Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin

Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin
Bab 14 Kejadian dikamar Mandi


__ADS_3

Delia benar-benar tersiksa dengan pakaian yang ia kenakan, dia semakin Sesak dan sulit bernafas, dalam lubuk hati Delia,.dia berharap Tuhan segera cabut saja nyawanya, mungkin itu lebih baik, daripada harus hidup bersama laki-laki seperti Gibran.


Suara ketukan pintu membuat Delia terkejut, namun Delia hanya diam tak menghiraukan, dia menunggu Gibran yang membuka pintu itu, namun suara ketukan pintu itu semakin keras, sedangkan Gibran masih diam tak bergerak dari tempatnya ia berbaring, hingga akhirnya dengan terpaksa Delia berdiri dari sofa itu dan menuju ke pintu untuk membukanya.


Suara pintu terbuka menghentikan si pengetuk pintu. Setelah dibuka ternyata dia Kalina, adik perempuan Gibran, Delia mencoba tersenyuman dengan ramah.


"Kakak, maaf Kalina mengganggu ya!" ucap Kalina, wajahnya langsung menampakkan penyesalan.


"Tidak, Dek! Kebetulan kakak belum tidur!" ucap Delia.


"Ya sudah, Kak! Kalina hanya ingin memberikan ini untuk kakak, biar kakak nyaman tidurnya." ucap Kalina sambil memberikan sebuah baju tidur tanpa lengan.


"Di pake ya kak!" ucap Kalina kemudian pergi meninggalkan Delia yang masih terbelalak karena baju tidur itu.


Sungguh baju tidur itu sangat menggelikan bagi Delia, ini pertama kalinya dia memakai pakaian mini seperti ini, walau tidak terawang namun Delia sungguh tak biasa memakai baju seperti itu. Tapi dari pada dia harus tidur dengan pakaian pengantin? Akhirnya dengan terpaksa Delia pergi ke kamar mandi kamar Gibran untuk mengganti pakaiannya.


Masuk ke kamar mandi Gibran membuat Delia melongo lagi, bagaimana tidak, kamarnya saja mewah, apalagi kamar mandinya.


Delia membuka satu persatu pernak-pernik yang menempel di kepalanya. Saking banyaknya hal itu hingga membutuhkan waktu beberapa menit, hingga ia bisa membuka mahkotanya. Rasa berat yang sedari tadi dirasakan oleh kepalanya berangsur menghilang, membuat Delia bernafas lega. Delia juga menanggalkan kerudungnya yang sedari tadi basah kerena keringat. Delia diam sejenak merasakan kepalanya yang sejuk karena sudah terbebas dari segala yang tertempel di kerudungnya tadi.


Setelah cukup, Delia kembali mencoba membuka baju pengantinnya itu, namun Delia nampak kesusahan, karena baju pengantin itu dirancang tak memakai resleting melainkan memakai kancing belakang, dan harus ada yang membantu untuk membukanya.

__ADS_1


"Tidak! Bagaimana ini? Tuhan, ujian apa lagi yang kau berikan pada hambamu ini!" Delia berucap sendiri saking frustasinya.


Delia tak putus asa, dia mencoba menggapai kancing-kancing itu, namun tetap tak bisa, mencoba lagi akhirnya bisa, namun hanya satu kancing yang paling atas.


Delia terus berusaha menggapai kancing yang lain, tapi nihil, hanya sia-sia, hanya membuang tenaga.


'Siapa yang akan aku mintai tolong!!!' ucap Delia dalam hati, mau memanggil orang-orang dirumah Gibran, jelas tidak mungkin, mereka terlalu jauh untuk Delia panggil, mau keluar kamar sambil memanggil mereka satu per satu, sungguh terlalu buruk untuk melakukan hal itu, pasti tidak lucu jika Delia keluar dalam keadaan seperti saat ini dan meminta tolong kepada mereka hanya untuk membukakan kancing. Sungguh tidak lucu jika dibayangkan.


Satu-satunya orang yang ada didekatnya saat ini hanya manusia menyebalkan itu. Tapi sungguh Delia tak berniat meminta tolong padanya, lebih baik dia membuka sendiri kancing-kancing itu, dia akan berusaha sekeras mungkin agar tangannya bisa menggapai kancing-kancing dibelakang punggungya itu.


