Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin

Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin
Bab 32 Rencana Bulan Madu


__ADS_3

Riang kebahagiaan memenuhi suasana rumah Gibran dan Delia saat ini, suara canda dan tawa juga terdengar. Seluruh anggota keluarga begitu bersemangat dan antusias menunggu hadirnya makhluk mungil yang nantinya akan meramaikan rumah mereka dan pastinya kebahagiaan mereka juga akan lebih lengkap.


Kini Delia merasa tidak canggung lagi mendengar topik obrolan mereka yang mengacu pada urusan anak atau cucu yang selalu orang tua mereka idam-idamkan selama ini. Ya walaupun nuansa hangat ini adalah hal pertama kali yang Delia rasakan ia bersama keluarga besar, dia tak menyangka bahwa dirinya kini ikut membaur dan bahkan ikut melontarkan lelucon yang bisa membuat semua keluarga Gibran tertawa. Yang dia rasakan saat ini hanyalah perasaan bahagia, hidup bersama Gibran memang sebuah anugrah bagi Delia. Mungkin ini yang dirasakan oleh semua wanita ketika dia baru menjadi seorang istri, Delia mungkin baru bisa merasakan saat-saat seperti ini saat pernikahannya sudah beberapa bulan. Tapi Delia masih bersyukur, karena Allah masih memberikannya kesempatan merasakan kasih sayang dari Gibran sang suami.


"Sepertinya kami mau pamit pulang!" ucap Ibu Gibran.


"Kenapa terburu-buru ibu?" kata Delia yang seakan tak rela jika saat-saat menyenangkan seperti ini harus berakhir.


"Sebentar lagi ibu ada arisan sayang, jadi ibu harus segera pulang!" ucap ibu Gibran sambil merengkuh pundak menantunya itu.


"Iya, sepertinya kami juga harus pulang!" tiba-tiba ibu Delia juga ikutan pamit.


"Yaahhh, kenapa harus terburu-buru semua sih?" kata Gibran.


"Kami masih ada urusan, jadi kami jarus segera pamit!"


"Rasanya masih kurang berkumpul dengan kalian!"


"Mau bagaimana lagi, tenang saja, nanti kalau cucu ibu sudah lahir, kita agendakan untuk liburan bersama-sama!" ucap ibu Gibran yang nampak bersemangat, dan semua yang mendengarpun langsung ikut bersemangat menyetujui usulan dari ibu Gibran. Delia yang mendengar hal itu hanya tersenyum


"Insya Allah ibu! Doakan saja semoga Allah memberikan kelancaran!" ucap Delia yang membuat anggota keluarga langsung kompak mengamininya.


Semua anggota keluargapun pamit untuk pulang, mereka semua satu persatu memeluk dan mencium Gibran maupun Delia. Ibu Gibran memeluk menantunya itu sambil tangannya mengusap-usap perut Delia.


"Semoga cepat hadir disini, amin!" ucap Ibu Gibran, membuat Delia merasa punya janji untuk segera memberikannya cucu pada mertuanya itu. Delia pun tersenyum mendengarnya.


Deru mobilpun kini terdengar, seluruh anggota keluarga melambaikan tangan dari dalam mobil, Delia dan Gibran melambai juga dari teras mereka, seperti biasa Gibran memeluk Delia dari belakang saat ini, dan yang dirasakan Delia hanya bahagia dan rasa syukur yang tiada tara.


Setelah mobil-mobil keluarga mereka kini menghilang dari pandangan mereka, Gibran dan Delia pun masuk kerumah. Mereka melihat dua buah tiket yang tergeletak di atas meja tamu. Tiket itu adalah tiket mereka yang nantinya akan membawa mereka ke Paris. Seminggu lagi Mereka akan berbulan madu disana. Wanita mana yang tak bahagia jika di ajak ke kota Paris, kota yang terkenal sebagai kota yang romantis itu.


Delia berjalan memasuki dapur, dia lupa bahwa dirinya belum memasak pagi tadi.


"Sayang, mau ngapain?" tiba-tiba Gibran juga ke dapur menghampiri Delia.


"Mau masak!"

__ADS_1


"Mau masak apa?" tiba-tiba Gibran memeluknya dari belakang.


"Kamu pengen makan apa sayang?"


"Pengen makan kamu!"


"Iiissshhh mulai deh, serius sayang!" Gibran tertawa melihat wajah istrinya yang langsung cemberut itu.


"Apa aja, yang penting masakan istriku!" ucap Gibran yang langsung mempererat pelukannya.


"Tapi kamu tunggu di meja makan, duduk disana!" ucap Delia.


