
Ibu dan ayah Gibran tampak sangat antusias menyambut Delia di rumah mereka. Mereka menghampiri Delia sambil tersenyum ramah.
"Selamat datang dirumah kami!" sambut ibu mertuanya senang, begitu juga ayah mertuanya yang terlihat sangat bahagia, namun terasa asing bagi Delia berada di tempat ini. Adik Gibran yang baru saja memarkirkan mobil di garasi, terlihat ia berlari-lari kecil ke arah kumpulan orang yang menyambut Delia.
"Tidak usah sungkan, Kak! Ini rumah kan sudah menjadi rumah kakak juga. Ayo masuk!!"
Gadis itu tiba-tiba menarik tangan Delia cepat dan membawa Delia masuk ke dalam rumah cantik itu. Rumah itu tidak hanya luarnya saja yang memikat hati, tapi juga didalamnya. Ada beberapa kaligrafi yang tertempel di dinding. Beberapa foto keluarga di sisi meja dan juga di dinding. Sofa ruang tamu yang cukup besar, sangat cocok dengan ruang tamu yang sangat luas itu. Delia memperhatikan foto keluarga yang berukuran paling besar. Disana ada empat orang, gadis yang bersamanya saat ini, Gibran dan kedua mertuanya. Delia memusatkan perhatiannya ke arah foto Gibran.
'Di fotonya dia terlihat baik, tapi di luar... Sungguh menyebalkan!'
"Kau memperhatikan fotoku? Kenapa? Apa aku terlihat gagah?" tiba-tiba sebuah bisikan menyerang telinganya hingga syaraf-syaraf otaknya bekerja mencari alasan. Ternyata setelah Delia sadari, gadis bernama Kalina tadi sudah berlalu darinya. Jadi, sedari tadi ia berdiri sendirian hanya untuk memastikan foto itu?
Delia menoleh sedikit canggung pada Gibran.
"Kau.....sangat buruk!" sembur Delia cepat.
Tawa Gibran seketika meledak. Delia dengan cepat berjalan menghampiri ibu mertuanya, disusul Gibran yang masih kuat untuk mentertawakannya. Tawa yang sungguh melecehkan.
__ADS_1
Satu atap bersama orang yang tak dikenal dan begitu menyebalkan bagi kita menjadi hal terburuk dalam hidup. Beberapa jam saat ia dan Gibran membuat sebuah perjanjian konyol, Delia sungguh tak dapat berpikir lagi kenapa dia sampai menyetujui semua itu, mungkin bisa saja kalau setelah ini Gibran akan melakukan hal yang lebih buruk dalam hubungan pernikahan ini.
"Delia?" panggil ibu mertuanya saat Delia mengamati beberapa barang yang ada di ruang keluarga rumah Gibran.
Delia menoleh spontan. "Iya, Bu?"
"Kau tunggu disini dengan Gibran, ibu akan meminta Bi Surti untuk menyiapkan kamarmu. Mulai sekarang rumah ini adalah rumah menantu ibu juga. Sekarang kamu sudah menjadi bagian dari keluarga kami. Jangan pernah merasa sungkan. Ibu harap kalian bisa saling belajar menganal satu sama lain. Tidak ada sesuatu yang tidak bisa dimengerti kecuali kalian berdua saling ingin mengetahui."
Ibu mertua Delia memberi nasihat yang cukup panjang, membuat kaki Delia kebas seketika.
'Seperti inikah rasanya memiliki mertua? Akan ada banyak ceramahan panjang lagi selain ini' Sebersit rasa khawatir di hati Delia.
'Ayah, ibu dimana kalian saat aku seperti ini? Apakah kalian senang dengan semua penderitaanku!'
Keheningan pun semakin menyeruak ketika ibu mertuanya tak lagi bersama mereka, jelas saja Delia tak mungkin akan langsung akrab dan menyapa Gibran terlebih dahulu. Masih sama mempertahankan ego masing-masih, mereka tetap diam membisu daripada harus berdebat panjang. Seperti biasa Delia nampak sedikit gelisah, masih dengan gaun pengantin yang semakin membuat Delia terlihat bodoh, sedangkan Gibran selalu dengan wajah dinginnya, begitu dingin hingga membuat Delia kedinginan diruangan itu.
