Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin

Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin
Bab 8 Surat Cinta


__ADS_3

Flashback


Pondok Pesantren Darul Ulum, Padang.


Udara panas siang ini begitu terasa oleh Delia, terlebih lagi dia baru saja selesai sidang skripsinya. Delia melangkah melewati gerombolan mahasiswa yang sedang membicarakan sidang yang baru saja terjadi. Ia sungguh sangat malas kalau harus membahas sidangnya yang tak kunjung berakhir. Untungnya, salah satu dosen cukup bijak menghentikan diskusi panjang antara Delia dan dosen berkulit putih berhidung mancung khas orang arab, ia biasa dipanggil 'Habib' oleh para mahasiswa, karena penampilannya yang tampak glamour. Sidangnya lumayan membuat Delia benar-benar sekarat dan berusaha merangkak dari argumennya ke karya tulis yang sudah ia buat beberapa bulan terakhir untuk melindungi dirinya dari terkaman pertanyaan-pertanyaan mematikan itu. Syukurlah, sepertinya semua dosennya merasa puas dengan semua penjelasan Delia yang cukup detail tentang skripsinya.


Delia berjalan menuju kanopi dengan meja bulat dan dua kursi santai bertengger disana, gadis yang sangat Delia kenal sudah menunggu disana, Delia mempercepat langkahnya ia langsung menepuk bahu Hana dan menyapanya bak orang yang tak pernah bertemu selama sebulan.


"Hoy !!!" sapa Delia.


"Kau mengagetkanku!" omel Hana sambil membenarkan letak kerudungnya yang sedikit miring. Delia pun membungkuk beberapa kali dan meminta maaf dengan gaya penuh penyesalan. Dan Hana pun tergelak melihat tingkah Delia dengan gaya berlebihan itu.


"Stop! Jangan terus melakukan gerakan itu, aku pusing melihatnya!" ujar Hana


"Oh iya, kau lihat ini!" Hana menunjukkan sebuah kertas dengan tulisan tinta bermacam-macam warna dan Delia pun merampasnya lalu membaca isinya.


Alis Delia seketika terangkat hingga membuat kerutan samar di dahinya.


"Apakah ini surat cinta?"


Hana hanya mengangguk sambil tersenyum geli.


"Dari mana kamu mendapatkannya?" tanya Delia, dia nampak terkejut karena di pondok pesantrennya hal yang dinamakan pacaran itu tidak boleh, dan haram hukumnya, bahkan ada sangsi tegas bila sampai ada yang melanggarnya, memang pacaran itu tidak ada di islam, yang ada hanya ta'aruf.


Tiba-tiba Delia semakin terkejut melihat siapa pengirim surat itu.


"Tunggu, Aulia Nafisah? Apakah ini Ustadzah Aulia pengirim surat ini ?"


Ujar Delia setengah tak percaya, bagaimana tidak, Santri senior seangkatan Delia itu memang terkenal tegas dan bahkan sering menghukum para santriwati yang ketahuan pacaran, dia yang selalu memberi wejangan bagi para santri junior untuk slalu menghindari bahkan menjauhi apa yang dinamakan pacaran, memang santri yang sudah kuliyah disana biasa dipanggil ustadzah oleh santri-santri junior dibawahnya, Delia juga di panggil dengan sebutan ustadzah, karena dia termasuk santriwati yang sudah senior.


"Aku menemukan ini saat aku membersihkan musholla tadi pagi!"


Delia membaca lagi surat itu dan disitu tertulis bahwa surat itu ditujukan untuk seseorang bernama 'Hamdan'.

__ADS_1


"Siapa Hamdan?"


"Dia mungkin Ustadz Handan!"


"Oh, ustadz Hamdan yang seorang hafiz itu kah ?" tanya Delia, dia tau tentang ustadz Hamdan yang memang terkenal di pesantrennya karena dia seorang hafiz dan suara lantunan qori'nya yang sangat merdu itu. Walau sekalipun Delia tak pernah bertemu bahkan tak pernah tau wajah dari Ustadz Hamdan, Delia hanya bisa mendengar suara lantunan qori'nya yang terdengar hingga ke sakan putri karena memang antara sakan putra dan sakan putri terdapat tembok pembatas yang sangat tinggi, dan siapapun yang berani melewati tembok pembatas itu, maka akan mendapatkan sangsi tegas dari Kyai, jangankan sampai melewati, ketahuan ada yang berani mengintip saja sudah pasti mendapat hukuman.


"Jadi, apakah Ustadzah Aulia ini mengungkapkan isi hatinya pada ustadz Hamdan?"


"Bisa jadi begitu, dari kata-katanya saja sudah jelas, bagaimana kalau kita kekamarnya sekarang dan meminta penjelasannya, sebelum kita memberi tahu pada Pembina Sakan, biar dia yang memberi tahu pada Pak Kyai nanti."


Delia berpikir sejenak dan mengangguk setuju dengan ide Hana, mereka berdua akhirnya memutuskan kembali ke sakan untuk menemui Ustadzah Aulia dikamarnya.


