
Delia merentangkan tangannya sebentar, hari ini tugasnya lumayan membuatnya sedikit capek, angkat-angkat kardus buku, menata buku, sedangkan Aulia bertugas mendatanya, maklum lah belum ada staf leleki, jadi semua dikerjakan oleh Delia yang dibantu oleh Bu Vera.
"Kau istirahatlah dulu Delia!" kata Bu Vera sambil mengamati Delia yang sedang menyusun beberapa buku yang nantinya akan ditata di rak sesuai genrenya.
"Nggak apa-apa Bu, udah tanggung juga!" ucap Delia sambil tersenyum, walau sebenarnya dia sendiri memang sudah sangat capek.
"Sudahlah! kamu lagi hamil muda, jangan diforsir tenaganya!" Bu Vera begitu perhatian pada Delia, membuat Aulia sebal.
"Aulia! Kamu gantikan Delia menata buku, biar Delia meneruskan pekerjaanmu!" ucap Bu Vera membuat Aulia tak bisa menolak perintahnya, dan mereka pun bertukar tugas.
Delia merasa sedikit aneh dengan sikap Aulia sedari tadi, lebih banyak diam, tak bicara jika tak diajak bicara duluan, bahkan seperti sedikit menjauh dari Delia, jika ditanya sesuatu pun jawabannya hanya singkat-singkat.
Seperti saat ini, Delia mengajaknya untuk pulang bareng dengan mobilnya, Aulia benar-benar menolaknya, dia seperti tidak suka jika bersama dengannya, namun Delia tak mau berfikir macam-macam tentang Aulia, mungkin Aulia takut ngeropotin jika terus-terus numpang pada Delia, namun Delia sama sekali tak pernah merasa begitu, malah dia senang bisa membantu Aulia.
Delia berjalan menuju gerbang kampus, karena Gibran sudah menunggunya disana. Dan benar saja Delia dapat melihat mibil Gibran yang terparkir di pinggir jalan.
"Assalamualaikum sayang! Udah tadi yang nunggu?" tanya Delia setelah masuk ke mobil.
"Walikum salam, nggak kok baru saja!" kata Gibran sambil menghidupkan mesin mobilnya dan mibil mereka pun berjalan perlahan meninggalkan kampus.
"Akhir-akhir ini teman aku gak mau kalau diajak berangkat dan pulang bareng, kenapa ya?" celoteh Delia sambil memainkan kuku-kukunya yang rapi terawat.
"Teman? Siapa?" tanya Gibran dengan tenang, matanya masih fokus menatap jalan didepan.
"Itu, si Aulia, sayang! Udah gitu seharian dia aneh sikapnya ke aku!" ucap Delia, sedangkan Gibran bersikap tak merespon ucapan Delia.
Gibran terus fokus, walau pikirannya terngiang lagi saat dirinya nyaris berciuman dengan Aulia, wanita itu sungguh berani, mungkin begitu jika wanita sudah dibutakan oleh cinta, apapun akan dilakukan, walaupun dosa akan dijalaninya.
Mobil mereka sudah masuk ke halaman rumah, setelah Gibran memarkirkan mobilnya, Delia dan gibran pun keluar mobil bersama, Delia benar-benar sudah lelah dan ingin segera mandi dan istirahat siang.
__ADS_1
Gibran berjalan menuju pintu namun matanya menangkap sesuatu di bawah pintu, sebuah amplop berwarna putih tanpa tulisan apapun. Lantas Gibran menagambil amplop itu membuat Delia juga merasa aneh karena ada seseorang yang mengirim surat dirumah mereka.
Gibran membuka amplop itu yang ternyata berisi sebuah kertas berwarna biru muda didalamnya. Melihat kertas itu Delia sedikit terkejut karena warnanya begitu mirip dengan selembar surat yang dikirim Pak Edo beberapa hari yang lalu.
Gibran membuka kertas itu dan membaca isinya. Sungguh darah Gibran mengalir begitu cepat saat menegetahui siapa pengirim surat itu dan bahkan hatinya begitu panas ketika membaca seluruh isinya.
Delia yang mengetahui hal itu hanya bisa diam tak bersuara, dalam hatinya benar-benar aneh dan bingung, karena dia tahu betul bahwa surat itu dia simpan di laci meja kerjanya, menagapa tiba-tiba berada di depan rumahnya bahkan seperti sengaja ada seseorang yang menaruh di depan rumahnya dengan maksud dan tujuan tertentu, namun siapa dia, itu yang Delia tak tau.