Tapi ini sudah berjalan satu jam, Delia masih berada di kamar mandi itu, dan tak ada satu kancing pun yang berhasil dia bibuka kecuali kancing yang paling atas tadi. Hingga Delia kelelahan dan rasanya ingin pingsan karena berlama-lama di kamar mandi. Dengan terpaksa Delia pun memanggil si manusia menyebalkan itu, dia buang semua ego, gengsi dan keangkuhannya hanya untuk memanggil Gibran, itupun jika Gibran bersedia untuk membantunya, semoga saja Gibran mau dan Delia bisa terbebas dari siksaan baju pengantin Sialan ini.


"Gibran!!" teriak Delia, namun tak ada respon.


"Gibran!!!" teriak Delia hingga membuat Gibran tersadar dari tidurnya dan langsung terbangun, ia menoleh ke arah sumber suara. Dan melihat kepala Delia nampak nongol dari pintu kamar mandi. Karena masih setengah sadar membuat Gibran kaget dan terlonjak.


"Astaugfirullah hal adzim! Apa-apaan sih! Bikin kaget saja!" ucap Gibran sedikit dongkol.


"Pleace!! Kali ini aku minta tolong!" ucap Delia memohon. Gibran mengusap kasar wajahnya dan langsung turun dari tempat tidur dan menghampiri Delia.


"Ada apa?" ucap Gibran dengan nada tak suka.

__ADS_1


"Tolong bukakan kancing baju ku, aku sudah satu jam lebih berada di kamar mandi, tapi aku tak bisa menggapai kancing-kancing ini!" ucap Delia frustasi, suaranya bergetar menahan tangis. Namun mendengar itu sontak tawa Gibran pun meledak karena membayangkan gadis di depannya ini yang selalu terlihat sok judes itu mengalami hal memalukan seperti itu.


"Sudah berhenti jangan mentertawakanku terus, cepat buka kancing bajuku!" ucap Delia sedikit berteriak karena dongkol dengan Gibran yang terkesan meledeknya itu.


"Oke, oke!" ucap Gibran, namun masih tertawa walau tidak keras.


Delia sungguh menghilangkan urat malunya, dan menebalkan mukanya dihadapan laki-laki menyebalkan itu.


Gibran mulai menyentuh gaun Delia itu, tapi perasaan aneh tiba-tiba menyeruak dipikirannya, hatinya tiba-tiba berdesir. Entah perasaan apa ini, mungkin karena ini pertama kalinya ia sedekat ini dengan lawan jenisnya. Gibran mulai membuka satu kancing namun hawa panas rasanya menyerang tubuhnya hingga sedikit mengeluarkan keringat didahinya.


Dan terus membuka kancing-kancing itu hingga terpampang nyata sebuah pemandangan yang tak pernah ia lihat sebelumnya, pemandangan unik dan indah hingga hampir saja menggoyahkan imannya, Delia memang istri sahnya, namun dia tak mungkin melakukan hal sejauh itu sebelum hati mereka sama-sama terima dan siap, namun menunggu hal itu, entah sampai kapan hati mereka bisa siap dan menerima satu sama lain. Hingga kancing terakhir berada di sebelah pinggul tengah.


Sedangkan Delia jangan ditanya lagi, sedari tadi dia menahan nafas merasakan sentuhan lelaki itu. Gibran merasakan aroma tubuh Delia, hingga rasanya membuat Gibran candu akan aroma itu.


"Sudah!" ucap Gibran tanpa penekanan.


"Oh, Terimakasih!" ucap Delia, sedikit malu.


Karena tak ingin berada dalam situasi seperti itu terus-menerus Gibran langsung pergi meninggalkan Delia, dan Delia hanya bisa memandang punggung Gibran itu.


Dan akhirnya Delia bisa melepaskan baju pengantin itu dengan mudah dan segera ia mengganti pakaiannya dengan baju tidur yang Kalina berikan untuknya.

__ADS_1


Setelah selesai Delia keluar dari kamar mandi dan mendapati Gibran sudah berada di atas kasur dengan posisi miring membelakanginya. Delia pun langsung menuju ke sofa dan tidur disana, akhirnya kini dia bisa tidur dengan nyaman.


Bersambung....


__ADS_2