
"Sayang!!!" teriak Gibran. "Buka matamu!! Jangan membuatku takut!!" Gibran memeluk Delia dan mengusap-usap pipinya, namun tak ada respon.
Delia nampak lemas, matanya tertutup namun tangannya masih menegang, nafasnya tak stabil. Gibran benar-benar takut dengan keadaan Delia, sedari tadi dia merutuki dirinya sendiri.
Gibran segera berlari mengambil gadgetnya yang masih berada di ruang tengah, setelah mengambil benda pipih itu, ia kemudian menekan-nekan layar dan menghubungi seseorang lewat telephon.
"Assalamualaikum, ibu!!"
...****************...
Delia merasakan aroma minyak kayu putih dihidungnya, aroma yang semakin menyengat itu merasuk ke rongga hidungnya dan merambat ke kepalanya, membuat matanya yang sedari tadi terpejam mau tak mau ia paksakan untuk membukanya.
Samar-samar Delia mendengar suara-suara di sekitarnya, namun dia masih belum bisa menangkap dengan jelas suara siapa itu, matanya pun masih terlihat remang-remang. Hingga sebuah tangan menempel di kepalanya.
"Kamu sudah sadar nak?!" suara ibu Gibran terdengar, membuat Delia mengedip-ngedipkan matanya.
"Air!" kata pertama yang Delia ucapkan, suaranya terdengar serak.
Dengan seketika ibu mertua Delia itu mengambilkan segelas air yang ada di nakas sebelah ranjang, dia juga membantu Delia untuk sedikit mengangkat kepalanya dan meminumkan air itu.
"Masih pusing sayang?" tanya ibu mertuanya lagi. Nampak sekali ia sangat menyayangi menantunya itu.
"Pusing Bu!" ucap Delia sambil memegangi kepalanya, rasa sakit di kepalanya sangat terasa saat ia bisa membuka matanya dan cahaya lampu merasuk ke matanya.
Melihat Delia yang tampak kesakitan sang ibu mertua semakin khawatir.
"Gibran!!" panggil ibunya sambil sedikit berteriak. Gibran yang sedang membuat susu di dapur dengan segera berlari dan menghampiri ibunya yang berada di kamarnya.
"Iya ibu! istriku sudah sadar?" ucap Gibran.
__ADS_1
"Delia bilang kepalanya sakit, apa tak sebaiknya kita bawa Delia ke dokter saja?" ucap ibu memberi saran. Namun dengan seketika tangan Delia menyentuh tangan ibu mertuanya itu.
"Ibu, aku hanya butuh istirahat!" ucap Delia, suaranya masih lemah.
"Tapi, apa tak sebaiknya kamu periksa dulu ke dokter?" ibu selalu khawatir terhadap Delia, apalagi saat ini Delia tengah hamil muda.
"Tidak usah ibu, Delia hanya pusing." Delia masih kekeuh.
"Sayang, kita periksa ke dokter ya!" ucap Gibran, ikutan membujuk Delia agar mau untuk periksa ke dokter. Mendengar suara Gibran Delia lantas memalingkan wajahnya dan memunggungi Gibran.
Melihat respon Delia, ibu langsung bisa menebak bahwa mereka pasti habis bertengkar, entah apa yang menjadi permasalahan mereka.
"Gibran, ayo ikut ibu!" ucap ibu yang langsung ngeloyor keluar dari kamar, dan Gibran pun bangkit mengikuti langkah sang ibu.
Saat mereka berada di ruang tengah, ibu lantas menyuruh anak lelakinya itu untuk duduk di sebelahnya.
"Kalian habis bertengkar!" todong ibu tanpa basa-basi. Gibran yang tak bisa berbohong pun hanya bisa mengangguk pelan. Sedangkan ibu hanya geleng-geleng kepala sambil menghembuskan nafas panjang.
"Hanya permasalahan kecil bu!" ucap Gibran sambil menunduk, dia tak berani memandang wajah ibu, dia juga tak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya pada ibu, bisa-bisa ibu murka terhadapnya, apalagi sampai menyebabkan Delia pingsan.
"Kamu itu kepala rumah tangga, calon bapak, jangan bertingkah kaya anak kecil, pertengkaran dalam rumah tangga itu hal yang biasa, tapi jangan menyikapi berlebihan, sampai membuat Delia pingsan, pasti dia sangat kesal terhadapmu, hingga ia tak bisa mengendalikan emosinya!!!" ucap ibu, menasehati, jika sudah seperti itu, tandanya ibu sudah benar-benar kesal.
