
Mungkin benar kata pepatah, cinta akan tumbuh seiring waktu karena terbiasa bersama, itu yang dirasakan Delia saat ini, mungkin. Tapi Delia masih ragu untuk memantapkan rasa cinta itu di hatinya, karena Gibran tak pernah mengungkapkan isi hatinya. Dia takut jika rasa cintanya harus bertepuk sebelah tangan, dia tak ingin merasa sakit dikemudian hari hanya karena cinta bodohnya yang tak terbalas.
Mungkin saat ini Delia hanya bisa menikmati hari-hari dimana ia berperan menjadi istri Gibran. Entah sampai kapan semua ini akan berlangsung, hingga Gibran memutuskan untuk melepasnya dan mereka pun akan menjalani kehidupan masing-masing nantinya.
Delia memang wanita yang lembek dan gampang terpengaruh dengan eksistensi cinta yang Gibran ciptakan dalam rumah tangganya, walau mungkin semua itu hanyala palsu dan semu, dan hanya bualan semata, bahkan mungkin sebuah lakon untuk membuat semua orang disekitar mereka terhibur dan senang melihat drama cinta yang mereka mainkan.
Delia masih memilih-milih baju yang akan ia kenakan di acara makan malam dirumah keluarga Gibran, ia telusuri seluruh lipatan baju di lemarinya, dan kini netranya melihat sebuah gamis berwarna sage green, ia pun mengambil gamis itu lalu kemudian ia mencari sebuah kerudung dengan warna senada.
Setelah selesai mengenakan gamis itu Delia mulai merias wajahnya, entah mengapa ia ingin sekali berdandan yang cantik saat ini, berias didepan cermin sambil senyum-senyum sendiri, sepertinya suasana hati Delia memang sangat good mood saat ini. Beda dengan beberapa minggu lalu saat ia diundang makan malam oleh tante-tante Gibran, mengingat itu Delia menjadi geli sendiri, ia masih ingat betul, betapa dirinya sangat kaku dan sebal kepada Gibran yang begitu menyebalkan saat itu.
Tok tok tok
Suara pintu kamar Delia diketuk, Delia sudah mengira, siapa orang yang telah mengetuk pintu kamarnya. Delia segera menyelesaikan riasannya itu dan segera membuka pintu.
"Apa kamu sudah siap?" tanya Gibran, setelah Delia membuaka pintu kamarnya. Saat ini Gibran sudah mengenakan setelan jasnya, seperti biasa Gibran terlihat gagah dan itu membuat Delia mengagumi Gibran.
"Aku sudah siap!" ucap Delia dengan seulas senyum yang ia buat semanis mungkin di hadapan Gibran. Mereka pun berjalan bersisian.
Dalam perjalanan, kini Delia merasakan hatinya sedikit bergetar, rasa senang bercampur gugup karena akan melakukan akting lagi di hadapan keluarga Gibran, bedanya untuk saat ini Delia tidak sekaku dulu dan bahkan bisa lebih menikmati perannya.
"Apa ada yang kamu pikirkan?" tanya Gibran sambil dirinya tetap fokus dalam mengemudi.
"Tidak, aku tidak sedang memikirkan apa-apa!" ucap Delia, namun raut wajahnya tak bisa menyembunyikan fakta bahwa ia terlihat bahagia saat ini, dan Gibran senang melihat Delia yang seperti itu hingga mengukir seulas senyum diwajahnya.
"Makasih!" ucap Gibran kemudian sambil memanuver mobil dengan santainya.
__ADS_1
Delia sedikit terlonjak mendengar ucapan Gibran, 'Terima kasih untuk apa?' pikir Delia sedikit bingung.
"Kenapa mengucap terima kasih?" tanya Delia sambil mengernyitkan dahinya.
"Terima kasih, karena kau sudah menyayangi keluargaku!" ucap Gibran terdengar sangat tulus. Delia hanya mengangguk sambil tersenyum.
Mobil mereka pun kini sudah memasuki halaman rumah Gibran. Mendengar suara mobil Gibran yang memasuki halaman rumah, seperti biasa ibu langsung menyambut datangnya anak lelaki dan menantunya itu dengan wajah yang sangat ceria di teras depan.
"Assalamualaikum ibu!" ucap Gibran dan Delia secara bersamaan.
"Wa'alaikum salam!" seperti biasa mereka berpelukan saat mereka baru bertemu.
Namun wajah ibu yang tadinya berseri-seri seketika berubah khawatir saat ia berpelukan dengan menatunya itu.
