Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin

Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin
Bab 60 Merayu Wanita Hamil


__ADS_3

Gibran mendapati Delia tengah tidur tengkurap di atas kasur, terdengar suara sesenggukan yang begitu lirih namun bisa Gibran dengar.Gibran mendekati Delia, dengan duduk di sebelah Delia.


Gibran ingin menyentuh Delia namun ia urung melakukannya, karena takut Delia akan menepisnya dan semakin marah padanya, karena bagaimana pun akar dari permasalahan ini adalah dirinya, Delia bersikap demikian juga karena dirinya.


"Sayang!!!" ucap Gibran dengan lembut.


Delia tak merespon dan masih tetap dengan posisi semula, tidur tengkurap namun suara sesenggukan itu sudah tidak ada lagi, sepertinya Delia menangis namun tak bersuara.


"Tidak baik loh ibu hamil tidur dengan posisi seperti itu!" ucap Gibran lagi dengan lembut.


Delia pun mengubah posisi tidurnya dengan tidur miring memebelakangi Gibran, dia benar-benar masih kesal dan tak ingin bicara dengan lelaki di belakangnya itu.


"Sayang! Jangan cuekin aku gitu dong!"


"Sayang masih marah ya sama aku? udahan dong marahnya!" bujuk Gibran namun masih tak direspon oleh Delia.


Gibran mencoba mendekati Delia, mengusap punggung Delia dengan lembut, biasanya setiap kali akan tidur Gibran selalu mengusap punggung Delia agar istrinya itu bisa tidur.


Delia tak menepis usapan tangan Gibran di punggungnya, mungkin karena merasa keenakan ia membiarkan tangan Gibran menyentuh punggungnya.


"Enak ya sayang?" tanya Gibran semakin mendekati Delia bahkan ikut tidur disamping Delia sambil tangannya mengusap-usap punggung Delia.


Walau Delia tak menjawab, namun Gibran tau bahwa Delia senang di perlakukan seperti ini, dan sudah menjadi kebiasaan Delia sejak ia hamil.


Gibran semakin mendekatkan tubuhnya ke tubuh Delia, dan mencoba memeluknya.


"Sayang, maafin aku ya, maaf kalau akhir-akhir ini aku sering tak bisa mengontrol emosiku!" ucap Gibran dengan lembut. Tak ada jawaban dari Delia, dia hanya diam.


"Kamu nggak salah, hanya aku yang terlalu cemburu!" ucap Gibran sambil mencium kepala belakang Delia.


Terdengar suara dengkuran halus dari mulut Delia, Gibran baru sadar jika Delia ternyata sudah tidur, dan ia sedari tadi berbicara sendiri. Gibran hanya tersenyum sendiri menyadari hal itu. Gibran seamkin mempererat pelukannya terhadap Delia.


Namun tiba-tiba Delia menggeliat dan terdengar suara merintih seperti kesakitan dari mulut Delia, Gibran yang menyadari hal itu segera memeriksa keadaan Delia, yang ternyata ia sedang merintih namun matanya masih terpejam.

__ADS_1


Gibran mencoba menekan-nekan punggung Delia, sedikit memberi pijatan lembut di punggung dan pundak Delia, namun terdengar lagi suara rintihan lagi saat Gibran menekan pundak Delia.


Rintihan itu seperti menahan sakit, dan dengan segera Gibran memeriksa pundak Delia dan benar saja, pundak Delia ada luka lebam yang cukup lebar dan berwarna ungu kemerahan, dan pasti itu sangat sakit sekali.


Gibran tersadar bahwa luka itu pasti akibat dari aktifitasnya tadi siang saat ia menye*tubuhi Delia dengan kasar di sofa ruang tamu. Gibran begitu menyesal dengan perbuatannya yang telah menyakiti Delia secara fisik maupun hati istrinya itu.


Dengan segera Gibran bangkit membuatkan air hangat untuk mengompres luka lebam itu. Gibran turun ke dapur dan segera merebus air.


"Ngapain Bang?" tanya Dimas yang kebetulan ia kedapur untuk mengambil air dingin di kulkas.


"Oh, ini mau bikin air hangat!" kata Gibran sedikit kagok di sapa oleh Adik iparnya itu.


"Abang, lagi ada masalah sama kakak ya?" tanya Dimas lagi, yang malah duduk di sebuah kursi menemani kakak iparnya itu.


Mendengar ucapan Dimas Gibran hanya terkekeh tanpa mengiyakan ataupun menyangkal ucapan Dimas.


"Kak Delia itu memang begitu, kalau sudah marah, gak bisa di ajak bercanda!" ujar Dimas sambil terkekeh, sedangkan Gibran hanya tersenyum menanggapi omongan Dimas.


