Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin

Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin
Bab 31 Kedatangan Keluarga yang tak terduga


__ADS_3

Sudah bisa ditebak, apa yang dilakukan Delia dan Gibran setelah membeli lingerie di mall tadi, mereka dengan sangat bersemangat dan ingin segera merasakan sensasi dari lingerie itu, sebenarnya yang lebih bersemangat adalah Gibran, sedangkan Delia masih sedikit risih dengan pakaian yang minim kain itu, namun demi membuat sang suami senang dia pun mencoba satu per satu dari lingerie itu.


Mereka sedang berada di kamar Gibran, dan Gibran sudah mengunci kamar itu walau dirumah sebenarnya mereka hanya berdua.


Lingerie yang Delia pakai pertama kali adalah yang berwarna dusty, itu adalah pilihan Delia karena modelnya seperti dress mini dengan panjang di atas lutut, dilengkapi dalaman seperti CD dan BH dengan warna senada, walau lebih panjang dari kedua lingerie yang lain tapi kainnya sangat terawang dan sangat nampak **********. Gibran yang melihat Delia mengenakan lingerie itu benar-benar tak sabar ingin menerkam istrinya itu, namun dia masih berusaha sabar mengendalikan Mr.Joni yang sudah menegang dari balik cel4nanya itu.


Delia menghampiri Gibran sambil berlenggak-lenggok agar terlihat menggoda. Gibran sudah tidak tahan melihat Delia yang terkesan sexy karena lingerie itu.


"Sayang! Bagaimana? Sudah terlihat sexy belum?" tanya Delia yang semakin bergerak berani sambil menyentuh dagu Gibran, sedangkan Gibran tak menjawab, dia hanya meraih tangan Delia dan menariknya agar Delia mendekat.


"Kau sangat luar biasa sayang!" ucap Gibran lalu mengecup bibir Delia.


Merekapun saling berpagut, dan semakin lama semakin panas, hingga Gibran menggendong tubuh Delia dan membawanya ke atas kasur, mereka saling memberikan sentuhan-sentuhan cinta yang bergairah, Gibran begitu bersemangat membuka seluruh pakaiannya dan membuangnya jauh entah kemana, sedangkan Delia menggeliat-geliat keenakan karena Gibran kini berada di atas tubuhnya sambil melahap gunung kembarnya. Ya mereka sedang melakukan pemanasan yang begitu panas.


Hingga mereka sudah akan melakukan gerakan inti, namun tiba-tiba suara bell rumah mereka berbunyi, membuat mereka terperanjat, tapi Gibran berusaha tak memperdulikan siapa yang telah mengganggu kesenangan mereka, Gibran ingin meneruskan aktifitasnya dengan Delia, namun suara bell itu mengganggu sekali, seperti sangat mendesak, membuat Delia sudah tidak bisa melanjutkan lagi aktifitasnya dengan Gibran. Gibran benar-benar sangat sebal dibuatnya. Tiba-tiba suara dering telephon milik Gibran mengalihkan perhatian Gibran dan Delia. Gibran mengambil telephonenya yang berada di saku celana yang telah ia lempar di sudut kamar. Saat Gibran mengambil Handphonenya dia terperanjat karena yang menelephone adalah Ibu, Gibran segera mengangkat panggilan itu.


"Assalamualaikum, iya ibu!?" ucap Gibran, mengawali panggilan itu.


"Iya, Gibran sedang dirumah!"


"Delia! Dia bersamaku sekarang!"


"Apa?!!!!" Gibran memekik membuat Delia langsung terperanjat, dia takut ada apa-apa yang tak mengenakkan, Delia segera membetulkan lingerienya yang sudah merosot ke pinggang akibat aktifitasnya tadi dengan Gibran.


"Sayang!! Cepat kau pakai bajumu, Ibu dan ayah ada di depan rumah, mereka datang kesini!" ucap Gibran yang juga langsung mencari baju-bajunya yang terlempar jauh tadi. Delia pun lari cepat ke kamarnya sendiri untuk mengambil baju di lemarinya. Walau mereka kini sudah tidur seranjang, namun barang-barang mereka masih terpisah berada di kamar masing-masing, mereka masih belum sempat menempatkan barang-barang mereka menjadi satu. Akhirnya Delia dengan cepat mengganti bajunya dan langsung mengenakan baju jubah beserta kerudungnya yang dia ambil secara asal. Setelah selesai Delia dan Gibran sama-sama keluar dari kamar, Gibran sudah memakai kaus oblong dan celena pendek, Delia sedikit aneh dengan baju yang Gibran kenakan itu, namun karena keburu dia tak begitu memperhatikan letak keanehan dari baju Gibran, dia terus berjalan dan merekapun bersama-sama menuju ruang tamu dan membuka pintu untuk menyambut Ibu dan Ayah Gibran yang tiba-tiba datang berkunjung tanpa kabar itu.


