Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin

Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin
Bab 26 Memabukkan


__ADS_3

Gibran pergi meninggalkan Delia yang masih shock itu di gasebo, dia tak bisa menahan tawanya melihat ekspresi wajah Delia yang lucu itu dimatanya. Entah mengapa dia tiba-tiba punya keberanian untuk mencium Delia, seakan bisa puas dan menang setelah ia bisa mencium gadis itu. Perasaannya kini jauh lebih tenang, seperti baru diisi oleh energi kekuatan.


'Apakah aku mulai menyukai gadis itu?' pikir Gibran sambil senyum-senyum sendiri, ia terus berjalan sambil merasakan bibirnya yang masih berkedut karena melakukan first kiss itu dengan Delia.


Gibran terus saja berjalan, niatnya akan kembali ke kelas, tapi tanpa sadar dia malah pergi ke perpustakaan dan berjalan menaiki tangga untuk pergi ke meja Delia. Sungguh Gibran pun semakin merasa bodoh ketika dia menyadari ternyata dirinya kini malah berada di depan meja Delia. Akhirnya Gibran pun memilih balik dan menuruni tangga lagi, namun ditangga dia malah bertemu Delia yang kelihatan sedikit oleng jalannya. Gibran mendekati Delia namun tak disangka Delia malah menabraknya dan hampir saja terjungkal, hingga gelas espressonya terjatuh dan pecah.


"Delia? Ada apa denganmu?" tanya Gibran setelah dia berhasil menangkap tubuh Delia, namun Delia tak menjawab pertanyaan itu, dia hanya membelalakkan mata, terlihat wajahnya sungguh pucat dan tubuhnya bergetar hebat, hingga akhirnya Delia menutup matanya dan pingsan.


"Delia!!!" pekik Gibran sambil memeluk tubuh Delia agar tidak terjatuh.


Mendengar suara gaduh di tangga membuat beberapa pengunjung perpustakaan mendatangi mereka, Pak Edo yang sudah mengira ada sesuatu pada Delia pun langsung menghampiri.


"Gibran! Ada apa dengan Delia?" tanya Pak Edo, terlihat dia sungguh khawatir dan hendak membopong tubuh Delia, namun segera Gibran menghentikannya.


"Biar saya saja yang membawa Delia ke klinik!" ucap Gibran yang langsung membopong tubuh Delia itu.


Dengan langkah yang sedikit dipercepat akhirnya Gibran sampai juga di klinik kampus, disana Delia langsung ditangani oleh perawat.


Seorang perawat wanita membawa sebuah alat tensi darah, ia mengikat lengan Delia dengan alat itu, kemudian memencet tombolnya lalu membiarkan alat itu bekerja, tak berselang lama alat itu pun menunjukkan hasil dari pemeriksaan itu.


"Tekanan darahnya sedikit tinggi!" ucap perawat itu yang kemudian mengambil sebuah stetoskop dan memeriksa Delia.


"Denyut jantungnya juga tidak stabil, sepertinya pasien sedang shock berat!" ucap perawat itu lagi, membuat Gibran terkejut, sebenarnya apa yang membuat Delia menjadi shock, apa mungkin karena ciumannya tadi.


Perawat itupun mengambil sebuah minyak kayu putih yang kemudian dia oleskan pada hidung Delia. Namun Delia masih belum menunjukkan reaksi. Dan perawat itu pun mencoba memeriksa lagi detak jantungnya, masih belum stabil. Dan akhirnya perawat itu mengambil uap oksigen dan menutup hidung serta mulut Delia dengan alat itu.


Gibran seakan tak tega melihat Delia yang masih tak sadarkan diri, gara-gara dia Delia harus seperti ini, Gibran melihat wajah Delia masih memucat.


Gibran masih setia disamping Delia sambil menggenggam tangan Delia. Dan tiba-tiba Gibran merasakan tangan Delia sedikit bergerak. Gibran yang terkejut dengan pergerakan itu seketika langsung melihat kewajah Delia. Matanya yang sedari tadi terpejam kini terlihat mengerjap-ngerjap.


"Delia? Kamu sudah sadar?" tanya Gibran.

__ADS_1


Delia hanya melenguh, lalu tangannya membuka oksigen itu.


"Aku dimana?" tanya Delia, suaranya masih lemah.


"Kamu sekarang ada di klinik, kamu tenang dulu, biar aku panggilkan perawat!" Gibran pun dengan segera memanggil perawat yang barusan memeriksa Delia.


Setelah diperiksa ulang oleh perawat itu, dan hasilnya sudah membaik, Delia pun diijinkan untuk pulang.