"Emangnya kenapa kalau aku sambil memeluk kamu?"


"Mana bisa sayang? itu merepotkanku!" ucap Delia yang sudah sedikit sebal pada Gibran.


"Oke-oke, aku tunggu di kamar saja, nanti kalau sudah matang, panggil saja aku disana!" ucap Gibran sambil ngeloyor pergi meninggalkan Delia.


"Baiklah, Cinta!" ucap Delia, merasa lega karena Gibran melepas pelukannya.


"Apa? Aku tidak ngomong apa-apa!" ucap Delia semakin bingung.


"Kamu bilang cinta barusan? Kamu mau menggoda aku ya?" ucap Gibran yang langsung memeluk Delia lagi.


"Astaga! Aku bilang cinta karena aku cinta sama kamu kan? Bukan aku menggoda sayang!" ucap Delia yang sudah ketar-ketir karena dipeluk lagi oleh Gibran.


"Iya itu kamu rasanya menggodaku!" kini Gibran mulai mencium tengkuk Delia.


"Aggrrhhhh!! Bukan berarti aku menggodamu, sudah cepat sana kekamarmu, aku ingin secepatnya menyelesaikan pekerjaanku!" ucap Delia yang sudah sangat sebal pada Gibran. Mendengar itu Gibran langsung melepas pelukannya, dia tak mau merusak mood dari istrinya itu.


"Iya-iya, aku kekamar sayang!" ujar Gibran sambil berjalan kekamarnya, membuat Delia lega.


"Jangan lupa, aku menunggumu!" ucap Gibran dari balik tembok, membuat Delia terperanjat dan kaget namun dia meneruskan pekerjaannya itu.


"Sayang, aku mencintaimu!" ucap Gibran lagi, membuat Delia mulai sebal lagi karena merasa terganggu.

__ADS_1


"Sayang..." kata Gibran dan melihat Delia sudah berbalik menghadap pada Gibran sambil memegang ulekan yang siap akan dia pukulkan pada Gibran nanti jika dia masih mengganggu. Dan seketika Gibran mengangkat tangannya.


"Maaf, aku hanya ingin mengatakan!" ucap Gibran sedikit takut jika ulekan itu benar-benar Delia pukulkan padanya.


"Cepat katakan..!" wajah Delia sudah mulai garang.


"Nanti setelah masak, kita main lagi!!" ucap Gibran sambil kabur masuk ke kamarnya.


"Gibraaannnn!!!!" teriak Delia. Namun melihat kelakuan Gibran itu rasanya Delia ingin tertawa terpingkal-pingkal.


Delia kini bisa secepatnya menyelesaikan pekerjaannya, dia mulai mencuci daging yang ia beli tadi saat di supermarket, rencananya dia akan memasak semur daging, sepertinya enak dimakan siang-siang begini, pikir Delia. nasi sudah dia masukkan ke dalam magic com tinggal menunggu matang.


Setelah semur daging sudah matang Delia segera menaruh di atas meja makan, dan sebelum Delia memanggil suaminya, dia mencuci semua peralatan masak barusan, agar dapurnya terlihat bersih dan rapi.


Setelah selesai, Delia pun berjalan kekamar suaminya itu, sebelumnya dia menengok jam dinding, sekitar satu jam lamanya dia berada di dapur tadi, pasti Gibran sudah merasa lapar saat ini. Akhirnya Delia segera menghampiri suaminya itu.


Saat Delia membuka pintu kamar dia melihat Gibran sudah tertidur dengan posisi terlentang. Delia menghampiri suaminya itu, melihatnya terlelap.


"Kasian sekali suamiku ini!" ucap Delia lirih, tangannya kini mengusap kening sang suami, lalu mengusap pipi suaminya itu.


"Sayang, ayo makan dulu!" ucap Delia lembut.


Namun seketika tangan Gibran menarik tangan Delia itu hingga Delia terjerembab jatuh ke atas tubuh Gibran.


"Sayang! Apa-apan sih!" ucap Delia yang terkejut.


"Kamu selalu menggoda aku ya!" ucap Gibran yang sudah menguasai tubuh Delia.


"Aissshhh!! Aku membangunkanmu untuk makan!"


"Bodo amat, aku tergoda, pokoknya aku mau makan kamu dulu!" ucap Gibran yang sudah menciumi seluruh lekuk tubuh Delia, dan membuka resleting baju Delia dan Delia sudah tidak bisa menolaknya lagi, mau berontak dia tak berdaya, akhirnya dia ikut bermain dalam permainan panas dengan suaminya itu.


Bersambung......


Makasih yang sudah like😘

__ADS_1


__ADS_2