
Semilir angin sepoy-sepoy membawa semerbak harum bunga lavender, nuansa musim semi yang begitu indah, bunga tulip berjejer dengan rapi dengan beraneka warna. Delia berdiri diantara bunga-bunga itu sambil sesekali mengusap perutnya yang masih rata, tanpa dia sadari seseorang telah memotretnya di antara bunga-bunga itu, siapa lagi kalau bukan Gibran.
"Kau nampak riang sekali!" ucap Gibran yang tiba-tiba muncul dibelakang Delia, sambil menunjukkan hasil potretnya barusan. mendengar suara Gibran, Delia seketika menoleh lalu tersenyum manis pada lelaki itu dan melihat gambar dirinya di kamera milik Gibran.
"Kau memotretku, aku belum sempat bergaya!" ucap Delia pura-pura dongkol.
"Kenapa? Hasilnya bagus, coba lihat, cantik bukan?"
"Ah! Kau bisa saja!" ucap Delia sambil malu-malu karena salah tingkah.
"Bunga-bunga ini yang terlihat cantik loh!" ucap Gibran sambil menjulurkan lidah pada Delia. Sontak saja langsung membuat pipi Delia bersemu merah karena gemas dan malu.
"Kau ya, jahat sekali!" kali ini Delia benar-benar sebal. Gibran tertawa.
"Tidak-tidak, kau lebih cantik dari bunga-bunga itu!" ucap Gibran, namun Delia masih sebal nampaknya.
"Hey! Aku serius!" ucap Gibran sambil memeluk Delia dari belakang.
"Kau adalah wanita yang paling cantik dihatiku!" kata Gibran sambil berbisik. Membuat Delia tersenyum.
"Aku baru kali ini merasakan musim semi!" ucap Delia malu-malu. Mendengar itu Gibran hanya tersenyum
"Besok aku sudah tidak bisa merasakan indahnya musim semi ini karena nanti sore kita harus kembali ke Indonesia." Delia nampak murung.
"Suatu hari nanti, pasti kita akan kesini lagi, bersama anak kita!" jawab Gibran sambil memeluk erat Delia.
Sudah dua hari ini mereka tinggal di rumah keluarga Aderald, mereka begitu di sayang oleh sang tuan rumah bahkan dianggap seperti anak sendiri, membuat Delia benar-benar merasa bahagia berada diantara keluarga Tuan Aderald.
Satu yang membuat Delia sedikit heran, perubahan sikap Gibran yang semakin posesif terhadapnya, padahal menurut Delia kandungannya kini sudah berangsur membaik dan rasa nyeri yang pernah ia rasakan sudah tidak ada lagi, bisa dibilang Delia sudah sehat-sehat saja.
Bahkan Gibran pernah marah pada Delia karena ia lupa meminum vitamin saat itu, mungkin dia mengkhawatirkan kesehatan sang calon buah hati. Namun disamping itu Gibran tetap selalu menjadi suami yang siaga untuk Delia, dan perhatiannya kini semakin bertambah pada istrinya itu, bahkan lebih posesif.
__ADS_1
Langit yang cerah dan suasana yang indah membuat Delia betah berlama-lama di taman bunga yang ada di depan rumah Tuan Aderald itu, tempatnya cukup luas, bahkan dengan suara gemericik air mancur di antara taman itu membuat Delia tak ingin kembali ke dalam rumah walau Gibran mengajaknya agar beristirahat didalam rumah.
"Sebaiknya kau istirahatlah, aku tak mau kau kecapean!"
"Ah..! Aku kan hanya duduk saja disini, mana mungkin aku bisa kecapean?" ucap Delia agak malas.
"Kau sudah dari tadi disini, aku disuruh memanggilmu untuk makan siang oleh Nyonya Emilie, dia khawatir terhadapmu karena tadi pagi kau hanya makan sedikit!"
"Hmmm!! Sebenarnya perutku mual tadi pagi, aku pengen makan buah saja!"
"Sebaiknya kita masuk dulu didalam rumah, cuacanya sedikit berangin, aku tidak mau kalau kau sampai masuk angin!" ucap Gibran yang kemudian langsung menggendong Delia.
"Hey, apa yang kau lakukan! Turunkan aku!" ucap Delia, namun tak di gubris oleh Gibran, dia terus saja menggendong Delia dan membawa masuk kedalam rumah.
Sampai didalam rumah, mereka disambut oleh Nyonya Emilie dengan senyum riangnya. Mereka langsung diajak makan siang oleh Nyonya Emilie.