"Apa itu?" spontan Gibran bertanya pada Dimas.


"Nah, bener kan Abang lagi marahan sama Kak Delia!" ucap Dimas dengan muka menodong sambil tersenyum oenuh kemenangan.


"Ahh... Anggap Ini rahasia kita berdua lah, jangan sampai ayah atau ibu tau!" kata Gibran yang sudah terlanjur mengaku pada Dimas.


"Hahaha, oke Bang! Beres! Ayah sama ibu tidak akan tau, tapi nggak gratis loh Bang!" ucap Dimas sambil tersenyum smirk.


"Oke, berapapun yang kamu minta nanti Abang kasih, tapi beritahu dulu apa yang bisa membuat mood kakakmu itu bisa kembali lagi?" ujar Gibran menyanggupi apapun itu agar Delia tak marah lagi.


"Oke-oke, aku nggak minta berapa nominal kok, Abang lakukan dulu saran dari aku, kalau tidak berhasil Abang tidak perlu kasi aku imbalan, tapi kalau berhasil Abang boleh kasi sesuai dengan hasilnya, bagaimana???" Dimas semakin tersenyum lebar saat Gibran mengangguk sanggup dengan tantangan Dimas itu.


"Oke, cepat kasih tau!" Gibran benar-benar tidak sabar.


"Sabar dulu, Bang! Matikan tuh kompor, dah mendidih airnya!" Gibran terkejut lalu segera mematikan kompor.

__ADS_1


"Oke, kalau Kak Delia.sedang merajuk gitu, kakak belikan saja Pizza, dari dulu Kakak tuh suka banget makan Pizza!" kata Dimas meyakinkan.


"Masa sih, selama kita menikah Kakakmu tidak pernah meminta makanan itu?" kata Gibran kurang yakin.


"Ahh, Abang aja yang kurang peka mungkin!" Gibran menciba meyakinkan, mungkin memang benar apa yang dikatakan Dimas, selama ini Delia memang tak pernah meminta makanan itu karena dia tak pernah mengajak Delia makan di resto yang menjual menu Pizza.


"Baiklah, akan aku coba!" ucap Gibran, dia pun memesan Pizza secara online, atau deliveri order.


"Oke kak, semoga sukses ya, aku mau kekamar dulu, lanjut ngegame!" ucap Dimas sambil melangkah pergi meninggalkan Gibran.


Setelah selesai memesan Pizza, Gibran pun menyiapkan air hangat untuk mengompres luka lebam ditubuh Delia.Gibran begitu bersemangat membayangkan reaksi Delia saat ia menyuguhkan pizza untuknya.


Posisi Delia masih tetap seperti tadi, saat terakhir kali Gibran meninggalkan Delia untuk membuat air hangat. Dengan sangat hati-hati Gibran sedikit menyingkap baju Delua bagian atas, agar luka lebamnya terlihat.


Setelah terlihat Gibran menempelkan kain yang sudah di celupkan ke air hangat dan sudah di peras sebelumnya. Lalu menempelkan kain itu dengan hati-hati pada luka lebamnya.


Terdengar rintihan kecil dari mulut Delia, namun tak membangunkan Delia dari tidurnya. Sepertinya Delia begitu kelelahaan hingga ia begitu nyenyak tidurnya.


Gibran dengan telaten mengomores luka Delia, mencelupkan kembali kain yang sudah terasa dingin ke air hangat lagi agar hangat kembali lalu memerasnya dan menempelkannya ke permukaan kulit Delia, begitu seterusnya sampai air di mangkuk itu berubah suhunya.


Gibran menaruh kembali mangkuk berisi air itu di dapur, membuang airnya dan mencuci mangkuknya di wastafel. Sesekali ia sesikit gelisah menunggu pesanannya datang.


Tiba-tiba terdengar suara bel berbunyi, Gibran yang mendengarnya pun langsung bangkit dan mengecek siapa yang telah memencet bel rumah Delia itu.


Tak salah lagi dia adalah pengantar pizza yang Gibran pesan tadi, namun Gibran menganggapnya sebagai malaikat yang akan memberikannya sebuah anugrah dalam cintanya dengan Delia. Lebay amat Gibran.


Gibran begitu bersemangat menyambut pengirim pizza itu, tak henti-hentinya ia tersenyum manis pada lelaki berseragam merah dan bertopi merah itu. Hingga lelaki itu telah pergi senyum Gibran masih terukir.


Apakah rayuan Gibran kali ini akan menjadi rayuan maut untuk Delia???


Bersambung.....


Like ya, author butuh semangat nih😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2