Lebih parah dari apa yang dibayangkan oleh Delia, ternyata ibu mertuanya menyuruh Bi Surti menyiapkan sebuah kamar yang artistik dan mewah. Delia yakin, siapa pun yang tinggal di kamar ini pasti jauh dari kata "Ingin minggat". Memperhatikan setiap detail kamar ini memang sungguh mewah, kamarnya luas dengan dekorasi etnis untuk memuaskan pandangan mata si pemilik kamar. Delia mengedarkan pandangannya keseluruh kamar, terdapat ranjang yang berukuran king size disana, terlihat nyaman dan empuk pastinya. Namun Delia mencoba menahan rasa kagum berlebihan, karena itu akan membuat Gibran merasa besar kepala karena memiliki rumah semolek ini.
__ADS_1
"Nah, Delia sayang, kamu malam ini tidur dikamar ini bersama Gibran ya!" ucap sang ibu mertua dengan senyuman, namun melihat ekspresi Gibran yang datar dan dingin menatap Delia, membuatnya harus kembali ke alam sadarnya. Bisa jadi dia hanya mimpi akan tidur di tempat mewah ini.
"Ini adalah kamar Gibran yang biasa Gibran tempati, dan sekarang kamu juga berhak menempati kamar ini juga!"
"Tapi, bu! Apa tak sebaiknya dia tidur dikamar sebelah dulu, kami belum saling...."
"Tidak ada tapi-tapian Gibran! Kalian itu suami istri, sudah seharusnya kalian sekamar dan akur!" ucap ibunya memotong perkataan Gibran dan sedikit berteriak, membuat Gibran langsung diam dan menunduk namun Delia bisa merasakan kemarahan laki-laki itu.
"Sebaiknya kalian harus saling mengenal. Mulailah dari awal layaknya dua pasang kekasih yang saling jatuh cinta pada pandangan pertama!" ucap ibunya lagi, suaranya melunak lagi ketika ia berbicara pada sang menantu.
Sang ibu pun akhirnya meninggalkan mereka di dalam kamar. Kebisuan mengisi ruangan itu membuat Delia terdiam menunggu keputusan Gibran. Sejauh ini Delia menilai bahwa Gibran bukanlah tipe laki-laki idaman. Gibran terlalu buruk untuk dijadikan seorang kekasih, apalagi seorang suami. Bagaimana ia bisa merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama seperti yang ibu mertuanya katakan barusan.
"Jangan pernah berpikir untuk tidur di kasurku, ingat! Kau sendiri yang menulis perjanjian itu!" suara Gibran membuat Delia terlonjak dalam keheningan.
"Aku sudah tau! Siapa juga yang sudi tidur di kasur mu!" Delia melihat sekeliling kamar Gibran, nampak ada sebuah sofa yang hanya muat untuk duduk satu orang, namun cukup besar, cukup untuk badan Delia yang mungil itu.
"Aku akan tidur di sana!" kata Delia sambil menunjuk sofa itu.
__ADS_1
"Terserah!" ucap Gibran, acuh, pandangannya tetap dingin. Dalam lubuk hati Delia, ia benar-benar mengeluh hebat, dia tak menyangka kalau di dunia ini masih ada laki-laki yang memperlakukan wanita dengan seenaknya. Dunia ini memang kejam untuk dijalani. Delia pun pergi ke sofa dekat rak buku itu, Delia hanya bisa duduk di sofa itu, karena dia tak akan bisa tiduran jika masih berpakaian pengantin. Delia memandangi Gibran yang langsung telentang penuh kemenangan di atas kasur empuk itu. Ternyata benar, Delia hanya bisa bermimpi tidur di atas kasur empuk itu. 'Sialnya lagi, kasur itu sepenuhnya milik Gibran,' tambahnya dalam hati. Delia pun hanya tetap duduk di sofa itu sambil memperhatikan Gibran yang sudah mulai memejamkan matanya, dengan kemeja yang digunakan di acara ijab qobul tadi. Delia benar-banar muak melihat Gibran yang sangat menyebalkan itu, akhirnya ia hanya bisa menyandarkan kepalanya pada sofa itu.
Bersambung.....