"Delia, ibu membuatkanmu salad buah kesukaanmu, ini makanlah!" ucap Nyonya Emilie sambil menyuguhkan sekotak salad buah.
*****
Sore itu mereka sudah berada di Bandara Charles de Gaulle diantar oleh Tuan Aderald dan Nyonya Emilie, Nyonya Emilie nampak sedih karena akan berpisah dengan Delia, nampak sekali dia sangat sayang pada Delia, bahkan sampai menangis sambil memeluk erat Delia, membuat hati Delia terharu dan menagis juga.
"Kau jangan lupakan ibu ya! Sering-seringlah kalian memberi kabar!" ucap Nyonya Emilie disela tangisannya.
"Iya Ibu! Insya Allah Delia akan selalu memberi kabar!"
"Ibumu ini sudah tua, hanya kalian anak-anak ibu, jadi jangan lupa untuk berkunjung kembali!" ucap Nyonya Emilie yang saat ini memakai sebuah topi bundar besar dan dengan fashion khas wanita bangsawan, sedangkan Tuan Aderald pun tak kalah gagah, walau hanya memakai baju casual.
Gibran dan Delia pun kini sudah akan memasuki pesawat, tak henti-hentinya Delia menoleh pada Nyonya Emilie sambil melambaikan tangannya, rasanya berat sekali berpisah dengan mereka, mereka sudah Delia anggap sebagai orang tua sendiri, bahkan tadi sebelum mereka berangkat ke Bandara Nyonya Emilie tak henti-hentinya mengelus perut Delia, hingga mereka di mobil sampai ke bandara. Delia sempat menangis lagi saat memasuki pesawat.
"Sudah, jangan menangis lagi, kapan-kapan kita akan berkunjung lagi!" ucap Gibran, menenangkan Delia saat di pesawat.
__ADS_1
"Rasanya aku sudah merindukan mereka!"
"Kau tak merindukan ibumu di Indonesia?"
"Ya rindu, kerena kebaikan mereka rasanya hatiku seperti terikat, dan aku juga sangat kasihan kepada mereka, di usia senja mereka, mereka hanya hidup berdua tanpa seorang anak!" Delia sedikit sesenggukan.
"Ya kita harus bersyukur, karena Allah memberikan kepercaan kepada kita untuk menjaga amanah yang ini!" Ucap Gibran sambil mengelus perut Delia.
"Iya sayang! Aku sangat bersyukur!"
"Makanya, kita harus menjaganya dengan baik, kau harus menjaga kesehatan, istirahat yang cukup......
"Dan jangan lupa minum vitamin!" ucal Delia memotong pembicaraan Gibran, rasanya sudah berkali-kali Delia mendengara Gibran mengatakan hal itu, hingga Delia hafal dengan apa yang dikatakan oleh Gibra.
"Nah! Sudah hafal kau!" kata Gibran.
"Iya lah, dalam sehari kau bisa mengatakan itu berpuluh-puluh kali, mana mungkin aku tak bisa hafal!" ucap Delia, sedikit-demi sedikit ia mulai bisa melupakan kesedihannya karena berpisah dengan orang tua angkatnya itu.
"Baguslah kalau begitu!" kata Gibran sambil manggut-manggut.
"Tapi kau pun harus tau, perasaan ibu hamil itu terkadang labil, dan akan lebih sensitif dari biasanya, kau jangan suka marah-marah jika aku melupakan sesuatu!" jelas Delia, ia mengingatkan ketika Gibran memarahinya saat itu.
"Iya-iya maaf! Lain kali aku akan berhati-hati menjaga perasaanmu!" ucap Gibran sambil mencium pipi Delia.
Pesawat mulai landing, Delia menatap dari jendela, perasaan sedih mulai muncul kembali, walau tak sedalam tadi. Entah kapan dia akan kembali lagi ke kota ini, kota yang sangat cantik, kota romantis, dan kota sejuta cerita indah yang ia lalui bersama Gibran, bahkan di kota ini ia menemukan kasih sayang dari seorang wanita lembut dan baik hati yaitu Nyonya Emilie, yang menganggapnya sebagai putrinya sendiri, seorang bapak yang begitu berwibawa seperti Tuan Aderald.
Delia begitu menyayangi mereka, Delia bahkan telah merindukan mereka. Suatu hari nanti Delia berharap agar bisa mengunjugi mereka kembali.
Bersambung...
satu like dari kamu, adalah semangat untuk author dalam menulis.🤗
__ADS_1
makasih buat yang selalu setia like🙏🌹