...****************...


Delia dan Hana mengetuk pintu bertuliskan nomor beserta penghuninya, beberapa kali mereka mengetuknya, dan akhirnya seseorang dengan mata sayu hijau membuka pintu untuk mereka berdua.


"Ustadzah Delia, Ustadzah Hana !"


Ucapnya sangat santun, dia adalah Hafsah, santri junior yang keturunan Arab-Indonesia, wajahnya sangat khas.


"Ada, Ustadzah berdua silakan masuk saja, biar Hafsah panggilkan ustadzah Aulia."


Ucapnya dengan senyum. Delia dan Hana pun masuk ke ruang tamu yang sangat sempit itu, karena memang tiap kamar ada ruang tamunya walau sempit dan hanya muat untuk tiga orang saja.


Beberapa saat kemudian, ustadzah Aulia datang dengan wajah bingung karena merasa tak punya janji dengan Delia maupun Hana.


"Kalian mencariku?" ucapnya, logatnya begitu kental khas melayu, karena dia memang berasal dari kota Aceh.


"Benar ustadzah, kami mencarimu!" ucap Delia mencoba santun walau lawan bicara mereka seperti agak sinis, maklum dia adalah ustadzah yang terkenal tegas dan galak.


"Ada sesuatu yang ingin kami bicarakan denganmu ustadzah!" ucap Hana, dia sedikit tidak suka melihat ustadzah Aulia yang terkesan memandang rendah lawan bicaranya.


"Iya, bicara saja, dan cepat, karena saya masih banyak urusan!" tak ada senyum, yang ada hanya wajah sinis.

__ADS_1


Delia pun membuka tasnya dan mengambil sebuah amplop biru, dan bisa ditebak, saat melihat itu, wajah Ustadzah Aulia langsung berubah tegang.


"Kami ingin bicara soal ini!"


Ucap Delia, kini Delia puas sudah membuat sang ustadzah ketakutan dan malu.


"Jangan disini, kita pergi ke tempat lain saja," potong ustadzah Aulia, dan wanita itupun mengajak Delia dan Hana ketempat yang sepi orang tepatnya disebuah gedung serbaguna yang biasa digunakan para santriwati untuk mengadakan liqa' bersama.


Sebelum Delia berbicara lebih lanjut, ustadzah Aulia sudah berkomentar lebih dahulu.


"Kalian menemukan ini dimana?"


"Sebenarnya kami tidak sengaja menemukan surat ini di musholla, dan disitu tertulis nama ustadzah, apa benar ini surat cinta ustadzah!" ucap Hana, kali ini dia berbicara sungguh tegas dari biasanya, dan berhasil membuat ustadzah Aulia menunduk malu.


"Iya, ini punya saya, tapi saya mohon jangan beri tahu siapapun perihal ini, saya tahu saya salah karena telah melanggar peraturan " ucapnya dengan penuh permohonan sambil memegang erat tangan Delia dan Hana.


"Mengapa ustadzah melakukan hal yang sangat beresiko seperti ini, jika ada anak santri junior yang mengetahui atau menemukan surat ini, apa tidak mungkin jika mereka akan mencontoh yang ustadzah lakukan!" ucap Delia


"Iya, saya janji tidak akan melakukan hal ini lagi !"


"Tapi, kalau boleh tau, apakah ustadzah pernah bertemu dengan ustadz Hamdan sebelumnya, kenapa bisa ustadzah menyatakan perasaan hatimu padanya?"


Tanya Delia. Ustadzah Aulia diam sesaat, dia tak yakin apakah dia akan bercerita, namun akhirnya diapun bersedia menceritakannya.


"Sebenarnya saya mencintainya melalui lantunan qori' yang selalu ia lantunkan setiap senja dari sakan putra, dari situ sayapun mencari tau tentang dia, dari sepupu laki-laki saya yang kebetulan sekamar dengan ustadz Hamdan, dia menceritakan kepribadian dan ahlak dari ustadz Hamdan yang sangat alim, dan saya semakin jatuh hati, dan saya tau wajahnya dari sebuah foto, sepupu saya yang memberikan pada saya." ucap ustadzah Aulia dengan pipi bersemu merah ia menceritakan pada Delia dan Hana, sedangkan Delia dan Hana hanya bisa menahan nafas karena mereka tidak menyangka bahwa hanya mendengar lantunan qori' saja bisa membuat seseorang jatuh cinta, itu sungguh luar biasa bagi Delia dan Hana yang memang kuper tentang pacaran, bertahun-tahun mereka berada di dalam penjara suci dengan aturan-aturan yang membelenggu.


"Tapi tenang saja, aku tak akan membuat asrama putri malu karena ulah seorang ustadzah yang melanggar peraturan!" ucap ustadzah Aulia diwajahnya nampak raut menyesal, tapi ada ekspresi yang tak bisa ditafsirkan oleh Delia dan Hana.


Merekapun saling berjabat tangan.


"Terimakasih sudah memperingatkanku !"


Ucap ustadzah Aulia lagi dengan senyum yang tulus.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2