
Sekitar 17 jam pesawat yang ditumpangi Delia dan Gibran telah landing di Bandara Charles de Gaulle Paris. Setelah pesawat mendarat, perlu menunggu hingga pesawat berhenti sepenuhnya, penumpang pun keluar dari pesawat sesuai arahan dari pramugari. Pramugari bernama Caroline itu kini sedang memberi arahan kepada para penumpang dengan anggun dan sopan, mata Delia tak henti-hentinya menatap sang pramugari dengan rasa kagum. Kini pramugari bernama Caroline itu telah memberi izin kepada para penumpang untuk turun namun secara tertib.
Setelah Gibran dan Delia turun dari pesawat, mereka pun kini melewati jalur imigrasi dan keamanan, karena mereka adalah penumpang dari luar negri. Setelah melewati jalur itu mereka pun dapat tujuan mengambil bagasi.
sepanjang perjalanan di bandara hingga pintu keluar bandara Delia begitu sangat asing dengan pemandangan yang baru pertama kali ia lihat di negara Perancis itu, banyak para bule yang berpakaian mini hingga sangat terlihat lekuknya, seorang bule wanita berbadan sintal dengan pakaian yang nyaris terlihat seluruh badannya dengan santainya berjalan bersama teman prianya. Sungguh jika ada orang Indonesia yang berpakaian seperti itu di tempat umum sudah pasti akan viral dan menjadi tranding topic, namun di negara-negara Eropa seperti di Perancis ini, hal seperti itu sudah biasa.
Setelah sampai di pintu keluar Gibran menghentikan sebuah taxy untuk menuju ke Hotel yang akan mereka tinggali sementara.
"Sayang, apa masih jauh jarak untuk menuju ke hotel?" tanya Delia, sedikit mendesah dan terdengar sudah capek.
"Sekitar dua puluh dua kilo meter, mungkin sekitar empat puluh menit mengendarai taxy, apa kau sudah capek?" tanya Gibran sambil merangkul Delia, mereka bersama-sama masuk ke dalam taxy. Delia menyandarkan kepalanya di pundak Gibran dan Gibran merangkulnya. Taxy itu pun membawa mereka ke tempat tujuan. Sungguh Delia tak henti-hentinya menatap pemandangan diluar, rasa capek yang sedari tadi ia rasakan langsung sirna seketika, betapa tidak, setiap sudut kota ini begitu cantik, bahkan melihat bangunan-bangunan yang begitu tertata rapi, rumah-rumah tradisional Labourdine negara Basque Prancis ini begitu terlihat sangat klasik dan elegan. Delia tak henti-hentinya takjub dan terlihat heboh memandang pemandangan diluar, Gibran hanya tersenyum melihat tingkah Delia yang terlihat kampungan itu, maklum, Delia baru pertama kali ke luar negri.
"Apakah kau senang saat ini?" tanya Gibran sambil mengusap pundak Delia.
"Sangat! Pemandangan ini dulunya hanya bisa aku lihat di televisi ketika aku menonton serial telenovela, tapi kali ini aku bisa menyaksikannya dengan mata kepalaku sendiri!" ucap Delia dengan penuh antusias. Gibran yang mendengar itu hanya bisa menahan tawanya, agar tak merusak mood istrinya itu.
Taxy masih terus berjalan menyusuri pusat kota. Hingga tiba-tiba Delia memekik dan membuat Gibran kaget dibuatnya.
"Ada apa?" tanya Gibran dengan heran.
"Kau lihat itu!" tunjuk Delia dengan mata berbinar-binar. Sebuah puncak menara yang sangat terkenal dan penuh fenomenal itu, apa lagi kalau bukan menara Paris atau sering disebut menara Eiffel.
"Oh!" kata Gibran terdengar biasa.
"Apakah aku tidak sedang bermimpi? Itu benar puncak menara Eiffel kan?" kata Delia mulai kampungan lagi.
"Iya sayang, kenapa?"
__ADS_1
"Waww!! Amazing!!! Aku tidak menyangka bisa melihatnya, apakah kau sudah sering melihatnya?"
"Aku kan sudah bilang, dulu aku sering berlibur kesini!"
"Aku bahkan sering melihatnya di film-film, tapi rasanya berbeda dengan melihat secara langsung!" kata Delia yang baru melihat puncak menara itu dari kejauhan. Delia dan Gibran sampai di Perancis saat malam hari, sungguh kota ini begitu semakin cantik dengan kerlap-kerlip lampu yang menghiasi, seperti kota Jakarta saat malam hari namun lebih aestetic di kota Paris ini.
"Aku punya kejutan buat kamu!" kata Gibran tiba-tiba.
"Kejutan apa?" tanya Delia sambil mengerutkan keningnya.
"Ada deh, kalau dikasi tau namanya bukan kejutan dong!" ucap Gibran sambil menowel pipi Delia membuat Delia hanya bisa memonyongkan bibirnya.