Setelah pintu terbuka, tiba-tiba..

__ADS_1


"Surprise!!!" kata mereka, ternyata bukan hanya ibu dan ayah Gibran yang datang, melainkan, ibu dan ayah Delia serta Kalina dan Dimas juga datang, membuat Gibran dan Delia benar-benar dibuat kaget dan sedikit kelabakan dibuatnya. Gibran dan Delia hanya bisa tersenyum kaku karena tak mengira mereka semua akan datang berkunjung.


"Aduh, lama banget sih yang mau buka pintu, ngapain aja sih dari tadi!?" celetuk Kalina membuat Delia sedikit menegang mendengarnya.


Delia dan Gibran hanya bisa membalas salam dan membalas pelukan mereka satu persatu tanpa bisa berkata-kata. Namun tiba-tiba Kalina yang sangat jeli itu melihat kaos Gibran yang sedikit aneh.


"Kak Gibran, baju kakak kebalik deh kayaknya, yang depan ditaruh dibelakang tuh!" ucap Kalina yang membuat Gibran langsung menegang mendengarnya. Semua anggota keluarga yang mendengar ucapan Kalina itu segera memusatkan perhatian mereka pada kaos yang Gibran pakai. Gibran yang seakan seperti seorang tersangka saat ditatap aneh oleh semua anggota keluarganya itu hanya bisa tertawa garing sambil berlalu ke dalam kamar bermaksut membetulkan kaos yang dia pakai, sedangkan Delia hanya bisa menggaruk keningnya yang tak gatal melihat tingkah suaminya itu sambil mengekor suaminya itu. Pasti pikiran mereka sudah traveling kemana-mana, ya walaupun memang benar semua apa yang mereka pikirkan tentan Delia dan Gibran tapi Delia sungguh malu rasanya.


"Aduhhh, sepertinya kedatangan kita mengganggu deh, Jeng!" ucap ibu Delia kepada ibu Gibran.


"Hihi, Iya betul, Jeng!" terdengar mereka sedang tertawa-tawa kecil melihat tingkah anak-anak mereka itu.


"Berarti kita harus siap-siap nih, Jeng!!"


"Siap apa tuh?"


Terdengar suara tawa ria mereka memenuhi ruang tamu, Delia yang mendengar itu sungguh merasa malu untuk muncul lagi di hadapan mereka.


"Sayang! Kenapa bisa terbalik sih!" ucap Delia pada Gibran sedikit sebal.


"Ya namanya juga keburu!" ucap Gibran santai.


"Ya tapi kan bikin malu tau!"


"Santai saja, kita kan sudah jadi suami istri, gak usah malu, ayo kita temui mereka!" ucap Gibran sambil menarik tangan Delia bahkan merangkul bahu istrinya itu.


Melihat kedatangan Gibran dan Delia, para anggota keluarga pun seketika menghentikan tawa mereka.

__ADS_1


"Hayo, lagi ngomongin apa sih, kok kayanya seru banget!" ucap Gibran tiba-tiba nibrung sambil merangkul Delia.


"Hmmm lagi bingung mencari nama yang bagus untuk cucu ibu nanti nih!" ucap Ibu Gibran sambil terkekeh.


"Kan cucunya masih belum ada!" kata Gibran.


"Ya gak apa-apa, yang penting udah disiapin dulu namanya!" ucap Kalina.


"Anak kecil gak boleh ikutan nibrung!" ucap Gibran pada Kalina sambil menjulurkan lidahnya pada adiknya itu membuat Kalina langsung sebal dan mencebikkan bibir, lain dengan Dimas yang selalu sibuk dengan game di gatgetnya.


"Gibran, kira-kira kapan mau ngasih cucu buat ibu, ibu udah gak sabar banget loh mau nimang cucu!" ucap Ibu Delia pada menantunya itu.


"Sabar ibu, barusan sih udah mau bikin, tapi gak jadi, hehe!" ucap Gibran sambil terkekeh membuat Delia langsung mencubit lengan suaminya itu.


"Sayang! Apa-apaan sih!" ucap Delia sambil melotot. Dan spontan hal itu mengundang tawa dari semua anggota keluarga.


"Oh iya, Gibran! Kami kesini, hanya mau memberikan ini untuk kalian!" Ayah Gibran memberikan dua buah tiket pesawat kepada Gibran.


"Untuk apa ini, Ayah?"


"Untuk Kalian berdua, semenjak kalian menikah, kalian belum pergi liburan berdua!"


Gibran hanya manggut-manggut mendengar kata ayahnya itu.


"Jadi kalau kalian berbulan madu, kalian mau bikin cucu, tidak akan ada gangguan nantinya!" ucap Ibu Gibran sambil tertawa.


Semua anggota keluarga begitu riang gembira saat itu, membayangkan oleh-oleh yang akan Gibran dan Delia bawa nantinya setelah pulang dari berbulan madu.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2