
Delia melambaikan tangannya pada Aulia yang masih menatap ke arahnya dan Aulia pun tersenyum lalu masuk ke dalam rumah kontrakannya tersebut.
Semenjak tadi Gibran menjadi pendiam, seperti ada sesuatu yang dia pikirkan, biasanya pasti ada aja yang kelakuan randomnya saat mereka telah sampai dirumah.
Delia hanya mengira bahwa suaminya itu pasti sedang kelelahan, dan dia pun berinisiatif untuk membuatkannya minuman dingin untuk Gibran. Apalagi cuaca hari ini memang cukup cerah, dan hawanya benar-benar panas, dan minuman dingin pasti akan lebih menyegarkan siang ini.
Setelah membuatkan jus jeruk untuk Gibran, Delia pun menghampiri suaminya itu yang saat ini sedang asik ngelamun di ruang tengah.
"Sayang! Nih minum!" Delia menjulurkan jus jeruk itu pada Gibran.
"Iya, taruh aja di meja!" ucap Gibran, sekalipun dia tak menatap Delia, bahkan tiba-tiba sikapnya begitu dingin.
Delia sedikit terkejut dengan sikap Gibran namun dia mencoba berpikir positif saja, mungkin itu efek dari kecapean saja. Dan Delia tak kehabisan akal, dia tak suka dicuekin begitu oleh Gibran, dia akan melakukan seribu satu cara untuk menarik perhatian sang suami.
"Capek ya? Mau aku pijitin gak?" ucap Delia sambil mendekat duduk di sebelah Gibran dan tangannya mulai memijit bahu Gibran.
Namun sikap Gibran tiba-tiba menepis tangan Delia. "Gak usah, aku nggak apa-apa kok, lebih baik kamu istirahat saja!" ucap Gibran masih dengan sikap yang sulit dimengerti oleh Delia.
"Kenapa sih, sini nggak apa-apa aku pijetin ya!" Delia berusaha memaksa dengan gaya manja, biasanya akan berhasil membuat Gibran good mood lagi.
"Aku bilang anggak ya nggak...!!!! Jangan bawel....!!!!" ucap Gibran sambil membentak, dan itu sungguh berhasil membuat Delia kaget, tercengang dan pastinya terasa hancur, mata jangan ditanya lagi, udah tak bisa membendung air yang akan tumpah.
Gibran bangkit dari duduknya dan meninggalkan Delia di ruang tengah. Delia hanya terdiam sambil memastikan bahwa apa yang baru saja terjadi itu hanyalah mimpi, namun semakin Delia memastikan dadanya semakin bergetar hebat seakan ada sesuatu yang bergemuruh hingga merambat ke kepalanya yang seketika membuat Delia pening.
Delia mencoba bangkit dari duduknya, dia tak tau apa salahnya hingga Gibran semarah itu padanya, dia ingin meminta penjelasan pada Gibran. Delia berjalan sambil memegangi dadanya yang saat itu benar-benar sakit seperti disayat.
Namun Delia urung untuk meminta penjelasan saat ini, ia memilih pergi ke kamarnya yang dulu, dan beristirahat disana, mungkin dengan tidak menampakkan diri di hadapan Gibran untuk sementara bisa mendinginkan hati yang sedang panas, dan bisa menjernihkan pikiran.
__ADS_1
Delia menatap Gibran yang sedang tengkurap di atas kasur, entah apa yang saat ini menjadi pikirannya. Setelah puas menatap Gibran dengan air mata yang terus mengalir, Delia pun pergi kekamar lain untuk beristirahat disana, menutup pintu kamar itu dengan rapat dan mengunci diri disana, mungkin itu lebih baik jika dia membiarkan Gibran sendiri dulu.
Sedangkan Gibran, entah apa yang dia pikirkan saat ini, mengapa saat ia telah melupakan masa lalunya dan bahagia bersama Delia, kini masa lalu itu kembali hadir di tengah kebahagiaannya, dan menampakkan wajah sedih serta kecewa yang begitu teramat di matanya.
Gibran bingung, apa yang akan dia jelaskan pada Aulia, dan juga pada Delia. Apakah kedua wanita itu akan bisa menerima kenyataan yang sebenarnya. Tak bisa dipungkiri, perasaan yang dulu pernah hilang pada Aulia kini mulai hadir walau Gibran sebenarnya tak yakin dengan hal itu.
Atau hanya karena rasa bersalah dan rasa kasihan pada Aulia karena kesalahannya yang telah membuat Aulia kecewa, atau mungkin sebenarnya hatinya masih tak bisa melupakan gadis itu.
Lalu bagaimana dengan Delia? Sungguh Gibran akan lebih merasa berdosa jika dia menyakiti hatinya, mengapa saat ini Gibran tak bisa berpikir jernih. Gibran sungguh gelisah pada perasaannya saat ini.
Mengingat Delia, Gibran tiba-tiba terkejut, seperti ada sesuatu yang mengiris hatinya saat ini. Apa yang telah ia lakukan pada Delia tadi, sungguh membuat Gibran lebih merasa ada yang perih di hatinya.