Taxy pun kini telah sampai di sebuah gedung bertingkat, Gibran dan Delia pun turun dari taxy setelah membayarnya, mengambil koper mereka dan bersiap memasuki hotel. Hotel itu adalah hotel Pullman Paris. Mereka pun memasuki hotel itu, sebelumnya Gibran telah chek-in secara online.
Seorang wanita cantik dengan wajah khas, menyambut kedatangan mereka, jika dilihat dari pakaiannya sepertinya ia adalah resepsionis hotel.
"Bienvene monsieur Gibran et madame Delia! "(Selamat datang Tuan Gibran dan Nyonya Delia) ucap wanita itu sambil menangkupkan tangannya didepan dada dengan ramah dan senyum manisnya. Gibran dan Delia hanya membalas dengan senyum dan menangkupkan tangannya di depan dada mereka, seperti yang dilakukan resepsionis itu. Karena Delia tak paham bahasa Perancis jadi dia hanya mengikuti yang Gibran lakukan.
"Oui merci" (Iya terimakasih) ucap Gibran.
"Viens avec moi" (mari ikuti saya) wanita itupun berjalan mendahului Gibran dan Delia sebagai petunjuk jalan, seorang lelaki membantu membawakan koper yang Gibran dan Delia bawa, mereka memasuki lift dan naik ke lantai atas, tak berapa lama merekapun keluar dari lift itu dan berjalan di lorong-lorong kamar.
"C'est ta chambre!" kata wanita itu.
"Profitez de nos installations hotelieres!"
"Merci!" ucap Gibran.
__ADS_1
"S'il y a quoi que ce soit neccessaire s'il vous plaitcontactez-nous!" wanita itu pun pergi setelah memberikan kunci kamar kepada Gibran, dan Gibran pun membuka kamar itu, Delia hanya seperti kambing congek mendengar percakapan Gibran dan wanita itu karena sama sekali tak paham bahasanya, kalau bahasa Inggris dia bisa mengerti.
Setelah membuka pintu kamar mereka, Delia begitu takjub melihat kamar mereka yang ternyata sudah dihias dengan sedemikian cantik, bau wangi juga memnuhi ruangan kamar itu.
"Waw, apakah ini kejutan yang kau maksud?!" kata Delia sambil menatap takjub dengan ersitektur dan dekorasi kamar itu.
"Hmpp tidak juga, karena kamar ini memang sengaja dihias oleh pihak hotel karena kita adalah pasangan yang sedang berbulan madu!" kata Gibran sambil meletakkan koper mereka.
"Lalu apa kejutannya?" tanya Delia yqng sudah tidak sabar itu. Gibran kemudian membuka selambu yang ada di sisi kanan tempat tidur yang ternyata sebuah balkon dan ada pintu penghubung untuk keluar di balkon itu. Setelah Gibran membuka seluruh selambu barulah Delia tahu apa kejutannya itu.
Delia semakin takjub melihat pemandangan yang ada di depan matanya saat ini. Menara Eiffel kini berada di depan matanya dan sungguh terlihat sangat dekat dengannya.
"Sayang!!!!" pekik Delia sambil memeluk Gibran, bersama-sama mereka keluar menuju balkon, hembusan angin malam langsung menerpa wajah mereka, namun hal itu tak terasa dibandingkan pemandangan yang saat ini Delia saksikan.
Hotel Pullman adalah hotel bintang empat yang letaknya tepat di kaki menara Eiffel dan Trocandero atau situs Palais de Chaillot yang merupakan sebuah area di Paris Perancis yang berada di Arondisemen XVle, tampak dari atas hotel terlihat sungai Seine yang begitu terlihat Indah dan cantik di malam hari.
"Sayang, terimakasih kejutannya!" ucap Delia.
"Apapun untuk bisa membuatmu bahagia!" kata Gibran sambil memeluk Delia dari belakang lalu mecium kening Delia.
"Aku ingin ke puncak sana!" ucap Delia sambil menunjuk pada menara Eiffel.
"Pasti kita kesana, tapi untuk malam ini kita harus beristirahat dulu, besok aku akan bawa kamu jalan-jalan!" ajak Gibran dan Delia hanya bisa mengangguk antusias, seperti anak kucing yang imut dan menurut.
"Apakah kamu mau mandi dulu?" tanya Gibran sambil menggoda dan bermain mata pada Delia.
"Boleh, apa mau aku mandiin?" kata Delia, mengimbangi kata-kata Gibran yang menggoda itu, namun dengan seketika Gibran pun menggendong Delia menuju ke kamar mandi. Dan Delia hanya tertawa sambil memeluk suaminya itu. Mereka kini tampak bahagia. Delia sudah pasrah saat tubuhnya di bopong oleh Gibran.
__ADS_1
Bersambung....
Merci d'avoir clique sur le bouton j'aimeππ€ (makasih yang sudah like) π