Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin

Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin
Bab 36 Perasaan Pak Edo


__ADS_3

Delia sedang mengisi buku register di perpustakaan, banyak buku baru yang masuk hari ini, dan sepertinya Delia akan lembur, apa lagi besok Delia akan mengambil cuti selama satu minggu karena akan berangkat ke Paris bersama Gibran untuk berbulan madu, jika hari ini tidak diselesaikan pasti akan meninggalkan banyak tugas, pikiran Delia benar-benar berfokus pada pekerjaan hari ini, sebenarnya dia tidak enak hati pada Pak Edo dan staf-staf yang lain, karena Delia termasuk staf baru di perpustakaan sudah mau mengambil cuti, tapi mau bagaimana lagi.


Mengingat Pak Edo, Delia jadi ingat pada Zahra, Gibran berjanji akan memberitahukan yang sebenarnya pada mereka hari ini, dan Delia mulai menduga-duga tanggapan mereka dengan semua kenyataan ini, semoga mereka bisa menerima dan masih tetap bersikap seperti biasa pada Delia, itu harapan Delia, kini pikiran fokus Delia mulai terpecah gara-gara menduga-duga hal itu. Delia mulai sedikit gelisah. Delia melihat pada jam dinding, biasanya pada jam-jam ini Gibran sudah muncul menemuinya, mungkin Gibran masih ada urusan, atau jangan-jangan dia sedang bersama Zahra. Delia benar-benar tidak bisa fokus, Delia pun memutuskan turun sebentar untuk membeli susu hangat agar pikirannya lebih rileks.


Saat Delia baru sampai di lantai bawah perpustakaan dia melihat Pak Edo dan kebetulan Pak Edo juga sedang melihat pada Delia, seketika Pak Edo pun menatap pada Delia dengan tatapan yang tak bisa Delia artikan, Delia berjalan menuju pintu keluar dengan pandangan menunduk, namun tiba-tiba Pak Edo memanggilnya.


"Delia!" panggil Pak Edo, Delia pun langsung menoleh.


"Iya Pak!" jawab Delia dan seketika Delia menghampiri lelaki berkaca mata itu. Namun Pak Edo seperti sedang bingung menyusun kata-katanya, dia hanya bisa menatap Delia saat wanita itu mendekatinya, mendekati mejanya lebih tepatnya.


"Ada apa Pak Edo? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Delia sedikit kikuk, namun sebenarnya dia sudah bisa menduga apa yang sebenarnya lelaki itu ingin sampaikan.


"Tadi saya bertemu dengan Gibran!" ucap Pak Edo, dia masih berusaha menyusun kata-katanya. Namun mendengar itu Delia sudah pasti bisa menebak arah pembicaraan Pak Edo.


"Dia bercerita banyak pada saya! Tentang hubungan kalian!" seperti sebuah balon yang penuh dengan air kemudian di pecahkan dan air itu pun mengalir dengan deras, seperti itu yang dirasakan oleh hati Delia, kini seakan ada sebuah beban telah luruh sedikit demi sedikit, walau pun tak semuanya.


"Kenapa kalian harus merahasiakan pernikahan kalian?" ucap Pak Edo dengan suara datar namun sedikit bergetar, mendengar itu Delia langsung menatap pada Pak Edo.


"Maafkan saya Pak! Sebenarnya kami tidak bermaksud...." belum selesai Delia berbicara Pak Edo langsung menanggapinya dengan tawa.


"Tidak apa-apa Delia, santai saja! Saya turut senang mendengarnya!" ucap Pak Edo.


"Bapak tidak marah?"


"Astaga, apa yang kau pikirkan, tentu saja aku tidak marah!" masih dengan raut ceria. Mendengar itu seketika Delia tersenyum bahagia, dan senyum itu mampu membuat lelaki di depannya itu tak tahan menatapnya.

__ADS_1


"Makasih Pak, sebenarnya saya tak enak hati pada Bapak, sebenarnya alasan saya ambil cuti besok karena saya akan berbulan madu sama Gibran!" ucap Delia, dengan lancarnya dia mengucapkan itu seakan hati lelaki berkaca mata di depannya itu terbuat dari batu.


"Oh!" ucap Pak Edo, seperti ada ratusan jarum yang menusuk hati dan lidahnya hingga lidahnya menjadi kelu dan tak bisa berkata apa-apa.


"Iya Pak, kami akan berbulan madu di Paris!" tambah Delia dengan wajah berbinar-binar.