Gibran dengan seketika bangkit dari tidurnya, entah berapa lama ia merebahkan tubuhnya diatas kasur dan meninggalkan Delia yang mungkin saat ini sedang sedih karena sikapnya tadi. Gibran buru-buru turun dari ranjang dengan setengah berlari hingga tak sadar kakinya membentur sofa yang ada di dalam kamarnya, saking kerasnya hingga membuat sofa itu bergeser sedikit, sedangkan kaki Gibran jangan ditanya lagi bagaimana rasa sakitnya.
"Astaugfirullah!!! Agrrhhh!!!" ucap Gibran sedikit berteriak namun mengingat sikapnya terhadap Delia tadi, ia tak memperdulikan rasa sakitnya, walau jempol kakinya kini berdarah Gibran sudah tidak peduli, yang dia pikirkan saat ini hanya Delia, dimana wanitanya itu berada.
Gibran beralih pergi kedapur, siapa tau Delia sedang beraktifitas disana, memasak dan membuatkannya makanan, tapi dengan sikap Gibran yang tadi, masih mungkinkah Delia dengan senang hati membuatkannya makanan, tidak mungkin jika Delia di dapur, batin Gibran.
"Sayang!!!" panggil Gibran dengan perasaan serba salah dan frustasi mencoba memanggil wanitanya itu. Mata Gibran tiba-tiba tertuju pada pintu kamar yang tertutup, yaitu kamar bekas Delia dulu saat mereka masih belum satu ranjang.
Gibran memutar knop pintu, namun sepertinya kamar itu terkunci dari dalam, sudah bisa dipastikan bahwa Delia saat ini pasti berada di dalam kamar itu, entah apa yang saat ini ia lakukan.
"Sayang!! Buka pintunya, maafkan aku, bisa kita bicara?" ucap Gibran sambil menggedor pintu kamar itu, namun Delia tak membuka pintu itu bahkan tak menjawab panggilan Gibran.
"Sayang!! Aku mohon buka pintunya, aku ingin bicara denganmu!" masih terus berusaha merayu sang istri, namun masih tetap, nampaknya Delia tak menggubris panggilan Gibran.
Gibran hampir frustasi bahkan sempat berfikir yang tidak-tidak, takut terjadi apa-apa pada Delia, Gibran benar-benar merasa takut saat ini. Hingga akhirnya Gibran teringat bahwa ada kunci duplikat yang ia simpan. Dengan segera Gibran mengambil kunci itu dan membuka kamar itu.
__ADS_1
Suasana kamar nampak gelap, Gibran pun memencet saklar lampu dan mendapati Delia tengah tengkurap di atas kasur, entah dia sedang tertidur atau tidak, dengan segera Gibran menghampiri istrinya yang saat ini rambutnya terlihat acak-acakan, terlihat sekali bahwa dia sedang kacau.
Gibran menyentuh pundak istrinya lembut. "Sayang!! Maafkan aku, kau masih marah padaku?" ucap Gibran lembut. Delia sedikit menggeliat lalu menatap Gibran dengan mata sayu dan bengkak karena terlalu banyak menangis.
Melihat itu Gibran tak kuasa menatap istrinya, dan membuat hati Gibran mencelos, betapa bodohnya ia karena telah menyakiti istrinya itu, Gibran pun memeluk erat tubuh Delia, dan Gibran tak bisa menahan tangisnya.
"Maafin aku sayang! Aku janji gak akan nyakitin hati kamu lagi!" ucap Gibran, namun Delia tak membalas pelukan Gibran, jujur saja perasaannya masih sakit karena bentakan Gibran.
Gibran masih terus menangis sambil memeluk erat Delia dan sesekali menciumi pucuk kepala Delia.
"Sayang! Jawab aku, kamu memaafkan aku kan?!" ucap Gibran sambil mengangkat wajah Delia, namun Delia masih tetap diam.
"Kenapa kamu diam saja sayang? Please! Jawab aku!" ucap Gibran frustasi, mungkin dia memang pantas jika tak bisa mendapat maaf dari Delia karena sikapnya tadi, apalagi hanya karena ia memikirkan wanita lain.
Tiba-tiba mata Delia menggenang, dan air mata itu tumpah tak terkendali, hingga membuat Delia seketika menangis kencang sambil menghambur ke pelukan Gibran sambil memukul-mukul dada bidang Gibran.
Namun Gibran tak menepis saat tangan lemah Delia memukuli dadanya, karena itu tak seberapa dibandingkan sikapnya tadi yang telah menyakiti Delia.
"Apa salahku padamu!!" teriak Delia sambil terus menangis, bahkan hingga tak terkendali dan menyakiti dirinya sendiri dengan memukul-mukul kepalanya sendiri. Membuat Gibran memegangi tangan Delia dengan erat agar tak menyakiti dirinya sendiri, dan memeluk erat tubuh Delia agar menghentikan kelabilan Delia.
"Iya, aku salah sayang, istighfar, sudah hentikan!" ucap Gibran sambil berusaha mengunci tubuh Delia, namun Delia terus meronta sambil berteriak-teriak, hingga Gibran pun frustasi, dia tidak menyangka akan menjadi seperti ini.
Hingga akhirnya Delia merasa kepalanya semakin sakit dan penglihatannya kabur, namun dia masih mendengar suara Gibran yang sedari tadi meminta maaf kepadanya. Hingga akhirnya pandangannya menajdi gelap dan telinganya sudah tak mampu mendengar suara apapun.
Bersambung....
Like ya, biar aku tambah semangatš¤
__ADS_1