"Ya ampun sayang! Baru semingguan kita nggak bertemu kamu seperti agak kurusan sih!" ucap ibu, dengan khawatir yang sangat berlebihan.
"Ini pasti gara-gara kamu Gibran!" kata ibu sambil menunjuk pada Gibran.
"Aku?" Gibran hanya bisa bingung saat dirinya disalahkan oleh ibunya itu.
"Iya, pasti karena kamu yang suka cuek sama istrimu, kemarin kata Kalina kamu gak menemani Delia belanja, seharusnya sebagai suami kamu itu harus selalu siaga mendampingi istrimu!" kata ibu lagi panjang lebar, jika sudah seperti itu Gibran tidak akan bisa lagi untuk membela diri, dia hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kalau saja Delia tidak berusaha untuk membela Gibran didepan ibunya, mungkin kemarahan ibu akan terus berlanjut.
"Gak apa-apa ibu, kemarin kebetulan Delia belanja ditemani sama teman Delia, jadi Gibran menunggu Delia di coffe shop!" ucap Delia menjelaskan, mengingat wanita bernama Zahra, seketika Delia menjadi sebal sendiri.
"Ya sudah, kamu harus jaga kesehatan kamu ya, biar kamu bisa cepat hamil!" ucap Ibu yang kemudian langsung menyeret Delia memasuki rumah.
__ADS_1
Delia hanya bisa terperanjat dengan kata-kata terakhir ibu mertuanya itu bahkan terus terngiang di telinganya. Delia melirik Gibran yang ada dibelakangnya, wajahnya nampak datar tanpa ekspresi.
Sampai didalam rumah, seperti biasa Ayah menyambut mereka dan si energik Kalina begitu bersemangat untuk langsung mengajak Delia ngobrol. Delia begitu bersyukur karena dia merasa disayangi oleh semua anggota keluarga Gibran. Gibran yang kini sudah ngobrol dengan Ayah di ruang tamu dan Delia sudah diseret di ruang keluarga oleh Kalina dan Ibu.
Acara makan malam pun tiba, semua anggota keluarga langsung berkumpul di meja makan, Delia dan Gibran duduk bersebelahan, Gibran begitu sangat perhatian sama Delia, bahkan dia yang menaruh lauk di piring Delia. Begitu manis rasanya.
Setelah selesai makan malam, Ayah mengajak mereka mengobrol diruang keluarga. Gibran yang sedari tadi tidak bisa diam, dia terus saja lengket pada Delia, dia bahkan menaruh kepalanya di pundak Delia.
"Gibran, kamu sangat berlebihan sekali!" bisik Delia, namun dia tak menepis bahwa dia juga suka dengan sikap Gibran.
"Biar saja!" bisik Gibran juga, dia nampak cuek walau sedari tadi Kalina selalu menyindir kemesraan mereka.
"Oh iya, ibu hampir lupa, Delia, ibu ada sesuatu buat kamu!" ucap ibu, sambil langsung berdiri dan pergi mengambil sesuatu.
Delia hanya bingung, sebenarnya apa yang akan ibu mertuanya kasih untuk dia, sebuah hadiah karena telah meyakinkan bahwa dirinya dan Gibran baik-baik saja atau apa? Delia hanya menduga-duga.
Ibu Gibran kini kembali sambil membawa sebuah botol bekas air mineral yang kini telah berisi sebuah cairan berwarna hijau pekat, entah apa itu isinya.
"Nah, ini untuk kamu, kamu harus minum ini!" ujar sang ibu sambil menyodorkan benda itu yang disebut minuman oleh ibu mertuanya, entahlah dari warnanya saja sangat tidak menggugah selera.
"Apa ini bu?" tanya Delia, sambil tangannya meraih minuman itu dengan sedikit ragu.
"Itu jamu, biar kamu bisa cepat hamil!"
Sungguh Delia terperanjat mendengarnya. Mau menolak tapi tidak enak, tapi meskipun Delia akan meminum berbotol-botol minuman jamu itu, apa mungkin dia akan hamil, kalau tidur saja dia tak seranjang dengan Gibran, bahkan mereka beda kamar.
__ADS_1
"Aku pastikan Delia akan meminum Jamu itu, dan tunggu saja, ibu akan segera mendapatkan cucu!" tiba-tiba Gibran berkata sambil memeluk tubuh Delia, membuat Delia semakin kaget.
Bersambung.....