Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin

Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin
Bab 37 Kecemburuan Delia


__ADS_3

Pak Edo masih termenung, sambil sesekali ia menatap wanita didepannya itu yang saat ini sedang menikmati susu hangatnya. Berat rasanya jika harus melupakan wanita itu, namun dia harus bisa menguburnya dalam-dalam perasaannya ini.


"Apakah Gibran akan datang?" tanya Pak Edo pada Delia yang saat ini sedang mencoba menghubungi Gibran.


"Entahlah dimana dia saat ini, kenapa sangat sulit dihubungi!" ucap Delia sedikit murung.


"Mungkin dia masih sibuk!" kata Pak Edo.


"Ah sudahlah, mungkin dia benar-benar sibuk dan tidak bisa bergabung dengan kita!" ucap Delia sambil terus menyeruput susunya, sepertinya saat ini dia sudah bisa lebih relax, mereka saat ini sedang duduk di sebuah gasebo didekat kantin.


"Sepertinya saya sudah lebih relax! Pak Edo, terima kasih karena bapak sudah mentraktir saya!" ucap Delia dengan tulus pada pria berkaca mata itu.


"Jangan berlebihan Delia, jika kau mau kau bisa sekalian pesan makanan, biar saya yang membayar!"


"Tidak perlu repot-repot Pak, sepertinya saya harus segera kembali ke perpustakaan, karena pekerjaan saya masih banyak saat ini!" ucap Delia sambil bangkit dari duduknya.


"Sekali lagi terima kasih Pak Edo!" ucap Delia lagi, dengan senyum manisnya itu mampu meruntuhkan hati Lelaki.didepannya itu.


"Iya Delia, tidak usah sungkan!" Pak Edo kemudian hanya bisa menatap punggung wanita itu dari balakang yang kemudian trus menjauh dan menghilang. Pak Edo kemudian bisa bernafas panjang dan juga ikut bangkit dari duduknya dan pergi dari kantin.


...****************...


Delia berdiri di gerbang kampus, baru saja Gibran menelephonnya agar dia menunggu di sana, rupanya Gibran sedari tadi ada urusan diluar kampus dan saat ini Gibran menuju ke kampus untuk menjemput Delia. Jam pulang Delia sudah setengah jam yang lalu, Delia dengan setia menunggu Gibran. Seharian ini dia tak bertemu dengan Zahra, tak mungkin Gibran tak mengatakan pada gadis itu tentang pernikahannya dengan Delia. Apa mungkin karena itu Zahra menjadi marah padanya dan tak mau lagi bertemu dengan Delia? Namun Delia tak mau berprasangka buruk terhadap gadia itu, atau bisa jadi hari ini Zahra memang tidak masuk kuliyah, mungkin saja.

__ADS_1


Suara klakson mobil tiba-tiba menyadarkan Delia dari lamunannya, dia segera beranjak dan menuju mobil itu yang tak lain adalah mobil Gibran. seharian tak melihat wajah suaminya itu sungguh membuat Delia menjadi rindu, Delia sedikit mempercepat langkahnya dan langsung membuka pintu depan dan masuk kedalam mobil, mobilpun melaju dijalan beraspal dengan kecepatan sedang. Seorang lelaki berkaca mata yang sedari tadi memeperhatikan Delia dari jauh, itupun menjalankan mobilnya dan meninggalkan kampus.


"Dari mana saja seharian tak dikampus?" tanya Delia sedikit heran, yang ditanya masih fokus dengan setirnya tanpa memperdulikan Delia yang bertanya, namun seketika Delia menemukan sebuah buku milik Zahra berada di dashboard mobil.


"Sayang, apakah seharian ini kau jalan dengan Zahra?" tanya Delia, dengan tatapan menyelidik.


"Apa?" tanya Gibran, sedikit bingung mau menjawab apa, sebenarnya dia memang tadi mengantar Zahra namun pertanyaan Delia itu kurang tepat, seakan dia pergi karena urusan pribadi dengan Zahra, padahal dia hanya mengantar Zahra ke rumah sakit karena ibu Zahra sedang dirawat disana, hanya itu tujuan Gibran, tidak yang lain-lain, namun sepertinya Delia beranggapan lain.


