Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin

Dipaksa Menikah Dengan Pria Dingin
Bab 61 Maaf


__ADS_3

Delia mengerjap-ngerjapkan matanya, hidungnya mengendus bau. Delia menggeliat kecil, rasa nyeri di badannya sedikit berkurang, rasa sakit di pundaknya pun sudah sedikit hilang. Delia membalikkan badan dan melihat Gibran sedang duduk di sebelahnya sambil makan sesuatu.


"Sayang! Kamu bangun?" tanya Gibran, lalu meletakkan makanannya di sebuah kotak. Delia hanya diam, hidungnya terus mengendus bau yang begitu menggoda itu.


"Apa masih ada yang sakit? Mau aku pijitin?" tanya Gibran, nadanya penuh dengan perhatian.


"Kamu makan apa?" tanya Delia, masih sedikit cuek namun penasaran dangan apa yang dimakan oleh Gibran.


"Oh.. lagi makan pizza, kamu mau?" tawar Gibran.


Mendengar kata pizza sungguh membuat Delia ingin sekali makan makanan junk food itu, namun rasa gengsi menahannya untuk memakan pizza itu.


"Kau ini! Apa makan malam tadi kurang kenyang, hingga membuatmu pesan makanan itu?" ujar Delia, sedikit sinis.


"Sebenarnya, aku ingin makan pizza ini berdua denganmu, karena waktu makan malam tadi kau tak menghabiskan makananmu, bahkan kau hanya memakannya sedikit!" Gibran mulai resah, takut kali ini ia tak bisa membujuk istrinya itu.


"Tau dari mana, aku suka pizza?" masih dengan nada cuek.


Namun senyum Gibran kini terukir di wajahnya, "Jika kamu suka, makanlah, apa mau aku suapi?" ujar Gibran, sangat senang.


"Tidak, aku bisa makan sendiri!" walau masih cuek, namun Gibran senang akhirnya Delia memakan pizza itu. Delia mencomot pizza itu, terlihat oleh Delia keju mozarella yang lumer, membuatnya tak sabar ingin segera melahapnya.


Sudah lama Delia tak makan pizza, rasanya begitu enak, hingga dalam waktu singkat ia telah menyomot pizza itu beberapa potong. Gibran hanya memandangi Delia yang begitu lahap memakan pizza itu, ia tak ikut nyomot pizza itu, biar Delia bisa puas makannya.


"Apa?" tanya Delia saat ia memergoki Gibran tengah memperhatikannya sambil tersenyum.


"Nggak apa-apa, aku merasa kali ini aku nggak salah pesan menu makanan!" ucap Gibran sambil tersenyum senang. Delia hanya mengedikkan bahu tak peduli, dia hanya ingin menikmati makanan kesukaannya saat ini.


"Delia, maafin aku!" ujar Gibran kemudian. Delia menghentikan makannya sejenak lalu menoleh pada suaminya itu.


"Kenapa meminta maaf? Apa kau merasa bahwa dirimu salah?" ucap Delia masih dengan nada dingin.


"Maaf aku terlalu kasar padamu!"


"Apa yang membuatmu kasar?"


"Aku terlalu cemburu!"


"Ohh...!" Delia sedikit mencebikkan bibirnya.

__ADS_1


"Semua lelaki pasti akan merasa cemburu jika wanitanya di ganggu oleh lelaki lain!" ucap Gibran mencoba membela diri.


"Tapi tak semua lelaki akan berlaku kasar, setidaknya mereka akan mendengarkan penjelasan wanitanya terlebih dahulu sebelum bertindak kasar!" Delia benar-benar sebal dengan alasan Gibran.


"Iya, aku tau aku salah, aku tak mau mendengarkan penjelasanmu, aku mohon maafkan aku!" ucap Gibran.


Delia terdiam, air matanya menggenang di matanya, sungguh beberapa hari ini Gibran memang jauh berubah, semenjak mereka pulang dari bulan madu, sebelum itu Gibran adalah lelaki yang selalu lembut pada Delia, bahkan dari awal mereka menikah, saat tak ada rasa cinta diantara mereka, Gibran tak pernah sekalipun berbuat kasar padanya.


"Kau berubah!" ucap Delia, sambil menahan air matanya yang sudah mau tumpah. Gibran hanya diam, dia tak bisa berkata apa-apa, mungkin memang ia sudah berubah, namun rasa cintanya tak pernah sedikitpun berkurang untuk Delia.


"Maafkan aku!" Gibran memejamkan matanya, mencoba memutar kembali kejadian-kejadian yang telah membuatnya berubah.


"Aku benci kamu!" ucap Delia lalu menangis sambil meringkuk.


