
Delia tiba-tiba menangis tergugu membuat Gibran serba salah, dia telah menjelaskan semuanya pada Delia namun wanita itu masih tak mau menerima segala alasannya.
"Kumohon jangan menangis, aku telah menjelaskan semuanya, aku sama sekali tak berniat untuk membohongimu apalagi menghianatimu!" kata Gibran yang sudah frustasi, tak tau bagaimana lagi caranya membujuk Delia.
"Gibran, kau jahat, kau tega membuat aku khawatir seharian sama kamu!" ucap Delia yang kemudian memukuli dada Gibran dengan pelan. Sungguh Gibran tak tega melihat wanita itu menangis, mungkin memang dia yang bersalah karena telah pergi tanoa pamit dan bahkan seharian tak menghubungi Delia.
"Maafkan aku sayang! Aku tak bermaksud mengabaikanmu, ku mohon tenanglah!" kata Gibran, namun dengan tiba-tiba Delia menghambur dalam pelukan Gibran dan memeluknya kencang, Gibran merasakan tubuh Delia bergetar, sepertinya wanita itu sedang terguncang. Gibran membalas pelukan Delia dengan erat pula, sungguh betapa bodohnya ia saat ini karena telah membuat Delia berpikir yang tidak-tidak terhadapnya.
"Tenanglah Delia, aku masih milikmu, tak ada siapapun yang mampu menggantikanmu di hatiku.!"
Kini Delia mulai tampak tenang, dia pun melepas pelukannya dan kembali merebahkan tubuhnya, dengan posisi miring membelakangi Gibran. Melihat Delia yang sudah terkendali Gibran pun bangkit membuka jasnya yang sungguh membuatnya gerah, membuka sepatunya yang lupa ia lepaskan karena sibuk menenangkan Delia. Gibran juga melepaskan sepatu yang masih melekat pada kaki Delia. Diperlakukan seperti itu Delia sungguh tersanjung namun dia memilih diam saat Gibran melepaskan sepatunya. Gibran pun merebahkan juga tubuhnya disamping istrinya itu, tubuhnya benar-benar sangat capek hari ini, bahkan pikirannya juga capek.
"Sayang!" panggil Gibran sambil memeluk istrinya dari belakang.
__ADS_1
"Apa kau masih marah kepadaku?" tanya Gibran yang hanya dijawab oleh gelengan kepala sama Delia. Gibran hanya tersenyum melihat reaksi Delia, dia cukup tenang saat ini, karena Delia bisa mengerti dan mau memaafkannya.
Gibran pun membalik tubuh Delia agar menghadapnya lalu dengan seketika mengangkat dagu Delia dan mencium lembut bibir Delia, sepertinya Delia tak menolak malah membalas ciuman itu, membuat Gibran semakin memperdalam ciumannya, bermain dengan lidah Delia hingga gigi-gigi mereka beradu, cukup lama permainan lidah itu hingga Delia seperti kehabisan oksigen, membuatnya sedikit mendes4h, hingga terdengar lebih erotis di telinga Gibran.
"Sayang! Aku sungguh mencintaimu!" kata Gibran lalu mengulangi lagi pagutan mereka namun tubuh mereka juga ikut bereaksi. Gibran seketika melucuti kerudung yang Delia pakai lalu menciumi leher Delia yang telah terbuka itu, membuat Delia menggelinjang. Melihat reaksi Delia itu Gibran semakin memainkan tangannya kesegala tubuh Delia.
Gibran melepaskan ciumannya lalu bangkit untuk membuka kemejanya hingga tersisa d4lamannya saja lalu membantu melepaskan pakaian Delia, sungguh Delia semakin melayang dibuatnya.
Gibran tak sabar melahap dua buah yang mengantung itu, hingga Delia merasakan sensasi nikmat yang luar biasa. Gibran memang selalu bisa membuat Delia merasa diatas awan saat mereka bercinta.
cukup lama mereka bermain namun tak ada yang ingin berusaha melepaskan, dan setelah dua puluh menit kemudian, merekapun sama-sama merasakan puncaknya. Gibran pun lemas diatas Delia, dia masih enggan untuk bangkit, dia masih senang berada diatas istrinya itu sambil memainkan biji buah itu dengan mengulumnya.