Gibran menatap Delia dengan penuh amarah, bahkan tatapannya seakan membunuh, Delia tak bisa menghindar saat tangannya ditarik paksa oleh Gibran untuk masuk kedalam rumah, tak ada waktu untuk menjelaskan saat Gibran begitu marah dia hanya pasrah, salahnya kenapa dulu ia tak langsung membuang surat itu.
Seseorang keluar dari persembunyiannya, dia tau saat Gibran marah pada Delia, seulas senyum menghiasi wajahnya, dan dia pun pergi dengan santainya meninggalkan rumah Delia.
Gibran menutup pintu rumah dengan keras, dan menyeret Delia ke sebuah sofa dan mendorong Delia ke sofa itu hingga Delia terjerembab.
"Gibran apa yang kau lakukan? Kau menyakitiku!" ucap Delia sambil menangis.
"Apa kau punya hubungan dengan lelaki itu, hingga ia memanggilmu dengan sebutan 'Sayang'!" teriak Gibran membuat Delia benar-benar takut.
Gibran yang sudah cemburu buta lantas mendekati Delia dan menarik paksa baju Delia hingga robek dibagian tangan dan dibawah ketiak.
"Gibran...!! Hentikan...!" teriak Delia yang tak berdaya saat Gibran mengunci tubuhnya. Tas dan jilbabnya sudah terlepas entah kemana.
Gibran dengan kasar membuka baju Delia dengan paksa hingga terlihat compang-camping, seperti sedang memperk*osa istrinya sendiri.
Entah setan apa yang merasuki Gibran hingga ia menyetubu*hi Delia di sofa, hingga Delia sudah tak berdaya karena Gibran begitu kasar terhadapnya, Delia hanya menagis tanpa bersuara, air matanya mengalir dengan deras disetiap hentakan yang Gibran ciptakan.
Setelah selesai Gibran meninggalkan Delia yang sudah terlihat berantakan itu, dia pergi tanpa memperdulikannya, hatinya benar-benar menjadi manusia tak berperasaan, akhir-akhir ini Gibran sering tak bisa mengontrol dirinya.
Delia bangkit dengan susah payah, tubuhnya terlihat lebam-lebam, bahkan mulutnya sedikit berdarah karena Gibran menciumnya dengan kasar, Delia pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
__ADS_1
Delia menghidupkan shower dan duduk dibawahnya, sambil memluk kakinya, air matanya kini mulai mengalir lagi. Mengapa Gibran yang ia kenal lembut dulu kini seakan menjelma menjadi lelaki yang kasar.
Hati Delia benar-benar sakit, apa yang sebenarnya Gibran pikirkan, mengapa ia sedikitpun tak mau mendengar penjelasan Delia. Delia memejamkan matanya rasa nyeri di tubuhnya berangsur menghilang.
Pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka, Gibran berdiri menatap Delia yang tengah duduk dibawah shower sambil memeluk kakinya.
"Delia!" kata Gibran sambil mengahampiri Delia yang masih dengan posisi semula. Gibran memeluk tubuh Delia dibawah deraian air.
"Maafkan aku, aku cemburu!" ucap Gibran dengan lembut, sungguh hati Delia seakan menjadi batu, tak tersentuh sedikitpun dengan kelembutan itu. Delia benci dengan Gibran yang kini seakan menjelma menjadi manusia kasar tak berperasaan itu.
Delia diam tak bersuara, dia tiba-tiba bangkit dan mengambil handuk kemudian pergi meninggalkan Gibran, walau Gibran menahan tangan Delia, namun Delia menepisnya, sungguh apapun alasannya, Gibran benar-benar keterlaluan.
Delia membereskan apapun yang berserakan di ruang tamu tadi, dia berrncana akan pulang kerumah ibunya beberapa hari saja, untuk menenangkan hatinya.
"Mau kemana kamu sayang!" cegah Gibran saat mengetahui Delia memasukkan beberapa pakaiannya di sebuah tas.
"Aku ingin pulang!" jawab Delia singkat.
Namun Gibran merampas tas Delia dan mengeluarkan pakaian-pakaian Delia yang ada didalamnya.
"Jangan pergi, maafkan aku!" ucap Gibran.
"Aku capek, kamu kasarin aku terus, kamu gak punya perasaan, aku benci kamu Gibran!!!" teriak Delia sambil menangis.
"Maafkan aku! Aku salah, aku cemburu!" ucap Gibran sambil memohon memeluk Delia dari belakang.
"Ijinkan aku pergi untuk beberapa hari saja, aku merindukan ibuku!" ucap Delia kemudian.
"Baiklah jika itu maumu, aku akan mengantarmu!!"
__ADS_1
Bersambung....
jangan lupa like😘