
Delia saat ini berada diruang pemeriksaan, ada seorang bidan yang bertugas memeriksa Delia dan saat ini Delia sedang melakukan beberapa pelayanan pemeriksaan kehamilan dari pengukuran tinggi badan, Delia diukur tinggi badannya oleh seorang bidan wanita, yang begitu cantik dan ramah, sedangkan Gibran, ia selalu setia mendampingi Delia saat melakukan tahap demi tahap pemeriksaan.
"Bu Delia, kita ukur tinggi badan dulu ya!" kata Bidan itu, begitu ramah, terdapat nama Safa di dadanya. Delia pun mengikuti arahan bidan itu untuk berdiri bersandar di tembok dan Bidan itu mengukur tinggi Delia dengan stadiometer yaitu alat ukur yang ditempel di tembok.
"Hamil anak ke berapa bu?" tanya bidan itu sambil tangannya mengukur tinggi Delia.
"Pertama bu!" jawab Delia sambil merasakan kepalanya ditempeli oleh stadiometer.
"Wah, baru pertama ya!!"
"Iya!"
"Bu Delia tingginya 155cm ya, insya allah aman, karena tidak ada faktor resiko panggul sempit, jadi kemungkinan besar bisa lahiran secara normal." ucap bidan itu menjelaskan, Delia hanya manggut-manggut sambil tersenyum.
Setelah pengukuran tinggi badan Delia lanjut penimbangan berat badan dan pengukuran tekanan darah atau tensi.
"Istirahat yang cukup ya, bu! Karena tekanan darahnya lumayan rendah, hanya 100/90mmHg."
"Apa itu sangat bahaya?" tanya Gibran nampak cemas saat mengetahui tensi Delia yang sangat rendah.
"Kemungkinan Bu Delia kurang nutrisi saja, dan harus lebih banyak istirahat, jangan sampai terlalu lelah!" kata Bidan itu menjelaskan.
Mendengar itu Delia juga nampak cemas. "Tidak perlu cemas Bu, dibikin rileks saja ya!!" kata Bidan itu sambil bergurau, dia begitu maklum karena Delia baru hamil pertama.
Delia pun lanjut pengukuran lingkar lengan atas (LILA) untuk mengetahui atau menunjukkan apakah ibu hamil menderita Kurang Energi Kronis atau tidak, karena jika sampai terjadi hal itu akan beresiko Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR).
Kemudian setelah selesai pengukuran lengan, kini lanjut pengukuran tinggi rahim, untuk mengetahui pertumbuhan janin apakah sesuai dengan usia kehamilannya.
"Kalau dilihat tinggi rahim, usia kehamilannya sudah memasuki bulan keempat!" kata bidan itu menganalisa dari hasil pemeriksaannya.
Delia sedikit terkejut dengan perkataan bidan itu, apakah iya usia kandungannya sudah empat bulan, tapi jika diingat-ingat memang semenjak ia melakukan hubungan intiim dengan Gibran ia tak pernah haiid, namun ia tak mengira bahwa ia akan langsung hamil.
__ADS_1
"Sekarang kita akan memeriksa detak jantung janin ya bu!" ucap bidan itu sambil mengeluarkan sebuah alat detak jantung yang bernama Kardiokotografi (CTG).
"Benarkah saya bisa mendengar detak jantungnya?" mata Delia benar-benar berbinar.
Bidan itu tersenyum lucu mendengar perkataan Delia. "Bisa dong, bahkan kita bisa melihat janin didalam perut ibu!" ucap Bidan itu.
Delia pun disuruh tiduran lalu bajunya disingkap agar perutnya terlihat, dan bidan itupun mengolesi gel ke perut Delia, rasanya begitu dingin di perut Delia.
Bidan itu pun menempelkan alat pengukur detak janin itu ke perut Delia, lalu terdengarlah suara detak jantungnya.
Delia begitu takjub saat mendengar pertama kali suara detak jantung janinnya, Gibran pun tak kalah takjub, mereka seakan baru pertama kali mendengar suara detak jantung hingga membuat mereka begitu antusias.
"Sayang, anak kita!" ucap Delia pada Gibran sambil matanya berkaca-kaca.