"Ibu tidak tau apa yang kalian permasalahin, tapi ibu minta tolong, jika ada masalah jangan sampai seperti ini, Delia sedang hamil, dia tidak boleh sampai stres, bisa berpengaruh pada kehamilannya!" sungguh Gibran merasa sangat bersalah mendengar ucapan ibu, ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Tolong bantu bujuk Delia ke dokter bu!" kata Gibran kemudian. "Gibran janji gak akan ada lagi hal seperti ini!" Gibran menyadari akan kesalahannya, dia begitu bodoh telah menyakiti Delia yang saat ini sedang mengandung anaknya
"Baiklah, ibu akan mencoba membujuknya!" ucap ibu yang kemudian bangkit dan menemui Delia di kamar.
Delia masih memiringkan tubuhnya, namun matanya tak terpejam, ibu mendekati Delia dan menyentuh punggung Delia lembut.
__ADS_1
"Del, kita harus ke dokter sekarang! Ibu tak mau terjadi apa-apa pada kehamilan kamu, mengingat kondisimu yang tadi sempat kejang!" ucap ibu, Delia membalik badannya dan masih belum mengakatan sesuatu.
"Ibu tau kalian ada masalah, tapi ibu harap kalian menyikapi masalah itu dengan lebih dewasa, kalian adalah calon orang tua!" ujar ibu lagi, namun suaranya tetap lembut sambil mengelus lengan Delia.
Mendengar itu mata Delia menggenang. Seandainya ibu tahu betapa keterlaluannya tadi Gibran, pasti ibu tak akan mengatakan hal ini, pikir Delia, namun dia tak akan mengatakan hal yang sebenarnya pada ibu, biarlah masalah ini ia pendam agar tak berlarut-larut, namun jujur Delia masih sangat kesal pada suaminya itu.
"Tapi Delia masih sangat pusing bu, rasanya Delia tak sanggup jika harus berjalan!" ucap Delia kemudian.
"Biar aku yang gendong!" tiba-tiba Gibran nongol dari balik pintu kamar, entah sejak kapan dia berada di balik pintu, sepertinya dia memang nguping pembicaraan Delia dan ibunya.
"Baiklah, kalau begitu biar ibu yang mengemudi mobilnya ya, kalian siap-siap saja." ucap Ibu yang langsung bangkit, membuat Delia sudah tidak bisa lagi menolak untuk dibawa ke rumah sakit.
Setelah ibu keluar kamar, Gibran pun mendekati Delia dan hendak menyentuh Delia, namun Delia menepis tangan Gibran dan memalingkan wajahnya.
"Aku tau aku salah, maafkan aku ya!" ucap Gibran lembut. Namun Delia tak bergeming.
"Ayolah, jangan membuat ibu menunggu di depan!" bujuk Gibran lagi namun masih tetap saja Delia seakan tak mau disentuh oleh Gibran, mungkin ini balasan yang setimpal untuk Gibran yang telah menyakiti perasaan Delia.
"Aku akan berjalan sendiri, tak perlu kau gendong!" ucap Delia nadanya penuh penekanan.
Delia berusaha duduk, rasa sakit di kepalanya begitu terasa saat ia mulai menegakkan kepala, hingga ia memegangi kepalanya. Melihat itu Gibran mencoba menyentuh Delia dengan maksud ingin membantu Delia, namun lagi-lagi Delia menepisnya.
"Tidak usah membantuku!" ucap Delia sedikit membentak, dan Gibran hanya bisa menahan rasa sedihnya.
Delia kembali berusaha menurunkan kakinya dari ranjang, tangan dan kakinya nampak gemetar, setelah berusaha untuk berdiri, tiba-tiba kakinya seakan tak bisa menahan badannya untuk berdiri tegak, dan Delia sedikit oleng, beruntung Gibran langsung menangkap tubuh Delia, lalu memegangi tubuh Delia agar tak jatuh.
"Jangan keras kepala, aku akan membantu mu!" ucap Gibran sedikit menahan kesal, namun sebisa mungkin ia tak menampakkannya pada Delia.
Akhirnya Gibran pun mengangkat tubuh Delia dalam gendongannya, dia membawa Deli menuju ke mobil, yang mana ibu sudah menunggu mereka disana. Melihat kedatangan Gibran dan Delia dengan segera ibu masuk kedalam mobil untuk mengemudi, agar Gibran yang menjaga Delia nantinya.
__ADS_1
Bersambung....
Like ya, jangan lupa, biar aku semangat untuk up date lagi✌️🤗