"Sayang! Hentikan, kau membuatku geli!" kata Delia namun Gibran masih terus menciuminya dan semakin naik untuk menciumi leher istrinya itu. Namun Delia tak bisa menolak sensasi yang Gibran berikan, dia malah semakin menikmatinya. Dengan tiba-tiba Delia membalik tubuh suaminya itu dan berbalik dirinya yang kini menindih Gibran.
__ADS_1
"Kau pikir, hanya kau yang bisa mempermainkanku!?" kata Delia, Delia yang kini berada di atas tubuh Gibran itu seakan menguasai tubuh suaminya itu.
Delia mengecup-ngecup leher Gibran hingga Gibran menggelinjang lalu menggigit bibir bawah Gibran hingga Gibran sedikit mengaduh sakit, namun dia masih menikmatinya. Dengan seketika senjata Gibran kini mengeras kembali, dan dengan seketika Delia melahapnya dengan benda miliknya juga, Delia menghentak-hentakkan tubuhnya diatas tubuh Gibran, suara lenguhan pun bersahutan di kamar itu, Gibran kini tak kuasa dengan tubuh Delia, ia pun mencengkram dua buah gantung itu dan mengulum bijinya, permainan mereka kini sungguh erotis dan terkesan binal, mungkin ltu adalah ungkapan dari isi hati mereka saat ini, ditambah Delia yang emosi tadi.
Gibran sudah tidak sanggup, ia ingin mencapai puncak, begitu pula dengan Delia, Delia kini semakin mempercepat hentakannya. Dan mereka pun sama-sama mencapai kenikmatan itu, Delia kini ambruk di atas tubuh Gibran. Dia sudah tak mampu lagi bergerak, sepertinya dia kelelahan dan tubuhnya sangat lemas. Gibran mengangkat tubuh Delia pelan dan lembut lalu membawa tubuh Delia kedalam kamar mandi, dan mereka mandi bersama.
Delia telah memakai baju tidur berbentuk kimono, melihat rambut basah Delia sebenarnya gejolak Gibran mulai bangkit lagi, namun dia tak ingin membuat Delia kecapekan, karena besok mereka akan berangkat ke Paris untuk berbulan madu.
"Kamu tidurlah, besok kita akan berangkat!" ucap Gibran sambil mengelus pipi Delia, hingga wanita itu tertidur di pelukan Gibran, suara dengkuran Delia yang teratur menandakan ia telah tidur pulas. Gibran menciumi kening Delia, merasakan aroma wangi yang terpercik dari tubuh wanita itu, sungguh dia tak ingin kehilangan wanitanya itu, Delia mampu membuatnya benar-benar jatuh hati, walau dia ingat saat dulu awal dia menikah dengan wanita itu. Ia begitu menentang hadirnya wanita itu disiisinya, karena sebenarnya ada nama seorang wanita yang telah terukir dihatinya, wanita itu adalah wanita yang ustadz Arif kenalkan saat dia di pesantren dulu, namun karena orang tua Gibran yang mendesak agar putranya itu cepat pulang, akhirnya ia harus pulang ke Jakarta saat itu.
Tapi, yang lalu biarlah berlalu, kini Delia mampu membuatnya bertekuk lutut, wanita yang mampu membuatnya enggan menatap wanita lain lagi. Gibran sangat mencintai Delia, bahkan semua anggota keluarga yang ia cintai juga begitu menyayangi Delia, jadi Gibran merasa bahwa Delia adalah wanita yang terbaik yang dipilihkan Tuhan sebagai jodohnya. Dia berjanji dalam hatinya, dia akan menjaga dan menyayangi Delia dengan sepenuh jiwa dan raganya. Dan akan memberikan apa yang Orang tua mereka impikan, yaitu seorang bayi mungil yang akan meramaikan rumah mereka. Walaupun semua Allah yang menentukan tapi mereka akan selalu berusaha.
Gibran pun tertidur dengan memeluk Delia.
__ADS_1
Bersambung.....
makasih atas dukungan kalian, 😍😍