Gibran yang berada disamping Delia langsung memeluk kepala Delia karena saking senangnya saat mendengar detak jantung calon anak mereka, dihati Gibran, ia menyelipkan doa untuk calon anaknya, agar kelak ia tumbuh menjadi anak yang saleh atau saleha. Bidan itu pun ikut terharu melihat kebahagiaan calon orang tua baru itu.
Setelah selesai melakukan pemeriksaan perhitungan denyut jantung janin, kini Delia harus di suntik Tetanus Toksoid (**) untuk mencegah tetanus pada ibu dan bayi.
Gibran hanya tersenyum melihat reaksi Delia yang seperti takut dengan jarum suntik.
"Sekarang kita lanjut tes laboratorium ya bu!" ucap Bidan itu.
"Masih ada lagi ya!" kata Delia begitu heran.
"Iya, ibu duduk saja disini ya, sebentar!"
Delia hanya menurut saat bidan itu menyuruhnya duduk, dan meminta jari tengah Delia untuk diambil sampel darahnya.
Seketika Delia memekik saat jarum kecil itu dengan tiba-tiba menembus kulitnya dan darah segar pun menetes dari jari tengah Delia, membuat Gibran ikut panik.
"Ada apa?" tanya Gibran.
__ADS_1
"Sakit!!" kata Delia, matanya berkaca-kaca ingin menangis.
"Nggak apa-apa kok Bu, tenang saja, ini hanya sakit kecil, dari rasa sakit saat melahirkan nanti, loh!!" ujarBidan itu nampak tenang.
Delia yang mendengarpun sekertika merinding, dia lupa bahwa beberapa bulan yang akan datang saat tiba waktunya melahirkan ia akan tau bagaimana rasa yang luar biasa itu.
"Tenang ya sayang, semua akan baik-baik saja kok!" kata Gibran mencoba menyemangati Delia.
Gibran begitu kasihan pada istrinya itu, karena sebegitu beratnya menjadi wanita hamil. Maka dari itu, kenapa Allah meletakkan Surga di telapak kaki ibu, mungkin karena perjuangan seorang ibu, dari hamil hingga melahirkan bahkan perjuangan saat mengurus dan membesarkan anak-anaknya itu memang tidak mudah. Mengingat itu dia menjadi rindu pada ibunya.
Tes laboratorium pun dilakukan, Delia kini bisa tenang, dia hanya kaget saat jarum itu dengan cepat menusuk tangannya.
Bidan itu menjelaskan bahwa tes laboratorium itu gunanya untuk mengetahui golongan darah dari ibu hamil, agar nanti bisa mempersiapkan donor darah bagi ibu hamil jika diperlukan.
Tes Hemoglobin, untuk mengetahui apakah ibu kekurangan darah (Anemia) atau tidak, dan juga untuk mengetahui sang ibu apakah menderita HIV dan sifilis atau tidak.
"Oke, sudah selesai pemeriksaannya!" ucap bidan itu dengan riang.
"Makasih bu!" kata Delia nampak lega.
"Sekarang Ibu tunggu diruangan Dokter Winarto ya, untuk mendapatkan konseling atau penjelasan seputar kehamilan, saya akan memberikan data hasil pemeriksaan ini pada Dokter Winarto!" ucap Bidan itu, senyumnya selalu menghiasi wajah cantiknya.
"Baik bu, sekali lagi terimakasih!" kata Delia.
Saat Delia dan Gibran sudah masuk ke ruangan Dokter Winarto, Dokter setengah baya itupun nampak terkejut dengan wajah Delia yang sedikit pucat dan nampak berkeringan di wajahnya, terlihat sekali bahwa Delia begitu tegang.
"Ada apa dengan mu, nak? Kau nampak tegang rupanya? Apakah bidan Safa galak?" kata Dokter Winarto sambil ssdikit menurunkan kacamatanya untuk menatap Delia.
"Tidak Om istriku hanya takut dengan jarum!" kata Gibran sambil tertawa.
Mereka pun tertawa mendengar ucapan Gibran, namun Delia sedikit mencebikkan bibirnya sambil melotot ke arah Gibran.
__ADS_1
Bersambung..