klimis serta wangi aroma kolonye yang dapat Delia rasakan membuat lelaki itu nampak beda dari biasanya, walau pandangannya masih tetap dingin, tapi auranya berbeda.


Gibran mengernyitkan dahinya melihat penampilan Delia yang saat ini memakai jubah dusty serta kerudung pasmina dengan warna senada.


"Kau memakai baju seperti itu untuk bekerja?" tanya Gibran setengah tak percaya, karena penampilan Delia tidak seperti mau bekerja, melainkan mau kondangan, atau mau ngedate.


"Aku bingung mau memakai baju apa, karna di lemari hanya ada baju seperti ini!" ucap Delia merasa minder karena pandangan Gibran.


"Oh, baikalah, berarti nanti kita harus belanja membeli baju untukmu bekerja!"


Ucap Gibran kemudian. Ia sadar selama ini dia tak pernah memperhatikan penampilan istrinya itu, bahkan dia tak pernah mengajak Delia untuk membeli sesuatu yang Delia butuhkan, dia hanya memberi uang belanja mingguan saja.


"Benarkah? Terimakasih Gibran!" ucap Delia, nampak senang, entah mengapa rasanya manis sekali jika mereka tak lagi berdebat seperti biasanya.

__ADS_1


...****************...


Mobil Gibran kini sudah memasuki area kampus, Gibran memarkirkan mobilnya. Delia sudah mau keluar dari mobil Gibran namun ia merasa tangannya ditahan oleh lelaki itu, hingga Delia urung membuka pintu mobil dan menoleh pada Gibran.


"Delia, kuharap kau bisa merahasiakan pernikahan kita pada semua orang di kampus ini!" ucap Gibran, pandangannya kembali dingin hingga membuat Delia bete melihatnya.


"Memangnya aku senang mengakui bahwa kita ini adalah suami istri?" ucap Delia, mulai sinis menanggapi omongan Gibran itu.


Gibran tak menanggapi ucapan Delia, dia langsung membuka pintu mobilnya dan turun.


'Padahal aku baru aja ingin memperbaiki semuanya, tapi kau selalu membuatku bette, dasar lelaki menyebalkan!' ucap Delia dalam hati.


Delia pun mengikuti kemana arah Gibran berjalan, sambil sesekali ia melihat-lihat suasana kampus. Seorang mahasiswi cantik dengan hijab panjang menyapa Gibran.


"Gibran!" panggil wanita itu. Gibran pun menoleh dan tersenyum padanya, dilihat dari pandangan Gibran, sepertinya mereka memang sudah akrab.


"Dia...teman aku, dia adalah staf baru di perpustakaan kampus!" ucap Gibran pada wanita itu. Dan wanita itu pun menghampiri Delia dengan senyum semringah.


"Hai, aku Zahra, senang bisa bertemu denganmu!" ucap wanita bernama Zahra itu, yang nampak ramah pada Delia.


"Sama-sama, aku Delia, te...man Gibran!" ucap Delia, sedikit ragu mengatakan bahwa dia adalah teman Gibran.


"Baiklah, kita harus segera ke perpustakaan menemui Pak Edo, Zahra aku pergi dulu!" ucap Gibran kemudian sambil menarik tangan Delia agar mengikuti langkahnya.

__ADS_1


"Baiklah, nanti siang aku tunggu kau di kantin Gibran!" ucap Zahra yang dibalas dengan anggukan oleh Gibran, walau dia sedikit heran dengan sikap Gibran yang tiba-tiba memegang tangan Delia, padahal dia sangat tau bahwa Gibran tak pernah mau bersentuhan dengan wanita yang bukan mahromnya.


Tiba di gedung perpustakaan, Delia langsung diperkenalkan pada Pak Edo selaku kepala perpustakaan oleh Gibran. Pak Edo terlihat sangat senang karena kini ada staf baru yang akan membantu mendata buku di perpustakaan, apalagi Delia cantik, hingga membuat Pak Edo tertarik pada Delia.


"Saya sangat berterimakasih kepada mu Gibran, kau memang penyelamat!" ucap Pak Edo dengan berlebihan.


"Tidak masalah Pak, Delia ini adalah teman saya, dia memang sangat butuh pekerjaan, jadi saya memberikan pekerjaan ini padanya!" ucap Gibran.


Setelah selesai dengan urusannya, Gibran pun pamit untuk pergi ke kelas.


"Jika ada sesuatu, kau bisa telphon aku!" kata Gibran pada Delia setelah berpamitan, Delia hanya membalas Gibran dengan anggukan, namun hatinya masih bertanya-tanya, tentang wanita cantik bernama Zahra yang ia temui barusan, mungkinkah Gibran memiliki hubungan yang spesial dengan wanita itu, entahlah karena sesuai perjanjian dia tak boleh mencampuri urusan pribadi Gibran, terlebih urusan percintaannya.


"Nona Delia, mari saya tunjukkan meja anda dan apa saja yang harus Nona kerjakan!" ucap Pak Edo mengagetkan Delia dari lamunannya tentang Gibran, hingga Delia sedikit kikuk dibuatnya.


"Pak Edo, panggil saja saya Delia, biar lebih enak aja didengar!" ujar Delia sambil terkekeh. Pak Edo pun tersenyum.


"Iya, mari saya tunjukkan meja Non.. Eh, maksud saya Delia!" ucap Pak Edo, yang tiba-tiba salting.


Perpustakaan kampus tempat Delia bekerja ternyata terdiri dari dua lantai, dan tempat Delia bekerja berada di lantai atas, disana sudah banyak buku-buku baru yang menunggu Delia untuk didata. Hari pertama dia masih dibantu oleh Pak Edo, lelaki berkaca mata itu terkadang suka mencuri-curi pandang pada Delia tanpa Delia sadari. Karena saat ini pikiran Delia masih pada wanita yang ia temuai tadi, yang terlihat begitu akrab dengan Gibran, hingga Delia merasa bingung sendiri, kenapa dia segitu risaunya memikirkan Gibran dan wanita itu.


Tiba-tiba Pak Edo mengagetkan Delia dengan datang ke mejanya sambil membawa susu coklat hangat dan duduk didepan meja Delia.


"Nih, minumlah! Saya lihat kamu seperti termenung dari tadi, apa kamu merasa bosan? Ya..bekerja di perpustakaan memang membosankan, tapi aku harap kau bisa betah bekerja disini!" ucap Pak Edo, sambil menjulurkan susu coklat yang terlihat sangat menggoda itu. Delia meraih susu itu dengan sedikit malu.

__ADS_1


"Maaf Pak, sama sekali saya tidak bosan bekerja disini, oh iya, terima kasih susu coklatnya!" ucap Delia tulus, membuat Pak Edo merasa senang.


Bersambung.....


__ADS_2