Dengan sigap Gibran menggendong Delia yang masih sedikit lemah itu, walau berkali-kali Delia mengatakan bahwa dirinya sudah membaik dan ingin berjalan, namun berkali-kali pula Gibran menolak untuk membiarkan Delia berjalan kaki, dia tetap menggendong Delia.


Gibran pun akhirnya harus ijin pada dosennya untuk pulang cepat karena harus mengantar Delia pulang.


Dalam perjalanan Gibran tak henti-hentinya menatap Delia yang kini menyandarkan kepalanya sambil memejamkan matanya. Dia masih sangat mengkhawatirkan gadis itu.


Setelah sampai di halaman rumah, Gibran langsung memasukkan mobilnya di garasi, dan segera menggendong Delia lagi.


"Gibran!! Sudah aku bilang, aku tidak apa-apa, aku sudah mendingan!" ucap Delia yang mencoba menolak untuk digendong.


"Sudah jangan banyak bicara, kamu diam saja, kamu masih lemas!" ucap Gibran yang langsung menggendong Delia, dan Delia tak bisa menolaknya.


"Ada apa kamu senyum-senyum seperti itu?" tanya Gibran pada Delia.


"Gak apa-apa, makasih ya!" ucap Delia kemudian. Gibran hanya mengangguk.


"Delia! Maafkan aku!" ucap Gibran, Delia hanya mengernyitkan dahinya.


"Maaf jika aku menciummu!" ucap Gibran nampak tulus. Delia hanya tersenyum mendengar itu.


"Tidak perlu meminta maaf, aku hanya shock, karena itu baru pertama kali aku melakukan hal itu!" ucap Delia sedikit tersipu malu.


"Aku sangat khawatir melihatmu tak sadarkan diri, aku takut terjadi sesuatu dengan mu!" kini Gibran menatap Delia dalam sambil menggenggam tangan Delia. Sunggu Delia tak tahan jika ditatap seperti itu oleh Gibran.

__ADS_1


"Bolehkah aku memelukmu?" tanya Gibran ragu. Dan Delia hanya mengangguk sambil menunduk. Gibran pun memeluk Delia dengan perasaan tenang dan tentram.


"Apakah kau ingin istirahat dikamarmu?" ucap Gibran setelah melepas pelukannya.


"Iya, karena aku masih sedikit pusing,"


"Baiklah, ayo ku antar kau ke kamarmu!" dengan sigap Gibran pun langsung menggendong Delia.


"Gibran, aku bisa jalan sendiri!" ucap Delia, yang ingin menolak, namun tetap saja Gibran memaksa.


"Sudah diam saja!" ucap Gibran yang sudah mengangkat tubuh Delia dan berjalan menuju kamar Delia dalam kesempatan itu, Delia kini memeluk tubuh kekar Gibran, dia begitu merasa melayang saat Gibran begitu perhatian terhadapnya.


Sampai dikamar Delia, Gibran menurunkan tubuh Delia di atas kasur.


"Jika kau butuh sesuatu, kau panggil saja aku ya!" ucap Gibran dan Delia hanya mengangguk. Gibran membantu Delia melepas kerudung Delia dan menyelimuti tubuh Delia.


"Sekali lagi makasih Gibran!" ucap Delia sambil tersenyum pada lelaki itu, dia sungguh berharap Gibran benar-benar bisa menerima kehadirannya. Dia ingat dengan ciuman Gibran yang tadi membuatnya benar-benar mabuk kepayang hingga ia tak sadarkan diri. Walau itu sungguh memalukan. Tapi Delia tak bisa mengelak bahwa dia sangat bahagia saat ini.


Gibran mendekati Delia yang sedang rebahan itu, dan dia seakan merasa candu berada didekat Delia.


"Sepertinya saat ini aku tak bisa jauh dari kamu!" ucap Gibran sambil berbisik pada Delia.


"Kenapa?" tanya Delia yang merasa tergelitik karena bisikan Gibran.


"Entah, bolehkah aku menemanimu saja disini?" ucap Gibran dengan ekspresi lucu, hingga membuat Delia tertawa melihatnya.


"Terserah jika kamu mau menemaniku!"


"Oke, aku temani kamu saja disini!" seketika Gibran naik di kasur Delia dan masuk kedalam selimut juga.


"Hey! Apa yang kau lakukan!!!?" pekik Delia, Gibran tak peduli, dia kini menutupi wajah Delia dengan selimut itu bersama dengan dirinya yang juga berada di dalam selimut.

__ADS_1


Bersambung......


Jangan lupa like!😘


__ADS_2