"Aku tanya, apakah kau seharian ini bersama Zahra? Sampai aku telephon kau tak mengangkatnya!" suara Delia sudah mulai bergetar.


"Kamu tenangkan dulu pikiranmu, jangan berpikir yang tidak-tidak!" ucap Gibran sambil tetap fokus mengemudi, percuma menjelaskannya jika Delia masih termakan api cemburu, yang ada akan menambah suasana di dalam mobil ini mrnjadi semakin panas.


"Gibran, kenapa kau tak menjawab pertanyaanku?" kali ini Delia benar-benar tak bisa lagi menahan emosinya. Bahkan dia memanggil Gibran hanya dengan nama saja.


"Pergi kemana kau dari tadi dengannya?" kali ini air mata Delia tak bisa terbendung lagi, sungguh Gibran tak mau Delia salah paham, namun dia ingin menjelaskannya dirumah saja.


"Delia, tenangkan pikiranmu, aku akan menjelaskannya di rumah, kau tenang dulu ya!" Gibran semakin mempercepat laju mobilnya, agar segera sampai dirumah.


Beberapa menit kemudian, mobilpun telah sampai dan masuk ke halaman rumah mereka, Gibran segera turun dan kemudian ia segera membukakan pintu mobil untuk Delia, namun Delia hanya diam tak mau menatap pada Gibran, sepertinya dia benar-benar sangat marah pada suaminya itu.


"Sayang! Turunlah, aku akan menjelaskannya di dalam rumah!" ucap Gibran lembut, namun Delia tak menghiraukan perkataan Gibran, Delia masih diam dan enggan untuk menatap pada suaminya itu. Hingga tak ada cara lain bagi Gibran membujuk Delia, akhirnya Gibtan berinisiatif menggendong Delia untuk masuk ke dalam rumah.


"Gibran, apa yang kamu lakukan?! Turunkan aku!" teriak Delia sambil meronta-ronta. Namun Gibran tetap tak perdulikan terikan Delia itu, dia terus saja berjalan melewati ruang tamu, walaupun kini dirinya dipukuli oleh tangan lemah Delia.

__ADS_1


"Kau jahat Gibran, aku benci sama kamu!" kali ini Delia menangis kencang. Gibran terus berjalan memasuki kamar mereka lalu meletakkan Delia ke atas kasur, walaupun Delia kini semakin menangis.


"Bisakah kau tenangkan dulu emosimu itu!" kata Gibran sambil menahan tubuh Delia yang meronta itu dengan cara menindihnya, membuat Delia kini menangis tanpa suara, nafas mereka kini sama-sama memburu karena emosi yang meledak-ledak.


Melihat Delia kini sedikit tenang, Gibran pun melonggarkan tindihannya lalu dia sedikit mengatur nafas.


"Aku heran, kenapa semua wanita selalu tak terkendali saat dia sedang cemburu!" ucap Gibran sambil menatap Delia yang sedang diam namun matanya terus menangis.


"Aku tak pernah ada pikiran untuk mengabaikanmu, tadi aku sudah menjelaskan semuanya pada Zahra perihal pernikahan kita." kata Gibran mencoba menjelaskan secara hati-hati pada wanitanya itu.


"Kau tau apa yang terjadi?" kata Gibran mencoba mengalihkan perhatian Delia yang sedari tadi seakan tak menghiraukan Gibran.


"Dia memang terlihat sedih, namun juga dia bisa menerima itu semua bahkan dia berniat ingin meminta maaf kepadamu!" kata Gibran sambil mengusap kening Delia.


"Pergi kemana kau bersama Zahra?" tanya Delia, yang mulai bereaksi namun tatapannya masih enggan menatap Gibran.


"Aku mengantar dia kerumah sakit, karena dia dapat kabar bahwa ibunya dirawat disana, jadi aku langsung mengantarnya kerumah sakit!" kata Gibran.


"Mengapa kau tak menjawab telphone ku?"


"Soal itu maaf, karena HP ku tertinggal di mobil saat aku dirumah sakit, kumohon maafkan aku, jangan marah lagi!" ucap Gibran sambil mencium kening Delia.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2