Gibran mencoba mendekati Delia dan memeluk pundaknya. Sungguh ia begitu menyesal telah menyakiti hati Delia yang entah sudah keberapa kalinya.


"Sayang, aku ingin memperbaiki semuanya, aku mohon maafkan aku!" Gibran semakin mempererat pelukannya, ikut merasakan kesedihan yang Delia rasakan.


Suara tangisan mereka bersahutan, Delia benar-benar mencurahkan rasa pedihnya melalui tangisan, sedangkan Gibran mencurahkan rasa sesalnya juga melaui tangisan.


Saat mereka sudah benar-benar puas menangis Delia mengangkat wajahnya dan menatap Gibran yang saat itu juga menatapnya.


"Sayang, berikan aku kesempatan kedua, kita lupakan semua yang telah berlalu, aku harap kita bisa memulai lagi dari awal, kamu mau ya!" ucap Gibran memohon pada Delia.


Tiba-tiba Delia menampar pipi Gibran dengan sangat keras, rasa panas seketika menjalar di pipinya namun Gibran hanya diam, mungkin ini yang pantas ia dapatkan atas segala kesalahannya.


"Mungkin ini memang pantas aku dapatkan, aku memang tak pantas mendapat kata maaf darimu, aku memang.....


Belum selesai Gibran meneruskan kata-katanya tiba-tiba Delia menghambur ke pelukan Gibran dan menangis kencang, bahunya bergetar, Gibran memeluk Delia dan merasakan kepedihan hati istrinya itu, sungguh ia sangat menyesal.


"Kenapa kau berubah?! Apa salah aku!!" ucap Delia sambil menangis di pelukan Gibran.


"Cintaku tak pernah berubah sayang! Maafkan aku!" ucap Gibran sambil memeluk Delia.


Gibran mencium pucuk kepala Delia, dia rasakan aroma wangi dari rambut Delia yang begitu menenangkan, dia tak bisa membayangkan jika ia jauh dengan Delia, mungkin dia bisa gila, karena rasa kasihnya yang teramat pada Delia, bahkan seluruh hatinya sudah ia curahkan untuk Delia.


Aulia mungkin adalah cinta pertamanya, namun Delia adalah jodoh pilihan Tuhan untuknya, dan ia bertekad akan selalu memperjuangkan Delia walau apapun rintangannya.


"Sayang, pizzanya sudah dingin!" ucap Gibran.

__ADS_1


Delia tersenyum. "Ngomong-ngomong, kamu bisa tau aku suka pizza dari mana?"


"Emmm, nggak ada yang kasi tahu, hanya inisiatif aja!" Gibran mencoba mengelak.


"Nggak usah bohong deh, jujur aja!" Delia pura-pura melotot pada Gibran.


Gibran menggaruk tengkuknya yang tak gatal, mencoba menghindari tatapan maut Delia.


"Ya sudah kalau nggak mau jujur!" kali ini Delia merajuk beneran.


"Sayang, jangan marah lagi dong! Oke-oke Dimas yang kasi tahu aku, tadi!!" ucap Gibran sambil nyengir.


"Nah kan, pasti bocah itu!" sungut Delia.


"Sayang jangan marah ya sama Dimas, niat dia baik kok, dia mencoba membantuku saja!"


"Membantu untuk merayu aku ya!!" Delia semakin mendelik.


"Tidak, dia ingin hubungan kita baik-baik saja, sudah ya jangan marah lagi!!"


Delia diam sambil melipat kedua tangannya, namun Gibran tiba-tiba mencium pipinya.


"Kamu jangan marah lagi dong, tambah cantik tau!" sungguh membuat pipi Delia merona mendengarnya.


"Tuh kan!! Tambah kaya tomat pipinya!!"


"Iiiihhhh!!!! Mulai lagi!!!"


"Iya-iya, ya sudah cepat habiskan pizzanya!"


Dengan segera Delia menghabiskan pizza itu yang memang tinggal dua potong, Gibran begitu senang melihat Delia yang kini sudah bisa diajak bercanda lagi.


Delia terlihat belepotan memakan pizza itu hingga membuat Gibran tersenyum.


"Pelan-pelan dong makannya, tuh kan belepotan!"


Gibran dengan segera membersihkan saus yang menempel di bibir Delia, namun dengan cara menjilatnyaa bahkan mengecupp bibir Delia, hingga membuat Delia kaget dibuatnya.


"Kau mencari kesempatan dalam kesimpatan!!" teriak Delia, dan Gibran hanya nyengir puas.

__ADS_1


Bersambung...


Kasi semangat buat author ya, dengan kasi likom dan giftnya😍


__ADS_2