"Selamat ya Delia, semoga hari-harimu bahagia di sana!" ucap Pak Edo, tanpa sadar tangannya kini mengusap dadanya, seperti ada batu besar yang menghimpit dadanya. Begitukah rasanya bila cinta bertepuk sebelah tangan, sialnya lagi wanita yang dicintainya ternyata adalah milik orang lain, apalagi hati sudah terlanjur berharap.


"Ada apa dengan Bapak?" tanya Delia yang menyadari perubahan wajah Pak Edo.


"Saya tidak apa-apa! Tapi saya masih penasaran, kenapa kalian merahasiakan status pernikahan kalian waktu itu?" tanya Pak Edo, mencoba mengalihkan.


"Hmmm!! Apa bapak tidak menanyakan hal itu pada Gibran?" Delia malah balik tanya.


"Tidak, Gibran hanya mengatakan bahwa kalian sebenarnya sudah menikah." Delia hanya manggut-manggut.


'Suami!!??? Ah... Ternyata mendengar kata itu dari mulut Delia rasanya lebih menyakitkan dari pada mengetahui fakta bahwa mereka telah menikah!!'


Pak Edo kini mengusap lagi dadanya yang sedari tadi semakin sesak saja dirasakan.


"Ya-ya! Saya paham, bahwa seorang istri memang harus patuh dan taat pada suaminya!!" ucap Pak Edo sambil manggut-manggut.


"Iya Pak, sekali lagi maafkan saya karena selama ini saya tidak jujur pada bapak!" ucap Delia dengan tulus.


"Iya Delia, santai saja, justru saya kaget ketika mendengar hal itu dari Gibran."

__ADS_1


Mereka pun meneruskan percakapan itu dengan urusan pekerjaan, dan kini hati Delia sudah mulai tenang, walau dia tidak tau bagaimana tanggapan Zahra, namun yang terpenting Pak Edo sudah bisa menerima dan bahkan dengan berbesar hati memaafkan ketidak jujuran Delia itu.


Lain dengan yang dirasakan oleh Pak Edo, lelaki berkaca mata itu benar-benar hancur hatinya, dia memang berharap pada wanita cantik didepannya itu, dia berencana ingin mengajaknya dinner malam ini, dan akan menyatakan perasaan yang sebenarnya pada Delia, namun pagi tadi Gibran malah mengungkapkan sesuatu yang benar-benar tidak ingin dia dengar bahkan berharap hal itu hanyalah mimpi, namun ungkapan dari Delia membuat dia tersadar bahwa kenyataan yang sebenarnya lebih menyakitkan. Hingga semua rencana yang ia rancang sebelumnya hancur berantakan, itulah mimpi yang sebenarnya. Beruntung dia belum sempat mengungkapkan yang sebenarnya pada Delia, minimal dia bisa menyembunyikan perasaan hancurnya di hadapan gadis impiannya itu, dan entah sampai kapan dia bisa menyembunyikan semua ini, dia harus bisa melupakan semuanya, melupakan senyum gadis itu, melupakan tatapan gadis itu, dan melupakan semua tentang gadis itu, namun apakah dia mampu? dia harus mampu.


"Delia, apakah kau sudah selesai dengan pekerjaanmu?" tanya Pak Edo sambil menatap Delia, jujur, walau dia tak bisa memiliki gadis itu, namun bisa sedekat ini dengannya sudah membuatnya bahagia.


"Belum pak, sebenarnya saya ingin ke kantin, mau membeli susu hangat, namun bapak memanggil saya, jadi saya urung ke kantin!" ucap Delia sambil nyengir.


"Oalah, jadi kau ketagihan susu hangat? Ya-ya, kau jangan terlalu banyak minum minuman bercaffein, susu hangat lebih baik!" ucap Pak Edo sambil tersenyum.


"Hehe! Iya sih pak, gara-gara bapak sering memesankan saya susu hangat jadi saya ketagihan sekarang!"


"Baiklah, jika tidak keberatan kita ke kantin bareng, akan aku traktir kau susu hangat disana!" Delia sedikit menimbang ucapan Pak Edo.


"Sudah, jangan banyak mikir, anggap saja ini adalah traktiran untuk pengantin baru, haha!"


Delia tertawa mendengar ucapan terakhir Pak Edo, akhirnya mereka pun pergi ke kantin.


"Boleh saya mengajak suami saya pak?"


"Sangat boleh, sekalian saya teraktir kalian berdua!" ucap Pak Edo tulus.


"Terima kasih banyak Pak Edo!" Pak Edo hanya menganggukkan kepalanya. Sungguh dia tak bisa menolak apapun permintaan wanita itu.


Bersambung....

__ADS_1


😘😘😘😘😘😘 buat kalian yg selalu mendukung karya ku💓💓💓


__ADS_2